NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Single Mom / Janda / Chicklit / Showbiz / Mengubah Takdir
Popularitas:50.4k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.

Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.

Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.

Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.

Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?

Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#35

#35

“Iya— iya— kakaku yang terbaik.”

“Kok gak ikhlas gitu? Kau tak terima, Dek?”

Gurauan itu seolah menjadi perlambang perasaan bahagia mereka, namun, tak lama kemudian, layar monitor yang memantau tanda-tanda vital Biru berbunyi. Ayu dan Giana yang sedang larut dalam canda seketika menoleh ke sana. Namun, yang terjadi adalah—

Kedua kelopak mata Biru sudah terbuka, pria itu tengah melihat ke sekelilingnya. “B-biru—” gumam Ayu, perasaannya mengharu biru. 

“Dokter! Dokter!” Giana berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter yang bertugas, meninggalkan dua orang yang kini sama-sama menangis haru. 

“M-Ma— ma—” Kata pertama yang Biru ucapkan membuat dada Ayu berbunga-bunga, apalagi melihat tangan Biru terangkat seolah-olah ingin ia genggam. 

Ayu mendekat perlahan, menggenggam tangan Biru yang mulai menghangat, setelah beberapa hari kemarin dingin dan sedikit kaku. “M-ma-af-kan Biru, Mah,” sambung Biru terbata-bata. 

“Sebelum kau minta maaf, Mama sudah memaafkanmu, Mama juga minta maaf, ya, Nak, karena tak bisa menjadi ibu sempurna seperti yang Biru harapkan,” balas Ayu. 

“Mama tak salah, Biru yang salah langkah, mungkin Mamah tak ridho, jadilah Allah menegur dengan kecelakaan ini—”

Biru tak lagi melanjutkan kalimatnya, karena tubuhnya telah di peluk erat oleh Ayu. Tak ayal lagu, mereka pun larut dalam suasana haru, perasaan yang semula tertahan kini membuncah, tumpah ruah laksana air bah yang berhasil menghancurkan bendungan. 

Bahkan Dokter dan Giana hanya bisa menunggu momen tersebut berakhir, barulah melakukan pemeriksaan lanjutan. 

•••

Dokter pun melepas stetoskopnya, kemudian melepas semua alat bantu yang beberapa hari ini menopang hidup Biru. 

“Untuk sementara ini, jalannya masih menggunakan alat bantu, karena proses recovery tulang yang patah perlu waktu cukup lama.”

“Iya, Dok. Terima kasih atas bantuannya.” 

“Sama-sama, Bu. Ini sudah tugas kami sebagai tenaga ahli yang berkecimpung di dunia medis.” 

Selepas itu, dokter dan perawat pun pamit meninggalkan ruangan. Giana mengusap kepala Biru, “Dasar anak nakal, memang siapa kamu sok-sok an melawan Gunawan, dengan dalih cinta pada putrinya?” ejek Giana. 

“Maaf, Bi. Tapi, aku rasa hanya itu yang mungkin bisa ku lakukan. Rasanya dada ini terlalu sesak ketika mendengar kisah masa lalu Mamah, dari Ayah Ismail dan Mamak Karmila.” 

Mendengar pengakuan Biru, Ayu semakin mengeratkan genggaman tangannya, “Jadi Biru tak membenci Mamah, kan?” 

Biru menggeleng, “Di dunia ini, ada dua orang yang paling aku percayai, yaitu Ayah dan Mamak. Jika mereka bilang salah maka aku percaya, jika mereka bilang benar, meski memintaki melompat ke jurang, akan ku lakukan. Sebab begitu besarnya rasa percayaku pada mereka.”

“Lalu, bagaimana dengan gadis itu?” cetus Ayu pelan. 

Biru menunduk memainkan sendok dan garpu di piring makannya, sejujurnya dirinya merasa paling bersalah pada Miranda. “Aku berdosa padanya, karena berpura-pura memiliki perasaan cinta—”

Prak! 

Suara yang berasal dari benturan benda yang terjatuh, membuat Semua orang menoleh ke arah pintu. Miranda berdiri di sana, mematung dengan wajah berkaca-kaca, kecewa, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. 

“Miranda—” gumam Biru. 

Sementara Ayu dan Giana tercekat, setelah hari sebelumnya Giana dan Ayu secara frontal melampiaskan kemarahan mereka pada Miranda yang tak tahu apa-apa, kini melihat gadis itu kembali berdiri di ruangan yang sama, dan dengan raut wajah yang mengekspresikan luka mendalam, mereka jadi menyesali apa yang sudah mereka perbuat. “Jadi itu benar?” 

“Mir, maafkan aku.” 

Miranda menyugar rambutnya yang acak-acakan, “Aku memang layak mendapat hukuman akibat dosa yang diperbuat kedua orang tuaku.” 

Miranda berbalik pergi meninggalkan ruangan, “Tunggu!” cegah Giana, namun Miranda tak memberi respon apa-apa. Alih-alih berhenti, gadis itu justru berjalan dengan langkah kian cepat. 

Dengan sigap, Giana menyambar ponsel Miranda yang tergeletak di lantai, wanita itu buru-buru menyusul. “Tunggu,” kata Giana ketika berhasil menangkap pergelangan tangan Miranda. 

Miranda otomatis berhenti, namun, tidak demikian dengan tangisnya. “Ponsel kau ketinggalan.” 

“Aku tak peduli,” sahut Miranda. Gadis muda itu kian merana, Giana bisa melihat dia butuh seseorang untuk bersandar dan berbagi beban. 

“Ayo, Tante antar kau pulang.” 

Giana terus menggandeng lengan Miranda, seolah tengah menggandeng putrinya sendiri. Andai dulu ia dan Gunawan dikaruniai anak, tentu saat ini sudah seusia Miranda. Sayangnya Tuhan tak berkehendak menghadiahkan momongan untuknya dan Gunawan. 

