Hanya demi perputaran roda perusahaan agar terus berjalan normal, suamiku rela menjualku untuk sebuah investasi besar dari perusahaan ternama.
Ini benar-benar gila! Ternyata aku dijual kepada seorang CEO dari perusahaan ternama yang tidak lain adalah mantan pacarku sewaktu SMA.
Namaku Vanya, dan inilah kisah hidupku yang sebenarnya.
(Tema judul diambil dari kisah nyata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anarita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Dua
"Ingin Mati?" Marco mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi layaknya Fir'aun gila yang siap membunuh tawanannya.
Tepat di bawah kakinya, tangan Hero sudah terikat sempurna dengan posisi berlutut dan tertunduk. Sudut bibir pria itu robek lantaran tadi sempat dipukul oleh bodyguard bertubuh besar yang sama sekali bukan tandingannya.
"Maaf Tuan," lirih Hero putus asa.
Sialan, akhirnya aku kena getahnya juga, 'kan.
"Jangan menguji kesabaranku Her! Aku hanya menyuruhmu mengantar Vanya ke rumah, kenapa kau malah mengajaknya keliling kota?" seru Marco, dengan bahasa menyindir dan tangan yang sudah terlipat di depan dada sembari menunjukkan kekuasan dan keangkuhannya.
"Saya hanya mengajak nona makan. Sebelumnya nona sempat pingsan dan langsung saya larikan ke rumah sakit," ucapnya.
"Aku sudah tahu, kau pikir mataku hanya satu," sahut Marco cepat. "Yang aku maksud kenapa kau tidak ada menghubungiku sama sekali, hah?"
Hero termangu dengan pikiran yang sudah mengembara ke mana-mana. Ya jelas tuan Marco sudah tahu, dasar Hero bodoh! Saat ia kembali putar balik untuk membawa Vanya ke rumah sakit, pasti orang rumah langsung mengadukan apa yang mereka lihat pada tuan Marco. Mereka tidak mungkin tidak melihat Hero menggotong-gotong tubuh berat Vanya masuk ke dalam mobil kembali dan melaju pergi.
Sekarang yang perlu pria itu lakukan adalah menjawab segala pertanyaan Marco dengan logis. Kalau perlu ungkapkan saja semua yang ia tahu.
"Jawab aku, kenapa malah diam?" Bentakkan Marco sudah semakin menggelegar memenuhi seisi ruangan. Membuat gendang telinga Hero berdengung ngilu serasa mau pecah.
"Ponsel saya ketinggalan tuan!"
Marco tertawa sinis mendengar ucapan Hero.
"Benar-benar logis sekali alasanmu!" Pria itu menggelengkan kepala geram dengan rahang yang mulai mengeras. "Jadi ... apakah aku harus memotong dua kakimu dulu agar kau memiliki alasan tepat karena tidak dapat berjalan untuk mengambil ponselmu itu?"
"Maksudnya, saya juga tidak sempat mengabari Tuan."
"Yang mana yang benar?" Gertak Marco penuh penekan.
"Dua-duanya benar," jawab Hero. Membuat Marco semakin naik pitam dan ingin mencekik mati pria itu sekarang juga.
"Ngelunjak! Apa kau ingin aku membuang mobilmu ke tengah laut? Kemudian menyuruhmu berenang dari pantai ke sana untuk mengambil ponselmu. Jika kau mau, aku bisa melakukan itu sekarang Her!"
Ancaman Marco membuat Hero mendesah lemah. "Saya yakin baginda raja tidak akan melakukan hal segila itu," ucap Hero datar, yang terdengar seperti candaan sialan di telinga Marco.
Marco melotot dengan telunjuk menunjuk kesal. "Kau tidak sayang nyawamu lagi rupanya?"
Marco baru berniat hendak menampar Hero, namun pria itu menyergah sebelum terlambat.
"Berhentilah Tuan ... ada hal penting yang ingin saya bahas tentang keadaan nona Vanya. Hal ini jauh lebih penting dari pada menyiksa saya."
"Kenapa dia? Apa wanita itu mengida penyakit kronis?" Saking kesalnya pada Hero, Marco sampai lupa bahwa ia belum sempat menanyakan kabar tawanan cantiknya. Entah apa yang terjadi dengan wanita sok kuat itu sampai bisa pingsan dan berhasil membuat hubungan Marco dan Hero berselisih paham.
"Saya akan cerita, tapi sebelumnya lepaskan dulu pengikat ini," pinta Hero sambil menggoyangkan dua tangan yang terikat di belakang punggungnya. Permukaan kulit pria itu mungkin sudah lecet lantaran tangannya terlalu kuat memberontak.
"Merepotkan!" Berbicara dengan nada menyentak, namun tangan Marco tetap bergerak, membuka tali ikatan yang membelenggu tangan sekretarisnya sedari tadi.
