NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:648
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Ketika Angka Menjadi Luka

Hujan deras yang mengguyur Surabaya malam ini seolah-olah ingin mencuci seluruh dosa yang baru saja terungkap, namun aku tahu, air sebanyak apa pun tidak akan mampu menghapus tinta merah yang tertulis di halaman pertama Jurnal Hitam ini.

Di dalam mobil Nadin yang melaju kencang menjauhi Panti Harapan Jiwa, suasana mendadak senyap. Hanya ada suara wiper kaca depan yang bergerak ritmis, menyapu air yang terus berjatuhan. Di tanganku, buku tua itu terasa seberat batu nisan. Bau kain tua, darah kering, dan debu sepuluh tahun lalu menguar dari sela-sela halamannya, meracuni udara di dalam kabin mobil yang sempit.

"Dra... kamu nggak apa-apa?" suara Nadin memecah keheningan. Ia melirikku dari kaca spion tengah. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat.

Aku tidak menjawab. Mataku masih terpaku pada baris pertama di halaman pertama.

Tanggal: 14 Juli 2016.

Akun Debit: Nyawa/Keberuntungan (Aset Tak Berwujud).

Akun Kredit: Hutang Darah (Liabilitas Jangka Panjang).

Keterangan: Penghapusan pesaing bisnis PT. Santoso Logistik.

Pemesan: Darmawan Santoso.

Darmawan Santoso. Ayahku.

Pria yang setiap pagi menyesap kopi hitam sambil membacakan artikel ekonomi padaku. Pria yang selalu menekankan bahwa kejujuran adalah aset paling berharga dalam neraca kehidupan. Pria yang mendorongku masuk ke jurusan Akuntansi agar aku bisa "menjaga keseimbangan dunia" dengan integritas. Ternyata, dialah orang yang pertama kali membuka pintu neraka ini. Dialah orang yang pertama kali menyewa jasa Ibu Vema untuk menumbalkan seseorang demi kejayaan bisnisnya.

"Dra, bicaralah sesuatu," bisik Vema.

Aku menoleh ke samping. Vema menatapku dengan mata yang penuh simpati. Rambut wolfcut-nya yang pendek tampak sedikit basah oleh sisa hujan tadi, memberikan aura yang lebih dewasa sekaligus rapuh. Tangannya yang masih terikat benang merah menggenggam jemariku yang gemetar.

"Kepercayaanku... kolaps, Vem," suaraku parau, hampir tidak terdengar di tengah deru mesin mobil. "Selama ini aku mencari 'Pelanggan Besar' di sekolah, mengira Pak Haryo adalah satu-satunya iblis di sini. Ternyata, fondasi dari semua kegelapan ini diletakkan oleh orang yang kupanggil Ayah."

Aku merasakan sesak yang luar biasa di dadaku. Ini bukan lagi soal audit keuangan sekolah. Ini adalah audit terhadap eksistensiku sendiri. Apakah aku ada di sini, di sekolah ini, berteman dengan Vema, hanya karena sebuah 'penyesuaian' gaib yang dimulai oleh ayahku sepuluh tahun lalu?

"Dra, dengerin aku," Vema meremas tanganku lebih erat. Benang merah di pergelangan tangan kami bersinar redup, menyalurkan kehangatan yang mencoba mengusir kedinginan di hatiku. "Apa pun yang dilakukan ayahmu di masa lalu, itu bukan kesalahanmu. Kamu bukan jurnal penutup dari dosa-dosanya. Kamu adalah entitas yang berbeda."

"Tapi Vem, gara-gara dia, ibumu jadi seperti itu! Gara-gara dia, Riko meninggal! Gara-gara dia, Pak Haryo punya kekuatan untuk mengendalikan yayasan!" teriakku frustrasi.

Bagas yang duduk di kursi belakang bersama Ibu Riko (yang kini tertidur karena kelelahan) berdeham pelan. "Dra, kalau kita berhenti sekarang, Pak Haryo menang. Dia tahu kita punya buku itu. Dia tahu rahasia ayahmu adalah kelemahanmu. Dia akan menggunakan itu untuk menghancurkan kita semua."

Aku menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali sisa-sisa logika akuntansiku yang berserakan. Aku harus melakukan revaluasi.

"Nadin, jangan pulang ke rumah siapa pun di antara kita," perintahku tiba-tiba.

"Terus kita ke mana?" tanya Nadin.

"Ke gudang arsip lama PT. Santoso Logistik di daerah Perak. Ayahku sudah lama meninggalkan tempat itu setelah bangkrut lima tahun lalu. Di sana ada satu brankas yang kunci manualnya hanya aku yang tahu. Kita butuh tempat untuk membedah buku ini tanpa gangguan sinyal dari Pak Haryo."

Gudang tua di daerah perbatasan pelabuhan itu tampak seperti hantu raksasa di tengah kegelapan. Debu tebal menyelimuti rak-rak kayu yang melapuk. Kami masuk dengan sangat hati-hati. Bagas membawa Ibu Riko ke sebuah ruang kantor kecil di lantai dua agar beliau bisa beristirahat lebih layak.

Nadin segera mengeluarkan laptop dan peralatan peretasannya. Ia menghubungkan ponselnya ke satelit cadangan agar tidak bisa dilacak oleh jaringan sistem informasi sekolah yang dikuasai Pak Haryo.

"Oke, Dra. Aku siap. Kita mulai audit investigatif ini secara total," ucap Nadin.

Aku meletakkan Jurnal Hitam itu di bawah lampu meja yang temaram. Vema duduk di sampingku, siap membantuku jika ada bagian dari buku itu yang "dijahit" secara gaib.

"Kita mulai dari tahun 2016," kataku.

Aku membalik halaman demi halaman. Isinya mengerikan. Buku ini bukan hanya catatan transaksi, tapi semacam ledger kematian. Setiap kali ada nama yang tertulis di kolom 'Pemesan', maka di kolom 'Keterangan' akan muncul nama korban yang "dihapuskan" melalui tas hitam buatan Ibu Vema.

"Lihat ini, Dra," Vema menunjuk sebuah entri di tahun 2019.

Pemesan: Pak Haryo (Ketua Yayasan Pamasta).

Keterangan: Pengamanan posisi jabatan melalui 'penghilangan' oposisi komite sekolah.

Metode: Tas Hitam Tipe B (Penghapusan Memori Publik).

"Jadi itu sebabnya Pak Haryo begitu kuat," Nadin menganalisis sambil mengetik di laptopnya. "Dia menggunakan jasa ibumu, Vem, untuk menghapus siapa pun yang menghalangi jalannya di sekolah. Guru, orang tua murid, bahkan pengawas dari dinas pendidikan. Dia nggak membunuh mereka secara fisik, tapi dia menghapus keberadaan mereka dari ingatan kolektif. Itu sebabnya nggak pernah ada laporan polisi yang masuk."

"Tapi tunggu," aku menghentikan gerakan jemariku. "Kenapa ayahku ada di sini lagi di tahun 2021?"

Aku menemukan nama ayahku lagi. Kali ini bukan sebagai pemesan, tapi sebagai 'Aset yang Dijaminkan'.

Keterangan: Darmawan Santoso menyerahkan seluruh piutang nyawanya kepada Pak Haryo sebagai jaminan agar anaknya (Sarendra) bisa masuk ke SMK Pamasta tanpa gangguan.

Jantungku rasanya mau copot. Aku masuk ke sekolah ini bukan karena prestasiku? Aku masuk ke sini sebagai bagian dari transaksi antara Ayah dan Pak Haryo?

"Jadi Pak Haryo sudah tahu siapa aku sejak awal," bisikku. "Dia membiarkanku masuk ke jurusan Akuntansi agar dia bisa mengawasiku. Dia ingin aku menjadi 'auditor' bagi bisnis gelapnya di masa depan."

Vema tampak sangat terpukul. "Dan ibuku... ibuku dipaksa menjahit benang merah itu untukmu karena perintah Pak Haryo? Bukan karena keinginannya sendiri?"

