DALAM TAHAP REVISI
AUTHOR GAK JAMIN CERITANYA BAKAL SERU
KALAU PENASARAN SILAHKAN DIBACA
Arkan dan Arta si pria cupu dan gadis cacat di persatukan dalam ikatan pernikahan untuk menyelamatkan nama keluarga kedua belah pihak lebih tepatnya menyelamatkan nama keluarga Arkan dan mantan tunangannya yang merupakan sepupu Arta.
Arta dahulu gadis yang ceria dan cantik hingga sebuah kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orangtuanya mengubah segala hal dalam hidupnya.
Ia harus hidup terpisah dari sang kakak yang memiliki kepribadian ganda akibat kejadian di masa lalu, ia tinggal bersama keluarga Mahendra adik dari sang Ibu yang telah berpulang.
Bukannya disayangi, Arta justru mengalami kekerasan fisik dan tekanan mental di rumah itu, tak sampai disitu ia harus mengganti posisi sepupunya uuntuk menikah dengan Arkan karena pria cupu itu telah jatuh miskin.
Namun, ada rahasia dibalik semua kejadian yang mereka alami bahkan identitas keduanya adalah rahasia terbesar yang mereka simpan selama ini.
Sang kakak menaruh curiga pada keluarga Mahendra menyebabkannya mencari tahu penyebab kecelakaan keluarga mereka.
Kejadian demi kejadian saling bertautan, merangkai puzzle menjadi satu gambar yang utuh.
Kisah cinta mereka telah diulai, misteri dibalik kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya akan diungkapkan oleh alter ego sang kakak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laser
Sesampainya mereka di tempat konsultasi Dermatologi, mereka bertemu dengan Celo yang sedari tadi tengah duduk di ruang tunggu melamun.
"Cel, gimana Arta?" tanya Arkan membuyarkan lamunan Celo.
"Eh Kak, duduk dulu. Kak Arta lagi ditangani sama dokter. Kakak langsung melakukan semua prosedur hari ini. Menurut dokter, kakak akan pulih dalam 2- 3 hari ini" jelas Celo.
" Baiklah. Thanks udah menemani istri gue ya dek" ucap Arkan menepuk pundak Celo.
"It's okkay kak!" seru Celo bahagia karena dipanggil adik oleh Arkan.
"Paman Tampan senang ya punya saudara?" tanya Jeni yang tak sengaja mendengar suara hati Celo.
" Eh kok tau Jen? Paman senanglah dianggap adek sama Papa kalian" ucap Celo menunjukkan rasa bahagianya, jujur saja ia sangat ingin punya keluarga yang lengkap oleh karena itu dianggap adik oleh Arkan merupakan hal baik baginya.
"Hahaha Cel Lo bisa anggap gue saudara Lo, Kak Sam juga, Mama, Papa juga. Gue malah senang karena punya saudara baik kayak Lo" jelas Arkan.
"Beneran Kak! Wah berarti gue jadi paman si kembar dong. Kalau gitu bisa ketemu Mama dan Papa dong setiap hari" seru Celo antusias.
"Terserah Lo dek, dan jangan segan sama gue. Arta nganggep Lo saudara, gue juga begitu" ucap Arkan sambil menepuk pundak Celo.
"Thanks Kak" ucap Celo terharu.
"Hahahah Paman Tampan mau nangis" ejek Josua karena melihat mata Celo berkaca-kaca.
"Hehehe, Paman bahagia loh. Paman udah gak punya keluarga selain Mama kalian. Mengetahui Kak Arkan mau jadi Kakaknya Paman aja,Paman udah senang banget" seru Celo.
Arkan hanya tersenyum melihat kedekatan mereka. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Arta selesai melakukan prosedur Laser bekas luka di wajahnya.
"Keluarga nona Arta kami persilakan untuk masuk" ucap perawat memanggil mereka.
Arkan, Celo dan si kembar masuk ke dalam ruang perawatan. Tampak Arta dengan baju pasien sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Mama!" seru si kembar menghampiri Arta.
"Eh sayang, kemari nak" ucap Arta memanggil si kembar sambil mengubah posisinya menjadi duduk. Sementara Arkan dan Celo berbicara dengan Dokter yang menangani Arta, Arkan juga sengaja memanggil Fiko.
"Mama sakit? kenapa pakai baju pasien? itu wajahnya kenapa di perban? apa dokternya jahat? " cecar Jeni dengan setumpuk pertanyaan yang membuat Arta kebingungan.
"Adik, nanyanya satu satu dong Mama bingung nanti jawabnya" balas Josua sambil naik ke atas ranjang lalu memeluk Arta.
"Heheheh, Jeni kan penasaran Abang" ucap Jeni terkekeh sambil ikut memeluk Arta.
