Belum kering luka hatinya setelah kehilangan kedua orangtuanya dalam waktu berdekatan, Baby Aurora, seorang gadis remaja berusia 19tahun harus dihadapkan pada perjodohan dengan pria yang sama sekali tidak disukainya.
Galak, kasar dan pemarah, itulah sosok Damar Bimasakti di mata Baby.
Sedangkan dalam pandangan Damar, Baby hanyalah barang mentah di mana ia akan keracunan jika memakannya.
Akankah dua karakter yang bagai air dan minyak ini menyatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kolom langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JPB 33
Setelah melewati hari yang cukup menguras emosi, sorenya Damar mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan dengan ditemani sahabatnya, Embun. Saat ini mereka tengah berada di sebuah kafe.
“Jadi Ryu sudah tahu tentang itu ya?” tanya Embun.
“iya, Mbun.”
“Syok ya dia?”
Damar hanya menjawab dengan bahu terangkat. Menyeruput secangkir kopi dan menghela napas panjang setelahnya.
“Aku lebih syok tahu ... Aku yang nemu paling awal. Disuruh bunda cari tahu tentang Tria, malah dapatnya kejutan itu. Bingung kan, mau laporan gimana sama bunda. Calon mantunya tidur sama sahabat anaknya,” kenang Embun.
Damar menatap Embun sekilas. Alisnya saling bertaut dengan raut wajah kesal. “Kamu kok waktu itu nggak bilang aku?”
“Heh, Yang Mulia Damar Bimasakti yang agung ... Kalau waktu itu aku atau bunda kasih tahu Yang Mulia, apakah Yang Mulia akan percaya?” sindirnya membuat mata Damar melotot tajam. “Nggak usah gitu matanya, nggak serem malah nyebelin.”
“Kamu yang nyebelin, kompak bener sama bunda.”
Embun terkekeh. “Waktu itu bunda bilang, lebih baik kamu lihat sendiri. Karena kalau kita yang bilang, kamu nggak akan percaya.”
“Iya sih.” Akhirnya menyerah setelah saling beradu argumen.
Setelahnya, mereka meninggalkan kafe dan menuju lantai atas. Damar akan membeli sebuah ponsel baru untuk istrinya. Dengan dibantu Embun dan seorang karyawan toko, Damar sedang memilih ponsel yang kira-kira cocok untuk Baby.
“Belinya yang itu!” Embun menunjuk sebuah ponsel keluaran terbaru dengan logo apel habis digigit. “Kalau belinya yang itu, Baby pasti klepek-klepek dan langsung maafin kamu.”
Pandangan Damar mengikuti ke mana arah yang ditunjuk embun. Sebuah ponsel terbaru yang cukup canggih. “Harganya berapaan itu?”
“Dasar pelit kamu, Mar. Yang ditanya duluan malah harga bukan spesifikasi.”
"Terserah aku, dong! Memang kamu yang mau bayarin?"
"Ogah!"
Karyawan toko meletakkan kotak ponsel ke atas meja etalase. Ia menjelaskan tentang ponsel tersebut. “Ini keren, Mas. Harganya lagi diskon, dari 25 juta sisa 24 juta. Spesifikasinya gahar. Dijamin yang dibelikan pasti suka.”
Damar menarik napas dalam, lalu menatap kesal pada Embun setelah mendengar suara kekehan gadis itu.
“Sialan kamu, Mbun! Kamu pikir aku orang kaya?” Ia menggeser kotak ponsel itu. “Jangan yang ini Mbak, nggak kuat! Harga lima jutaan aja lah.”
“Pelit!” sembur Embun.
“Biarin! Jangan beli sesuatu kalau kantong nggak kuat.”
"Isi kantong kamu lebih dari cukup buat beli itu doang, Mar!"
Damar melirik Embun. "Mbun, hidup itu harus memikirkan masa depan. Harus punya tabungan. Aku nggak selamanya bisa kerja. Kalau aku mati, anak istriku nanti makan apa?"
Karyawan toko kemudian meletakkan beberapa ponsel ke atas meja dengan harga dan merk yang berbeda-beda. Damar dan Embun memilih dengan antusias sambil membaca sebuah brosur yang berisi keterangan spesifikasi dari ponsel-ponsel tersebut.
“Ini aja lah, mahal enggak, murah banget juga enggak.”
“Sama istri gitu kamu, Mar!”
“Apaan sih kamu, Mbun! Tujuh juta itu harga yang cukup tinggi.”
“Iya, iya ...”
Setelah melakukan pembayaran, mereka beranjak meninggalkan toko. Berjalan-jalan sambil saling curhat satu sama lain. Damar menceritakan semua perbuatannya semalam kepada Embun tanpa rasa malu, membuat gadis itu berdecak.
“Keterlaluan kamu, Mar. Setelah perawanin anak orang main pergi aja. Mainnya kasar lagi.”
Raut wajah Damar terlihat penuh sesal. Ia menyadari perbuatannya terhadap Baby semalam sangat berlebihan. “Mau bagaimana lagi, Mbun.”
"Mar, you can be very dangerous when you can't control your feelings," ujarnya menekan. “Bahaya kamu kalau cemburu. Kasihan si Baby.”
"Aku akan minta maaf nanti."
Mereka tiba di sebuah lift untuk turun ke lantai dasar. Setelah menekan tombol bertuliskan ‘GROUND’ Embun menatap Damar. “Boleh aku tanya sesuatu?”
“Tumben kamu sopan. Biasanya kalau mau tanya to the point aja, Mbun.”
“Sialan kamu, Mar!”
“Ampun, Gusti!” Sambil mengatupkan tangan di depan dada.
“Sebenarnya kamu sama Baby itu perasaannya bagaimana sih? Cinta nggak kamu sama dia?”
Damar terdiam selama beberapa saat. Bayang-bayang Baby menari-nari di benaknya.
“Kalau cinta sih belum, Mbun. Tapi dia istriku dan aku sayang sama dia. Mungkin itulah bukti kekuatan ijab kabul dan buku nikah. Ada perasaan memiliki yang kuat.”
🌼
coz negara Konoha sekrang banyak kasus pembunuhan n mutilasi/Sob//Sob//Sob/
ah tapi kan suka2 ya thor/Facepalm//Facepalm//Facepalm/