Sebuah kecelakaan besar membuat hidup Ajeng berubah total. Karena sebuah balas budi dan intrik dari keluarga Demian dan Mahesa dia harus menikah dengan Raka, laki-laki yang diselamatkannya dengan seorang anak kecil.
Ajeng harus terjebak dalam konflik keluarga kaya. Kehadiran Ajeng membuatnya harus menjadi seorang mama untuk anak kecil yang dia selamatkan.
Apakah Ajeng bisa menemukan kebahagiaan dengan menjadi Mama anak itu. Atau dia justru terperangkap masalah dan konflik keluarga kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van Theglang Town, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Runtuhnya Ranjang Kami
Warning!!!!!
Dilarang Keras untuk baper di bab ini. Karena Author tidak bisa menjamin efek samping dari kebaperan ini.
Kalau baper berlanjut silahkan hubungi pasangannya masing-masing. Yang belum punya pasangan harap kuat dalam menghadapi kenyataan*. Cieeeee ....
Bunda, Bang Arya, Merry, Raka dan Ajeng berkumpul di ruang keluarga. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih.
Setelah akad nikah berjalan lancar, Bang Arya mendudukkan Raka dan Ajeng berdampingan di hadapannya. Aromanya Arya akan memberikan nasihat pernikahan kepada pengantin baru itu.
"Dek, mulai sekarang kamu sudah milik dan tanggung jawab Raka, abang minta kamu dari sekarang mulai dan harus menjalankan kewajiban kamu sebagai seorang istri." Mode on Dek masih berlanjut itu artinya kalau bukan marah berarti abangnya sedang serius.
"Dan kamu Tung, gue minta loe jaga bener-bener adik kesayangan gue ini. Kalau loe bikin hati dan badannya cacat sedikit saja, loe tahu akibatnya, terlepas loe itu siapa dan anak siapa, gue nggak peduli, sekali loe berkhianat dan nyakitin adek gue, gue sendiri yang akan gali kuburan buat loe," sambung Arya pada Raka.
"Serem banget bang, janganlah abang kejam, nanti kalau aku dikubur Ajeng gimana, masa iya nanti jadi jan ...." Raka tidak mau meneruskan perkataannya karena takut melihat sorot mata Arya yang siap menabok.
"Nak Raka, bunda titip Ajeng, kalau Nak Raka tidak bisa membimbingnya sebagai istri lebih baik Ajeng dikembalikan ke bunda dengan cara baik-baik," pesan bunda.
"Iya bunda, Raka janji," ucap Raka berjanji.
Ajeng hanya menatap Raka dengan sinis. Sungguh manis ucapannya itu, kalau sedang tidak ada abang dan bundanya mungkin Raka sudah habis dipukul pakai gagang sapu.
"Ya sudah, jni sudah malam, kita istirahat, dan Ajeng kamu mau bermalam di sini atau pulang ke rumah Raka?" tanya bunda.
Sebelum Ajeng menjawab mau tidur di rumah. Buru-buru Raka menjawab.
"Kita mau langsung ke rumah Bun," sambar Raka menjawab. Dia tahu pasti Ajeng bakal jawab tidur di sini. Sementara dia tahu kalau di kamar Ajeng hanya ada sebuah tempat tidur kecil. Mana cukup buat mereka berdua tidur.
"Ya sudah." Bunda kemudian bergerak bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Sementara Arya kemudian menggandeng tangan istrinya dengan mesra meninggalkan Ajeng dan Raka yang masih termenung duduk.
Sempat Raka mengekor pandangannya melihat Arya memeluk Merry menuju kamarnya. Membuat Raka ikut merasakan panas dingin melihatnya.
Ajeng kemudian berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Raka pun bangun dan mengikuti Ajeng di belakangnya. Ajeng menuju kamarnya, Raka dengan santai ikut berjalan di belakangnya. Tapi sebelum Raka masuk, pintu kamar sudah ditutup Ajeng membuat daun pintu itu hampir saja mengenai mukanya sekian centimeter lagi.
