NovelToon NovelToon
Bola Kuning

Bola Kuning

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Paffpel

Kisah tentang para remaja yang membawa luka masing-masing.
Mereka bergerak dan berubah seperti bola kuning, bisa menjadi hijau, menuju kebaikan, atau merah, menuju arah yang lebih gelap.
Mungkin inilah perjalanan mencari jati diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paffpel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Ayam berkokok di pagi hari ini. Alarm Juan berbunyi. Dia bangun dari kasurnya dan mematikan alarmnya. 

Juan melangkah menuju kamar mandi. Gerakannya pelan dan bahunya turun. 

Juan bersiap-siap dengan dada yang masih terasa sesak. Tidak ada suara yang terdengar dari mulutnya. 

Juan berjalan menuju pintu rumahnya. Dia membuka dengan pelan, dan menutup dengan pelan. Dia melangkah pergi, menuju sekolahnya. 

Saat di depan rumah Arpa. Juan berpapasan dengan ibu Arpa. “Eh, Juan? Mau berangkat sekolah ya?”

Juan mengangguk pelan. Pandangannya menurun. 

Mulut ibu Arpa terbuka sedikit. Dia menyentuh bahu Juan. “Kamu kenapa, Juan?”

Juan mengangkat kepalanya. Dia menatap ibu Arpa, tapi pandangannya sering berpindah-pindah. “Nggak… apa-apa, tante…”

Ibu Arpa diam sebentar. “Gitu ya…” kata ibu Arpa dengan nada pelan. 

Alis ibu Arpa naik sedikit. “Oh iya, hari ini Arpa nggak masuk sekolah ya, Juan. Dia lagi sakit.”

Mata Juan membesar sedikit. Dia memalingkan mukanya. “Oh… gitu ya, yaudah saya berangkat dulu ya, tante,” Juan menundukkan kepalanya lalu pergi. 

Di jalan, gerakan Juan semakin pelan. Matanya setengah kosong dan napasnya berat. 

Juan pun sampai di gerbang sekolahnya. Dia langsung masuk ke dalam. 

Saat Juan berjalan menuju kelasnya. Suasana sekolah sunyi dan sepi. Hanya terdengar suara guru yang sedang menjelaskan di masing-masing kelas. 

Juan pun berdiri di depan pintu kelasnya. Dia membuka pintu pelan-pelan. Dia langsung masuk. 

Ternyata ada bu Kila yang sedang mengajar. Bu Kila menatap Juan yang melangkah ke kursinya. “Heh, kamu telat? Main nyelonong aja,” kata bu Kila. Alisnya mengkerut. 

Langkah Juan terhenti. Dia menatap bu Kila dengan mata yang kosong. Dia lanjut jalan ke kursinya. 

Mulut bu Kila terbuka sedikit. Dia menggaruk kepalanya. Lalu melirik-lirik sekitar. “Ya… udah, kita lanjut deh ya anak-anak,” bu Kila melanjutkan penjelasannya. 

Juan duduk di Kursinya. Rian ngelirik Juan. “Jun, si Rap mana?”

“Sakit,” jawab Juan dengan nada datar. 

“O-oh, gitu ya… hehe… “ Rian maksa senyumnya. 

Rian memperhatikan Juan cukup lama. Alisnya mengkerut halus. Dia menyentuh pelan Juan. “Jun, lu… Kenapa?”

Juan menengok ke arah Rian. Wajahnya datar dan gerakannya pelan. “Diam.”

Rian tersentak. Matanya melebar. Dia memalingkan pandangannya dan lanjut memperhatikan penjelasan bu Kila. 

Ternyata sejak awal Depa mendengarkan percakapan mereka, tapi dia tidak menatap mereka. Dia nyengir. 

Waktu berjalan sangat cepat. Bel istirahat berbunyi. 

Depa berdiri dari kursinya. Dia melangkah pergi dari kelasnya. 

Melihat Depa pergi, Rian reflek mengikutinya. Dia menyusul Depa. 

Saat Rian di belakang Depa. Tiba-tiba Depa menghentikan langkahnya. Dia menengok ke belakang. “Lu ngapain?”

Badan Rian langsung terdiam kaku. Matanya membesar dan mulut terbuka. 

Depa mendekati Rian. “Alasan lu ngikutin gua, itu karena ada Arpa kan? Itu udah membuktikan kalau lu nggak nganggep gua temen lu, jadi nggak ada alasan lagi buat lu ngikutin gua.”

Rian menatap Depa. Depa tersenyum miring. “Lu nggak sadar ya, temen lu satu lagi, siapa lah itu namanya, sekarang lagi hancur. Dan lu malah mengabaikan dia, lu lebih milih ngikutin gua, dari pada nemenin dia.”

Rian terdiam, suaranya tidak mau keluar. Tangannya gemetar halus. 

Mata Depa menyipit. “Kemarin lu ninggalin dia, demi bisa bareng Arpa. Sekarang lu ninggalin dia demi bisa bareng gua? Sebenarnya lu itu temen siapa? Dia? Arpa? Atau gua? Haha,” Depa langsung pergi. Dia memasukkan tangannya ke kantong. 

Rian menekan bibirnya. Dia menundukkan kepalanya dan menatap lantai. “Selama ini… gua ngapain sih?”

Rian mengangkat kepalanya. Dia mengepalkan tangannya dan membalikkan badannya. Dia lari kembali ke kelas. 

Tapi tiba-tiba langkah Rian terhenti. “Mungkin Jun… pengen sendiri dulu,” Dia memainkan jari-jarinya.

Rian mulai melangkah entah kemana. “Gua… nggak tau,” bahu Rian merosot. 

Rian pun terus melangkah, walaupun dia nggak tau ingin kemana. Dia… hanya ingin melangkah.

Jam istirahat pun berlalu. Rian yang berjalan tanpa tujuan kembali menuju kelas saat mendengar bel berbunyi. 

Rian pun sampai di depan pintu kelasnya. Dia langsung masuk dan berjalan menuju kursinya. Dia duduk dan berusaha untuk tidak melirik Juan. 

Pelajaran pun dimulai. Juan memperhatikan dengan mata setengah terbuka. Rian memperhatikan, tapi kadang melirik ke arah Juan. Depa yang memperhatikan tapi sering menguap. 

Bel pulang pun berbunyi. Murid-murid berbondong-bondong keluar dari sekolah. 

Saat Juan berjalan pulang. Tiba-tiba ada yang menyentuh dia. Alis Juan terangkat tipis. Dia menengok. 

Ternyata itu Rian. “Jun, gua… minta maaf.” kata Rian. Dia menundukkan kepalanya. 

Kepala Juan mundur sedikit. Matanya perlahan kembali hidup. 

“Depa, dia pengen ngerebut si Rap dari kita, Jun,” kata Rian. Dia mengepalkan tangannya. 

Juan sedikit memiringkan kepalanya. “Merebut…?”

Rian mengangguk. “Iya, kita harus ngomongin ini sama si Rap.”

Rian mundur pelan-pelan. “Besok gua ke rumah kalian ya, siapa tau si Rap udah sehat. Gua pulang ya,” Rian pergi sambil melambaikan tangannya. 

Malam hari pun datang. Arpa bangun dari tidurnya. Dia berjalan-jalan di dalam kamarnya. “Sip, kayaknya gua udah sehat,” Arpa nyengir. 

Pintu kamarnya terbuka. Ternyata itu ibunya yang sedang membawa makan untuk Arpa. “Loh, kamu kok jalan-jalan? Udah mendingan?”

Arpa ngangguk sambil ngasih jempolnya. “Bukan mendingan lagi bu, tapi sehat!”

Ibu Arpa tersenyum. “Yaudah nih makan dulu, terus habis itu tidur, besok sekolah,” ibu Arpa memberikan makan yang dibawanya. 

Arpa mengambil makannya dan mengangguk. “Iya, bu.”

Arpa pun makan dengan lahap. Setelah makan, dia berbaring di kasurnya. Dia mencoba tidur, tapi tidak bisa. Dia menutup matanya. Tapi belum tertidur juga. 

Arpa menggaruk kepalanya. “Waduh, gimana nih?”

Pagi hari pun tiba. Arpa terbangun karena alarmnya. Kepalanya pusing dan badannya sedikit pegal. Tapi dia tetap bersiap-siap untuk berangkat sekolah. 

Arpa keluar dari rumahnya sambil menguap. Dia depan rumahnya dia melihat Juan dan Rian. 

