"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 15
Setelah kopi habis dan beban di dada terasa sedikit lebih ringan, Mentari tiba-tiba tersenyum cerah, dengan mata yang berbinar ia mengenggam tangan Indira.
"Ngomong- ngomong, " katanya. "Keano nanya kamu lagi. "
Ekspresi di wajah Indira sontak berubah, ia tertawa kecil. "Serius? "
"Iya, dia pikir kamu gak datang- datang lagi mengunjungi nya karena tidak mau merawat nya lagi. " Mentari tergelak saat mengatakan itu, teringat bagaimana Keano-- bocah lima tahun yang sangat lengket akhir- akhir ini dengan mereka, berbicara dengan wajahnya yang mewek karena merasa kehilangan Indira. Apalagi ia memang paling dekat dengan Indira.
Keano adalah pasien dengan riwayat penyakit leukemia, sudah satu setengah tahun ia menjadi penghuni tetap rumah sakit tempat Indira bekerja, dan selama satu tahun itu Indira menemaninya dan merawatnya karena Keano merupakan anak yang pilih- pilih dalam hal apapun, termasuk saat Indira di tunjuk sebagai perawat nya, Keano menyukai nya dan segalanya menjadi terbiasa selama satu tahun belakangan ini.
Mendengar cerita dari Mentari, Indira jadi merindukan anak itu, ia menutup mulutnya sambil tertawa kecil, kepalanya menggeleng pelan. "Anak itu memang.... terlalu peka untuk ukuran umurnya. "
"Dia kehilanganmu, " ujar Mentari jujur. "Dan kamu tahu sendiri, Ra. Kamu bukan cuma perawat buat dia. "
Indira terdiam, senyum di bibirnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi lembut yang sarat akan rasa bersalah. Ia ingat betul kebiasaan bocah itu-- mata beningnya yang selalu berbinar setiap kali Indira masuk ke ruangannya, tangan kecilnya yang refleks mencari jemarinya, dan ocehannya yang tak pernah berhenti meski di tubuhnya kala itu di penuhi selang dan alat medis.
"Kayanya... aku ijin cuti terlalu lama deh, " gumam Indira pelan, merasa waktu berjala lambat dan ia merindukan segala aktivitas nya di rumah sakit.
Mentari menggeleng cepat. "Baru beberapa hari, Ra, " ujarnya. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, kamu juga manusia, bukan mesin yang harus terus- terusan bekerja. "
Indira tersentak, sepertinya Mentari salah menangkap arti ucapannya, lantas ia menggeleng geli. "Bukan itu maksudnya, Tari! aku hanya rindu dengan pekerjaan ku."
Mentari yang salah kaprah lantas tersenyum kikuk. "oh... hehehe. "
Indira menelengkan kepalanya kembali, lalu menyesap minumannya sebelum akhirnya mengambil tas.
"Ayo ke rumah sakit. "
Dan seketika itulah Mentari tersenyum cerah, secerah mentari pagi, sepertinya namanya. "Aku tahu kamu pasti bakal bilang begitu! "
Lalu kemudian mereka pergi dengan semangat empat lima.
----------------
Rumah sakit menyambut Indira dengan caranya yang tak pernah gagal untuk membuat dadanya terasa penuh dan hangat. Aroma antiseptik yang khas, bunyi roda ranjang yang didorong dengan tergesa, langkah kaki perawat yang berirama-- semuanya terasa akrab. Ia seperti pulang ke tempat yang benar-benar menjadi rumahnya.
Sudah enam tahun lebih ia mengabdikan dirinya di tempat ini, pekerjaan ini bukan hanya profesi tapi passion nya, karena sejak kecil ia memang bercita-cita untuk membantu banyak orang. Meski tidak menjadi dokter, setidaknya menjadi perawat adalah salah satu nya dan itu sudah mewujudkan mimpinya selama ini.
"Indira! " sapa salah seorang dokter anak begitu melihat nya. "akhirnya bisa ketemu kamu lagi. "
Indira tersenyum hangat padanya. Hampir seluruh penghuni rumah sakit ini mengenal sosok nya, ia bukan hanya perawat di mata mereka tapi seperti dewi penolong. Selain karena parasnya, sikap lembut nya membuat semua orang betah berlama-lama di dekatnya.
Indira tak pernah pandang bulu dalam merawat pasien, dan itu membuat mereka suka dengan pelayanan nya. Ia begitu supel dan di sukai semua orang.
Mentari dan dirinya terus menyusuri lorong, membalas sapaan beberapa orang yang mendekati mereka, rekan kerjanya yang satu profesi dengan nya juga menyalaminya dengan hangat.
