NovelToon NovelToon
Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Nipi Nupu

Dean Justin Lee, seorang sutradara muda terkenal yang digilai oleh fans dan para aktris itu membuat skandal yang paling gila. Ia menikahi seorang petugas laundry bernama Jessy Julian yang memiliki paras cantik dengan mata berwarna hazel dan rambut pirang paling indah.

Jessy Julian merupakan seorang wanita mandiri yang sejak kecil ditemukan oleh seorang wanita pemilik yayasan. Ia pindah ke New York untuk mengadu nasib sebagai petugas laundry.

Pertemuan pertama Jessy dan Dean justru membuat mereka harus mengarah pada suatu proses pernikahan. Namun, Apakah perbedaan status keduanya dapat membuat pernikahan mereka berlangsung lama? Lalu bagaimanakah Jessy menjaga hatinya karena pesona Dean yang membuat wanita lain terpesona?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nipi Nupu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

a good night kiss

Dean parkir mobilnya di basement apartemennya. Ia diam sebentar untuk menghubungi Pedro.

"Sebelum kau mengetahuinya dari orang lain, aku akan memberitahumu. Kau sudah dicoret menjadi pemeran utama oleh rumah produksi. Padahal awalnya aku berfikir untuk mempertahankan mu."

Terdengar suara pria itu tertawa ketika di telepon. "Aku sudah dapat mengiranya."

Dean langsung menutup teleponnya. Ia menyimpan ponselnya didalam saku dan kembali terdiam. Ia menatap jam tangannya. Pukul 06 sore. Jessy pasti sudah menunggu didalam. Iapun keluar dari mobil dan berjalan menuju lift. Ia tidak ingin Jessy tahu tentang masalahnya saat ini. Ia tidak mau istrinya itu terlibat.

Ketika pintu lift terbuka, ia melihat dua pasangan yang tengah berbincang satu sama lain. Dean diam saja. Ia membelakangi mereka. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia membalikkan badannya kebelakang.

"Apakah aku boleh bertanya pada kalian?" tanya Dean.

Orang-orang itu terdiam. Mereka mengangguk.

"Apakah kalian suka menonton film?" tanya Dean.

"Tentu saja. Kami akan menonton ke bioskop sekarang."

"Film apa yang kalian sukai?"

"Action!" seru kedua pria.

"Romcom!" seru kedua wanita.

Dean menatap pria-pria itu. "Film action apa yang kalian sukai saat ini?"

"Kami sedang menyukai film Blood."

"Siapa pemeran utama prianya?" tanya Dean kembali.

"Tom Lewis. Tapi menurutku bukan dia yang menjadi pemeran utama. Ada satu karakter yang membuat banyak orang mengalihkan ketertarikannya. Mereka tertarik pada aktor muda bernama Louis McIntyre. Louis berperan sebagai seorang psikopat. Aktingnya sangat luar biasa." seru salah seorang pemuda.

Dean tersenyum dan menepuk bahu pria itu. "Sepertinya kau tahu banyak soal film"

"Aku sedang belajar menjadi seorang pengamat." ucapnya.

Terdengar pintu lift berbunyi. Dean menoleh. Sepertinya ia sudah sampai.

"Baiklah, terimakasih informasinya. Aku menemui orang yang mengerti film. Sampai jumpa lagi." ucapnya sambil berjalan keluar lift.

Ia cepat-cepat menghubungi Harris.

"Bisa kau periksa aktor muda bernama Louis McIntyre?"

"Siapa?" tanya Harris bingung

"Kau cari saja. Kita akan bertemu besok untuk membahasnya. " ucap Dean sambil mematikan teleponnya. Ia kini sudah berada didepan apartemen nya. Sudah lama ia tidak tinggal di apartemennya. Apartemen yang menjadi saksi pertemuannya dengan Jessy kala itu. Ia menekan tombol untuk membuka kunci.

Ia hanya bisa merasakan bau daging yang sedang dipanggang. Kebetulan sekali ia sedang sangat lapar. Ternyata Jessy benar-benar membuatkan makanan untuknya. Ia mendengar Jessy tengah bersenandung di dapur miliknya.

...And even if the sun refused to shine...

...Even if romance ran out of rhyme...

...You would still have my heart...

...Until the end of time...

...'Cause all I need is you, my Valentine...

...You're all I need, my love, my Valentine...

Dean memeluk Jessy dari belakang. Kepalanya menunduk dan mengecup ringan bahu Jessy. Terasa Jessy terkejut. Ia semakin mempererat pelukannya.

"Teruslah bernyanyi.. aku menyukainya.." bisik Dean.

Jessy tersenyum. Ia memegang tangan Dean. "Aku tidak tahu kau sudah kembali, Dean.." jawab Jessy.

"Sepertinya kau sedang bahagia.." ucap Dean.

Jessy membalikkan tubuhnya. "Aku bahagia karena hari ini adalah kencan kita yang pertama. Aku sudah menyiapkan semuanya."

Dean menundukkan wajahnya. Kedua tangannya memegang meja pantry yang ada dibelakang Jessy. Kemudian ia mematikan kompornya dan mencium Jessy dengan mesra. Semuanya terasa indah. Sebagai seorang pria yang tidak pernah merasakan bagaimana jatuh cinta, bertemu dengan Jessy adalah sebuah keajaiban. Ia merasakan Jessy melepaskan diri. Ia membuka matanya. Wajah Jessy terlihat berbinar. Ia sedang tersenyum padanya.

Tiba-tiba kedua tangan Jessy memegang wajahnya. "Aku harus jujur padamu. Tidak ada yang tahu selama ini selain pemilik yayasan. Aku berulangtahun minggu depan." bisik Jessy malu.

