Pensiun sebagai pembunuh nomor satu karena penyakit mematikan, Kenzo bereinkarnasi ke dalam novel kultivasi buatannya sendiri. Berbekal 'Sistem Sampah' yang ia modifikasi menjadi senjata maut dan pengetahuan sebagai sang pencipta, Kenzo siap membantai siapa pun yang berani mengusik waktu santainya bersama sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Melodi Kematian di Ladang Padi
Asap mengepul dari laras pistol hitam di tangan Kenzo. Di depannya, tanah yang tadinya rata kini berlubang besar, menghanguskan rumput dan beberapa prajurit yang tidak sempat menghindar. Pemimpin pasukan itu, seorang pria bernama Tetua Gao yang berada di ranah Inti Emas, terlempar dari kudanya. Jubah mahalnya kini kotor oleh debu, dan wajahnya yang tadinya angkuh kini dipenuhi keringat dingin.
"S-senjata apa itu?!" Gao berteriak, suaranya parau karena terkejut. "Tidak ada fluktuasi mantra, tidak ada formasi segel... Bagaimana mungkin benda kecil itu memiliki kekuatan setara serangan ranah Inti Emas?!"
Kenzo tidak menjawab. Ia melangkah tenang keluar dari gerbang pagar bambunya. Setiap langkahnya terasa berat di telinga para prajurit yang tersisa. Baginya, mereka bukan lagi manusia, melainkan target bergerak yang harus segera dieliminasi agar ia bisa kembali menikmati jus anggurnya.
"Aku sudah bilang," suara Kenzo bergema dingin di keheningan hutan. "Kalian merusak pemandangan kebunku. Dan aku benci jika pekerjaanku diganggu."
"Jangan sombong, rakyat jelata!" Gao bangkit berdiri, menghunuskan pedang panjang yang memancarkan cahaya keemasan. "Itu pasti benda pusaka sekali pakai! Serang dia bersama-sama! Dia tidak mungkin bisa menembak secepat itu lagi!"
Atas perintah itu, sepuluh prajurit elite yang masih tersisa mencabut pedang mereka. Mereka mulai bergerak dalam formasi Awan Melingkar, mencoba mengepung Kenzo dari segala penjuru. Kecepatan mereka luar biasa, hanya menyisakan bayangan biru di mata manusia biasa.
Tapi Kenzo bukan manusia biasa. Sebagai pembunuh nomor satu, otaknya mampu memproses gerakan lawan dalam gerak lambat. Ia tidak perlu menjadi lebih cepat dari mereka; ia hanya perlu berada di titik di mana mereka akan menyerang.
Kenzo memutar pistolnya dengan jari telunjuknya, lalu dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, ia menekan sebuah tombol di samping larasnya.
[Ding!]
[Modul 'Overclocking' Aktif!]
[Sistem Peringatan: Menggunakan Qi secara berlebihan dari ranah Pembentukan Dasar akan merusak Dantian Anda!]
"Diamlah, Sistem. Kau terlalu banyak bicara." batin Kenzo.
Ia menyalurkan seluruh Qi yang baru saja ia kumpulkan ke dalam magasin pistol. Pistol itu mulai bergetar hebat, memancarkan cahaya merah pekat yang tidak stabil—efek dari penggunaan Pil Pemurnian Qi Cacat sebagai bahan bakar.
DOOR! DOOR! DOOR! DOOR!
Empat tembakan dilepaskan dalam satu detik. Setiap peluru Qi melesat melengkung, seolah-olah memiliki nyawa sendiri. Mereka tidak hanya menembus baju zirah para prajurit, tapi meledak tepat saat menyentuh kulit.
Satu prajurit kehilangan lengannya, dua lainnya terkapar dengan lubang besar di dada, dan sisanya terlempar mundur oleh gelombang kejut. Kenzo bergerak maju di tengah kekacauan itu. Ia menghindari tebasan pedang dari belakang hanya dengan memiringkan kepalanya sesaat, lalu tanpa melihat, ia menyikut ulu hati prajurit tersebut dan menembakkan peluru Qi tepat di bawah dagunya.
Crat!
Darah segar memercik ke wajah datar Kenzo. Ia menyekanya dengan punggung tangan, tatapannya tetap kosong. Di matanya, ini bukan pertarungan; ini adalah pembantaian yang efisien.
