NovelToon NovelToon
PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Konglomerat berpura-pura miskin / Wanita Karir / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: F.A queen

Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.

Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.

Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.

Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.

Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.

Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.

“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”

Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH

Begitu pintu ruangan terbuka, aroma makanan langsung menerjang hidung Mikhasa. Ruangan mewah itu terasa seperti private dining restoran hotel bintang lima. Mata Mikhasa refleks membesar.

'Gila… makan bersama Axel tidak pernah sederhana. Ini benar-benar menggiurkan.' Batinnya.

Tanpa memikirkan hal lain, apalagi Axel, ia melangkah cepat ke arah meja hidangan. Perhatiannya sepenuhnya terkunci pada makanan yang tersusun rapi, terlihat lezat dan jelas mahal. Ia bahkan tak menyadari tatapan Axel yang sejak tadi mengamatinya dari kursi utama.

Mikhasa menarik kursi dan hendak duduk. Namun suara tajam memotong gerakannya.

“Siapa yang mengizinkanmu duduk?”

Mikhasa sontak mendongak, tubuhnya kaku seketika. Baru sekarang ia benar-benar menatap Axel, seseorang dengan aura bossy yang terlalu kuat untuk ukuran jam sarapan.

Refleks, Mikhasa langsung membungkuk sedikit. “Selamat pagi, Tuan Axel.” Dia menyapa manis.

Axel bersandar santai, ekspresinya datar, tapi sorot matanya menuntut penjelasan, atau sekadar perhatian yang menurutnya layak ia dapatkan sejak tadi.

“Jelaskan,” ujar Axel rendah dan tajam. “Kenapa kau menolak panggilanku?”

Mikhasa tersenyum kecil, mencoba menjaga suaranya tetap sopan. Dia sudah bisa menebak jika Axel akan bertanya tentang ini.

“Saya hanya ingin pagi saya tenang, Tuan.”

Alis Axel terangkat sedikit. Matanya menyipit, membedah kata-katanya satu per satu.

“Apa maksudmu ‘tenang’? Apa panggilanku mengganggumu?”

“Saat Anda menelepon… itu bahkan belum jam kerja. Jadi saya berpikir—”

“Kalau aku menghubungimu di luar jam kerja, itu berarti aku pacarmu. Bukan bosmu.”

Mikhasa memejamkan mata sejenak, putus asa. Selalu sepihak. Selalu begitu, selalu semaunya sendiri.

Ia menatap Axel dengan tak percaya. Dia tidak pernah merasa jadian dengan pria itu. Tidak pernah ada persetujuan. Tapi Axel bertingkah seolah hubungan itu sudah sah dan disetujui oleh semesta.

Mikhasa memilih diam.

Dan Axel, tentu saja, tersenyum seakan menang. “Baiklah, karena aku pacar yang baik hati, silakan duduk dan cepat makan.”

Mikhasa memutar bola mata, merasa geli. Baru kali ini ia bertemu seseorang yang memuji dirinya sendiri seterang-terangan ini.

Ia duduk dan berkata dengan nada manis yang jelas mengandung sarkas, “Baik. Terima kasih, Tuan Axel yang baik hati.”

Axel tersenyum miring. “Hapus kata Tuan.”

Mikhasa mengambil sendok tanpa menatapnya. Ia hanya ingin makan.

“Baik, Axel,” ulangnya patuh demi mengakhiri drama pagi ini dan menyelamatkan perutnya.

Mikhasa makan dengan tenang dan teratur. Meski mulutnya jelas menikmati hidangan di hadapannya, ia tahu betul cara menyembunyikan ekspresi itu, semuanya terkendali.

Setelah beberapa saat, ia berhenti makan. Mikhasa mendongak dan baru menyadari sesuatu, bahwa Axel belum menyentuh makanannya sama sekali dan hanya menatapnya. Alis Mikhasa berkerut.

“Kenapa?” tanyanya spontan.

Axel mengangkat bahu ringan. “Enak?” tanyanya balik.

Mikhasa mengangguk kecil. “Iya. Makasih, ya.”

“Aku senang kau menyukainya, Sweetheart.”

Mikhasa terkekeh pelan. Tatapannya jatuh ke hidangan di meja, lalu ia tersenyum tipis. “Semua makanan pantas disukai. Itu bentuk rasa syukur.”

Axel mengangguk, diam mendengarkan.

Mikhasa membawa pandangan lagi padanya.

“Terus… kenapa kamu nggak makan?”

"Lagi seru liatin kamu makan," jawab Axel.

Mikhasa terdiam sesaat sebelum akhirnya tertawa rendah. "Baiklah, Anggap saja, ini bagian dari hiburan Tuan Axel pagi ini.”