Raka mengelap wajahnya yang hampir saja kejedot. Lalu mengetuk pintu kamar Ajeng dengan pelan. Namun pintu tak kunjung dibuka. Raka sadar Ajeng pasti marah besar padanya. Namun Raka tidak punya pilihan lain selain nekat menikahi Ajeng malam ini juga. Raka takut keduluan sama Bayu. Jadi Raka memakai cara licik ini untuk dapat menikahi Ajeng.
Tiba-tiba bunda datang sang Ibu Peri yang melihat seorang pangeran tampan di depan pintu Ajeng yang terkunci dan tak bisa masuk.
"Nak Raka, sedang apa di situ, bukannya kalian mau pulang?" tanya Bunda heran melihat Raka di depan pintu kamar Ajeng.
"Iya bu, ini juga mau pulang, sayang .... yang, ayo dong cepetan ganti baju nya, ini ada bunda di depan!" seru Raka menjual nama ibu mertuanya agar dia bisa masuk.
Tak lama terdengar suara kunci diputar lalu dibuka. Ajeng sudah mengganti bajunya dengan setelan training. Melihatnya seperti itu Raka ingin tertawa tapi di tahan.
"Kamu mau kemana Jeng pake trening segala, emangnya kamu mau joging ke stadion?" tanya bunda nya melihat putrinya malah pakai baju trening.
"Nggak kemana-mana kok Bun, malam ini Ajeng tidur di sini ya bun?" kata Ajeng tak memedulikan wajah Raka yang dari tadi kesal.
"Tidak boleh begitu, kasihan suamimu kalau harus tidur di sini, tempat tidur kamu kan sempit, masa harus tidur di bawah," kata Bunda membela Raka.
"Tidak apa-apa kok, bukan begitu kan suamiku?" tanya Ajeng sambil mendelikkan matanya pada Raka.
"Eh, nggak, eh iya, aku ngga masalah kalau harus tidur di bawah, di kasur dempet-dempetan juga boleh, udah sah ini kan?" jawab Raka merasa kecewa karena tiket menginap di hotel yang sudah di booking om nya tadi bisa hangus.
"Ya sudah, kalau kalian mau menginap di sini," kata Bunda kemudian kembali lagi ke kamarnya.
Lalu Ajeng menarik baju Raka dengan kasar ke dalam kamarnya. Raka pasrah saja ditarik-tarik seperti itu. Sebenarnya kekhawatiran Bang Arya berlebihan kalau dia menyangka Ajeng bakal di aniayaya olehnya. Ini bukannya kebalikannya. Ajeng yang malah sepertinya hendak menyiksanya.
Raka kemudian dengan kakinya menutup pintu kamar Ajeng. Karena baju kokonya masih ditarik Ajeng.
Setelah mereka masuk berdua. Ajeng melepaskan cengkramannya lalu dengan wajah yang super jutek dia mulai bicara dengan Raka.
"Ingat ya, pernikahan ini hanya sebatas darurat dan sebuah kesalahpahaman keluargaku. Jadi aku akan pura-pura saja sampai ini selesai. Dan aku minta selama ini belum selesai. Kamu jangan coba-coba menyentuhku, paham!" kata Ajeng. dengan suara pelan karena takut terdengar oleh Bunda.
Raka mendengar ucapan Ajeng dengan berusaha mencerna maksud setiap perkataan Ajeng itu. Tapi entah kenapa dia merasa ditusuk-tusuk jarum saat Ajeng mengatakan jangan menyentuhnya.
"Paham nggak, kalau kamu keberatan, aku akan berterus terang sama Bang Arya kalau kamu cuma manfaatin aku doang," ancam Ajeng.
"Iya aku paham." Ucap Raka kemudian dengan santai dia langsung berbaring di kasur Ajeng. Ajeng yang melihat itu mencoba mencegah Raka untuk tidur di ranjangnya.