"Sayangnya Mama akur sekali. Mama makin sayang deh" ucap Arta gemas sambil memeluk erat si Kembar.
"Mama tadi di periksa sama Ibu dokternya, mau hilangin bekas luka di wajah Mama" ucap Arta menjelaskan keadaannya pada si kembar.
"Ohh, jadi sekarang kenapa wajahnya di perban Ma?" tanya Josua.
"Masih dalam pemulihan sayang, 2 hari lagi udah bisa di buka" jawab Arta.
"Oh gitu ya Ma, Mama baik baik saja kan?" tanya Jeni kecil.
"Tentu sayang,apalagi Mama bareng Abang dan adik yang imut ini" seru Arta tersenyum.
"Bagaimana pemeriksaan kalian?" tanya Arta.
Seketika wajah si kembar berubah kesal, raut wajahnya menunjukkan kalau ada yang tidak beres.
"Ada apa sayang hmm?" tanya Arta penasaran.
Jo dan Jen memundurkan tubuhnya lalu duduk di hadapan Arta dengan wajah ditekuk.
"Tadi Dokter menornya godain kita sama Papa huh" kesal Jeni si cerewet.
"Adik jelasinnya yang benar dong, Mama nanti bingung" ucap Josua yang memang sifatnya lebih dewasa dari si Jeni yang lebih cerewet.
"Abang aja yang jelasin, Jeni kesal huh" ucap Jeni cemberut.
"Ya udah jangan cemberut jelek tau!" celetuk Josua.
" jadi gini Ma, tadi kan kita konsultasi terus ketemu dokter yang menor terus bajunya seperti kekecilan gitu Ma. Waktu kita masuk, dokternya terus lirik-lirik Papa, senyum-senyum nggak jelas terus kecentilan lagi.
Giliran dokternya meriksa kita senyumnya pura-pura, terus fokusnya bukan ke abang sama adik tapi sama Papa. Nah Josua dengar dokternya ngomong dalam hati mau godain Papa karena Papa tampan dan kaya. Jo dan Jen kesal banget Ma!" jelas Josua pada Arta.
"Dari mana abang tau kalau dokternya ngomong gitu dalam hatinya?" tanya Arta, karena dalam pikirannya mana mungkin mereka bisa dengar suara hati orang lain.
"Kita bisa dengar loh Mama, sekarang aja abang tau kalau Mama pikir kita nggak mungkin bisa dengar " ucap Josua.
"Hmm masa iya kalian bisa ? coba dengar apa yang mama bilang sekarang"ucap Arta tak yakin.
"Mama bilang abang jangan bohongin Mama" ucap Josua.
Arta terkejut karena apa yang dikatakan oleh Josua itu benar.
" Sekarang Mama bilang kalau kita hebat" ucap Jeni lagi yang membuat Arta semakin terkejut.
"Wah, anak-anak Mama hebat sekali!! sejak kapan kalian punya kemampuan ini sayang?" tanya Arta .
"Sejak Abang sama Adik di kurung di gudang Ma" jelas Josua dengan wajah sedih mengingat kejadian yang menimpa mereka.
" Benarkah sayang?" ucap Arta menarik si kembar ke dalam pelukannya.
"Sudah jangan ingat lagi kejadian itu. Sekarang kalian punya Papa dan Mama yang akan melindungi kalian, ada Kakek, Nenek, Paman Sam dan Paman Celo juga. Jangan takut ya sayang" ucap Arta dengan senyuman tulus di wajahnya, senyuman hangat seorang Ibu yang sangat dirindukan si kembar.
"Kita tau kok, Papa dan Mama sayang sama kita" ucap Jeni sambil tersenyum manis menunjukkan gigi kecilnya.
"Terimakasih Mama" ucap si kembar bersama.
"Iya sama-sama sayang" ucap Arta.
"Lalu gimana tadi dokternya itu? apa yang Papa lakukan ?" tanya Arta teringat dengan dokter yang berusaha menggoda suami dan anak-anak nya.
"Papa kelihatan kesal dan marah Ma, tapi Papa gak langsung marahin dokternya. Papa ajak kita keluar tanpa ngomong apa-apa sama dokter jelek itu" seru Jeni.
"Lalu kita ketemu sama dokter Tampan, hmm Dokter Fiko Ma." ucap Jeni terputus saat orang yang diceritakan mereka masuk ke dalam ruangan itu.
"Ehem....lagi gosipin kita nih hmm?" ucap Arkan langsung masuk dan mencium kening istrinya dan pipi si kembar bergantian. Arta yang mendapat kecupan itu seketika terkejut sekaligus malu karena Arkan melakukannya di depan dokter Fiko dan Celo juga anak-anaknya.