"Benarkah?" tanya Dean. Ia melepaskan tangan Jessy yang memegang wajahnya. "Kalau begitu aku akan membuat pesta kecil untukmu." bisiknya.

Jessy tersenyum. "Aku akan menantikannya." jawab Jessy sambil memeluknya.

Dean membalas pelukan Jessy. "Maafkan aku tidak membawa apapun." bisiknya.

Jessy langsung melepaskan pelukannya. "Aku sudah menyiapkannya. Lebih baik kau duduk di meja, aku akan menyiapkannya untukmu." Ia mendorong punggung Dean agar ia duduk di ruang makan.

Dean langsung melihat wine yang sudah tersimpan diatas meja. "Kau membeli ini?"

"Ya. Aku tahu kau sangat menyukainya. Aku harap kau suka"jawab Jessy senang. Ia kembali ke dapur untuk membawa steak yang sudah ia panggang.

"Aku menyukainya!" seru Dean.

Jessy kembali sambil membawa dua buah piring yang sudah diisi makanan. "Maafkan aku hanya menyediakan ini. Aku belum tahu makanan kesukaanmu apa."

Dean melihat piringnya. "Aku tetap menyukainya." jawabnya.

Merekapun makan malam tanpa bersuara. Hanya terdengar suara orang yang sedang berbincang.

"Kau tidak akan lupa keinginanmu hari ini, bukan?" tanya Dean.

"Tentu saja. Hanya aku yang belum menonton film itu."

"Kita akan menontonnya. Sekarang ambil wine dan simpan di meja."

Mereka berdua pun mulai menonton. Banyak sekali adegan yang membuat Jessy harus menutup matanya. Jessy menyandarkan sebagian tubuhnya pada Dean. Ia menarik selimutnya.

Dean tertawa melihat Jessy ketakutan. "Aku membayangkan kita menonton di bioskop. Apakah kau akan melakukan hal yang sama? Maksudku dengan selimut ini?" tanya Dean.

"Kau tidak takut? Mendengar suaranya saja aku sudah takut. Untuk itulah aku tidak menyukai film horror"

"Bagaimana aku bisa takut? aku yang membuatnya. Aku tahu dengan detail semua adegan ini." jawab Dean sambil tertawa. Ia mengangkat lengannya kemudian memeluk bahu Jessy.

" Sebelum kau ke Yunani, aku ingin sekali lagi menonton film. Ada film romantis yang sedang tayang di bioskop. Pemeran pria nya, aku sangat menyukainya."

"Siapa?"

"Joey Lopez. Dia akan sangat serasi jika disandingkan dengan Stephany Martha. Jika kau membuat film romantis, aku harap kau memasangkan mereka."

Dean memainkan jari-jari Jessy. "Itu tidak mungkin, sayang. Aku tidak akan pernah membuat film romantis seumur hidupku."

Jessy menghela nafas. "Sayang sekali.." ucapnya kecewa.

Jessy mulai menguap. Bukan karena bosan, tapi selama beberapa hari ini Dean tidak pernah membuatnya tidur dengan waktu yang cukup lama. Ia beberapa kali menutup matanya.

Sebuah dengkuran halus mulai terdengar. Nafasnya naik turun. Dean menunduk untuk melihat keadaan Jessy.

"Jessy.." panggilnya. Tidak ada jawaban. Iapun menunduk kembali untuk melihatnya. Jessy tertidur. Baiklah, ia akan membiarkan Jessy tidur lebih lama malam ini. Ia mulai mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya ke kamar. Ketika ia merebahkan tubuh Jessy di atas tempat tidur, ia terdiam sambil menatapnya. "Selamat tidur, Jessy.." bisiknya sambil mencium kening Jessy dengan agak lama. Kemudian ia menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh Jessy. Ia berdiri dan mengambil remote air conditioner. Ia menurunkan suhunya. Malam ini terasa lebih dingin daripada biasanya. Setelah itu ia keluar kembali.

Dean mengambil satu gelas berisi wine dan berjalan ke beranda. Ia mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Harris.

"Bagaimana?"

"Aku sudah menemukan agensinya."

"Oke, besok kita bersiap untuk mencarinya." ucap Dean dengan perasaan agak lega.

1
Anisa Sasmita
lanjut doong please🙏🙏🙏
Maya Sari
bagus
Anna Anna
kok aku kasian y sm Lili, terlepas dr masa lalu ny yg jahat tp dia udh bertobat dan berhak mendapatkan maaf dr smua org
~Burberry
kok lily gitu sihhh
~Burberry
badai akan segera datang
reginus tarang
bagus
Miss Tiya😊
Luar biasa
Tut Eny
lanjut
Susanna Ani
bagus
bunda DF 💞
bagus bangeet ceritanya,,,bikin emosi naik turun,,, tp romantiiis 😍😍
Mrs. O'Neil
satu part lagi donk... pengen baca kebahagian Alv Joan punya jagoan 🙏🙏🙏
Darmawati Pachri
karena itulah cara Dean mencintaimu...
Darmawati Pachri
😭😭😭pasti salah faham yg terjadi akan lebih besar lagi
Darmawati Pachri
susah kalo sudah curiga dihati..
Darmawati Pachri
betul banget
Darmawati Pachri
bicara dong jangan langsung memvonis akhirnya salah faham
ArrdiLLa
ceritanya bagus..
mudah dimengerti...
enak dibaca
Kosong (uninstall)
💕💕😍😍😍😍😍😍
Kosong (uninstall)
nama juga dokter biar pun umum yang pasti hal2 seperti itu juga mereka tau ya kan. masa masih lingkungan dokter gak tau? betul gak netizen?
Mrs. O'Neil: Alv bukan dokter umum
total 1 replies
irish gia
happy ending
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!