NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tukang Kebun di Hutan Beton

Turun dari atap Hotel Tugu ternyata lebih menakutkan daripada jatuh dari langit. Lift mati total, dan tangga darurat gelap gulita. Namun, yang membuat Sekar merinding bukan kegelapan itu, melainkan suara yang terdengar dari balik dinding beton.

Kreeek... Kreeek...

Suara itu terdengar seperti tulang yang tumbuh, meretakkan daging. Akar-akar karang sedang menjalar di dalam struktur bangunan, mencari jalan keluar.

Saat mereka akhirnya mendobrak pintu lobi hotel dan melangkah keluar ke Jalan Margo Utomo, pemandangan yang menyambut mereka benar-benar asing.

Yogyakarta sudah hilang.

Jalan aspal yang biasanya padat kendaraan kini tertutup hamparan terumbu karang berwarna-warni yang berdenyut. Tiang-tiang lampu jalan telah berubah menjadi anemon raksasa yang tentakelnya melambai-lambai menangkap serangga (atau burung) yang lewat. Mobil-mobil yang terjebak macet kini hanyalah gundukan yang ditumbuhi spons laut dan ganggang.

Udara di bawah sini lembap dan berat, berbau garam pekat. Rasanya seperti berjalan di dasar akuarium raksasa yang airnya dikuras habis, menyisakan makhluk-makhluknya yang megap-megap namun tetap tumbuh agresif.

"Jangan injak yang warna merah," peringatan Pangeran Suryo sambil menunjuk hamparan karang api di trotoar. "Itu bisa membakar sol sepatumu sampai tembus ke tulang."

Pangeran Suryo berjalan di depan, menggunakan tombak Baru Klinting sebagai parang untuk membabat jalan. Setiap kali mata tombak hitam itu menyentuh karang, terdengar suara desis uap, dan karang itu layu, mundur ketakutan memberikan jalan.

Sekar berjalan di belakangnya, menggenggam erat cambuk Kyai Pamuk. Tangannya masih gemetar sisa pertempuran di udara tadi.

"Gusti... lihat itu," bisik Sekar, menunjuk ke sebuah halte Trans Jogja yang sudah setengah tertelan karang otak raksasa.

Di dalam halte itu, ada orang-orang.

Mereka tidak mati. Mereka berdiri mematung, kaki mereka sudah menyatu dengan lantai yang mengeras. Setengah tubuh mereka tertutup lapisan kapur putih, tapi wajah mereka masih manusia. Mata mereka bergerak-gerak liar, panik, tapi mulut mereka sudah tertutup lapisan koral, membungkam jeritan mereka.

Poseidon tidak membunuh mereka. Dia mengawetkan mereka. Menjadikan warga kota sebagai ornamen hidup di taman barunya.

"Tolong..." bisik hati Sekar, menangkap sinyal keputusasaan dari orang-orang itu.

Pangeran Suryo berhenti sejenak, rahangnya mengeras. Ia mengangkat tombaknya, seolah ingin menghancurkan karang yang membelenggu mereka.

"Jangan, Gusti!" cegah Sekar cepat. "Kalau karangnya dihancurkan paksa, kulit mereka ikut sobek. Mereka sudah menyatu."

Pangeran menurunkan tombaknya dengan frustrasi. "Lalu kita biarkan saja rakyatku jadi pajangan?"

"Kita matikan pusatnya," kata Sekar tegas, matanya tertuju lurus ke utara. Ke arah Tugu Pal Putih. "Kalau akarnya mati, benalu-benalu ini pasti rontok sendiri."

Tugu itu kini tampak mengerikan. Pilar putih kebanggaan Jogja itu sudah tidak terlihat putih lagi. Ia telah dibelit oleh tanaman rambat laut berwarna ungu tua yang tebal, berdenyut seperti pembuluh darah vena yang bengkak. Di puncaknya, emas yang biasanya berkilau kini tertutup lendir hitam yang menetes-netes.

Itu adalah jantung infeksinya.

Mereka mempercepat langkah, melompati akar-akar bakau yang tiba-tiba muncul membelah aspal. Namun, hutan karang ini sadar akan kehadiran mereka.

Srrrtt...

Sebuah tanaman Kelp (rumput laut raksasa) yang tumbuh dari selokan tiba-tiba melilit kaki Sekar. Daunnya yang licin dan kuat menarik Sekar ke arah lubang selokan yang gelap.

"Gusti!"

Sekar tidak menunggu Pangeran menolong. Ia menghentakkan cambuk Kyai Pamuk.

CETAR!

Cambuk itu tidak memotong tanaman itu secara fisik. Tapi saat ujung cambuk meledak di udara, tanaman kelp itu kaget. Ia melepaskan lilitannya seperti orang yang kaget mendengar petasan.

Sekar berguling menjauh. "Tanaman ini sensitif sama suara!"

"Bagus," Pangeran Suryo menyeringai. "Kalau begitu, kita bikin ribut."

Pangeran Suryo memukulkan gagang tombaknya ke tiang listrik besi yang masih berdiri. TANG! TANG! TANG!

Suara berisik itu membuat hutan karang di sekitar mereka menggeliat tidak nyaman. Anemon-anemon menutup diri. Akar-akar karang menarik diri masuk ke dalam tanah.

