Di sarankan membaca "SANG PENGANTIN BAYARAN" lebih dulu, karena semua tokoh berkaitan erat dalam novel tersebut.
Alexavier Bancroft, menjadi duda di usianya yang masih muda. Istrinya, Melanie Rendra, meninggal satu hari setelah melahirkan bayi perempuan cantik secara prematur yang di beri nama, Sunny Chalondra Bancrof.
Berbagai tekanan dari keluarga mertuanya membuat Alex berusaha move on dari masa lalunya, namun sulit bagi dia untuk kembali membuka hati pada wanita manapun yang ia temui.
Keluarga Rendra, menjodohkan Alex dengan keponakan mereka bernama Felicia, namun hati Alex berkata lain, ia tertarik pada wanita yang menjadi pengasuh putrinya, Nora Arabella.
Akankah Alex bisa bertahan dengan hatinya untuk memilih Nora, atau memilih untuk mundur dan menerima perjodohan itu dengan rela?
---
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Libur
Merasa penasaran, Alex ingin tau apa yang sedang Nora lakukan di hari liburnya setelah sekian lama sibuk mengurus Sunny. Laki-laki itu memasukkan ujung kepalanya dengan sebelah mata mengintip.
"Ada apa, Tuan?" tanya Nora mengagetkannya.
"Oh, oh. Ya Tuhan, kamu mengagetkanku," keluh Alex, ia menepuk dadanya pelan dengan ritme jantung yang cepat. Ia merasa malu, ternyata Nora sedang berada di belakang pintu dan memergokinya.
"Maaf," ucap Nora singkat.
"Kenapa kamu berdiri di belakang pintu?" tanya Alex.
"Lah kenapa tuan mengintip di depan pintu kamarku?" tanya Nora balik, membuat Alex gelagapan menjawab. Terlanjur malu, ia mencari alasan kenapa dirinya sampai mengintip ke dalam kamar Nora.
"Oh, tolong pegang ini." Alex menyerahkan kotak es krim di tangannya pada Nora. "Pergilah keluar rumah, jalan-jalan atau bertemu teman-temanmu," ujar Alex, ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dan memberikannya pada Nora.
"Untuk apa uang ini?" tanya Nora.
"Uang jajan, bisa kamu pakai pergi hari ini. Dan belilah baju-baju baru, aku lihat baju yang kamu pakai cuma itu-itu aja."
"Tapi kan belum waktunya gajian, Tuan?" tanya Nora.
"Sudah ku bilang, ini uang jajan."
"Baiklah, potong gaji saja, ya?" pinta Nora.
"Nggak usah."
"Eh, nggak mau. Potong gaji pokoknya,'" tolak Nora tegas, mengembalikan uang ke tangan Alex.
"Oke, terserah," jawab Alex pasrah.
Setelah memberikan uang dan setuju, Alex kembali meminta kotak es krimnya dan berlalu pergi meninggalkan Nora. Ia kembali masuk ke dalam kamar Sunny dan memakan sekotak es krim bersama.
Sedangkan Nora, wanita itu tampak sangat bahagia dengan uang yang Alex berikan, ia memang berniat membeli beberapa baju ganti setelah nanti ia mendapatkan gaji pertama, namun ternyata hari ini ia langsung bisa membelinya tanpa menunggu hari gajian.
Nora segera bersiap, uang yang ada di dalam dompetnya kini bertambah, ia merasa uang itu akan cukup untuk membeli beberapa baju dan ongkos jalan-jalannya hari ini.
Setelah bersiap, Nora segera memesan taksi melalui aplikasi di ponselnya, ia pun masuk ke kamar Sunny terlebih dahulu.
"Tuan, aku pamit pergi dulu," pamit Nora pada Alex yang sedang asik menyuapi es krim ke mulut Sunny.
"Hati-hati di jalan, pulang sebelum jam makan malam, Nora."
"Baik, terimakasih. Bye bye, Sunny." Nora melambaikan tangan berlalu keluar kamar.
"Bye, Aunty."
Hari belum terlalu terik, Nora masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di depan gerbang rumah, dua orang satpam begitu antusias bertanya kemana tujuan Nora hari ini, namun Nora hanya menjawab kalau dirinya ingin jalan-jalan.
Tanpa perencanaan, Nora meminta sopir taksi menghentikan mobilnya di depan toko bunga, ia membeli dua buket bunga mawar merah dan satu keranjang penuh bunga tabur, kali ini ia berniat datang ke makam kedua orang tuanya yang sudah lama tidak ia kunjungi.
Memberi arahan pada sopir taksi kemana tujuan mereka, lebih dari satu jam perjalanan Nora akhirnya sampai di sebuah pemakaman terpencil di pinggiran kota, lokasinya jauh dari tempat tinggal Alex.
