NovelToon NovelToon
Janjiku Kepadamu Anindya

Janjiku Kepadamu Anindya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi
Popularitas:42.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Muhammad Ridho

(Sedang Tahap Revisi)

Terkadang Cinta itu bisa merubah segalanya, Keras nya batu akan melunak.
Terpaan dingin akan menghangat.
Ketika kita bertemu dengannya.

Seperti Aku melihat wajahnya saat hari pertama sekolah, Aku-lah Gilang Sanjaya berharap mewujudkan cinta kepada dia Anindya.

Halangan dan Rintangan akan daku hadapi untuk menikahi dia, ketika waktu itu telah tiba.

☪. Cerita Cinta Remaja bernuansa Islami

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Ridho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbongkarnya Rahasia Gilang

Seperti kata-kata indah yang terlahir dari seorang penyair yang terkenal akan romantisnya merangkai kata, Kahlil Gibran. "Cinta bukanlah kelemah lembutan atau kemurahan hati, atau apa saja dari kebaikan-kebaikan yang diberikan atau tidak diberikan dengan panjang lebar. Cinta adalah membagi, memahami, memberikan kebebasan, menjawab panggilan dan Cinta adalah kehidupan."

Aku mencoba tegar menghadapi ini semua, mencoba sabar menggapai hatinya untuk aku dudukan sejajar dalam mahligai pernikahan yang dimana di saksikan manusia, dunia dan pemilik alam semesta. Aku harus bisa membagi kadar perasaan ini, harus bisa memahami keadaan saat ini, dan harus bisa memberikan kebebasan kepadanya.

Hanya itulah yang berada di benakku saat ini ketika dalam perjalanan pulang menghantarkan wanita yang bisa melunakkan hati dan perasaan ketika pada pandangan pertama menatap senyumannya yang berisikan akan akhlak mahmudah—akhlak terpuji.

"Alang," panggilnya.

"Iya ada apa?"

"Terima kasih sudah memberikan Anin kebahagiaan hari ini." Terlihat senyuman indahnya di kaca spion motorku.

"Sampai kapanpun aku akan berusaha untuk terus membahagiakan kamu, Anin."

"Ah masa ...." Dia mencoba menutup senyumnya dengan tangan kanannya.

"Ih kamu mah gak percayaan."

"Iya-iya percaya kok," ucapnya.

Setelah mengantarnya pulang, aku langsung melanjutkan perjalanan kembali ke rumah.

"Assalamu'alaikum, Ummi. Alang pulang."

"Waalaikumsalam, kamu dari mana?"

"Tadi pergi main sama temen."

"Temen apa temen, hayo?" Wajah Ummi tersenyum mengatakan itu.

"Oh ya, kapan kamu mengajak dia main ke rumah dan ngenalin sama Ummi?"

"Dia siapa, Ummi?"

"Hmm ... pura-pura lupa atau apa nih, itu loh yang buat kamu jatuh cinta."

Dari kejauhan Bang Satria mendengar ucapan Ummi. "Wah wah wah, si jagoan akhirnya jatuh cinta."

"Emangnya enggak boleh gitu?" tanyaku cemberut.

"Hahaha, boleh-boleh kok. Besok Abang gajian, ajak dia main ke rumah ya."

"Lah ngapain?" Dengan wajah bingung aku bertanya.

"Abang, Ummi sama Abi mau berkenalan dengan dia," jawabnya.

"Iya deh aku coba nanti."

"Harus loh, Ummi mau ketemu calon mantu." Ummi tertawa setelah berkata seperti itu.

"Aamiin Allahumma Aamiin," jawab aku mendengar perkataan Ummi.

"Waduh, beneran cinta mati ini dia, Ummi," kata Bang Satria.

"Besok jangan lupa ya, bawa dia kemari."

"Iya, Ummi."

Tiba-tiba hati ini deg-degan seperti tidak sabar untuk menantikan esok hari, apakah dia akan menerima, apakah dia akan suka bila aku ajak ke rumah untuk bertemu keluargaku.

'Bismillah aja deh."

Setelah ganti baju dan merapikan semuanya, aku mencoba menelpon dia.

"Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam. Ada apa, Alang?"