Tiba-tiba, udara di gudang itu berubah menjadi sangat berat. Suara mesin jahit yang sangat keras bergema dari seluruh sudut ruangan. Krek... krek... krek...

"Dia datang," bisik Vema, matanya membelalak ketakutan.

Bukan Pak Haryo yang muncul di ambang pintu, melainkan sebuah proyeksi astral yang sangat besar. Sosok itu mengenakan seragam kebesaran sekolah, namun wajahnya adalah wajah Pak Haryo yang terdistorsi oleh ribuan benang hitam yang keluar dari mata dan mulutnya.

"Sarendra... anakku yang tersesat," suara Pak Haryo menggema, seolah-olah berasal dari dalam dinding gudang. "Apakah kamu sudah selesai menghitung dosa ayahmu? Laporan keuangan keluarga Santoso sudah lama tidak seimbang, dan malam ini adalah jatuh temponya."

"Pak Haryo! Berhenti menggunakan ilmu hitam ini untuk menindas orang!" teriak Bagas yang baru saja turun dari lantai dua.

Sosok astral Pak Haryo tertawa. Tawanya terdengar seperti gesekan gunting jahit yang berkarat. "Penindasan? Tidak, Bagas. Ini adalah perdagangan bebas. Setiap orang di sekolah ini mendapatkan apa yang mereka inginkan, tapi mereka lupa mencatat biayanya di buku besar mereka. Vema menginginkan teman, dan dia mendapatkannya... dengan harga nyawa Riko. Sarendra menginginkan kebenaran, dan dia mendapatkannya... dengan harga kehancuran ayahnya sendiri."

"Jangan dengerin dia, Dra!" seru Nadin. "Dia cuma mencoba merusak mental kita!"

"Nadin benar," kataku, mencoba berdiri tegak meski kakiku gemetar. Aku mengangkat Jurnal Hitam itu tinggi-tinggi. "Pak Haryo, Anda boleh saja mengendalikan ingatan orang, tapi Anda tidak bisa menghapus fakta yang tertulis di sini. Buku ini bukan cuma berisi dosa Ayahku, tapi juga berisi bukti bahwa Anda mencuci uang yayasan melalui perusahaan cangkang milik Yayasan Benang Merah!"

Aku menemukan halaman yang paling krusial. Sebuah catatan transfer aset senilai milyaran rupiah dari dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang dialirkan ke rekening pribadi Pak Haryo dengan kedok "Pembelian Bahan Tekstil".

"Ini adalah bukti korupsi, Pak! Bukan cuma ilmu hitam, tapi ini kriminal murni di mata hukum!" teriakku.

Sosok astral itu mendadak mengeras. Benang-benang hitam di wajahnya mulai bergerak liar, membentuk sebuah lubang hitam yang menghisap udara di sekitar kami. "Hukum? Aku adalah hukum di kota ini! Siapa yang akan percaya pada anak bungkuk dan gadis pembawa sial sepertimu?"

Tiba-tiba, Vema melangkah maju ke depanku. Ia menarik gunting kecil dari saku jaketnya—gunting yang ia ambil dari rumah sakit tadi. Tanpa ragu, ia memotong sedikit rambutnya, lalu melilitkan rambut itu ke benang merah di pergelangan tangannya.

"Ibuku mungkin yang menjahit tas-tas itu, tapi aku yang memegang simpulnya sekarang!" teriak Vema.

Sebuah cahaya emas yang sangat terang meledak dari tangan Vema. Cahaya itu bukan berasal dari Pak Haryo, melainkan berasal dari sisa-sisa kebaikan yang selama ini Vema simpan sendirian. Cahaya itu menghantam sosok astral Pak Haryo, membuatnya berteriak kesakitan dan perlahan memudar.

"Ini belum selesai, Vema! Libur semester ini akan berakhir dengan upacara pemakaman kalian semua!" teriak Pak Haryo sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya.

