Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama mengerjakan PR
Pukul delapan malam, mama Alin telah mantap duduk di dalam mobilnya, tangannya menggenggam erat setir kemudi. Namun ada rasa sedih meninggalkan kota kecil yang baru saja ia tinggali selama tiga minggu terakhir.
Adit mendekati mobil mamanya, setelah mama Alin pamit namun tak kunjung pergi. "Ada yang ingin mama sampaikan?" Adit bertanya dari jendela mobil sang mama.
"Mungkin mama terlalu lama di sini, Dit. Mama jadi berat mau pulang ke Bandung, tapi harus." Sesal mama Alin.
"Mama pasti akan lebih sering ke sini untuk mengurus kerja sama dengan bu Susi dan juga bu Neli, kan?"
Mama Alin mengangguk, "iya, mama akan cari sopir biar mama nggak kecapekan."
"Semangat, ma!"
"Makasih, Dit. Mama pergi dulu, ya?"
Adit melambaikan tangan, diiringi Tya yang sedang bersedih di pelukan ibunya yang berada di samping Adit.
"Ayah, kenapa ayah tidak mencegah oma pergi?" rengek Tya.
"Oma akan kembali lagi, Tya..." Kata Arumni.
"Bagaimana aku bisa menyelesaikan PR-PR ku, ibu?"
"Tenang, ada ayah." Bisik Arumni.
Alisnya meninggi, "apa yang kau bisikan, ibu?" tanya Adit.
Arumni tersenyum aneh, "nggak ada, ayah." Katanya.
Mereka kembali masuk ke rumah, drama mengerjakan PR pun di mulai.
Arzetya mendekati ayahnya, menatap sang ayah dengan tatapan memohon. Dia mulai merayu, mencoba membuat ayahnya merasa kasihan.
"Ayah, aku tidak bisa mengerjakan soal ini." Kata Tya sambil membuka halaman PR matematika yang penuh dengan simbol-simbol aneh, menurutnya.
"Belajar sama ibu mu, Tya." Elak Adit.
"Bu..." Tya memohon yang dijawab gelengan kepala oleh ibunya.
Melihat ayahnya tersenyum, Tya jadi merasa memiliki kesempatan, ia mencoba merayu ayahnya kembali. "Ayah pasti mau bantu, kan?"
"Ayah tidak bisa membantu, sayang. Kamu harus belajar dengan lebih giat lagi dan mencoba sendiri." Goda Adit.
Tya menghela napas, dengan wajah kecewa ia berjalan ke kamar, lalu duduk di meja belajarnya. Dibantingnya buku matematika itu, "aku benci pelajaran matematika!" bibirnya mengerucut.
Tiba-tiba ia teringat pada Rama. "Ah iya, aku tahu sekarang." Ucapnya lalu menyambar ponselnya dari atas meja.
Ia menelpon Rama, merayu Rama dengan rengekan. "Kak Rama, aku sudah berusaha dengan sangat keras, tapi tetap tidak bisa mengerjakan PR matematika, tolong bantu aku, kak." Ucap Tya setelah panggilan terhubung.
Dengan senang hati Rama menjawab, "ayo beritahu aku, apa soalnya, Tya?"
Tya menyebutkan soal-soal sulit itu pada Rama, lalu dengan begitu mudah Rama menjawabnya. Kurang dari sepuluh menit, Rama berhasil menyelesaikan lima soal matematika yang menurut Tya sangat sulit.
Merasa tidak ada keluhan dari Tya lagi, Adit dan Arumni mendatangi Tya di kamarnya. Mereka ingin memastikan, bahwa anaknya sedang belajar.
"Kami datang untuk membantu—" kata Adit.
Saat dibukanya pintu kamar, Tya sedang tersenyum bangga, merasa bahagia karena PR matematika bukan lagi masalah baginya, pada malam itu. "Ayah dan ibu terlambat, PR-nya sudah selesai," ucap Tya.
"Apa? sudah selesai?" Adit dan Arumni merasa heran dan tidak percaya.
"Bagaimana bisa, sayang?" tanya Arumni.
Adit penuh selidik, diambilnya buku Tya, semua jawaban tampak benar, bahkan cara menghitung dan rumus-rumusnya juga benar. Adit tahu, anaknya itu kurang ahli dalam hitung-menghitung bilangan bulat, menghitung luas, mengubah pecahan, termasuk menerjemahkan soal cerita ke dalam operasi matematika dan menyelesaikannya.
"Kamu nyontek di mana, Tya?" tanya Arumni, "ah pasti dari HP, ya?" tebaknya.
Mendengar kata HP dari Arumni, membuat Adit segera mencari HP Tya. Tanpa bertanya, Adit dapat menemukan HP Tya yang masih tergeletak di atas meja belajarnya. Dibukanya HP itu, diteliti dengan seksama, Adit mengecek riwayat aktivitas melalui akun google, tidak ada yang mencurigakan, ia pun pindah ke WA, dan ternyata panggilan dengan Rama belum lama telah dilakukan.
"Kamu minta bantuan pada kakak Rama?" Tanya Adit yang hanya di balas gelengan kepala oleh Tya.
Adit hanya diam, namun tatapannya yang menusuk membuat Tya merasa takut. Kepalanya tertunduk malu yang langsung membuat Adit mengerti.
"Apa yang kamu lakukan, sayang? Kenapa tidak berusaha mengerjakan PR mu sendiri, tapi malah minta tolong pada kakak mu untuk mengerjakan?"
"Maaf, ayah. Aku sudah berusaha, tapi aku tetap tidak bisa." Ucapnya sambil menunduk.
Adit menghela napas dalam-dalam, mencoba memahami kemampuan anaknya itu. "Kamu tahu, sayang, kamu tidak akan pernah belajar jika selalu minta tolong pada orang lain. Kamu harus mencoba sendiri, dan belajar dari kesalahan mu itu."
Tya merasa sedikit lebih baik, ia pun mengangguk. "Iya, ayah, lain kali aku akan mencobanya sendiri," katanya.
Adit mengukir senyum, "itu yang ayah mau. Ayah percaya kamu pasti bisa melakukannya."
Tya kembali mengangguk, ia pun jadi merasa lebih percaya diri.
...****************...
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/