Daniella Dania wanita tangguh yg hidup sebatang kara harus mengalami peristiwa yang membuat dunianya runtuh kesucian nya di ambil oleh pria yg tidak dia kenal di malam kelulusan nya karna jebaka seseorang yg tidak menyukai nya di sebuah hotel nega A
Calix Matthew Batrix pria super tampan,cuek, dingin tak tersentuh orang paling berpengaruh baik di dunia atas atau bawah CEO BATRIX GRUP dan pemimpin mafia Eropa dan asia BLACK DRAGON.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FAKTA
Dania menatap lekat putri kecil di pangkuannya. Keinginan untuk memberi kekuatan pada pria di seberang sana tak lagi bisa ia bendung.
"Sayang," bisik Dania lembut sambil mengelus pipi gembul Azura. "Zura mau tidak bilang sesuatu ke Daddy? Bilang kalau Zura rindu, supaya Daddy cepat sembuh. Mau ya?"
Azura menatap layar laptop yang masih menyala. Di sana, ia melihat sosok pria yang selama ini ia kenal sebagai 'Daddy' sedang terbaring lemah. Mata bulat gadis kecil itu tiba-tiba berembun. Bibirnya melengkung ke bawah, menahan tangis karena melihat pahlawannya terluka.
"Mhyy..." rintih Azura, suaranya parau karena sedih.
"Cup, cup... Cantiknya Mommy jangan nangis. Daddy pasti sembuh kalau dengar suara Zura," bujuk Dania menenangkan.
Azura menghapus air matanya dengan tangan mungilnya lalu mengangguk mantap. "Auu!"
Dania tersenyum tipis. Ia segera meraih ponselnya dan menekan tombol rekam suara. "Ayo, Sayang. Bilang kalau Zura rindu Daddy."
Dengan suara cadel yang sangat menggemaskan, Azura berucap, "Dydy... mi cuu..." (Daddy, Miss You).
Setelah rekaman tersimpan, Dania mengecup kening putrinya. Tak butuh waktu lama bagi Azura untuk kembali terlelap di samping kedua abangnya. Dania menghela napas panjang. Ia melirik layar laptop sekali lagi. Ruang rawat Calix tampak sepi, hanya ada Satria yang tertidur pulas di sofa.
Dania memantapkan hatinya. Jarinya bergerak lincah mengetik pesan singkat ke nomor pribadi Calix yang sudah ia hafal di luar kepala.
Pesan:
"Hi, Daddy... Bagaimana kabarmu?"
(Mengirim foto Dania saat hamil besar)
"Anak kita sudah lahir."
"Cepat sembuh, Daddy."
"PS: (Voice Note: Dydy mi cuu)"
(Mengirim foto tangan Dania yang menggenggam kaki kecil bayi yang sangat lucu)
Badai di Ruang Perawatan
Di sebuah rumah sakit elit, Calix awalnya hanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Ketika ponselnya bergetar, ia mengira itu hanya laporan tak penting dari bawahannya. Namun, rasa penasaran menuntun jarinya untuk membuka notifikasi tersebut.
Deg!
Jantung Calix seolah berhenti berdetak. Foto pertama yang muncul adalah sosok perempuan yang ia gilai setiap malam—Dania. Dalam foto itu, Dania tampak cantik dengan perut yang membuncit besar.
Tangan Calix gemetar hebat saat membaca kalimat berikutnya: 'Anak kita sudah lahir.'
Darahnya berdesir hebat saat ia memutar pesan suara yang masuk. Suara mungil, cadel, dan begitu tulus memanggilnya 'Daddy' bergema di ruangan yang sunyi itu. Hatinya yang keras seketika hancur berkeping-keping. Ada rasa bahagia, haru, sekaligus amarah yang meledak di saat bersamaan.
Pranggg!
Calix melempar gelas di samping tempat tidurnya hingga hancur berkeping-keping.
"SATRIA! BANGUN!!!" teriak Calix menggelegar, suaranya penuh emosi yang campur aduk.
Satria tersentak bangun, hampir jatuh dari sofa karena kaget. Matanya melotot melihat tuannya mengamuk seperti orang kesurupan dalam kondisi bahu yang masih diperban.
"T-Tuan? Ada apa?!" Satria mendekat dengan gemetar.
Calix tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyodorkan ponselnya dengan tangan yang masih gemetar dan air mata yang terus mengalir deras di pipinya yang tegas.
"Cari dia, Sat! Cari Dania! Dia hamil... dia bilang anakku sudah lahir!" suara Calix melemah, tatapannya kosong menatap foto kaki kecil di layar ponselnya. Ia mengelus gambar kaki mungil itu dengan sangat lembut, seolah-olah ia bisa merasakan kehangatan kulit bayinya.
Satria tertegun melihat isi pesan tersebut. Ia mencoba melacak nomor pengirimnya saat itu juga, namun hasilnya nihil. Sistem keamanannya terlalu canggih—tak ada jejak sedikit pun yang tertinggal.
Di sisi lain, di Negara Y, Dania segera menutup laptopnya. Ia merosot di balik meja kerja, memegangi dadanya yang berdegup kencang. Ia tidak menyangka reaksinya akan sefatal itu. Niat hati ingin memberi semangat, namun ia justru membuat singa yang sedang terluka itu meraung penuh nestapa.