"Cepat katakan, jika ceritamu tidak menarik, bersiaplah lompat dari atas gedung ini." Marco memutar tubuh, kembali duduk di kursi kerjanya sambil menatap Hero dengan muka setengah menunggu.
Pria itu mulai mangkit dan berdiri.
Persetan dengan janji, aku masih belun mau mati. Maafkan saya nona, saya tidak jadi merahasiakan kehamilan Anda.
"Tadi saat dokter memeriksa keadaan nona, dia bilang bahwa nona hamil." Sesimpel itu Hero bicara, akan tetapi tidak dengan Marco yang langsung memasang ekspresi marah dan tidak senang.
"Hamil?"
"Iya hamil, tapi nona minta saya merahasiakannya dari Tuan," lanjut pria itu santai sekali.
Mendengar itu, Makin terpaculah emosi Marco saat ini.
"Anak Adit?" Tentunya Marco langsung menebak tanpa basa-basi lagi karena ia merasa tidak menanam benih di rahiim wanita itu. "Langsung bunuh saja, aku tidak mau ada bayi setan di perut wanita itu."
Sesuai dugaan Hero, Marco benar-benar mau anak itu mati tanpa banyak bicara.
"Tenangkan diri Anda dulu Tuan. Nona bilang bahwa ia sudah lama sekali tidak berhuhungan badan dengan tuan Adit. Jika nona tidak berbohong, kemungkinan itu adalah anak kandung Tuan." Hero sengaja mengompori agar Marco menjadi bimbang. Namun, otak Marco yang sudah terlanjur murka tetap saja membantah.
"Jadi kau percaya begitu saja dengan ucapan wanita licik itu?"
Hero mengangguk tanda mengiyakan. "Saya mencoba percaya dulu, Tuan!"
"Polos sekali otakmu Her! Jika anak itu terbukti bukan milikku, apa kau mau ikut mati bersamanya, hah? Sudahlah, cepat cari dokter kandungan khusus untuk menggugurkan penghalang tak berguna itu!"
"Jangan dulu, Tuan. Kita harus mengikuti kemauan nona Vanya. Tunggulah sampai beberapa bulan. Setidaknya setelah keadaan bayi itu sedikit lebih kuat, dan kita bisa langsung melakukan tes DNA."
"Tes DNA kepalamu!" Marco membentak dengan mata melotot geram ke arah Hero bersamaan dengan pulpen yang mendarat sempurna di kepala pria itu.
"Aduh!" Hero meringis ngilu sambil memegangi kepala bagian samping.
"Jangan membuat emosiku semakin tak terkendali. Turuti saja apa kataku. Aku tidak mau balas dendamku berhenti begitu saja hanya karena kehadiran bayi merepotkan itu. Lagi pula, kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara aku dan Vanya, kan? Kalau kau tahu, kau pasti tidak akan berani melarangku membunuh bayi itu!" tukas Marco.
Hero mendongak yakin. "Saya tau Tuan!"
Kalimat itu sukses membuat dahi Marco mengkerut. Tau apa? Begitulah mata terkejut Marco menyiratkan pertanyaannya.
"Saya tahu Anda keluar diluar. Saya juga tahu kalau Anda baru melakukannya selama dua kali." Wajah Hero seketika memerah. Pria itu tertunduk malu setelah berani mengatakan hal selancang itu pada tuannya.
Saya juga tahu, mungkin itu adalah pertama kalinya Anda berhubungan sex, lanjutnya dalam hati.
"Sepertinya kau makin cari gara-gara ya Her! Sejauh mana kau mengulik kehidupanku, hah? Apa jangan-jangan kau juga tahu berapa ukuran yang aku miliki?"
"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud! Nona Vanya yang menceritakan pada saya, saya hanya menyampaikan apa yang saya dengar."
Saya tau ukuranmu, kita pernah kencing bersama. Dasar pelupa. Hero melirik Marco dengan pandangan penuh arti. Marco yang risih langsung membentak.
"Apa yang sedang kau lihat, hah? Sedang mengutukku supaya cepat mati?" makinya.
"Tidak Tuan! Saya mana berani seperti itu." Hero tertunduk dalam.
"Pergi kau! Jangan berani masuk ke ruanganku kecuali aku yang memanggilmu!"
"Tapi tidak jadi membunuh bayi itu, kan?"
"Tidak! Puas kau?"
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Hero membalikkan badannya dengan lega. Sebuah senyum sederhana merekah di bibir pria itu. sesenang ini hati Hero, seolah anak itu adalah darah dagingnya sendiri yang baru saja ia selamatkan dari tangan orang jahat. Mungkin inilah alasan mengapa orang tuanya memberikan nama Hero. Dia didesain untuk menjadi pahlawan kebaikkan yang selalu setia di balik kesuksesan Marco.
Demi Tuhan saya tidak akan membiarkan Anda jadi pembunuh, Tuan.
Lantas menutup pintu ruangan itu. Membiarkan Marco merenungi apa yang terjadi pada Vanya.
***
Udah pada bosen belum sih?