Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Opsi Ketiga
Cahaya biru dari layar ponsel pintar di atas meja jati itu berkedip tanpa henti, memantulkan binar yang perih di mata Arkananta. Di luar jendela kantornya, langit Astinapura tampak kelabu, seolah-olah awan pun ikut menanggung beban fitnah yang sedang digulirkan oleh mesin-mesin digital milik Erlangga. Ribuan komentar jahat membanjiri lini masa, menyebut Arkan sebagai politisi yang kehilangan akal sehat karena menikahi gadis panti asuhan yang membawa sial dan pengaruh klenik ke dalam High Tower.
"Tuan, serangan buzzer ini sudah mencapai puncaknya. Mereka menggunakan narasi bahwa peristiwa lampu mati dan pot pecah saat serangan santet kemarin adalah bukti bahwa Nyonya Nayara membawa aura gelap ke gedung ini," Bayu melaporkan dengan wajah kaku, jemarinya lincah menggeser tablet di tangannya.
"Erlangga memang licin. Dia tahu persis bagaimana mengubah sabotase metafisika yang gagal menjadi komoditas politik untuk melenyapkan kredibilitas saya," Arkananta menyahut dengan suara rendah, rahangnya mengeras hingga otot pipinya berkedut.
"Apakah kita perlu meluncurkan kontra-narasi? Saya sudah menyiapkan data-data untuk menyerang balik integritas Erlangga," tanya Bayu.
Arkan menggeleng perlahan, matanya terpaku pada jam tangan peraknya yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Jarum detik jam itu tampak bergetar aneh, dan di saat yang sama, Arkan merasakan getaran tajam yang seolah menusuk nadinya. Itu adalah resonansi batin. Ia tahu, di kediaman mereka, Nayara sedang merasakan sakit yang sama akibat hinaan yang terpampang di layar-layar digital koridor High Tower.
"Tidak, Bayu. Jika kita menyerang balik sekarang, kita hanya akan terlihat defensif dan lemah. Kita butuh Opsi Ketiga. Diam yang mematikan. Biarkan mereka merasa menang di atas angin. Biarkan publik merasa kasihan atau muak pada kebisingan ini. Kita akan memukul mereka tepat saat mereka merasa sudah berhasil menjinakkan saya," ucap Arkan, suaranya mengandung otoritas yang dingin.
"Opsi ketiga? Maksud Anda diam?"
"Eksekusi perintahku tanpa pertanyaan, Bayu. Biarkan mereka berpesta di atas narasi palsu yang mereka buat sendiri," Arkan berdiri, menyesuaikan kerah jasnya yang terasa mencekik.
Di saat yang sama, di dalam kamar High Tower, Nayara sedang mencengkeram pinggiran meja rias. Ia baru saja melihat layar informasi di koridor yang menampilkan foto editan dirinya sedang bersujud di depan Kyai Hitam. Dadanya sesak, bukan karena takut, melainkan karena martabatnya sebagai wanita diinjak-injak hanya untuk menjatuhkan suaminya.
"Ya Allah... jangan biarkan amarah ini mengaburkan penglihatan hamba," Nayara berbisik, jemarinya meraba tasbih kayu yang permukaannya kini terasa panas.
Tiba-tiba, penglihatan Nayara berputar. Ia merasakan sensasi meluncur bebas yang sangat hebat, seolah-olah ia sedang jatuh dari ketinggian yang mengerikan. Perutnya mual, dan kepalanya mendadak berdenyut seirama dengan detak jarum jam yang ia dengar secara ghaib. Peringatan batin itu begitu kuat hingga ia terpaksa mencari ponselnya untuk menghubungi Arkan.
"Jangan pernah naik ke mobil itu, Arkan. Menjauhlah sekarang," suara Nayara terdengar serak saat sambungan telepon terhubung.
Arkananta yang sudah berada di basemen gedung, tepat di depan mobil kepresidenan partainya, menghentikan langkah. Ia merasakan nyeri yang hebat di ulu hatinya, resonansi langsung dari peringatan Nayara.
"Berikan aku detail sensorinya, Nayara. Apa yang kau rasakan di sana?" tanya Arkan, suaranya tetap tenang meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Sensasi jatuh... sistemnya akan mati. Saya memohon pada Anda, jangan masuk ke sana," Nayara memohon, suaranya mengandung ketakutan yang murni.
Arkan menatap mobil hitam mewah di depannya. Ia melirik ke arah Bayu yang baru saja hendak membuka pintu penumpang. Bayu tampak bingung melihat tuannya mematung dengan wajah pucat.
"Bayu, batalkan unit ini. Kita gunakan mobil cadangan logistik sekarang!" perintah Arkan tiba-tiba.
"Tapi Tuan, jadwal kita sangat ketat. Mobil cadangan itu tidak memiliki standar keamanan tingkat tinggi," Bayu memprotes pelan.
"Lakukan saja, Bayu. Ini perintah taktis!" Arkan membentak, membuat Bayu terkesiap.
Arkan kembali bicara pada ponselnya, "Aku mendengarmu, Nayara. Tetaplah di kamar dan kunci pintu. Jangan percaya pada siapapun kecuali Bayu jika aku mengirimnya dengan kode pribadi."