"Kamu jangan tidur di sini, tempatmu di bawah!" kata Ajeng.
"Kamu kan tahu, kalau aku tidak terbiasa tidur di lantai tanpa kasur, kamu saja ya!" kata Raka cuek dengan melentangkan tangan dam kakinya yang panjang itu. Ajeng merasa kalau Raka mencoba menguji kesabarannya di malam pertama dia menjadi istrinya.
Ajeng tak mau kalah, dia pun mendorong tubuh Raka yang tinggi kekar itu agar turun dari tempat tidurnya. Tapi itu tidak mudah, kekuatan tubuh nya yang kecil dan mendorong tubuh Raka yang jangkung membuat dia kesulitan mendorong tubuh Raka yang tidak mau bergerak mengalah turun itu. Terjadilah dorongan yang kuat versus pertahankan Raka yang tidak mau mengalah bergerak turun.
Tentu saja peristiwa itu membuat suara derit ranjang Ajeng menjadi aneh. Ajeng yang belum menyerah untuk mencoba mendorong dan mengangkat tubuh Raka itu sambil teriak "awas, awas."
Itu adalah kejadian yang sesungguhnya. Namun yang terdengar oleh orang lain bukan itu. Mereka hanya bisa tersenyum mesem mendengar suara deritan ranjang dengan suara racauan Ajeng yang membuat semua mengira kalau mereka sedang melakukan aktivitas suami istri.
Raka pura-pura memejamkan matanya agar Ajeng menyerah dan membiarkan dirinya tidur di ranjang dan dia di lantai.
Tapi bukan Ajeng namanya kalau dia menyerah begitu saja. Raka kemudian merasa kalau Ajeng sudah menyerah karena tidak ada gerakan mendorong lagi dari Ajeng. Hanya terdengar suara derit ranjang di sebelah ujung ranjang dekat kakinya. Kemudian Raka memicingkan matanya sebelah mengecek apakah Ajeng sudah menyerah.
Dengan sebelah matanya yang dibuka Raka melihat Ajeng berdiri di atas ranjang dengan posisi tangan dan sikutnya siap mendarat di tubuhnya. Tentu saja itu berbahaya. Itu adalah teknik gulat yang akan mematikan lawan. Tentu saja Raka merasa aset berharganya terancam.
Raka langsung melotot ketika dia melihat Ajeng sudah dalam posisi hendak melakukan bantingan sikut ke arahnya. Namun terlambat buat Raka untuk menghindar dari serang Ajeng. Dan ....
GUBRAAAAAAAAKKK.
Suara kayu ranjang yang patah disusul dengan suara dua manusia yang jatuh tergeletak diantara kasur dan ranjang yang patah akibat tidak bisa menahan beban mereka berdua saat Ajeng hendak melakukan gerakan sikut mengayun itu.
Ajeng yang jatuh berdua dengan Raka hanya bisa menahan napas dengan posisi Ajeng tepat di atas perut Raka yang rata.
Suara ribut ranjang patah dan suara mereka jatuh tentu saja akan membuat yang terlelap akan terbangun. Namun baik Raka maupun Ajeng tidak mendengar suara bunda, dan Bang Arya menghampiri mereka. Sepertinya mereka mendengar suara tragedi "runtuhnya ranjang kami" tapi mungkin mereka takut Ajeng dan Raka malu kalau mereka mendatangi mereka.
Ajeng kemudian bangun dari atas tubuh Raka dan melihat ranjangnya yang sudah rusak. Terus bagaimana mereka bisa tidur dalam keadaan tempat tidur seperti itu.
Raka kemudian terkekeh melihat wajah panik Ajeng. Dia merasa sedang melihat sketsa komedi dari wajah Ajeng yang terlihat tegang campur malu.
"Ini bukan salahku ya, ranjang kamu rusak begini gara-gara ulah kekanak-kanakan kamu tadi."
"Ko bukan salahmu, jelas salahmu, kalau kamu lebih awal mengalah, tidak mungkin bakal kejadian kayak gini," sewot Ajeng marah.
