Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sikembar itu kini tengah dalam perjalanan pulang ke rumah. Permintaan yang mereka lontarkan saat berada di kedai kakao tadi masih terngiang jelas, sukses membuat Alya terdiam, pikirannya buntu seakan kehilangan arah.
“Menurut kamu, Tante Alya marah nggak sih?” Selina menoleh ragu ke arah saudaranya.
“Aku nggak tahu. Tapi yang jelas, Tante Alya kelihatan kaget.” Serena menghela napas pelan.
“Aku nggak minta yang lain. Aku cuma mau Tante Alya jadi ibu kita.” Selina kembali menatap kembarannya, air mata menggenang.
“Ssst… jangan nangis. Kita simpan dulu keinginan kita, doanya saja yang banyak.” Serena berbisik sambil mengusap tangan adiknya.
Di kursi depan, sang sopir hanya terdiam, hatinya terasa sesak. Ia tahu betul kisah pahit kedua anak itu sejak masih merah. Baru saja terlahir ke dunia, mereka sudah harus menerima kenyataan ditinggal ibu yang tak pernah sempat memberi ASI sepenuhnya.
Sesampainya di rumah, suasana terlihat aman dan terkendali. Meski mobil Papah sudah terparkir rapi di halaman depan, kedua bocah itu justru tampak tenang, seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Sepertinya Papah belum datang. Ayo, kita aman.” langkahnya dibuat setenang mungkin menaiki tangga.
“Kalau mobilnya sudah ada, kemungkinan besar Papah sudah pulang.” Serena berbisik dengan ragu.
“Ya ampun, aku sampai lupa.” ucap Selina lirih sambil menepuk keningnya.
Setelah sampai di kamar, Selina turun sebentar karena haus. Namun begitu kulkas terbuka, keduanya terpaku sebagian cokelat mereka menghilang.
“Harusnya ada di sini,” ucap Selina pelan, matanya menyisir rak kulkas satu per satu, khawatir cokelatnya tertutup makanan lain.
Serena akhirnya turun ke bawah karena Selina tak kunjung kembali membawa minumannya.
“Kamu nyari apa sih?” Serena mendekat.
“Kak, lihat deh. Cokelat kita nggak lengkap. Sisanya hilang.” Selina menoleh cemas.
“Siapa tahu Mbak Hana yang mindahin. Kita tanya saja.” Serena mengangkat bahu kecil.
Mereka langsung mencari ke mana-mana, tetapi usaha itu berakhir sia-sia.
"Kenapa cokelatnya hilang, sih…” gumam Selina lirih sambil terisak.
Mereka telah menyimpan cokelat-cokelat itu untuk dibawa ke panti asuhan, namun kini semuanya lenyap.
Serena bukan tidak merasa sedih, ia hanya pandai menutupi perih di hatinya agar Selina tak menyadarinya. Ia tak ingin kesedihannya justru memperburuk keadaan adiknya, sehingga Serena memilih tampak kuat, meski di dalam dirinya keinginan untuk menangis begitu besar.
Di ruangan Romeo, suasana terasa tegang. Ia menegur pengasuh kedua putrinya atas kelengahan yang terjadi, melihat anak-anaknya kerap membawa cokelat. Tak berhenti di situ, sopir pribadi mereka juga dipanggil untuk dimintai keterangan.
“Siapa yang memberi cokelat pada anak-anak saya, Hana?” Romeo menatap tajam.
“Maaf, Tuan,Mereka bilang itu hadiah, tapi saya tidak tahu dari siapa atau untuk apa.” suara Hana bergetar.
Sorot mata Romeo beralih ke sopir pribadi si kembar, menunggu penjelasan.
“Saya ingin tahu, siapa yang memberi cokelat-cokelat itu?” kata Romeo tegas.
"Cokelatnya dari kedai kakao, Tuan. Hampir setiap hari mereka ingin ke sana sepulang sekolah. Saya sudah coba menahan, tapi tak berhasil.” Sopir itu menunduk sedikit.
Romeo mengusap pelipisnya pelan, kepalanya terasa berat oleh tumpukan pekerjaan yang tak ada habisnya. Belum lagi kekasihnya marah karena ia tak bisa menemaninya ke Tokyo untuk menghadiri peragaan busana. Kini, pikirannya semakin kalut saat menyadari kedua putrinya pun kian sulit dikendalikan.
“Sekali lagi saya tekankan,jangan bawa anak-anak ke kedai kakao. Kalau mereka meminta, tolak. Kalau perlu, katakan saya marah besar. Kamu mengerti?” ujar Romeo tajam.
“Baik, Tuan. Saya mengerti.” jawab sopir itu cepat.
Romeo kemudian mempersilakan pekerja itu keluar dari ruang kerjanya. Beberapa waktu terakhir, masalah seakan datang bertubi-tubi, dan salah satunya adalah ulah si kembar. Kini ia harus menemui kedua putrinya, memberi pengertian bahwa mereka tak lagi bisa pergi ke sembarang tempat tanpa seizin dirinya.