Mikhasa menyendok makanannya lalu menyuap dengan pelan. Menikmati setiap kunyahan dengan penuh kelezatan. Ekspresi yang ia tahan sejak tadi.

"Aku nggak tahu ya, makanan ini terbuat dari apa saja, tapi sumpah ini tuh eeenak banget."

Tatapannya membuatnya terlihat seperti food vlogger dadakan, sementara Axel tanpa sadar berubah jadi penonton setia.

“Kamu harus coba,” lanjut Mikhasa ringan.

Ia mengambil sendok, menyendok salah satu menu, lalu mengarahkannya ke depan mulut Axel.

Axel menatap sendok itu sepersekian detik. Tanpa banyak kata, ia membuka mulut dan menerima suapan itu. Mengunyah perlahan, matanya tetap tertuju pada Mikhasa.

“Gimana?” tanya Mikhasa. “Setuju sama pendapatku?”

Axel mengangguk kecil.

Mikhasa tersenyum puas, lalu kembali menyendok, kali ini menu yang berbeda. Ia memastikan suapan pertama sudah benar-benar habis sebelum membawa sendok kedua ke Axel.

“Yang ini juga nggak kalah lezat, kamu harus coba?”

Axel kembali menerima suapan itu dengan mudah. Mengunyahnya tenang tanpa mengalihkan tatapannya pada Mikhasa.

"Lezat kan?" tanya Mikhasa dengan senyum.

Axel mengangguk.

Mikhasa terlihat semakin puas. Ia meletakkan sendok, lalu sedikit mencondongkan tubuh ke depan.

“Kita impas, Tuan,” ucapnya ringan. “Aku juga merasa seru melihatmu makan dengan tenang… dan tetap tampan.”

Axel berhenti mengunyah. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, menyadari jika dia baru saja dipermainkan.

“Hmm…”

Ia menyelesaikan makanannya dengan tenang, lalu menyesap minumannya seolah tak terjadi apa-apa. Jarinya mengusap bibirnya sendiri, santai namun penuh arti.

“Menarik,” ucapnya rendah.

Sementara itu, Mikhasa mengangkat bahu ringan, jelas merasa unggul. Ia kembali menyendok makanannya.

“Kuanggap yang tadi sebagai bentuk perhatianmu, Sweetheart,” lanjut Axel.

Mikhasa tak mengangkat kepala. “Terserah,” jawabnya singkat, datar.

Setelah sarapan selesai, mereka menuju ruangan Axel. Lift tertutup perlahan, meninggalkan keheningan diantara mereka.

Begitu pintu lift benar-benar menutup, Axel bergerak.

Tangannya mendorong Mikhasa pelan ke dinding lift. Jarinya mengusap pipi Mikhasa, menahan wajah itu agar tidak berpaling. Lalu ia menunduk, membuat kecupan di bibir Mikhasa.

Napas Mikhasa tersentak.

Axel menahan jarak sangat dekat, suaranya rendah dan berbahaya. "Bagaimana dengan yang ini, Sweetheart, apakah kau ingin membalasnya?"

1
taju gejrot
Mikha gampang tersenyum saat bersama orang lain karena gak ada tekanan😂
Nay@ka
intinta cuma patuh mikha...jgn ngeyel ntar tuan muda ngambek🤣
Nay@ka
pas banget..buka apk ada yg up tuh💃
Momogi
wakakakkkk sabar, tuan. sabaarrrr😆
Momogi
karena axel pikir kamu suka pria berkaca mata 🤣🤣
Momogi
Langsung pake kaca mata dooong 🤣🤣🤣 ciee yg cari perhatian cieee
Momogi
uhukkk awaaasss ya
Momogi
bisa dong. kenapa? kesel ya liat mikha senyum ke orang lain
Momogi
semoga setelah ini kalian akur ya
Momogi
alahh bilang aja cemas mikha pake alesan short drama
Momogi
timpuk aja Mikha, timpuk 🤣🤣
Momogi
semoga kamu segera sadar ya akan luka hati Mikha. jangan bikin dia sedih
Momogi
berharap ini happy end buat kalian. sama2 saling menyembuhkan
Momogi
Yuhuuu mantap Mikha jangan mau ditindas Axel
Momogi
untungnya Mikha tau tentang ini lebih dlu jadinya dia ga bakal nyesek
Momogi
nyesek banget perjalanan hidupmu mikha 😭
Momogi
ya ampun mikha 🥺 kamu dimanfaatin keluarga bibimu ternyata ya
Momogi
Aihh kok kita sama sih. curiga besok aku ketemu cogan ternyata ceo
Momogi
tom and jarry kalian tuuh
Momogi
dimana lagi dapet 1 milyar ya mikha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!