Di lobi, mereka berpapasan dengan Mahar, “Bu, saya izin pulang, karena istri saya sedang kurang enak badan.” 

“Baiklah, titip salam untuk Fitria, ya. Semoga lekas sembuh, dan kandungannya baik-baik saja.” 

“Amin. Terima kasih, Bu.” 

Mahar pun menyerahkan kunci mobil milik Giana kemudian pergi meninggalkan rumah sakit. 

•••

Brak! 

Giana menutup pintu mobil, kemudian mengitari mobil menuju kursi kemudi. Ia bersungguh-sungguh hendak mengantar Miranda ke rumah orang tuanya. Karena Giana merasakan firasat tak enak, takit gadis muda itu berbuat nekat tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. 

Sepanjang jalan, tak ada yang bersuara, bhakan audio pun sengaja tak Giana putar. Hanya sesekali masih terdengar isak tangis Miranda, dan Giana tak mempermasalahkan hal itu. 

“Kau sudah makan?” 

Pertanyaan yang lucu, namun, dalam situasi Miranda, Giana yakin gadis itu tak akan bisa mencerna apa-apa. 

Miranda menggeleng, “Mau makan sesuatu?” 

Miranda kembali menggeleng, “Baiklah, kalau begitu anggap saja hari ini kau menemaniku makan.” 

Giana mengarahkan mobilnya ke sebuah kedai kecil yang sudah sangat lama tak ia datangi. Tapi dulu, ketika masih menjalani masa-masa indahnya bersama Gunawan, mereka kerap mendatangi tempat tersebut. Tak ada maksud apa-apa karena masa itu sudah berlalu, saat ini Giana hanya tiba-tiba rindu nasi goreng kampung yang menjadi menu andalan si pemilik kedai. 

•••

Giana makam nasi gorengnya dengan lahap, hingga suapan terakhir, setelah itu dia juga memesan bakwan yang disiram saus fu yung hai, sementara Miranda hanya menatap minuman soda yang dipesannya. 

“Kenapa pesanan Tante mirip dengan pesanan Papi?” cetus Miranda, di suatu hari gadis itu pernah di ajak paksa oleh Gunawan ke tempat tersebut. 

“Kamu pernah ke tempat ini?” 

“Satu kali, itu pun di paksa Papi. Papi bilang ia masih sering datang, jika perasaannya sedang tak baik-baik saja.” 

Giana mengerutkan keningnya, mencoba mencerna ucapan Miranda. Bukankah Gunawan bahagia hidup bersama Anjani? Kenapa ia masih mendatangi tempat kenangan yang dulu sering mereka datangi berdua? 

Sesaat kemudian, Giana baru menyadari bahwa mungkin saja, Gunawan menyesali perbuatannya, namun, ia tak bisa kembali menjadi dirinya yang dulu. “Apa kau sungguh ingin tahu?” 

“Tidak penting, sih. Aku tak tahu pun tak masalah. Papi yang kusangka pengacara baik dan berdedikasi, ternyata lebih kejam dari penjahat sesungguhnya,” kata Miranda putus asa, sambil menahan sesak di dalam dadanya.

Giana semakin iba, “Jika ini bisa membuat perasaanmu membaik, Tante akan mengatakan sesuatu.” 

“Dulu, Papimu juga seorang pengacara yang jujur dan berdedikasi. Tapi, hingga detik ini, aku pun tak tahu apa alasan dibalik perbuatannya di masa lalu, hingga tega membuat wanita hamil yang tak bersalah, mendekam di penjara selama 20 tahun lamanya.” 

Luruh air mata Miranda, “Jadi, itu semua benar?”

Giana mengangguk, “Kau bahkan sudah bertemu mereka, ibu dan anak yang pernah menjadi korban dari perbuatan Papimu, hanya demi melindungi wanita yang terlanjur mengandung anak yang amat sangat ia inginkan.” 

“Apakah, anak itu— aku?” Dengan perasaan tak menentu Miranda bertanya, harapannya adalah, Giana akan menjawab ‘tidak’. 

“Hmm.” 

“Lalu, siapa wanita yang menggantikan Mami?” imbuh Miranda di pertanyaan selanjutnya.

“Wanita itu adalah—”

1
Dozky 2 Crazy
kerrrennnn 👏👏💃💃
Dozky 2 Crazy
mbak giana kerrren
Dozky 2 Crazy
ex part makin seruuu n menarik author 👏👏👏
Rahmawati
sukurin, makanya jgn asal sosor
Rahmawati
kirim pesan sambil senyum senyum, sedikit tidak nama miranda udah ada di hati jordy
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Jordy main sosor aja kek soang🤣🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
apakah Jordy jodoh Miranda 🥰
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain,emang msh di luar negeri 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ada yg kangen nih 🤭
ensa17
et dah bocah main sosor aja
Nar Sih
sip👍miranda tampar tuh si jordi tengil enak aja main cium dikira perempuan apaan ngk sopan 🤣
Nar Sih
oalah jordi itu pasti nama laki,,yg mobil nya ditabrak miranda ya kak moon ,
Aditya hp/ bunda Lia
Nah ... makan tuh cap 5 jari mantap kan? kamu maen sosor ajah
Aditya hp/ bunda Lia
Naaah, ... Jordan jodohin Sama Ayu ajah
Rahmawati
pingin nurut aja sm biru, demi kebaikan km
Sh
setuju deh Miranda dan biru....terus cowok rese yang punya mobil..buat siapa
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
beneran nih 🤭🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Orang yg ditabrak mobilnya, mungkin itu jodohnya Miranda 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ayu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Setuju 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!