"Hati-hati, Arkan... rasa pahit di lidah saya belum hilang," bisik Nayara sebelum menutup telepon.
Arkananta masuk ke dalam mobil cadangan yang sederhana, sementara mobil mewah sebelumnya diperintahkan untuk dibawa oleh tim mekanik tanpa penumpang untuk pemeriksaan rutin. Saat mobil hitam itu baru saja keluar dari gerbang basemen dan mulai menuruni jalan raya yang curam menuju pusat kota, Arkan melihat dari kejauhan melalui jendela mobil cadangannya: mobil mewah itu tiba-tiba melaju tak terkendali, menghantam pembatas jalan dengan keras karena rem yang tidak berfungsi.
"Tuan... remnya blong," suara Bayu bergetar saat melihat kecelakaan itu dari spion.
Arkananta tidak terkejut, namun amarah di matanya kini menyala seperti api Void. Sabotase ini adalah balasan atas kegagalan serangan santet elit sebelumnya. Musuh-musuhnya kini mulai menggunakan cara-cara fisik yang mematikan di bawah kedok kecelakaan teknis.
"Jadi ini level permainan mereka sekarang. Mereka ingin aku mati sebagai martir teknis saat namaku sedang dihancurkan oleh buzzer," Arkan berbisik pada dirinya sendiri, jemarinya mengusap jam tangan perak yang kini sudah berhenti bergetar.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Tuan? Mereka hampir membunuh Anda," Bayu bertanya dengan napas yang memburu.
"Instruksikan tim media untuk menyebarkan berita bahwa saya mengalami kecelakaan parah dan dalam kondisi kritis. Biarkan Erlangga dan Nyonya Besar merasa perayaan kemenangan mereka sudah tiba. Kita eksekusi Opsi Ketiga sepenuhnya," Arkan tersenyum dingin, sebuah ekspresi yang tampak menakutkan di tengah remang kabin mobil.
"Anda ingin memalsukan kondisi Anda?"
"Tepat. Saat mereka berebut takhta yang mereka kira sudah kosong, itulah saat Nayara dan aku akan muncul untuk menghancurkan mereka di depan Sidang Etik nanti. Biarkan publik melihat betapa kejamnya mereka yang berpesta di atas 'kematian' kerabatnya sendiri," Arkan menyandarkan punggungnya, meski ulu hatinya masih menyisakan rasa perih akibat resonansi ketakutan Nayara yang belum sepenuhnya reda.
Mobil cadangan itu meluncur membelah kemacetan Astinapura dengan sunyi yang mencekam. Arkananta menatap layar ponselnya, menyaksikan narasi media yang mulai berubah dalam hitungan menit. Berita kecelakaan mobil mewahnya meledak di seluruh kanal berita nasional. Spekulasi bermunculan, mulai dari kegagalan teknis hingga kutukan yang dibawa oleh sang istri dari panti asuhan. Arkan merasakan perih di pergelangan tangannya semakin menjadi; jam tangan peraknya seolah-olah menyerap denyut kepanikan Nayara yang kini pasti sedang mendengar berita tersebut di High Tower.
"Bayu, pastikan tim keamanan mengunci akses ke lantai atas. Jangan biarkan Nyonya Besar atau antek-antek Erlangga mendekati kamar Nayara," perintah Arkan, suaranya tetap stabil meski ulu hatinya terasa seperti ditusuk belati es.
"Sudah dilakukan, Tuan. Saya juga sudah menginstruksikan agar semua sinyal komunikasi di lantai itu diacak, kecuali jalur pribadi Anda dan Nyonya," jawab Bayu sambil terus mengetik di tabletnya. "Namun, ada satu masalah. Nyonya Besar sedang menuju rumah sakit tempat mobil ambulans 'kosong' tadi membawa sopir mekanik Anda. Beliau ingin memastikan kematian Anda."
Arkan mendengus, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya. "Biarkan dia melihat apa yang ingin dia lihat. Kegelapan di hatinya akan membutakan logikanya sendiri. Itulah kelemahan terbesar dari mereka yang terlalu haus akan kekuasaan; mereka percaya pada keinginan mereka sendiri, bukan pada fakta."
Di kediaman High Tower, Nayara berdiri di balik pintu kamar yang terkunci. Ia mendengar langkah kaki yang terburu-buru di koridor, disusul oleh suara teriakan histeris yang dibuat-buat dari para pelayan yang setia pada Nyonya Besar. Nayara meremas sapu tangan panti di tangannya, berusaha menstabilkan napasnya yang terasa manual. Melalui ikatan batin yang tak terlihat, ia merasakan bahwa Arkan masih hidup, namun ia juga merasakan amarah yang membara dari pria itu.
"Dia selamat. Alhamdulillah, dia selamat," bisik Nayara pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, suara ketukan keras menghantam pintunya. "Nayara! Buka pintunya! Arkananta kecelakaan! Ini semua karena sial yang kau bawa ke rumah ini!" teriak Kireina dari balik pintu, suaranya melengking penuh kemenangan yang disamarkan sebagai kepanikan.