Kini hanya tersisa Tetua Gao. Pria tua itu gemetar hebat, pedangnya berdentang di tanah saat tangannya kehilangan kekuatan. Seluruh pasukannya, yang terdiri dari kultivator berbakat, habis dalam waktu kurang dari tiga menit oleh seorang pria yang bahkan belum mencapai ranah Penguasaan Qi yang sempurna.
"K-kau... kau adalah iblis..." Gao terbata-bata, merangkak mundur saat Kenzo berdiri tepat di depannya.
Kenzo mengarahkan moncong pistolnya yang masih panas ke dahi Gao. "Sistem, apa dia punya informasi berharga?"
[Ding!]
[Memindai Memori Target... Tetua Gao mengetahui lokasi 'Gudang Persediaan Rahasia' Sekte Awan Biru yang berisi ribuan batu spiritual dan bibit tanaman tingkat tinggi.]
Kenzo sedikit mengangkat alisnya. "Gudang persediaan, ya? Kedengarannya seperti poin gratis."
Kenzo menatap Gao. "Di mana gudangnya?"
"Aku... aku tidak akan pernah memberitahumu! Sekte kami akan mengejarmu sampai ke ujung dunia!" Gao mencoba menggertak, meski kakinya basah oleh air seninya sendiri.
Kenzo berjongkok, menekan moncong pistolnya lebih keras ke dahi Gao. "Dengar. Aku pernah menyiksa orang selama tiga hari hanya untuk mengetahui warna kesukaan targetku. Jika kau tidak bicara dalam tiga detik, aku akan menggunakan 'pisau gatal' milik sistem untuk menguliti setiap inci kulitmu sambil menyembuhkanmu secara bersamaan agar kau tidak mati. Mau mencoba?"
Ancaman itu diucapkan dengan nada yang begitu tenang sehingga Gao tahu pria di depannya tidak sedang bercanda. Ketakutan yang murni menyapu akal sehatnya.
"D-di Lembah Kabut! Tiga puluh mil dari sini ke arah utara... di bawah air terjun kembar! Tolong, ampuni aku!"
Kenzo berdiri kembali. "Terima kasih informasinya."
DOOR!
Tanpa ragu, Kenzo menarik pelatuknya. Gao tersungkur tanpa nyawa. Kenzo tidak pernah membiarkan saksi hidup yang bisa mengancam ketenangan rumahnya.
[Ding!]
[Membasmi Tetua Ranah Inti Emas! Hadiah: 500 Poin!]
[Bonus: Anda mendapatkan item 'Peta Lembah Kabut' dan 'Kunci Gudang Rahasia'.]
Kenzo menghela napas panjang. Ia memasukkan kembali pistolnya ke pinggang dan berjalan kembali menuju gubuknya. Pintu terbuka sedikit, dan mata kecil Lin-er mengintip dari sana.
"Ayah? Musiknya sudah selesai?" tanya Lin-er pelan.
Kenzo berhenti, wajahnya yang dingin seketika melunak secara halus. Ia mengambil sehelai daun anggur yang bersih untuk menyeka noda darah di pipinya sebelum mendekati anaknya.
"Sudah, Lin-er. Tamunya sudah pulang. Mereka sangat senang dengan musik Ayah sampai mereka... tertidur di sana," ucap Kenzo bohong sambil menunjuk ke arah tumpukan jasad di kejauhan.
"Ooh, mereka pasti lelah ya, Ayah?" Lin-er keluar dan memeluk kaki Kenzo.
"Ya, sangat lelah," jawab Kenzo sambil mengusap kepala Lin-er. "Ayo masuk. Ayah akan membuatkan nasi dari padi yang kita tanam tadi. Setelah itu, kita mungkin harus pindah rumah sebentar untuk mencari pemandangan yang lebih bagus."
[Ding!]
[Kreator, Anda baru saja membantai seluruh pasukan sekte dan sekarang berencana merampok gudang mereka. Anda benar-benar karakter utama paling jahat yang pernah saya catat.]
Kenzo mengabaikan ocehan sistemnya. Baginya, di dunia novel ini, tidak ada protagonis atau antagonis. Yang ada hanyalah dia, anaknya, dan siapa pun yang berani mengusik tidur siangnya.
sebentar😅😅