Dia langsung berlari ke arah mereka. “Jun? Yan? Ngapain nih?”

Rian menatap Arpa dengan serius. “Rap, langsung aja, jauhin Depa.”

Arpa mundur pelan. “Hah?”

“Dia, mau ngerusak pertemanan kita,” Kata Rian. 

Rian menundukkan pandangannya. “Kemarin, dia bilang tentang gua yang ninggalin Jun sendirian, dan gua lebih milih bareng lu. Tapi itu karena lu ninggalin kita demi Depa kan?”

Arpa langsung terdiam kaku. Dia menekan kedua bibirnya. “Tapi dia orang yang baik kan?”

Rian menghentakkan kakinya. “Lu pilih dia atau kita?!”

Mata Arpa membesar. Dia menundukkan kepalanya dan tangannya mengepal. “Gua… mau ngomong sama Depa dulu,” Arpa langsung lari meninggalkan Juan dan Rian. 

Arpa berlari secepat yang dia bisa. Pandangannya lurus. Keringatnya berjatuhan. Rahangnya mengeras. 

Arpa pun sampai di sekolahnya. Dia berhenti lari. Dia ngos-ngosan tapi tetap berjalan mencari Depa. 

Setelah berjalan beberapa langkah, Arpa melihat Depa di lorong. Dia menghampiri Depa. “Dep,” keringatnya masih mengalir. Dia masih ngos-ngosan. 

Depa nengok. Dia ngeliatin Arpa dari atas sampai bawah. “Kenapa lu? Di kejar anjing? Haha,” Depa nyengir. 

Arpa memegang bahu Depa. “Dep, lu kemarin ngapain? kenapa si Yan bilang kalau lu mau ngerusak pertemanan gua, Jun sama Yan?”

Alis Depa terangkat. Dia memalingkan mukanya. “Kalau iya, emangnya kenapa?”

Arpa menatap tajam Depa. Dia menggenggam erat bahu Depa. “Mereka temen gua, Dep!” kata Arpa dengan nada lumayan tinggi. 

Depa mengepalkan tangannya. Dia menepis tangan Arpa dari bahunya dengan keras. “Gua juga temen lu kan?!” kata Depa dengan nada tinggi. 

Badannya Arpa melemah dan matanya melembut. 

“Rap, cuman lu yang bisa paham sama gua. Cuman lu yang bikin gua ngerasa aman. Nggak ada yang bisa ngerti kita, selain kita berdua, Rap!” Alis Depa mengkerut halus. 

“Emangnya salah? Gua cuman pengen kita berdua. Cukup berdua, dan saling ngerti. Itu aja.” Depa menatap Arpa. 

Arpa memalingkan pandangannya. Tangannya gemetar halus. Dia… tidak tau harus berbicara apa dan bertindak seperti apa. 

1
cacelia_chan~
Arpa lari pagi, lupa pamit, lupa pintu… paket lengkap 😭
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
hayoloh lupa kan jadinya....
Alyaaa_Lryyy.
org pendiam klw mrh gk main2 yah , pliss klian shabtan aj🤗
Greta Ela🦋🌺
Yeayy jadi Arpa, Juan, dan Rian🤭
Greta Ela🦋🌺
Wahh Rian udah baik kah?🤭
Greta Ela🦋🌺
Awas nanti sakit
Queen Naom
kasihan Rian🥺
Tina
Ada rasa bombay dan haru di bab ini 😊
Tina
kayak bocil malah asik maen, lupa tujuan awal 🤣
Tina
patahin jarinya rap 😆
Greta Ela🦋🌺
Lah, jadi Rian ini anak broken home?😭
Greta Ela🦋🌺
Lah, gimana sih Rian, gak jelas amat
Greta Ela🦋🌺
Iya bener yang kamu lakuin ini Arpa. Jangan mau diam terus kalau dihina. Sekeali tonjok juga udah bagut itu
Queen Naom
arpa jangan baper ya😄
Queen Naom
beliau ini terlalu jujur
Queen Naom
kalau di real life udah di katain pacaran tuh🤣
Queen Naom
kasihan arpa🤣
Alexander BoniSamudra
ajak pelukan bang👍
Alexander BoniSamudra
ternyata di semua sekolah sama aja
Alexander BoniSamudra
Parah si susi mah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!