"Hmm anu, tadi saat baru pulang ke rumah, ummi mau Anin besok main kerumah."

"Emangnya ada apa?"

"Gak tau, kata ummi wajib datang."

"Ya udah, bilang sama ummi, Anin akan datang besok."

"Alhamdulillah, makasih ya."

"Iya, udah dulu yah. Anin mau beres-beres."

"Duh rajinnya calon istri nih."

"Huu maunya, udah ya. Assalamu'alaikum."

"Hahaha, waalaikumsalam."

...

Keesokan harinya setelah pulang sekolah, di parkiran motor aku menunggu dia yang lagi bersama wali kelas di ruang guru.

"Woy, Lang!" Seseorang memanggil aku.

Aku mencoba mencari dimana panggilan itu, dan ternyata itu Irwan. "Ada apa?"

"Lu nungguin siapa?"

"Nungguin Anin nih."

"Mau kemana?" Dia duduk di sampingku.

"Kepo!"

"Pelit banget dah, oh ya gua ke rumah elu nanti."

"Ngapain?"

"Ummi yang nyuruh."

"Hadehhh," ucapku.

"Lah ngapa dah?"

"Ummi juga ngajak Anin main kerumah hari ini."

"Widih, seru ni kayaknya."

"Semoga saja, dah lu duluan aja ke rumah. Gua mau nungguin dia dulu."

"Santuy lah, eh lu mau nitip gak?"

"Nitip apaan? Emang lu mau kemana?" Aku mengernyitkan kedua alis mata.

"Biasa beli ayam goreng." ucapnya songong.

"Dih sombong amat, ya udah gua nitip 4 potong ayam."

"Banyak amat dah?"

"Mala suka ayam goreng, juga ya gak mungkin gua gak kasih Anin juga."

"Oh iya lupa, udah mana duitnya?"

"Duit lu lah, sekali-sekali belikan mala sama anin."

"Hadehh kena lagi gua," ucapnya.

"Jadi gak mau nih? Gak ikhlas nih?"

"Iya iya, lagian memang gua mau belikan untuk mereka semua di rumah."

"Good itu baru sobat gua." Aku memberikan 2 jempol kepadanya.

Gak lama kemudian setelah kepergian Irwan, Anin telah selesai dengan urusannya dan kami langsung melaju pulang ke rumahku.

Dalam perjalanan dia bertanya, "Emang ada apa ya, Ummi kamu menyuruh Anin main kerumah?"

"Enggak tau deh, paling mau berkenalan dengan calon mantu."

"Ihh, apa sih!" Dia mencubit pinggangku.

"Adedede sakit tau."

"Bodo!"

"Ngambek ni ceritanya?" tanyaku.

"Ayam KFC 2 potong."

"Hahaha waduh, santuy sudah aku pesan sama irwan untuk beli."

"Loh? Irwan ke rumah juga?"

"Iya, ummi ngajak dia juga. Kan dia sudah di anggap anak sama Ummi dan Abi aku."

"Hmm iya deh, eh kalau gitu antarin Anin beli buah jeruk dulu."

"Lah untuk apa?"

"Masa iya Anin main ke rumah gak bawa buah tangan."

"Hmm lebih baik jangan deh, soalnya abangku hari ini lagi gajian. Dia pasti beli banyak makanan."

"Bener gak apa-apa?"

"Iya."

Sesampainya di rumah rupanya Irwan sudah sampai dan dia sedang santai duduk di halaman rumah.

"Weh sudah sampai nih," ucapnya ketika melihat kedatangan kami.

"Lu ngapain di luar?" tanyaku.

"Mau nyantai aja."

"Dah yok ke dalam."

Terlihat di meja makan telah tersedia banyak makanan dan buah-buahan, Ummi sangat senang ketika pertama kali melihat Anin. Entah mengapa mereka berdua langsung akrab, seperti sudah saling mengenali lama.

"Lang!" Bang Satria memanggilku pelan.

"Apa, Bang?"

"Kamu pintar amat pilih cewek."

"Iya dong, Alang gitu loh ...."

"Buat Abang aja ya, kamu cari yang lain aja lagi."

"Kita Ribut!"

