" Hei Leha, turun gak ? " Ibunya Juleha berkacak pinggang di bawah pohon mangga.
" Bentaran ! Nanggung "
Masih dengan santai nangkring diatas pohon mangga.
Bagaimana kisah perjalanan rumah tangga antara Juleha dan Zainal dan pasangan lainnya yang menikah karena minta dijodohkan ? ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Mendadak nikah ( 8 )
Tok
tok
tok
" Bang "
Hais, suara cempreng Juleha membuyarkan pikiran Abdul yang masih mencerna ucapan Sarah barusan.
Abdul berdecak.
" Apa ? "
Wajah garang Abdul menyembul dari balik pintu.
Juleha terkejut, tidak biasanya abangnya yang baik itu memperlihatkan wajah jeleknya.
Juleha celingukan mencuri curi lihat apa yang terjadi di dalam kamar, apakah Abang dan kakak iparnya bertengkar ?
Sepertinya tidak mungkin, baru juga seminggu jadi pengantin baru, masa sudah perang aja.
" Jangan ngintip ngintip ! ada apa ? "
Abdul menutup pintu yang ada di belakangnya, dia tidak ingin rambut indah Sarah dilihat oleh orang lain, itu hanya milik dirinya.
Cie cie, yang sudah mengklaim milik sendiri.
" Galak benar, noh, di depan ada bang Jali dengan bang Mahmud "
Abdul menyatukan kedua alisnya dengan dahi yang berkerut dalam.
" Kan ada laki lu, dek, kenapa mesti Abang sih "
" Bang Jali mau ketemu Abang, lagi pula sekarang baru jam delapan bang, ngapain cepat cepat tidur ? kaya' balita aja "
Juleha mencebikkan bibir bawahnya.
" Mau ngasih ponakan untuk lu, dek "
Abdul ngeloyor pergi meninggalkan Juleha yang masih melongo mendengar jawaban absurd dari abangnya.
" Ngapain lu pada kesini ? apa gak tahu hari sudah malam, waktunya tidur, bukan bertamu kerumah orang, pulang sono ! besok pagi aja balik lagi "
Usir Abdul yang sudah berdiri di depan pintu.
Mahmud, Rojali dan Zainal terkekeh melihat tampang Abdul yang lecek, lebih jelek dari pada uang kertas dua ribuan.
" Kaya'nya baru mau start udah ada gangguan ya ? "
Zainal meledek.
" Sabar Dul, tunggu malam dikit, pasti gak ada yang ganggu, hajar terus sampai pagi ! "
Mahmud tergelak.
" Lu jomblo jangan ikutan komentar, ntar kalau lu pengen, mau kemana ? bantal guling lu yang jadi sasaran ? "
sembur Abdul membuat Mahmud memberengut.
" Sudah sekarang ada apa ? "
Abdul sudah sangat tidak sabaran.
" Lusa kan aku mau nikah sekaligus resepsi, aku mau kalian bertiga jadi pengiring pengantin pria ? "
Rojali yang dari tadi cuma menyimak ketiganya yang saling lempar ejekan, mengutarakan maksud kedatangannya.
" Lu kira, lu selebritis pake pengiring pengantin segala ? "
Abdul mencibir.
" Aku bukan selebriti tapi raja sehari Dul "
" Aku dan Zainal sudah menikah, Li, lu suruh saja Mahmud "
" Halah Dul, lu status sudah menikah, tapi aku bisa berani jamin kalau lu masih perjaka "
Rojali mengejek
Zainal dan Mahmud menahan tawanya
" Sok tahu "
Semprotnya dengan wajah memerah, bagaimana Rojali bisa tahu, gak mungkin kan kalau Rojali mengintip kamar yang ditempati Abdul.
Tembok rumah Pak Denan, gak ada yang bolong semua masih mulus, wong baru tahun kemarin selesai di renovasi total karena Pak Denan menerima bagian dari hasil penjualan warisan almarhum kakek dan neneknya Abdul.
" Tahu dari mana kalau aku masih perjaka ? aku sudah punya bini, Li " beuh, Abdul sudah bisa sombong sekarang, kemarin aja sok sok nolak, cuma trik untuk menaikkan nilai ya Dul ?
" Ya tahulah, aku perhatikan kalau lu itu sedang ngelihatin Sarah, lu malu malu dan curi curi pandang gitu, persis adek ku yang lagi puber.
Beda dengan Zainal "
" Kok aku yang di bawa bawa "
Zainal tidak terima, padahal dari tadi dia diam saja.
" Kalau Zainal lagi ngelihatin Juleha, tampangnya mupeng terus, gak perduli hari sedang puasa "
Rojali dan Mahmud tergelak.
Zainal melempar Rojali dengan botol plastik bekas air mineral.
" Kurang ajar lu, kita lihat aja besok kalau lu udah nikah, aku pengen lihat muka lu mupeng-nya bagaimana "
Zainal mencibir.
" Kalian bisa gak, kalau gak usah ngebahas masalah itu, gak kasihan apa sama yang jomblo "
Mahmud merajuk.
" Bagaimana dengan Lusi, lu jadi deketin dia "
Zainal bertanya serius.
" Aku bingung, dia maunya aku langsung ke orang tuanya "
" Maksudnya melamar ? "
Rojali bertanya tidak percaya.
Mahmud mengangguk.
" He -eh, padahal kami baru teleponan dua kali, begitu aku hilang kalau aku sepupu istrinya Zainal, dia langsung ngomong gitu, katanya cukup mengetahui seseorang dengan siapa dia bergaul, keren kan "
Mahmud menaik turunkan alisnya bangga.
" Terus apa yang lu bingungin ? "
Tanya Abdul menatap lekat lekat wajah Mahmud
" Bingung aja, Alloh baik sekali, padahal aku gak baik baik kali, ee ... begitu kepengen nikah, jodoh ada di depan mata "
Mahmud terkekeh.
" Yok pulang Mud, kasihan noh, Abdul sudah kebelet "
Rojali dan Mahmud langsung bangkit dari kursinya, tanpa menghiraukan tatapan melotot dari Abdul.
...******...
...🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿...
maraton bacanya
Mira bete lagi nih, Thor ada dendam ya sama mira👻
👍🏼👏🏼🙏🏼☕
haduh porsinya pas Pasan bang jali👻
emang somplak mereka
hore Mahmud otw nikah juga Ama Lusi 👻🌹
rezeki nomplok si Abdul nikah nga modal 👻
awas ada yang kebakar leha👻
bang Zai ada yang kepanasan 👻