Nayara tidak menjawab. Ia duduk kembali di atas sajadahnya, menutup telinganya dari hinaan yang terus dilontarkan Kireina. Ia mulai membisikkan sholawat, membangun benteng spiritual yang tidak bisa ditembus oleh kebencian verbal. Setiap butiran tasbih yang ia putar terasa seperti detak jantung Arkan yang meyakinkannya untuk tetap bertahan.
Di dalam mobil, Arkan menerima panggilan terenkripsi dari ponsel pribadi Nayara. "Jangan lepaskan lenganku, Nayara. Jangan buka pintu untuk siapapun, termasuk Kireina atau Nyonya Besar. Aku akan segera sampai melalui lift rahasia di basemen."
"Saya tahu Anda selamat, Arkan. Saya merasakannya di sini," Nayara menyentuh dadanya, suaranya bergetar. "Tapi Kireina... dia mengatakan hal-hal yang sangat jahat di luar sana. Mereka ingin menyeret saya keluar dan menyalahkan saya atas kecelakaan ini."
"Biarkan mereka berteriak sampai serak. Opsi ketiga menuntut kita untuk menjadi hantu di rumah kita sendiri," ucap Arkan, matanya mendingin saat mobilnya memasuki area parkir rahasia High Tower. "Aku akan menjemputmu dalam lima menit."
Arkan melangkah keluar dari mobil, gerakannya cepat dan taktis. Ia tidak lagi terlihat seperti politisi yang sedang terhina; ia adalah seorang komandan yang sedang menyiapkan serangan balik. Di koridor basemen yang sepi, ia bertemu dengan Bayu yang sudah menyiapkan akses lift pribadi.
"Tuan, Nyonya Besar sudah sampai di rumah sakit. Erlangga baru saja merilis pernyataan duka cita yang sangat 'menyentuh' di televisi, sekaligus mengusulkan sidang istimewa untuk mengganti posisi Anda di partai," lapor Bayu dengan nada sinis.
"Erlangga selalu menjadi orang pertama yang menari di atas kuburan orang lain. Sayangnya bagi dia, kali ini kuburannya kosong," Arkan masuk ke lift, merasakan tekanan udara saat lift itu melesat ke lantai atas.
Saat pintu lift terbuka langsung di dalam kamar pribadi mereka, Nayara segera berdiri. Tanpa banyak bicara, Arkan melangkah maju dan menarik Nayara ke dalam dekapannya. Ia merasakan tubuh Nayara yang gemetar hebat. Resonansi antara mereka meledak; Arkan merasakan semua ketakutan Nayara, dan Nayara merasakan semua beban tanggung jawab Arkan.
"Jangan takut. Kau aman sekarang. Aku ada di sini," bisik Arkan di telinga Nayara, tangannya mengusap punggung istrinya dengan gerakan yang langka dan tulus.
"Kenapa mereka sangat membenci saya, Arkan? Apa martabat saya begitu mengancam mereka?" tanya Nayara di balik dada suaminya.
"Bukan kau yang mereka benci, tapi cahaya kejujuran yang kau bawa. Bagi penghuni High Tower, kejujuran adalah ancaman bagi bayangan mereka sendiri," Arkan melepaskan pelukannya, menatap mata Nayara yang masih menyimpan sisa-sisa kekuatan Truth Eye. "Tapi malam ini, kebencian mereka akan menjadi senjata yang berbalik menghancurkan mereka sendiri."
Arkananta melangkah menuju meja kerja di kamarnya, membuka sebuah berkas yang berisi data sabotase elektronik pada rem mobilnya yang baru saja dikirim oleh tim intelijen Bayu. "Besok pagi, saat mereka berkumpul untuk merayakan jatuhnya Arkananta di sidang partai, kita akan datang. Bukan sebagai korban, tapi sebagai hakim yang membawa bukti pengkhianatan mereka."
Nayara menatap suaminya, menyadari bahwa Third Option bukan sekadar strategi politik, melainkan sebuah bentuk pertahanan martabat yang sunyi namun mematikan. Ia menggenggam tangan Arkan, merasakan jarum jam perak itu kini berdetak dengan harmonis, seirama dengan detak jantung mereka yang kini terikat lebih kuat dari sebelumnya.
"Saya akan ikut dengan Anda, Arkan. Saya tidak akan lagi bersembunyi di balik pintu yang terkunci hanya karena takut pada fitnah mereka," ucap Nayara tegas.
Arkan tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung pengakuan terhadap kekuatan istrinya. "Memang itu rencananya, Permaisuriku. Kita akan menunjukkan pada mereka bahwa marmer High Tower pun bisa retak jika dihantam oleh kebenaran yang tidak bisa mereka beli."
Di luar, suara sirene ambulans terdengar menjauh, sementara di dalam kamar itu, dua jiwa yang terluka mulai menyusun rencana untuk meruntuhkan kekuasaan yang dibangun di atas pondasi fitnah dan darah. Garis perang telah ditarik, dan kali ini, Arkananta tidak akan berhenti sampai setiap pelaku sabotase merasakan dinginnya lantai penjara yang mereka siapkan untuknya.