Dania menatap ketiga anaknya yang masih tidur pulas. Ia tidak tahu bahwa kaki kecil di foto itu adalah milik Arkanza, dan suara lucu itu milik Azura. Dan ia masih menyimpan satu kejutan lagi yang belum diketahui dunia: keberadaan Arfathan, putra keduanya.
Pagi itu, suasana di rumah sakit tidak lagi tenang. Calix, yang seharusnya masih terbaring lemah di bawah pengaruh obat bius dan luka tembak yang parah, memaksa untuk duduk tegak. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin membasahi dahinya, namun sorot matanya yang tajam memancarkan tekad yang tak bisa dibantah oleh siapa pun.
"Tuan, kumohon. Luka Anda bisa terbuka kembali!" seru James, sang dokter, dengan nada frustrasi. Ia mencoba menahan bahu Calix agar tetap di ranjang, namun pria itu justru menepis tangannya dengan kasar.
"Cukup, James! Aku tidak punya waktu untuk berbaring seperti mayat!" geram Calix. Suaranya serak namun penuh otoritas. "Anakku... anakku sudah ada di dunia ini. Dania sedang sendirian menjaga mereka, dan aku di sini hanya diam?"
"Tapi Tuan, peluru itu hampir mengenai saraf bahu Anda," Marco mencoba menimpali, suaranya terdengar cemas.
Calix menatap Marco dengan dingin. "Aku tidak peduli jika tanganku harus lumpuh sekalipun. Berikan aku laptop dan sambungkan dengan seluruh tim IT terbaik kita. Sekarang!"
Hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi seluruh tim keamanan dan IT di bawah pimpinan Marco dan Satria. Calix menolak untuk beristirahat. Ia menjalani rehabilitasi dengan kecepatan yang tidak masuk akal, mengabaikan rasa sakit yang menusuk di bahunya setiap kali ia bergerak.
Setiap jam, ia memutar ulang rekaman suara Azura yang memanggilnya 'Daddy'. Suara mungil itu menjadi bensin bagi semangatnya yang hampir padam.
"Bagaimana?" tanya Calix saat Satria masuk ke ruangannya dengan wajah lesu.
Satria menunduk, tidak berani menatap mata tuannya. "Maaf, Tuan. Kami sudah melacak sinyal dari pesan itu. Sinyalnya memantul ke puluhan server di seluruh dunia dalam hitungan detik. Pengirimnya bukan orang sembarangan. Dia menggunakan enkripsi tingkat militer yang bahkan tidak bisa kami tembus."
Calix mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Tidak mungkin. Seseorang tidak bisa menghilang begitu saja tanpa jejak! Periksa seluruh daftar manifes penerbangan satu tahun terakhir, periksa rumah sakit bersalin di seluruh benua, cari perempuan yang memiliki ciri-ciri seperti Dania!"
"Sudah kami lakukan, Tuan," suara Satria melemah. "Tapi hasilnya nihil. Seolah-olah nyonya Dania telah menghapus keberadaannya dari muka bumi."
Calix terdiam. Ia kembali menatap foto kaki mungil di ponselnya. Rasa rindu dan frustrasi bercampur menjadi satu, menciptakan lubang besar di dadanya. "Dania... kau ada di mana?" bisiknya pedih.
**🤍\_\_\_\_\_\_\_\_\_Calix & Dania\_\_\_\_\_\_\_\_\_🤍**
Di Negara Y, Dania sedang duduk di taman belakang rumahnya, memperhatikan Triple yang sedang belajar merangkak di atas rumput hijau yang lembut. Namun, pikirannya tidak ada di sana. Di sampingnya, sebuah laptop mini menampilkan pergerakan server-server miliknya.
"Mereka agresif sekali, Kak," ujar Rafael yang tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya. "Tim Calix mencoba membobol enkripsi yang Kakak buat. Mereka hampir saja menyentuh server bayangan di Eropa pagi tadi."
Dania menghela napas panjang, wajahnya tampak kuyu. "Aku tahu. Aku terlalu ceroboh malam itu. Aku hanya ingin dia punya alasan untuk tetap hidup, tapi aku lupa kalau Calix adalah pemburu yang tidak akan berhenti sebelum mendapatkan mangsanya."
Dania melihat Arfa yang sedang berusaha meraih mainan di depannya dengan semangat. "Aku belum siap, Fa. Aku belum siap kalau mereka harus masuk ke dunia Calix yang penuh darah itu."
"Kalau begitu, kita harus bergerak lebih halus," saran Rafael. "Jangan berikan celah sedikit pun. Biarkan dia mencari, tapi jangan biarkan dia menemukan."
Dania mengangguk pelan. Ia menutup laptopnya dan menghampiri ketiga anaknya. Diangkatnya Azura ke dalam pelukannya, menciumi pipi gadis kecil itu yang menjadi pemicu keributan besar di markas Black Dragon.
"Maafkan Mommy ya, Sayang. Gara-gara suara Zura, Daddy jadi marah-marah di sana," bisik Dania sambil tersenyum sedih.
Meski Calix mengerahkan seluruh kekuasaannya, meski ia sudah pulih dan kembali menjadi sosok pemimpin mafia yang mengerikan, Dania tetaplah bayangan yang tak tersentuh. Pencarian Calix tetap tidak membuahkan hasil, menyisakan pria itu dalam penantian yang menyiksa, sementara ketiga anaknya tumbuh besar di tempat yang tak terjangkau oleh radar terhebatnya sekalipun.
NTAR KELUAR DRAMA PENYESALAN DAN MAAF DENGAN AIR MATA BUAYA NYA..CKK