Keadaan kembali sunyi. Kami semua terengah-engah. Bau hangus tercium di udara.

Aku terduduk di lantai gudang, memeluk Jurnal Hitam itu. Air mataku akhirnya jatuh. Aku menangis bukan karena takut, tapi karena merasa sangat kotor.

Aku adalah hasil dari sebuah transaksi gelap.

Vema duduk di sampingku, ia menyandarkan kepalanya di pundakku. Rambut pendeknya yang sekarang sedikit tidak rata karena ia potong tadi terasa kasar di kulitku.

Vema duduk di sampingku, ia menyandarkan kepalanya di pundakku. Rambut pendeknya yang sekarang sedikit tidak rata karena ia potong tadi terasa kasar di kulitku.

"Dra," panggilnya lembut.

"Ya, Vem?"

"Saldo hidup kita mungkin sedang minus besar sekarang. Kita kehilangan Riko, kita kehilangan kepercayaan pada orang tua kita, dan kita sedang diburu oleh orang paling berkuasa di sekolah. Tapi lihat..." Vema mengangkat tangannya yang masih terikat benang merah denganku. "Benang ini nggak berubah jadi hitam. Warnanya tetap merah, bahkan ada sedikit kilau emasnya."

Aku menatap benang itu. Benar. Di tengah semua kegelapan ini, ikatan kami justru semakin murni.

"Dalam akuntansi," kataku sambil menghapus air mata, "ada yang disebut dengan Going Concern. Prinsip bahwa sebuah entitas harus terus berjalan terlepas dari kerugian yang dialami. Kita nggak boleh bangkrut sekarang, Vem. Kita harus melakukan likuidasi terhadap semua kejahatan Pak Haryo."

Nadin tiba-tiba berseru dari arah laptopnya. "Dra! Aku berhasil! Aku berhasil mengunggah salinan digital Jurnal Hitam ini ke server independen di luar negeri. Pak Haryo nggak bisa menghapusnya secara gaib lagi. Sekarang, kita hanya butuh satu hal lagi untuk menghancurkannya secara total."

"Apa itu?" tanya Bagas.

"Kita butuh tanda tangan saksi hidup yang masih memiliki 'ingatan' asli tentang pesanan tas itu. Dan menurut jurnal ini, saksi hidup itu bukan cuma Ibu Riko," Nadin menatapku dengan ragu.

"Siapa lagi, Din?" tanyaku.

"Ayahmu, Dra. Darmawan Santoso. Dia adalah satu-satunya orang yang tahu di mana Pak Haryo menyimpan 'Tas Induk'—tas yang berisi seluruh ingatan yang pernah dihapus selama sepuluh tahun terakhir. Kalau tas itu dihancurkan, semua ingatan orang-orang yang pernah 'dihapuskan' akan kembali, dan kekuasaan Pak Haryo akan runtuh seketika."

Aku terdiam. Menemui ayahku berarti aku harus menghadapi pria yang telah menghancurkan hidup banyak orang demi aku. Tapi aku tahu, ini adalah satu-satunya jalan untuk menyeimbangkan neraca ini.

"Besok pagi," kataku dengan suara yang kini penuh tekad. "Kita akan menemui ayahku. Dan kita akan memintanya untuk mengakui semua dosanya."

Malam itu, di gudang tua yang berdebu, Lingkaran Lima (yang kini hanya tersisa empat orang aktif dan satu saksi bisu) tidur saling berhimpitan. Kami tahu, besok adalah hari penentuan. Apakah kami akan berhasil menutup jurnal ini dengan kemenangan, atau kami akan menjadi catatan kaki dalam sejarah kegelapan SMK Pamasta.

Aku menatap Vema yang sudah tertidur di sampingku. Rambut wolfcut-nya yang berantakan adalah simbol dari perjuangannya. Aku berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi besok, aku tidak akan membiarkan benang merah ini terputus. Karena di dunia yang penuh dengan angka palsu dan transaksi gaib, hanya Vema-lah satu-satunya variabel yang benar-benar nyata bagiku.

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!