Mereka berlari memanfaatkan celah itu, menuju perempatan Tugu.

Namun, di tengah perempatan, jalan mereka dihadang.

Bukan oleh monster. Tapi oleh patung.

Patung Jenderal Sudirman yang berdiri gagah di ujung jalan itu... turun dari pedestal-nya.

Tapi itu bukan patung batu biasa lagi. Seluruh permukaan patung itu telah dilapisi teritip tajam dan lumut laut. Wajah sang Jenderal tertutup topeng kerang. Dan di tangannya, bukan lagi tongkat komando, melainkan sebuah pedang yang terbuat dari tulang ikan pedang (swordfish) raksasa.

Poseidon telah merasuki ikon-ikon kota ini, mengubah pelindung menjadi penjaga gerbang.

Patung itu bergerak kaku, krak-krak-krak, namun cepat. Ia mengayunkan pedang tulangnya ke arah Pangeran Suryo.

TRANG!

Pangeran menangkis dengan Baru Klinting. Percikan api bertemu dengan serpihan kapur.

"Maaf, Jenderal!" seru Pangeran Suryo. "Saya harus tidak sopan sedikit!"

Pangeran Suryo melakukan manuver tusukan cepat, tapi tubuh patung itu keras sekali. Tombak Baru Klinting hanya menggores lapisan teritip luarnya. Patung itu tidak merasakan sakit. Ia adalah golem tanpa nyawa.

Sekar melihat celah. Patung itu bergerak berdasarkan perintah sihir yang mengalir lewat akar-akar ungu di kakinya.

"Putus koneksinya!" teriak Sekar.

Ia berlari melingkar, menghindari sabetan pedang patung itu yang nyaris memotong kepangannya. Ia membidik kaki patung itu dengan cambuknya.

Kyai Pamukmelesat, membelit pergelangan kaki patung Jenderal Sudirman.

"Tidur!" bentak Sekar.

Ia menyalurkan sisa-sisa energi moksa di tubuhnya lewat cambuk. Energi itu mengalir, menabrak aliran sihir Poseidon di dalam patung itu.

Terjadi korsleting magis.

Patung itu tersentak-sentak. Pedang tulangnya terlepas dari genggaman. Ia diam mematung lagi, kembali menjadi benda mati. Namun posisinya kini miring, seolah memberi hormat pada Pangeran Suryo.

"Terima kasih, Panglima Besar," gumam Pangeran Suryo, memberikan hormat militer singkat, lalu kembali fokus ke tujuan utama.

Tugu Pal Putih ada di depan mata, hanya berjarak sepuluh meter.

Tapi Tugu itu... Tugu itu bernapas.

Lendir hitam di puncaknya menggembung dan mengempis. Dan di dasar Tugu, di balik pagar yang sudah hancur, duduk seseorang.

Seorang wanita cantik dengan gaun pesta modern yang basah kuyup, memegang gelas wine berisi air laut.

Itu Siren yang Sekar kalahkan di Sungai Opak.

Wajahnya masih memar bekas jeratan selendang Sekar, tapi kali ini dia tersenyum licik.

"Selamat datang di pesta kebun, Nona Kecil," sapa Siren itu dengan suara serak. "Tuan Poseidon titip salam. Dia bilang, dia suka dekorasi barunya."

"Minggir," kata Sekar dingin, memegang cambuknya erat-erat. "Atau lehermu mau memar lagi?"

Siren itu tertawa, lalu menumpahkan isi gelasnya ke tanah.

Dari tumpahan air itu, muncul ratusan kepiting kecil-kecil seukuran telapak tangan. Tapi mereka bukan kepiting biasa. Cangkang mereka adalah... jam tangan, dompet, smartphone, dan benda-benda logam milik warga kota.

Mereka adalah parasit hermit crab yang menggunakan sampah peradaban manusia sebagai senjata.

"Silakan," Siren itu merentangkan tangannya. "Cobalah memangkas rumput liarku. Setiap satu kau potong, dua akan tumbuh. Jogja sudah jadi milik kami."

Pangeran Suryo melangkah maju, tombaknya menyala merah. "Jogja bukan milik siapa-siapa. Jogja itu Istimewa. Dan keistimewaannya adalah..."

Pangeran menancapkan tombak Baru Klinting ke aspal dengan sekuat tenaga.

"...dia bisa membakar dirinya sendiri untuk hidup kembali!"

BLARR!

Retakan api menjalar dari ujung tombak Pangeran, membelah aspal, langsung menuju Tugu.

Siren itu menjerit kaget. "Gila! Kau mau menghancurkan landmark kotamu sendiri?!"

"Bangunan bisa dibangun lagi," jawab Pangeran Suryo dingin. "Harga diri tidak."

Api naga itu merambat naik ke tubuh Tugu, membakar lendir hitam dan akar-akar ungu yang membelitnya. Tugu itu terbakar hebat, menjadi obor raksasa di tengah malam.

Dan dari dalam api itu, terdengar suara raungan marah. Bukan suara Tugu. Tapi suara sesuatu yang bersembunyi di dalam Tugu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!