Sedangkan Fiko dan Celo menganga tak percaya dengan tindakan Arkan yang di luar dugaan.
"Jiwa jomblo-ku meronta-ronta bro!" ucap Fiko membelalakkan di matanya terheran-heran dengan perubahan total Bosnya itu.
"Wah Kak Arkan makin gercep aja nih" ledek Celo.
"Ya elah, gue begitu kan sama istri dan anak-anak gue. Kalau kalian mau nikah Sono!" ucap Arkan dengan santainya lalu duduk di samping Arta.
"Papa bikin Mama malu hahaha" ucap Jeni. Dan benar saja wajah Arta sudah seperti kepiting rebus saking malunya.
"Kak Celo balik ke kantor ya, ada meeting soalnya. Nanti Celo kirim filenya ke email kakak"ucap Celo pada Arta.
"Oh oke hati-hati di jalan" ucap Arta.
"Sip kak, Balek dulu ya Kak Arkan jagain istrinya. Om Celo balik ya sayang" pamit Celo bergantian pada Arkan dan si kembar yang di balas anggukan oleh Arkan.
"Bye bye Om Celo!" seru si kembar.
"Gue juga balek ya, berkas gue numpuk soalnya" ucap Fiko yang sebenarnya tadi di panggil oleh Arkan entah untuk melakukan apa.
"Ya udah sana!" ketus Arkan cuek sambil memainkan rambut panjang istrinya.
"Jahat Lo, manggil gue pas lagi sibuk tau taunya cuma nemenin ke ruangan dokter. Gue banyak kerjaan Bambang" gerutu Fiko kesal dengan kejahilan Arkan.
"Ya udah sana balik gih, gue mau Family time dulu" ucap arkan cuek.
"Gue balek ya nona Arta, Paman balek dulu ya kembar" ucap Fiko tanpa menghiraukan Arkan.
"Bye bye Paman Dokter" seru si kembar yang di balas senyuman oleh Fiko.
"Kak kok gitu sama Dokter Fiko?" tanya Arta.
"Biarin sayang, dia butuh candaan soalnya hidupnya terlalu tegang hahahah" celoteh Arkan tak jelas.
"Sayang jangan tiru Papa kalian ya, gak baik jahilin teman sendiri" ucap Arta pada si kembar.
"Iya Ma, tapi Paman Dokter senang kok" ucap Josua.
"Benarkah? syukurlah kalau begitu" ucap Arta.
"Loh loh kamu lebih percaya sama anak-anak daripada suami sendiri hmm?" tanya Arkan heran.
"Iya dong,anak-anak Mama kan hebat. Mereka tau isi hati orang lain. Beda sama Papanya yang diam aja waktu digoda sama dokter cantik" sindir Arta.
"Bukan dokter cantik Mama, dokter menor itu" balas Arkan sambil memeluk Arta sambil bersuara seperti anak kecil.
"Jadi kamu cemburu hmm?" ucap Arkan .
"Nggak tuh, buat apa cemburu" ucap Arta cuek.
"Nak Mama kalian cemburu kan?" tanya Arkan pada si kembar. Ia sudah tahu kalau mereka bisa dengar suara hati orang lain.
"Iya Mama Cemburu hahahaha" jawab si kembar sambil tertawa puas bisa melihat wajah Mamanya yang semakin memerah.
"Sayang jangan bilang-bilang dong, Mama kan malu jadinya" gerutu Arta sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Jadi bener kamu cemburu Hahahha. Dokter tadi udah aku urus kok, dia akan dipindahkan ke pelosok. Ku harap dia bisa belajar melayani pasien dengan tulus bukan dengan maksud tertentu" jelas Arkan tak mau Arta salah paham.
"Mentang-mentang yang punya rumah sakit jadi seenaknya kamu" ucap Arta memukul pelan bahu Arkan.
"Aku gak mau dia nanti jadi pemicu bahaya untuk kamu dan anak-anak. Karena dari apa yang aku lihat dia tipe pelakor yang bisa lakukan apa saja asal kemauannya tercapai"
"Jadi sebelum terlambat, aku harus membasmi dan memberi pelajaran pada orang-orang seperti itu" jelas Arkan.
"Iya, iya deh. Habisnya Kakak tampan sih jadi banyak yang lirik, atau Kakak balik aja deh kayak dulu biar cuma Aku yang nikmatin ketampanan kakak" balas Arta.
"Baiklah, kakak gak masalah selama kamu senang" ucap Arkan menurut.
"Aduh baik banget suamiku, gak usah balik tetap gini aja. Arta percaya kok sama Kakak" jawab Arta sambil tersenyum manis.
"Hahaha sekarang Papa yang malu" ejek si kembar membuat Arkan semakin salah tingkah di hadapan istri dan anak-anaknya.