Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Eca hanya memandang wajah theo dari samping sambil tersenyum dalam.
"Yaa...kalau ada yang suka sama gue kenapa nggak?"
Sesampainya di warung makan ia terkejut dengan porsi makan theo yang benar-benar banyak tak habis pikir kalau dia seperti beruang besar.
"Serius porsi makan lo segini?"
"Oh ya besok lo nggak usah jemput gue, besok mobil RS langsung jemput gue karena searah dengan SMA Tunas Bangsa"
"Gue harap gue bisa lihat loe sekolah"
Asap gurih dari piring seng di depanku membubung tipis, membaur bersama deru kereta api yang melintas di kejauhan. Aku menelan daging bebek dengan santai sebelum menyeka bibir menggunakan punggung tangan, sama sekali tak terusik oleh tatapan syoknya yang memandangi gundukan nasi uduk kedua di mejaku.
"Makan banyak itu normal buat cowok, apalagi yang tenaganya habis ngurusin perawat manja kayak lo,"
sahutku cuek, meraih gelas teh tawar hangat lalu menegaknya tandas.
Namun, kalimatnya soal orang lain dan larangan menjemput besok kontan membuat selera makanku terganggu. Kulempar sendok ke piring hingga berdentang nyaring, memajukan tubuh melewati meja sempit yang membatasi kami.
Sorot mataku menghunus lurus ke manik matanya, menegaskan ketidaksukaan yang tak kututupi sedikit pun.
"Nggak bakal ada cowok yang berani deketin lo selama masih berurusan sama gue,"
tekanku dengan suara rendah yang mengancam. Jemariku mengetuk permukaan meja, dingin dan tak terbantahkan.
"Dan jangan ngatur gue mau jemput atau nggak. Besok pas mobil rumah sakit itu datang, gue pastikan motor gue udah parkir tepat di depannya."
Tingkah theo membuat eca hanya bisa menggelengkan kepala, sontak dia langsung menyentil jidat theo,sambil tersenyum dia kembali memakan nasi bebek yg ada di depannya.
"Gue heran, anak konglomerat kayak lo makan di kaki lima juga?"
"Mau taruhan sama gue? Kalau ada cowok yang berani sama lo gimana?"
"Habis makan gue langsung balik ya,nenek udah membaik akhir-akhir ini gue mau ngobrol banyak lagi sama nenek soal pindah tempat tinggal nanti"
Sentilan mendadak di jidat membuat kepalaku tersentak ke belakang. Rasa perih kecil itu tidak seberapa dibanding desakan panas yang kembali merayapi leherku akibat keberaniannya yang tak habis-habis. Sambil mengusap dahi, aku mendengus kasar melihatnya asyik mengunyah tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Tangan lo makin hari makin lancang,"
gerutuku rendah, menepis helai poni hitam yang menutupi alis tebalku.
Mau kaya atau miskin, makanan enak ya tetap makanan enak. Nggak ada urusannya sama status gue.
Tantangan taruhan darinya malah memicu seringai sinis di bibirku. Aku menegakkan punggung, menyilangkan tangan di dada dengan sorot intimidasi yang pekat.
"Taruhan? Silakan cari cowok yang berani. Bakal gue patahin lehernya sebelum dia sempat sebut nama lo."
Namun, saat bibirnya menyinggung rencana pindah tempat tinggal, dadaku terasa mencelus kaku seketika. Sisa selera makanku mendadak sirna, digantikan gejolak tak menentu yang menolak gagasan kehilangan jejaknya begitu saja.
"Pindah ke mana maksud lo?
nadaku merendah, menuntut penjelasan mutlak tanpa jeda.
"Jangan bikin rencana seenak jidat tanpa bilang gue. Nanti gue yang antar sampai depan pintu nenek."
Eca yang sudah menyelesaikan makanannya hanya bisa menatap theo dengan tajam, dia merasa cowok yang ada di depannya saat ini membuatnya semakin menyukainya, dengan diam eca terus memperhatikannya dan menahan semua perasaanya.
"Lo lupa kan gue musti cari apartemen?lusa cucu nenek sudah datang dan gue belom juga dapat apartemennya
"Lo mau gue tinggal di pinggir jalan?"
Tatapan lekat yang menghujam dari seberang meja membuat sudut bibirku tertarik tipis. Desakan aneh kembali menyengat tengkuk saat menyadari betapa intens manik matanya mengunci setiap gerak-gerikku. Mengetahui dirinya terancam kehilangan tempat bernaung memantik dorongan asing yang enggan kuakui—sebuah keharusan mutlak untuk memastikan dia tetap berada dalam jangkauan pandanganku.
Aku meletakkan kaleng ke atas meja dengan bunyi ketukan pelan, memangkas jarak sembari menyandarkan siku ke permukaan papan kayu.
"Siapa yang biarin lo jadi gelandangan?"
gumamku rendah, membiarkan nada dominan menenggelamkan gemuruh kereta malam yang melaju di dekat tenda.
"Gue nggak pikun. Lagian otak lo dangkal banget kalau ngira gue bakal biarin lo terlunta-lunta sendirian."
Kurogoh saku jaket kulitku, mengeluarkan kunci cadangan berbandul perak lalu melemparnya ke hadapannya tanpa ragu. Logam dingin itu berdenting tepat di samping piringnya yang telah tandas.
"Unit kosong di seberang rumah sakit itu punya keluarga gue,"
tukasku santai, menutupi debar liar di rongga dada dengan topeng keangkuhan yang sempurna.
"Lo tinggal masuk. Berhenti mikir aneh-aneh dan cepat bayar makanan ini, kita pulang sekarang."
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