"Sssttt, udah jangan ribut, ganggu mereka tidur," kata Raka pelan.
"Terus gimana kita tidurnya?" tanya Ajeng.
"Kita?" tanya Raka menggoda.
"Ikh bukan waktunya buat becanda."
"Nah siapa yang mau ngajak becanda," sahut Raka.
Ajeng kehabisan kata-kata kalau sudah berdebat dengan Raka.
"Gimana mau tidurnya kalau begini," gumam Ajeng kesal.
"Kita ke hotel aja yuk!" ajak Raka dengan pandangan serius.
"Apa, kamu mau mesum ya?" tanya Ajeng tambah marah.
"Daripada kita tidur di puing-puing ranjang yang koyak gitu, mending kita ngungsi dulu di hotel, sebenernya tadi om sempet ngasih kado, tiket semalam di hotel B," kata Raka memberikan solusi.
"Mending tidur di sini daripada harus tidur ke hotel sama orang mesum," kata Ajeng kemudian mulai menggotong kasur bisanya menjauh dari puing ranjang yang patah itu. Kemudian membaringkan badannya di atas kasur yang sudah dia pisahkan dengan ranjang.
Raka melihatnya dengan tatapan lesu. Dia juga sudah lelah, tambah tadi bekas dipukul Arya. Boro-boro mau mesum. Dia hanya ingin segera tidur dan istirahat.
Raka melihat Ajeng tampak meringkuk dengan setelan trening tebalnya. Di kamar Ajeng ini tidak ada AC maupun kipas angin. Raka tertawa geli melihat Ajeng seperti itu.
"Apa dia tidak kepanasan memakai baju tebal seperti itu?" batin Raka.
Raka kemudian berjalan menghampiri Ajeng yang sedang berusaha tidur dan pura-pura tidak memedulikan kedatangan Raka.
Raka kemudian menguap lebar.
"Awwwaaah aku ngaancuk awwwu mauu tiduuuw juhaa," kata Raka sambil menguap lebar dan sedikit menggeserkan badan Ajeng yang kecil itu lalu meringkuk ke arah berlawanan membelakangi Ajeng.
Karena kelelahan mata Raka sudah lima watt sebenarnya. Malam ini sungguh malam yang panjang buatnya. Dan urusan malam pertama yang sempat dia bayangkan dan idamkan masih tertunda karena dia sudah sangat mengantuk. Sementara Ajeng dengan perasaan waswas berusaha status siaga takut Raka tiba-tiba menyentuhnya.
Keringat bercucuran karena dia memakai baju olahraga yang tebal. Dia sudah tidak tahan panas. Ajeng berusaha untuk segera tidur. Tapi karena merasa kepanasan Ajeng tidak bisa tidur sama sekali. Posisi dia membelakangi tubuh Raka yang kedengerannya sudah tertidur. Karena dia mendengar suara dengkuran halus di telinganya. Merasa terganggu Ajeng kemudian membalikkan badannya. Dan ketika dia berbalik wajah Raka yang sedang tertidur kini di depan wajahnya. Napas Raka langsung menghembus ke wajah Ajeng.
Ajeng untuk ke sekian kalinya terpaku menatap wajah Raka yang tertidur. Hatinya bergetar melihat wajah mulus Raka tanpa kumis dan jenggot. Niatnya untuk protes padanya jadi hilang seketika setelah melihat wajah damainya Raka saat tertidur.
"Sekarang kamu suamiku, apakah aku harus senang atau takut?" batin Ajeng.
Ajeng tak menampik kalau dia memang menyukai Raka. Tapi Ajeng juga tidak mau kalau dirinya cuma dibuat main-main saja oleh Raka.
Ajeng mengibas-ngibaskan tangannya ke depan wajahny karena kepanasan. Ajeng sekarang tidak tahan dengan rasa panas akibat bajunya yang terlalu tebal.