"Selamat datang kembali, " sahut perawat lain sambil menyelipkan sekotak amplop ke tangannya. "Kami belum sempat ngasih ini waktu... ya, kamu tahu. "
Indira langsung mengerti dan menerima nya dengan senyum sedikit canggung. "terimakasih."
Salut nya dari mereka, tak ada satupun yang bertanya berlebihan. tak ada tatapan yang menghakimi, karena mereka tahu, semuanya mengerti tentang pernikahan aneh yang terjadi pada gadis itu. Tentang nama Indira yang sempat bersliweran di berita dan media sosial. Tapi disini mereka memilih diam-- bukan karena tak peduli, tapi mereka menghormati dan itu lebih dari cukup untuk Indira.
Mentari di sampingnya tersenyum lembut, melihat ekspresi Indira yang penuh akan haru. "kamu... kelihatan jauh lebih tegar, Ra. "
Indira tersenyum kecil. "Karena inilah tempat ku. "
Mereka lalu melanjutkan langkah menuju ke ruang perawatan anak dengan kamar VVIP. Dan begitu pintu dibuka, suara ceria langsung menyambut mereka.
“Bu Indira!”
Suara nyaring yang begitu Indira kenal.
Di sana, Keano sudah duduk tegak di ranjangnya, matanya membulat tak percaya. Sesaat kemudian, bocah itu meloncat turun dengan langkah terburu-buru, membuat Mentari refleks berseru panik.
“Hei, pelan-pelan!”
Namun Keano sudah lebih dulu memeluk Indira dengan erat, wajah kecilnya menempel di perut perempuan itu.
“Bu Indira- bu Indira akhirnya datang,” gumamnya, suaranya parau, seperti menahan tangis namun juga bahagia.
Indira berlutut agar sejajar, kedua tangannya mengusap punggung kecil itu. “Kamu pikir Bu Indira bakal ninggalin kamu, hm?”
Keano mengangguk pelan. “Aku kira Bu Indira udah punya keluarga baru.”
Kalimat polos itu sedikit membuat Indira tertegun, murni namun juga sedikit nyelekit baginya, ia lantas tersenyum, menahan sesak yang mendadak naik ke dadanya. “Maaf ya, kalau bu Indira lama ninggalin kamu. "
Wajah Keano menunduk. "Tapi kata orang-orang, bu Indira menikah dan kata temanku, menikah artinya menambah keluarga, itu benar ya? "
Hati Indira mencelos, tak tahu harus menjawab apa ia lantas hanya mengangguk.
Keano mendongak, matanya berkabut. “Tapi aku masih keluarga, kan?”
“Tentu dong. Selalu,” jawab Indira mantap.
Bocah itu tersenyum lebar, bahkan sampai berjingkrak kecil kegirangan. Tawa ringannya memenuhi ruangan, membuat Mentari ikut tersenyum dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Dan ketika mereka masih sama- sama sedang melepas rindu, tiba-tiba saja langkah kaki terdengar dari balik pintu yang masih terbuka. Tidak tergesa-gesa, tapi tidak juga ragu--ritmenya mantap, seperti orang yang sudah terbiasa berjalan di lorong rumah sakit dengan tujuan jelas.
Mentari yang pertama kali menoleh.
Indira masih setengah berlutut ketika bayangan dua sosok dewasa jatuh ke lantai kamar. Senyumnya belum sepenuhnya pudar, dan tangannya masih berada di punggung Keano, sebelum matanya terangkat dan pandangannya membeku.
Seno. Laki-laki itu pertama kali menatapnya dan saat itulah Indira merasa dunianya berhenti berputar.
Dan di sampingnya, seorang pria lain dengan postur tinggi dan raut wajah yang lebih ramah. Indira merasa akrab dengan wajah itu, kalau tidak salah ia kenal, dia adalah salah satu anggota Keano.
Keano lebih dulu bereaksi. “om Adrian!” serunya girang. “Sama om Seno!”
Ia berlari kecil menghampiri mereka, lalu berhenti di tengah, seolah baru menyadari sesuatu. Menoleh kembali ke Indira dengan wajah polos yang membuat siapa pun tak sanggup berdusta.
“Om Adrian,” katanya sambil menunjuk Indira, “ini Bu Indira yang aku ceritain.”
Adrian tersenyum lebar. “Oh, jadi ini perawat kesayangan kamu.”
Dan saat itulah tatapannya dan Indira bertemu, sementara Seno merasa seperti orang asing di antara keduanya dan ia merasa kesal akan hal itu.
******
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah