Bagaimana rasanya kembali ke masa lalu?Mia dan Dania kembali ke masa lalu, namun... cerita mereka sedikit berbeda... Makam kuno yang mereka lihat membawa mereka kembali ke masa kejayaan Dinasti Song. Dinasti yang kala itu berdiri dengan megah yang menjadi tonggak kemajuan zaman.
"Dimana ini?"
Kalimat yang sering Mia dan Dania ucapkan setelah menjadi target "Kilatan Waktu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ami Greenclover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zhang apa?
Mereka masih saja kalap mematahkan semua rebung yang mereka lihat. Bahkan rebung itu telah menjadi tumpukan.
“Lihat aku!”
Mia memamerkan rebung dengan ukuran raksasa yang ia gendong.
“Wuah! Besar sekali!”
*srett
Anak panah melewati mereka. Mia dan Dania menoleh ke arah satu sama lain. Rebung di tangan mereka, mereka jatuhkan.
“Lari!!!”
Mia dan Dania berlari tunggang langgang.
*brukk
Mia terjatuh.
“Aduh…bokongku…”
Mia memegang bokongnya yang menghantam tanah.
“Apa yang kalian lakukan disini?!”
Seorang pemuda berdiri di hadapan Mia. Ternyata pemuda itulah yang membuat Mia terjatuh karena menabraknya. Mia menaikkan kepalanya, ternyata itu adalah pemuda yang menyelamatkan dia saat di medan perang tadi.
“Mia! Tolong aku!”
Dania telah tertangkap.
“Dania!”
Mia bingung ingin bicara apa, bahasa Mandarin nya belum lancar. Namun, karena dia sering nonton drama China jadinya dia tau sedikit kosakata.
“Lepaskan dia! Ku bunuh kau!”
Mendengar itu, pemuda yang menyandera Dania langsung mengarahkan pisau pada leher Dania.
“Woi! Apa yang kau katakan pada mereka?!”
Dania berteriak panik.
“Aku tak tau!”
Mia bangun. Dia berdiri di depan pemuda yang dia tabrak itu.
“Kau!kakak ganteng lepaskan dia!”
Para prajurit yang mendengar itu tertawa.
“Mia! Mengapa mereka tertawa?!”
“Ya mana aku tau!”
Pemuda itu mencekik leher Mia. Hingga ia kesulitan bernafas.
“Siapa kalian?”
Tatapan dingin itu membuat Mia sedikit ketakutan. Namun,karena insting bertahan hidupnya kuat dia berusaha untuk tetap tegar.Dia menendang ke arah kelemahan para lelaki.
*bagg!
“Kau, kau, kau!”
Pemuda itu melepaskan cekikannya dan merintih kesakitan.
“Jenderal, kami tidak lihat!”
Sepertinya bawahannya menutup mata saat jendralnya di permalukan.
“Jenderal?”
Mia tertegun.
Pemuda itu mendekat pada Mia.
“Gawat ini!”
Mia mundur.
“Bahasa apa yang kalian berdua gunakan?!Apakah itu bahasa rahasia dari daerah barat?!”
“Kau bodoh!”
Mia malah mengumpatnya.Pemuda itu semakin kesal dibuatnya. Ya… bagaimana lagi, di drama yang ia tonton tidak banyak yang ia hafal kata-katanya,hanya kata-kata kasar yang mudah ia hafal.
Pemuda itu menggenggam tangan kanan Mia dengan sangat keras. Sampai Mia berteriak.
“Aaaa! Sakit!!”
“Katakan!”
“Palak bapak kau!”
“Apa katamu?!”
“Your father head!”
Pemuda itu menggenggam pergelangan tangan Mia dengan lebih keras.
“Cepat katakan!”
Ditengah situasi genting, Mia mencoba mengingat kata-kata yang mungkin akan menyelamatkannya.
