Karena kemurkaan sang ayah, Khanza harus menjadi dokter relawan di daerah perbatasan. Tapi bukan Khanza namanya kalau tidak mengacau, apalagi dia dikelilingi tentara-tentara tampan dan seksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cellestinee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
"Sini coba lo yang pegang" ajak Kendra menyuruh gue mendekat.
Gue lakuin sama persis dengan apa yang dicontohin pak tentara. Gue kasih makan\, gue elus-elus\, terus gue pegang talinya. Awalnya emang agak takut-takut gitu. Tapi berkat arahan dan bimbingan dari calon imam *eh*\, gue jadi berani.
Begitu gue coba ajak jalan, si bulu mager. Maunya ngemil rumput terus. Beneran ceweh nih pasti. Kalau sama yang ganteng-ganteng aja nurut, giliran sama gue dicuekin. Dasar, sok pencitraan.
Udah gue paksa-paksa si bulu tetep aja mager. Sampai-sampai gue kesel sendiri.
"Tau ah. Gue nggak mau sama yang ini."
"Ya udah kalau kudanya nggak mau sama lo. Jangan dipaksa. Kita cari yang lain"
Sok-sokan banget sih ini kuda. Emang situ kuda sultan? Awas aja lo gue sumpahin jomblo seumur hidup.
"Gue mau kuda jantan" perintah gue tegas.
"Ngapain cari yang jantan?"
"Enakan naik kuda jantan lah. Lebih perkasa. Apalagi kalau warnanya item." Jawaban gue bikin pikirannya melayang kemana-mana nggak ya?
"Tuh kuda item tuh" mata elang banget sih si bapak. Langsung aja nemu kuda 'beneran' warna item.
"Eh, emang bapak bisa naik kuda?"
"Ya bisa lah"
"Kalau gitu naik berdua aja ya?"
"Lo aja yang naik. Ntar kudanya gue tuntun."
"Nggak mau. Ntar kalau kudanya tiba-tiba nukik, guenya jatuh, trus gagar otak gimana? Lo mau tanggung jawab?"
"Nggak udah mendramatisir lah, Sa"
"Kan gue cuma melogika, bukan mendramatisir"
"Ya udah. Terserah bu dokter aja lah"
Yes. Kuda-kudaan berdua sama si ganteng.
Main kuda-kudaan ternyata enak juga. Apalagi kalau satu kuda buat berdua. Gue di depan, Kendra dibelakang. Kedua lengan kekar Kendra melingkup tubuh gue seraya mengendalikan tali kekang, mengatur jalannya hewan ini. Punggung gue bergesek-gesekan dengan dada bidangnya yang keras dan nyaman. Duh, pengen jadiin dada itu sandaran hidup deh kalau begini.
"Naik kuda naik turun gini ya ternyata" oceh gue.
"Kalau mau mulus ya naik kereta"
"Dari tadi gue naik turun mulu. Lama-lama jago nih gue kuda-kudaan sambil naik turun. Udah diprivat sama si bapak sih, iya kan Pak?"
"Iyain biar cepet"
Gue cengengesan nanggepin reaksinya Kendra. "Iiih.. ngambek lagi iih" gue toel-toel pipi dan dagunya membuat lelaki itu sedikit kegelian.
"Sa.. jangan gini dong.. Aduh.. Nih kudanya jadi oleng" Berusaha menghindari keusilan jari-jemari gue, Kendra kehilangan kendalinya terhadap kuda yang kita naiki. Terkadang tali kekangnya tertarik ke kiri, terkadang ke kanan. Akhirnya dengan sekali depak, Kendra mengisyaratkan kuda jantan itu untuk berlari. Gue menjerit saking kagetnya dengan gerakan tiba-tiba hewan berkaki empat itu. Tapi lengan kekar dan berotot si seksi secara tanggap mengunci badan gue agar tidak jatuh. Rambut gue dipermainkan angin. Punggung gue benar-benar menempel di dada Kendra. Yang bisa gue dengar hanyalah suara derapan kaki kuda, kepakan sayap burung-burung yang berhamburan ketika kuda jantan ini membelah jalanan, dan degub jantung gue sendiri.
Percayalah, setiap wanita lahir dengan fitrahnya untuk ingin dilindungi. Seberapa independen dan mandirinya mereka, ada satu sisi dimana mereka membutuhkan satu sosok orang yang bisa menjadi tempat mereka bersandar. Di saat seperti ini, di saat gue tidak bisa melindungi diri gue sendiri, berpengagan erat pada lengan kekar Kendra, mempercayakan diri gue sepenuhnya ke dalam dekapannya. Gue merasa kecil, gue merasa lemah, dan gue merasa butuh dia. Gue butuh Kendra untuk menjadi tempat gue bersandar. Gue butuh Kendra untuk menjadi penyokong di saat gue lemah. Gue butuh Kendra untuk melengkapi sebagian dari diri gue. Setiap wanita hanyalah sebongkah tulang rusuk yang membutuhkan tulang punggung untuk bersandar. Dan tulang punggung itu, gue harap adalah Kendra.
😆😆😆
g sabar baca selanjutnya