Sudah lama sekali Nora tidak mengunjungi makam ayah dan ibunya, rasa rindu sudah menggunung menjulang tinggi. Wanita itu meminta pada sopir taksi untuk menunggunya beberapa menit, dan sopir menyanggupinya.
Nora berjalan membawa bunga ke makam yang tanahnya sudah rata, ia menabur bunga lalu berdoa di atas dua makam orang tuanya yang bersebelahan.
"Ayah, ibu, Nora datang," bisiknya pelan, ia mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar makam.
"Ayah, ibu, apa kalian ingat tentang ceritaku beberapa tahun lalu, tentang laki-laki yang menolongku? kini dia kembali menolongku, dia memberiku pekerjaan bagus."
"Aku tau, semua itu berkat doa-doa dari kalian."
"Aku senang, cita-cita ibu untuk menjadikanku orang sukses akan terwujud, aku janji."
"Setelah tabunganku cukup, aku akan membuka kedai warung makan sesuai keinginan ibu, aku akan semakin giat belajar memasak, aku akan segera mewarisi bakat ibu yang ahli dalam bidang kuliner."
"Doakan aku, Bu. Doakan jalan hidupku mudah, agar aku terhindar dari kemiskinan dan kelaparan seperti yang kita alami dulu. Agar aku bisa berkunjung pulang ke kampung halaman kita dan membuktikan pada sanak saudara di sana, bahwa kita bisa."
"Semoga kalian tenang, semoga kalian bahagia. Aku rindu kalian, ayah, ibu."
Rasa rindu membuat air mata wanita itu tidak berhenti menetes, sudah lebih dari 7 tahun orang tuanya meninggal, dan sejak itu pula ia merasa kesepian.
Setelah puas menceritakan seluruh isi hatinya di depan makam kedua orang tuanya, Nora pamit dan kembali menuju tempat taksi yang menunggunya.
"Maaf membuat anda menunggu lama," ucap Nora pada sopir.
"Tidak apa-apa, Nona. Kemana lagi tujuan kita?"
"Kembali ke kota, Pak."
Karena jam makan siang hampir tiba, Nora akhirnya memutuskan untuk mengunjungi teman dekatnya yang masih bekerja di restoran tempat kerja lamanya dulu, ia merasa sangat rindu karena sudah lama tidak bertemu.
Setelah sampai di tempat tujuan, Nora segera masuk ke dalam restoran dan mencari temannya, Dhea. Nora memilih duduk di kursi yang letaknya dekat kasir, ia tau jika biasanya Dhea meminta jam istirahat khusus di jam makan siang.
Setelah ia memesan makanan dan minuman, kebetulan ia melihat Dhea akan keluar dari pintu resto, bergegas ia memanggilnya.
"Nora, kok di sini?" tanya Dhea terkejut.
"Aku mampir, kangen kamu." Nora memeluk sahabatnya.
Membatalkan keinginannya keluar dari resto, Dhea akhirnya ikut duduk bersama Nora.
"Ayo pesan makanan, aku yang traktir," ucap Nora.
"Uangnya banyak, ya."
"Ada deh. Pesan dulu, asal jangan menu premium," bisik Nora. Mendengar ucapan Nora, Dhea terkekeh pelan.
Mereka akhirnya berbincang-bincang sambil menunggu pesanan datang, Dhea begitu penasaran tentang pekerjaan apa yang sudah Nora dapatkan hingga memilih untuk resign dari pekerjaan koki yang selama ini dia impikan.
"Aku bekerja sebagai pengasuh," jawab Nora.
"Pengasuh, anak siapa?"
"Alexavier Bancroft."
Berdecak kagum, Dhea begitu bangga dengan sahabatnya, mereka sudah sangat dekat sejak pertama kali Nora mulai bekerja di tempat ini.
"Apa kamu senggang?" tanya Dhea.
"Ya, aku libur hari ini."
"Aku sengaja pulang cepat, sepupuku mengalami kecelakaan, aku harus ke rumah sakit untuk melihat kondisinya."
"Aku ikut," pinta Nora.
Akhirnya Dhea mengizinkan dan mengajak Nora untuk pergi bersamanya. Karena ponsel lama Nora yang rusak, ia kehilangan kontak orang-orang terdekatnya, mereka akan menghabiskan waktu bersama sampai sore.
Di rumah sakit, Dhea memperkenalkan sepupu laki-lakinya pada Nora. Kebetulan, sepupu yang ia kenalkan adalah seorang koki seafood yang bekerja di resto khas jepang terkenal di ibu kota.
Mereka bertiga tampak sangat akrab dengan bercerita tentang menu-menu masakan andalan masing-masing.
🖤🖤🖤