“Jenderal…aku bukan musuh… aku bukan juga siluman…aku suka makan apel…”
Itulah yang dia dapat selama belajar di Duolingo,Wo Xihuan Chi Pingguo…
Mendengar perkataan aneh yang keluar dari mulut Mia itu membuat jenderal muda itu marah.Dia mengeluarkan pedangnya.
“Jangan!”
Dia memeluk pemuda itu.
“Kakak! Jangan bunuh aku! Aku tau Zhang Linghe!”
“Kami tidak melihat!”
Para prajurit itu pura-pura tidak melihat adegan pelukan itu.
Jenderal itu melepaskan genggamannya itu,dia juga menyimpan pedangnya.Pergelangan tangan Mia sampai merah dibuatnya.
“Siapa Zhang Linghe yang kau sebut itu?!”
“Hmm…”
“Katakan!”
Dia membentak Mia.
Kini Mia benar-benar ketakutan.
“Dia… dia…dia abangku. Zhang Linghe adalah abangku…”
“Siapa dia?!”
“Dia abangmu…”
Mia berbicara melantur, para prajurit tertawa.
“Kau jangan berbicara omong kosong.”
“Kakak! Aku jujur saja padamu! Aku tidak bisa berbicara dengan bahasa Mandarin!Aku bukan orang China!”
Dia berteriak sambil memejamkan matanya. Dia membuka sebelah matanya.
“Kau bukan orang China? Lantas mengapa kau terlihat seperti kami?”
Mia menoleh ke arah Dania.
“Aku mirip China kah?”
“Iyalah, lihatlah mata kau itu… agak sipit.”
“Tapi, aku kan Sunda.”
“Itulah kau, udahlah putih, sipit lagi, kan sekarang dikira China.”
Mia berlutut dihadapan pemuda itu.
“Kak, kami bukan musuh… kami tadi sudah lari… kami tersesat. Lalu… kami kembali lagi kesini,kami melihat anak bambu… kami jatuh cinta dengan anak bambu… kami ingin memakan anak bambu… jadi kami…kami…”
“Cukup!Jangan bicara lagi, kau membuatku pusing!”
“Terimakasih,kakak…”
“Mengapa kau jadi berterimakasih padaku?!”
“Karena aku tak tau harus ngomong apa lagi…”
“Jika tak tau, lebih baik diam.”
Para prajurit yang menyaksikan kelucuan dalam kemampuan berbahasa Mia itu tersenyum menahan tawa mereka. Mereka merasa lucu saat jenderal mereka dibuat bingung oleh gadis kecil itu.
Tangan mereka berdua di ikat,mereka dibawa ke tempat mereka mendirikan tenda. Tangan dan kaki mereka diikat. Mereka duduk menyandar satu sama lain, mereka melihat kegiatan yang orang-orang itu lakukan.
“Bagaimana ini?”
“Bagaimana apanya?”
“Tanganku tadi merah, dia menggenggam ku dengan erat… tanganku sakit…”
Mia mengeluh dengan wajah sedih.
“Ternyata di mimpi ini, jika kita terluka kita akan merasakan sakit yang nyata.”
“Aku ingin pulang…”
“Aku juga…”
Mata mereka mulai berkaca-kaca.
“Bapak!...wuaaaa…”
Mia menangis memanggil ayahnya.
“Mama! Ayah!wuaaaaa…”
Mereka berdua menangis meraung, sampai membuat para prajurit berhenti dari pekerjaan mereka.
~Di Dalam Tenda
“Jenderal! Jenderal!”
Seorang prajurit memasuki tenda.
“Jenderal, mereka menangis!”
“Siapa?”
“Dua gadis itu!”
Jenderal muda itu menggelengkan kepalanya.
Dia dan adiknya pun bergegas berjalan menemui mereka.
“Mengapa menangis?”
Melihat jenderal itu datang mereka langsung terdiam.
“Tidak apa-apa.”
Mia menjawab dengan pipi yang basah karena air mata.
“Aku lapar.”
Mia menoleh ke arah Dania.
“Mengapa kau bilang kau lapar?”
“Hah? Iyakah?Ku kira aku bilang aku mau pulang.”
