NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:982
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Lolongan di Pinggir Kolam

Li Shen mengangkat Hua’er dari dekapan air dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah gadis itu adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja. Ia merebahkannya di atas hamparan rumput tebal di tepian kolam, menyandarkan kepala Hua’er pada akar pohon tua yang mulai terasa hangat oleh ciuman cahaya pagi. Meski napasnya telah menemukan ritme yang teratur, Li Shen tahu ini belum usai. Proses penyembuhan terputus terlalu dini, tanpa stabilitas penuh, qi yang rapuh itu bisa kembali menguap ke udara.

Li Shen berdiri tegak. Pedang Langit ditarik dari sarung kainnya. Bilah biru pucat itu berkilauan, menangkap cahaya fajar yang jernih. Begitu Kehendak Murni mengalir masuk, udara di sekitar logam tersebut bergetar hebat, menciptakan distorsi visual yang tajam.

Lolongan itu meledak lagi, bersahut-sahutan, lebih dekat, lebih lapar.

Semak-semak di sisi timur kolam tersingkap kasar. Seekor makhluk raksasa muncul dengan keanggunan predator yang mengerikan, tubuhnya menyerupai harimau besar berbulu putih dengan garis oranye-hitam, namun kepalanya adalah serigala liar dengan moncong panjang dan taring melengkung yang meneteskan liur beracun. Mata kuningnya kosong, hanya menyisakan kegilaan murni.

Belum sempat Li Shen mengatur napas, sosok serupa muncul dari sisi berlawanan. Dua binatang roh dengan qi Tianyuan yang busuk kini mengunci Li Shen dalam posisi menjepit.

Binatang pertama melesat secepat kilat. Tanah di bawah cakarnya retak saat ia menerjang. Li Shen bergeser satu langkah kecil, sebuah gerakan minimalis namun presisi. Pedang Langit menyambar membentuk busur cahaya. Tebasan itu membelah dada binatang tersebut, menyemburkan darah hitam yang langsung menghanguskan rumput di bawahnya.

Namun, geraman itu tidak berhenti. Li Shen tertegun melihat luka menganga itu menutup secara abnormal. Otot dan kulit menyatu kembali seolah waktu diputar mundur.

“Regenerasi yang gila… .” gumam Li Shen. Paru-parunya mulai terasa panas. Luka batin akibat menguras energi untuk Hua’er tadi mulai terasa. Ia bisa merasakan bahwa kedua binatang ini berada di tingkat 6 atau Pembentuk Jiwa tahap akhir, setara dengan kekuatan fisiknya saat ini.

Serangan berikutnya datang lebih brutal. Li Shen menangkis hantaman cakar yang terasa seperti godam raksasa. Getarannya merambat hingga ke tulang bahu, membawa sensasi seperti sengatan listrik yang melumpuhkan. Di saat yang sama, binatang kedua melompat dari buta belakang.

Cakar tajam merobek bahu Li Shen. Darah hangat membasahi pakaiannya. Meski ia berhasil menahan gigitan maut dengan bilah pedangnya, tekanan bertubi-tubi itu memaksanya mundur. Satu kesalahan fatal terjadi ketika binatang kedua menghantamnya dengan seluruh berat tubuhnya. Benturan itu begitu keras hingga Pedang Langit terlepas dari genggaman Li Shen, terlempar jauh ke semak-semak.

Li Shen terhuyung. Darah menetes dari ujung jarinya. Di depannya, dua monster itu bersiap untuk terkaman final. Pandangan Li Shen melirik Hua’er yang tak berdaya.

“Tidak. Tidak di sini. Tidak sekarang,” desisnya.

Tiba-tiba, angin di sekitar kolam menderu kencang. Secara ajaib, akar-akar pohon yang tadi diam mendadak mencuat dari tanah, melilit kaki binatang yang terluka, menahannya selama beberapa detik krusial. Li Shen tidak menyia-nyiakan momentum itu. Ia berbalik, berlari dengan kecepatan penuh menuju senjata yang tertancap di tanah sejak mereka tiba, Tombak Pemangsa Qi.

Begitu jemarinya mengunci gagang tombak, sebuah getaran dingin menjalar ke seluruh sarafnya. Tombak itu tidak tenang seperti Pedang Langit, ia berdenyut, lapar, dan menuntut.

