Di saat resepsi pernikahan. Anjani Thalia harus menerima kenyataan pahit jika calon suaminya tiba-tiba saja membatalkan pernikahannya.
Keluarga Anjani merasa malu dan marah karena merasa di permainkan oleh Arjuna . Calon menantu mereka.
Bahkan yang paling mengejutkan, ternyata Arjuna memilih wanita lain. Dan yang lebih mengejutkan dia memilih teman Anjani sendiri sebagai calon istrinya.
Saat keadaan kacau Anjani terlihat pasrah dengan kehancuran di depan matanya. Namun siapa sangka seseorang justru menyelamatkannya dari kehancuran itu.
Keandra Alarick. Mantan Anjani datang dengan tiba-tiba dan ingin menikahinya. Hal itu pun membuat semua orang terkejut.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Apa Anjani akan melanjutkan pernikahannya dengan Keandra?
Apakah setelah ini kehidupan Anjani akan bahagia?
Ikuti kisah mereka sampai selesai.
Jangan lupa follow. Beri like dan komentar kamu ya!
Happy Reading...! 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Tidak peka
Rumah Keandra
Sesampainya di rumah, Keandra dan Anjani pergi ke kamar mereka. Tidak ada perbincangan di antara mereka. Bahkan sejak kepulangan mereka, Anjani terlihat hanya diam saja .Keandra yang sejak tadi bersamanya terlihat mengerutkan kening. Merasa aneh dengan sikap Anjani saat ini .
Anjani memutuskan untuk membersihkan badan. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat Keandra memegang tangannya .
"Kenapa ?"tanya Keandra, menatap tajam Anjani .
Anjani terdiam tidak menjawab pertanyaan Keandra. Suasana hatinya saat ini tidak baik , Apalagi mengingat kejadian tadi saat Kiandra pergi dengan Felicia .
Keandra mengelas nafas kasar, saat melihat Anjani tidak menjawab pertanyaannya dan memilih pergi ke kamar mandi. Hatinya bertanya-tanya . Sebenarnya ada apa dengan Anjani . Tidak ingin larut dalam rasa penasarannya, Keandra pun memutuskan untuk duduk di sofa dan membuka laptopnya . Mengerjakan kembali pekerjaannya, sambil menunggu Anjani selesai membersihkan diri .
Ceklek
Beberapa menit kemudian, Anjani keluar dari kamar mandi. Terlihat segar namun tetap dengan sikap yang sama. Acuh .
Keandra yang memainkan laptopnya melihat ke arah Anjani. Memperhatikan setiap gerak-gerik Anjani, sampai pada akhirnya ia yang sudah tidak tahan didiamkan. Memutuskan berdiri dari duduknya dan menghampiri Anjani .
" Ada apa ?" tanya Keandra menatap Anjani . "Kenapa sejak tadi, aku perhatikan sikapmu berbeda ? Dan ingat, aku tidak suka didiamkan seperti ini ."
Anjani meringis. Keandra begitu kuat mencengkeram tangannya . " Lepaskan tanganku ,Kean . Sakit ."
Keandra tidak mendengarkan ucapan Anjani. Namun malah sebaliknya memperkuat cengkramannya pada tangan Anjani . " Jawab pertanyaan,ku. Kenapa sejak tadi kamu hanya diam saja ?"
Alih-alih menjawab Anjani malah menangis .Keandra benar-benar sudah menyakitinya .
Keandra melepaskan cengkramannya. Saat ini memaksa bukanlah hal yang tepat. Mereka butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikiran masing-masing . Kini giliran Keandra membersihkan diri . Meninggalkan Anjani yang sedang terisak akibat perbuatannya .
Setelah kepergian Keandra tangis Anjani pun pecah . Sikap kehendak benar-benar menyakitinya . Keandra benar-benar tidak bisa memahami dan mengerti tentang perasaan Anjani saat ini .
" Kenapa Ken ? Kamu tidak pernah mengerti sedikitpun tentang hatiku ." ucap Anjani dalam hati .
Anjani yang sudah lelah pun memutuskan untuk tidur duluan . Hatinya lelah. Bahkan tubuhnya pun juga lelah .
Sementara itu Keandra yang sedang mandi pun terlihat termenung. Di bawah guyuran air shower, ia mengingat kejadian hari ini. Ada rasa bersalah pada hatinya . Mengingat raut wajah Anjani penuh dengan kesedihan . Keandra mengepalkan tangan. Apakah dirinya sudah benar-benar keterlaluan?
Keandra memejamkan matanya kembali. Menahan perasaan yang sakit, mengingat perlakuannya selama ini pada Anjani.
" Maafkan aku, Anjani." gumam Keandra penuh penyesalan.
Tak lama kemudian, Keandra selesai dengan mandinya. Keluar dari kamar mandi. Berjalan menghampiri ruang ganti. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat Anjani, yang sudah tertidur. Keandra melanjutkan langkahnya. Berjalan menuju ruang ganti.
Malam semakin larut. Keandra memutuskan untuk tidur dan beristirahat. Memejamkan mata. Berharap hari esok akan lebih baik dari pada hari ini.