“Kau salah…”
Mia berbisik padanya.
“Kalian lapar?”
Mereka mengangguk.
“Zhang Lin, lepaskan ikatan mereka.”
“Tapi, kak…bagaimana jika mereka adalah mata-mata yang dikirim oleh musuh?”
“Musuh mana yang mengirim mata-mata manja seperti mereka?”
“Kau benar juga hehe”
Mia dan Dania memperhatikan mereka, namun mereka tidak mengerti apa yang kedua pemuda itu katakan.
Zhang Lin membuka ikatan pada kaki dan tangan mereka.
“Aku suka makan apel.”
Dania asal menyebutkan kata-kata.Mia menyenggol lengannya.
“Kau jangan asal bicara kalau tidak tau artinya,bisa-bisa nyawa kita melayang.”
“Hehe, baiklah.”
“Kau ingin apel?”
Zhang Lin bertanya.
“Ti…tidak…”
Zhang Lin merasa bingung dengan kata-kata yang tidak konsisten itu.
Kedua pemuda itu membawa Mia dan Dania ke tempat mereka bisa mendapatkan makanan.
“Ambilah mangkuknya.”
Mia dan Dania mengambil mangkuk.
Jenderal muda itu memberikan masing-masing satu sendok bubur untuk mereka.
“Makanlah.”
Mia dan Dania melihat bubur itu. Hanya bubur encer dengan beberapa butir nasi.Sangat berbeda dengan bubur yang biasa mereka makan.
“Ini bubur atau air?”
“Entahlah…menurutku ini lebih seperti pakan bebekku si A Xian”
“Duduk kemari!”
Zhang Lin menyuruh mereka duduk bersama para prajurit yang sedang makan malam itu.
Mereka duduk,mereka mencicipi bubur itu. Tiba-tiba ekspresi muka mereka berubah. Wajah kecewa mereka dilihat semua orang.
“Ku kira masakanku adalah yang terburuk, ternyata ada lagi yang lebih buruk.”
Mia menaruh bubur itu, dia tak mau memakannya.
“Apakah seburuk itu?”
Dania mencicipi bubur itu.Dia menepuk pundak Mia.
“Kau benar… ini lebih buruk dari masakanmu yang rasanya nano-nano itu.”
Dania juga menaruh bubur itu. Dia juga enggan memakan bubur itu.
Jenderal muda itu menatap ke arah mereka,melihat mereka di tatap oleh jenderal itu, mereka saling berpegangan satu sama lain. Mereka ketakutan.
“Apakah tidak enak?”
“Iya…”
Mia menjawab dengan suara pelan.
“Tidak ada makanan lagi selain itu, jika ingin makan enak… maka pulanglah!”
Jenderal muda itu membentak mereka.
Mia yang tak pernah di bentak oleh ayahnya meneteskan air mata.
“Jenderal…dia menangis…”
Salah satu prajurit yang berada di depan Mia memberitahu jenderal itu.
“Biarkan saja dia,dia sudah dewasa mengapa masih cengeng seperti anak kecil.”
Jawabannya dingin dan melekit itu untungnya tidak dipahami oleh Mia, sehingga luka hatinya tak bertambah dalam.
“Mia, sudah jangan menangis…kita pergi saja dari sini.”
Dania membujuknya.Mia mengangguk.
Mereka berdua berdiri dan kemudian pergi tanpa sepatah katapun.
“Kalian mau kemana?!”
Jenderal itu bertanya dengan nada tinggi.
Dania menoleh dan menjawab dengan nada tinggi namun kurang yakin.
“Pe...pergi!”
Dania memberikan jari tengahnya pada jenderal muda itu.Untung mereka tidak paham maksud dari tindakan Dania itu.
Mereka pergi tanpa menoleh ke belakang, mereka tak perduli apa yang akan mereka temui selanjutnya, yang jelas mereka hanya pergi saja. Masalah yang akan terjadi nanti, biarlah mereka pikirkan nanti.