Karena Raka sudah tertidur. Ajeng kemudian bangun dengan segera. Dia sudah tak tahan dengan panas akibat bajunya itu. Dia mau mengganti pakaiannya.
Ajeng perlahan membuka lemari agar suaranya tidak membangunkan Raka. Mencari baju yang lebih adem dipakai. Karena dia sudah tidak tahan. Dia hanya asal mencomot baju. Lalu perlahan menutupnya kembali.
Sebuah daster tidur. Tapi Ajeng kembali lagi bingung. Haruskah dia ke kamar mandi mengganti bajunya dengan resiko dia ketemu bang Arya lalu tanya-tanya masalah ranjangnya yang ambruk. Pasti muaalu banget. Atau dia ganti baju di kamar saja. Toh Raka sudah tidur. Dia juga nggak bakal lihat.
Ajeng pun akhirnya segera membuka baju trening yang tebal itu. Dia berusaha dengan kecepatan kilat membuka baju treningnya itu lalu segera memakai baju daster dan melorotkan celana treningnya. Dan berhasil, tidak membutuhkan lima belas detik dia pun berhasil berganti dengan daster.
Ajeng tak sadar, kalau sebenarnya Raka terbangun saat Ajeng bangun dan membuka lemari. Hanya saja dia tidak mau Ajeng sadar kalau dia memperhatikan Ajeng berganti pakaian tadi.
Raka kemudian pura-pura membalikkan posisi badannya kembali membelakangi Ajeng yang sudah kembali siap tidur.
"Gara-gara dia, aku yang biasa pakai daster tidur jadi harus pakai baju tebal karena takut dia mesum," gumam Ajeng namun terdengar jelas oleh Raka.
"Sekarang aku bisa tidur huaaa," seru Ajeng kemudian tidur dengan posisi membelakangi Raka.
Sementara Raka sekarang merasakan kegelisahan yang luar biasa. Wajahnya panas dan ternyata bukan hanya dia saja yang gelisah. Sesuatu di balik celananya juga ikut gelisah.
Raka berusaha untuk menahan kegelisahannya itu. Tapi tiba-tiba dia merasa sakit dengan posisi tidur miringnya sebelah kanan. Badan dan wajahnya yang kanan tadi bekas dipukuli Arya. Jadi refleks dia kemudian membalikkan lagi badannya. Namun ternyata bukan dia saja yang membalikkan badan. Ajeng juga ternyata sama-sama membalikkan badannya.
Saat itu juga mata mereka saling bertemu dan dua-duanya kaget. Mata bertemu mata, lutut bertemu lutut. Dan keduanya nampak kikuk karena sama-sama terciduk belum tidur.
Bersambung ....
"Thor kamu tegaaaaaaaaa bangetttttt siih!" protes Bayu pada Author yang sedang duduk manis menunggu Mas Pi lewat.
"Tega kenapa Bay?" tanya Author.
"Tegaaaaa tegaaaaaa," kata Bayu protes namun hanya terdengar Author seperti Meggi Z yang sedang menyanyi dangdut.
"Kagak jelas amat sih Bay, udah daripada loe nyanyi lagu tega Meggi Z, kasih tahu reader berita bahagia."
"Ogaah, aku tahu berita pernikahan Raka kan?" tanya Bayu.
"Bukan, sini aku bisikin!" kata Author kemudian membalikkan sesuatu pada Bayu.
"Beneran itu?" tanya Bayu belum yakin.
"Benerrr lah, sok kasih tahu reader!"
"Okeee ... Readers setia dan yang pendatang baru ada kabar kalo MMMM berhasil dikontrak Noveltoon. Ini berkat kalian yang selalu setia membaca. Jadi terimakasih yaaaa, jangan lupa tetap like, komen, dan vote!"
"Author dan para cast cinta kalian, we purple you 💜💜💜💜💜💜"
Nantikan MMMM besok lagi***
mungkin dengan raka jujur di awal ajeng akan mengerti tidak salah paham begini