...----------------...
Hari pekan ini, Anjani memilih menghabiskan waktu di rumah. Tidak ada niatan untuk pergi kemana pun. Sebab Anjani lebih suka menghabiskan waktu di rumah dari pada bepergian ke luaran sana.
" Sarapannya sudah siap." gumam Anjani, menatap meja makan yang terdapat beberapa menu makanan buatannya. "Sekarang Aku akan membangunkan Keandra dulu. " Anjani pergi dari sana. Berjalan menuju kamar.
CKLEKK
Anjani membuka pintunya. Namun matanya seketika membulat, saat melihat Keandra sudah berdiri di hadapannya dengan setelan olahraga.
"Kean." ucap Anjani sedikit terkejut. "Aku kira kamu belum bangun."
Keandra tidak membalas ucapan Anjani. Hanya menatapnya lama.
"Ganti baju, mu. Pagi ini kita jogging."
Anjani menatap Keandra tidak percaya. Apa dia tidak salah dengar? Jogging. Mereka berdua. Mimpi apa Anjani semalam. Sampai tiba-tiba Keandra mengajaknya jogging.
"Jo-jogging? Kita berdua?" kata Anjani sedikit tergagap. Menunjuk dirinya dan Keandra bergantian.
Keandra mengangguk pelan. Pergi dari hadapan Anjani. "Aku beri waktu lima menit, untuk bersiap-siap."
Anjani seketika terkejut saat mendengar perkataan Keandra. Apalagi saat ini Anjani belum siap-siap. Hanya memakai baju santai seperti biasanya.
"A-aku akan bersiap-siap. Kamu tunggu di bawah saja." Anjani yang gugup segera menutup pintu kamar. Mencari baju yang ia butuhkan dengan tergesa-gesa. "Kenapa mendadak sekali? Ada apa coba, tiba-tiba Keandra mengajak ku jogging? Aneh, kan?" gerutunya.
Setelah menemukan baju yang di cari. Anjani segera memakainya. Keluar dari kamar dan menghampiri Keandra yang sedang menunggunya di ruang tamu.
"Lama!" ucap Keandra dingin. Bangkit dari duduknya. Pergi begitu saja.
Anjani membulatkan mata, melihat sikap Keandra yang menurutnya sangat menyebalkan. Kalau bukan suami sendiri, ingin rasanya Anjani melemparnya ke planet Pluto.
Anjani berlari mengejar Keandra yang pergi terlebih dahulu. Meskipun Keandra menyebalkan, tapi tetap saja ia adalah suaminya sendiri. Bahkan Anjani senang karena Keandra mau mengajaknya. Meskipun belum tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
...----------------...
Di sebuah taman, Anjani dan Keandra terlihat berlari santai. Menikmati suasana pagi hari yang begitu segar tanpa polusi. Meskipun mereka berdua terlihat menjaga jarak, tidak membuat semua orang yang melihat mereka ikut memuji.
Anjani memilih berjalan santai, saat merasa sudah lelah. Berbeda dengan Keandra, pyang tetap berlari tanpa menengok ke belakang. Hal itu membuat Anjani sedikit mendengus kesal.
" Dasar tidak punya hati!" gerutu Anjani, menatap Keandra yang semakin menjauh. Matanya mencari bangku untuk dirinya duduk. Anjani tersenyum melihat benda yang dicari. Berjalan. Duduk di bangku dengan senyuman yang masih mengembang di bibirnya.
Anjani duduk dengan tenang. Menatap ke sekeliling taman, yang di penuhi orang-orang yang sedang jogging. Bahkan di sana banyak orang yang sekedar jalan-jalan dan menikmati suasana taman.
"Kemana perginya, Kean?" gumam Anjani. Sadar bahwa Keandra tidak terlihat di sana. Hatinya sedikit khawatir, karena hanya tinggal sendirian di sana. "Apa aku susul, dia? Tapi aku lelah."
Anjani yang bermaksud menyusul Keandra mengurungkan niatnya. Sebab saat ini dirinya ingin duduk dan menikmati suasana taman yang ramai.
"Boleh saya duduk disini?"
Anjani yang sedang memperhatikan taman menoleh. Seorang laki-laki seumuran dengannya. Memakai kaos hitam dan celana panjang. Menghampirinya dan tersenyum kepadanya.
"Oh... Silahkan." jawab Anjani singkat dan sopan.
Laki-laki itu mengangguk pelan. Tersenyum menampilkan lesung pipi di sebelah kiri.
"Boleh kenalan?" tanya laki-laki itu, menatap Anjani. Mengulurkan tangan. Tersenyum. Membuat setiap wanita yang melihatnya seketika terpana. Namun tidak untuk Anjani. Acuh. Sebab, dirinya sudah mempunyai suami. Pikirnya.
Anjani hanya diam. Matanya menatap uluran tangan laki-laki itu. Sebelum Anjani membalas uluran tangan laki-laki itu. Terdengar suara berat Keandra, yang tidak jauh dari sana.
"TIDAK BOLEH!"
lanjutin ceritanya sampai tamat