Usai membersihkan diri, Romeo memutuskan menemui si kembar terlebih dahulu sebelum menuju meja makan. Seharian penuh mereka tak berjumpa,tumpukan pekerjaan yang menyita waktu membuat Romeo hampir lupa bahwa dirinya juga seorang ayah.
Setelah mengetuk pintu kamar si kembar hingga tiga kali, Romeo tetap tak mendapat respons. Keraguan pun muncul di benaknya jangan-jangan kedua putrinya sudah tertidur.
“Selina, Serena… Papa masuk, ya.” Romeo melangkah masuk sambil bersuara.
Tak ada jawaban yang ia terima, membuat Romeo terus melangkah masuk ke dalam kamar. Ia mengecek kamar mandi kosong. Walk-in closet pun tak menunjukkan keberadaan siapa pun. Kebingungan mulai menguasainya, ke mana kedua putrinya pergi Saat hendak berbalik keluar, samar-samar terdengar isak tangis dari arah balkon. Romeo pun melangkah pelan mendekat, dan seketika ia terperanjat begitu melihat sosok yang berada di sana.
“Ada apa? Kok sampai menangis begini?” Romeo mendekap kedua putrinya erat.
“Emang kelihatannya kami lagi ketawa?” Selina menyeka air matanya.
“Apa yang terjadi? Katakan pada Papa.” ucap Romeo lembut sambil berjongkok.
"Yang bikin kami sedih itu orang yang ngambil cokelat kami. Kata bu guru, perbuatan begitu tidak baik.” Serena berbicara tanpa emosi.
Romeo terperanjat, bahkan sempat tersedak oleh ludahnya sendiri. Ia tak menyangka putrinya bisa melontarkan sumpah sekejam itu. Hanya karena cokelat, seseorang sampai didoakan masuk neraka sebuah ucapan yang membuat dadanya terasa sesak.
“Siapa orangnya?” Romeo bertanya pelan.
“Nggak tahu,yang penting Itu perbuatan orang jahat. " kata Selina tegas.
Ucapan itu membuat lidah Romeo kelu. Ia merasa seakan sedang diadili oleh kedua putrinya sendiri. Namun jauh di dalam hati, Romeo tahu ia hanya bertindak sesuai dengan apa yang menurutnya benar.
“Papa cuma nanya… kalian nggak takut sakit gigi kalau kebanyakan cokelat?” Romeo tersenyum tipis.
“Itu buat dibagi,bukan dimakan sendiri. Orang yang nyuri itu benar-benar keterlaluan.” ucap Selina sebal.
Romeo memilih tak menanggapi terlalu serius, hanya menggeleng ringan. Ia tak percaya sesuatu sesederhana cokelat mampu membuat kedua putrinya bersikap sejauh itu.
“Makan malam dulu, ya,bu Dewi masak menu kesukaan kalian.” kata Romeo mencoba mencairkan suasana.
“Enggak,kami nggak selera makan.” sahut mereka kompak.
“Bu Dewi sudah masak dengan susah payah. Kalau nggak dimakan, jadi sia-sia. Itu nggak baik.” Romeo mencoba menasihati.
“Baik, kita makan.” ucap keduanya akhirnya.
Senyum kecil terukir di wajah Romeo saat melihat kepatuhan kedua putrinya.
Saat mereka menikmati makan malam, getaran singkat dari ponsel Romeo memecah suasana.
“Besok aku sampai. Aku sudah menuju Indonesia sekarang. Beso jemput aku, Sayang.” Isi pesan itu.
“Baik, aku jemput besok,” tulis Romeo dengan senyum puas.
Selina dan Serena saling bertukar pandang saat melihat ayah mereka tersenyum menatap layar ponsel. Keduanya langsung tahu pasti ada pesan dari wanita yang sejak awal tak pernah mereka sukai.
"Selina sudah kenyang. ” ucapnya sambil mendorong piring sedikit menjauh.
"Kalau begitu, aku juga sudah kenyang.”
Padahal mereka baru makan sedikit, namun keduanya sudah menyudahi makan malam. Reaksi itu membuat Romeo merasa janggal.
“Hei, turun dulu! Habiskan makanannya.” Romeo bersuara agak keras.
“Kami sudah mengantuk.” jawab mereka singkat, nadanya datar.
“Kenapa kalian dingin ke Papa?” tanya Romeo heran.
“Kalau Papa nggak merasa bersalah, nggak usah dipikirkan. Toh kami juga sering Papa abaikan.” Selina menahan emosi.
Ucapan kedua putrinya membuat hati Romeo terasa nyeri. Tak perlu dipertanyakan lagi, kemarahan itu jelas tertuju padanya.
“Cuma lihat gue balas pesan Tania aja udah drama,kalau dia beneran jadi ibu sambung, apa rumah ini bakal aman?” keluhnya lirih.
Romeo menatap hidangan di depannya tanpa selera. Padahal sejak sore perutnya kosong, semua itu ia tahan hanya untuk makan bersama putri-putrinya yang kini justru menjauh darinya.
“Capek, iya. Kesal, iya. Tapi rasa sayang ini nggak pernah habis.” gumamnya.