Mendengar jawabanku membuat dia menahan tawa, karena baru kali ini dia melihat aku yang pertama kali jatuh cinta kepada wanita. Dulu pernah dia mengira aku ini tidak normal karena menolak banyak wanita ketika kelas 3 di SMP dahulu.

"Abang kira kamu gak normal, Dek."

"Ya enggak lah, masa iya aku suka pedang-pedangan," ucapku yang langsung melompat ke badan Bang Satria.

"Adedede sakit, Dek."

"Bodo, ngajak ribut sih. Ya udah kita ribut sekalian."

"Anindya! Tolongin Abang!!"

"Dih pengadu dianya."

Seketika Anin langsung berlari mendekati kami berdua, dia bertanya, "Ada apa, Bang?"

"Ini nih sih Alang, dia-."

Belum selesai Bang Satria berbicara, aku langsung membekap mulutnya dan berkata. "Enggak ada apa-apa kok."

"Oh ya udah, Anin ke ruang tamu lagi."

Acara makan-makan pun di mulai, kami semua bersenda gurau sampai selesai makan. Terlihat disini Anin malu-malu ketika sedang makan, ya begitulah manusia ketika pertama kali bertemu dengan seseorang apalagi ikut makan bersama. Seperti aku dulu ketika makan di rumahnya, yang malu-malu ketika pertama kali bertemu.

Disaat makan ada kejadian lucu dan bikin malu, pasalnya ummi berkata, "Eh tau gak sih, kemarin itu ada orang yang nangis-nangis meluk Ummi, karena ada sesuatu hal."

"Siapa, Ummi?" tanya Irwan.

Sebelum Ummi menjawab, aku langsung berkata, "Bukan siapa-siapa kok, itu tetangga sebelah kemarin curhat sama Ummi. Benerkan, Ummi?" tanyaku dengan wajah yang memberikan isyarat untuk tidak memberitahu kepada semuanya termasuk Anindya.

"Iya bener, inisial namanya itu Gilang Sanjaya dan namanya GS." Raut wajah Ummi tertawa ketika berkata seperti itu.

Semua tatapan menuju ke arahku, termasuk Anin sendiri.

"Hahaha, dia kenapa, Ummi?" tanya Bang Satria.

"Ceritain gak ya ...."

"Ceritain dong, Ummi." Ternyata Anindya penasaran dengan cerita itu.

Aku hanya bisa menutup mata dan menghadap ke arah lain ketika Ummi mulai bercerita.

"Itu loh kemarin Alang itu nangis-nangis di pelukan Ummi, dia bilang kalau ada seseorang wanita yang dia cintai. Wanita itu bertanya apakah Alang menyukainya."

Aku langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Ummi, Irwan yang di sampingku memberikan air minum dan menepuk pundakku.

"Lu kenapa, Lang?"

"Ga-gak, gak apa-apa."

1
Dhina ♑
halo Gilang
Zolovelypeony: halo kak, yuk mampir juga baca cerita aku, judulnya Camelia Rahma: Kamulah Jodohku 🤗🍁
total 1 replies
Bu Fit
ikutan dong makan. bakso mercon nya

😁😁

#FWC#
Bu Fit
jadi deg deg kan aku thor
#FWC#
Bu Fit
sadis amat thor, beruang Wkwkwk

#FWC#
Bu Fit
aamiin moga terkabul ya doa mu
#FWC#
Bu Fit
so sweet rencanaya, moga lancar
#FWC#
Bu Fit
kesel ya kalau yg jawab OP nya bukan orangnya . semangat ya thor jan ikutan kesal.

#FWC#
Bu Fit
boleh ikutan nggak thor, aku juga mau jadi pendekar
😀😀😀
#FWC#
Bu Fit
jan ikutan galau ya thor
😁😁😁
#FWC#
hanifatulhsn_
semangat kaakkk☺😊 ceritanya bagus, keren.
Sept September
jempollll
Sept September
like ya
Sept September
semangat kakakkkk 🤗 pengunjung setia 😂
G.
lanjut thor
Mei Pertiwi
lucu
annidya
Next thorrr
Raihan Ramadhan Nasution
lanjut dho
Zahra
lagi
annidya
Lah ak masih smp
annidya
Kyk ngerasain ada di dalam ceritanya apa karena namaku annidya ya😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!