Li Shen memahami perbedaannya sekarang. Jika Pedang Langit adalah instrumen kesucian yang menuntut tubuh yang utuh, maka tombak ini adalah lubang hitam yang rakus. Ia tidak menolak kegelapan, ia memangsanya.

Binatang pertama menerjang dengan raungan menggetarkan hutan. Li Shen menyambutnya dengan satu tusukan linear yang brutal. Ujung tombak menembus dada monster itu. Seketika, asap hitam pekat, qi rusak, terhisap masuk ke dalam batang tombak dengan suara mendesis. Tubuh raksasa itu mengering, mengkerut menjadi mumi dalam hitungan napas sebelum akhirnya roboh tak bernyawa.

Sensasi hangat mendadak mengalir ke tubuh Li Shen. Luka robek di bahunya menutup seketika.

Binatang kedua mencoba peruntungannya, namun Li Shen kini bukan lagi pihak yang bertahan. Ia melangkah maju, menusukkan tombak lebih dalam ke leher lawan. Dalam diam yang mencekam, seluruh energi kehidupan binatang itu lenyap tertelan kebangkitan tombak tersebut.

Saat kedua bangkai itu berubah jadi abu, Li Shen berdiri mematung di tengah kesunyian fajar. Tiba-tiba, sebuah sensasi aneh meledak dari pusat dadanya. Rasanya seperti ada dinding kaca yang selama ini menghalangi pandangannya mendadak pecah berkeping-keping.

Udara di sekitarnya tidak lagi terasa seperti oksigen biasa, melainkan hamparan energi yang bisa ia kendalikan hanya dengan pikiran. Meskipun ia tahu dirinya tidak memiliki Akar Spiritual untuk berkultivasi secara tradisional, ia merasakan kelegaan yang luar biasa, seolah-olah jiwanya baru saja melebarkan sayapnya lebih lebar dari sebelumnya.

Inikah rasanya menerobos tingkatan?

Ia merasa lebih ringan, lebih tajam. Inilah Tingkat 7: Penguasa Domain (Tahap Awal). Tanpa perlu bermeditasi selama puluhan tahun, Kehendak Murni dan bantuan dari Kehendak Alam yang ia dapatkan dari Luyin serta pertarungan hidup-mati ini telah mendorong batas kemampuannya melampaui logika dunia persilatan.

Li Shen menyarungkan tombaknya dan segera kembali ke sisi Hua’er. Ia membawa gadis itu kembali ke dalam kolam, membiarkan energi murni dan domain barunya bekerja secara sinergis. Namun, di tengah fokusnya menstabilkan qi Hua’er, sebuah sensasi dingin menyentuh kulit lehernya.

Ujung logam tajam menekan tepat di atas nadinya.

“Jangan bergerak,” suara itu rendah, datar, namun penuh dengan ancaman yang nyata. Hua’er telah membuka matanya, mata yang tajam, jernih, dan waspada. “Apa yang kau lakukan? Dan kenapa aku ada di sini?”

Li Shen tetap diam, tidak mencoba melawan meski maut hanya berjarak satu milimeter dari lehernya. “Kau pingsan setelah kita berduel,” jawabnya tenang. “Terjadi kebocoran qi yang parah di tubuhmu. Aku membawamu ke sini karena hanya air kolam ini yang bisa menahan kerusakan itu.”

Belati itu tetap diam di sana untuk beberapa saat yang terasa abadi. Kemudian, perlahan, tekanan itu mengendur.

Hua’er menatap wajah Li Shen cukup lama, mencari kebohongan yang tidak ia temukan. Perlahan, kekerasan di bahunya luruh. Belati itu jatuh berdenting ke dasar kolam yang dangkal. Secara tak terduga, Hua’er menyandarkan wajahnya di dada Li Shen. Jemarinya yang dingin mencengkeram erat kain baju pria itu, gemetar oleh sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik.

“Aku bukan Hua’er,” bisiknya, suaranya nyaris tertelan oleh suara air. “Itu bukan nama asliku.”

Li Shen tidak bertanya. Ia membiarkan keheningan fajar menjadi saksi.

“Namaku… Yan Shuhua.”

 

1
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!