"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 | LIMA MENIT YANG MENAGIH JANJI
Parasut Parasailing Perlahan-lahan mendarat mulus kembali ke atas dek kapal pesiar privat yang meluncur tenang di perairan Mediterania. Namun, bukannya merasa lega, dada Aleeza Wira justru bergemuruh hebat akibat badai emosi yang berkecamuk di dalam benaknya.
Baru saja, saat mereka masih melayang tinggi di udara, Aleeza sempat meluapkan isi hatinya mengira Austin tidak akan mendengar terpaan angin kencang—tentang betapa ia berharap bisa mencintai sang billionaire jika saja bayang-bayang Angeline tidak selalu menghantui pria itu.
Dan sekarang, kesadaran bahwa Julian telah membohonginya selama berbulan-bulan dengan kepura-puraan buta membuat Aleeza semakin membenci dirinya sendiri. Mengapa selama ini ia begitu bodoh merelakan masa mudanya tersiksa oleh rasa bersalah pada pria pengkhianat seperti Julian, sementara ia justru menyia-nyiakan waktu bersama pria gila yang kini berdiri di hadapannya?
"Cepat turun, Mawar Berduri," bisik Austin lembut, membantu Aleeza melepas tali pengaman parasut dengan senyuman paling menawan yang pernah ada.
Aleeza langsung mengempaskan tangan Austin, melangkah mundur dengan mata menyala penuh amarah dan kecemburuan yang tersisa.
"Jangan sentuh aku!" sentak Aleeza ketus, memalingkan wajahnya ke arah laut lepas di mana beberapa ekor lumba-lumba tampak berenang melompat di samping kapal. "Sana, turun dan rekam lumba-lumba bodoh itu! Kirimkan videonya pada Angeline kesayanganmu! Bukankah itu yang sejak tadi ingin kaulakukan, Senor Sombong?"
Austin tertegun sejenak. Alih-alih marah, tawa renyah yang amat merdu justru meluncur dari bibir pria Spanyol itu.
" Wow keep calm, Mi Amor. Ada apa denganmu?" kekeh Austin, maju beberapa langkah dan langsung menangkup kedua pipi Aleeza dengan kedua tangannya yang hangat.
Aleeza mencoba meronta, menepis tangan Austin dengan sebal. "Lepaskan! Jangan menyentuhku dengan tangan yang sama saat kau memikirkan wanita lain!"
"Siapa bilang aku memikirkan Angeline?" potong Austin menyeringai jahil, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara hidung mereka hanya tinggal beberapa sentimeter saja. "Lagi pula, kau pikir aku tidak tahu?
Saat kita melayang di atas sana tadi anginnya memang kencang, tapi aku mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulutmu, Aleeza."
DEG!
Darah Aleeza mendadak tersedot ke kepalanya. Matanya membelalak ngeri sejadi-jadinya.
T-tidak mungkin batin Aleeza histeris. Jadi dia mendengar saat aku bilang aku ingin mencintainya?!
"A-apa maksudmu?" cicit Aleeza terbata-bata, wajahnya memerah padam hingga ke telinga.
Austin semakin menyunggingkan senyuman miring yang mematikan. Jempolnya dengan lembut mengusus bibir bawah Aleeza yang sedikit bergetar.
"Jadi, Mi Amor aku tidak turun ke dek ini untuk merekam lumba-lumba bodoh," bisik Austin serak, suaranya menghanyutkan pertahanan Aleeza seketika. "Aku turun untuk menagih janji lima menit penuh yang kau janjikan padaku di udara tadi."
Sebelum Aleeza sempat melontarkan protes atau kata penolakan, Austin sudah menerjang bibirnya dalam sebuah ciuman yang dalam, menuntut, dan melahap seluruh sisa protes di mulut Aleeza.
Ciuman itu begitu sangat panas, menghapus segala keraguan, kebohongan Julian, dan bayang-bayang masa lalu. Di atas dek kapal di tengah lautan biru, Aleeza akhirnya menyerah sepenuhnya pada pelukan sang penguasa hati yang selama ini ia hindari.
▪️▪️▪️
Ciuman itu berlangsung lama, lembut, dan menghanyutkan.
Aleeza Wira sempat mencoba mempertahankan sisa-sisa egonya. Namun, kehangatan yang mengalir dari bibir Austin Vanderbilt seolah melunturkan seluruh perisai pertahanan yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Sentuhan tangan Austin di pinggangnya terasa begitu menenangkan mengusir segala kepedihan akibat pengkhianatan Julian dan meredakan badai kecemburuan yang sempat mencabik-cabik hatinya.
Ketika ciuman itu akhirnya terpaksa terlepas karena kebutuhan udara, napas keduanya menderu pelan. Austin menyatukan kening mereka, menatap mata Aleeza dengan binar cinta yang telak dan tanpa ragu.
"Kau masih meragukanku, Mi Amor?" bisik Austin serak, ibu jarinya dengan lembut mengelus pipi Aleeza yang merona merah.
Aleeza menunduk, menggigit bibirnya pelan. Rasa bersalah karena sempat membandingkan Austin dengan bayang-bayang masa lalunya menghantam batinnya. "Bagaimana bisa aku tidak ragu," gumam Aleeza lirih. "Kau pria yang memiliki segalanya, sementara aku hanya wanita biasa yang terjebak dalam duniamu."
"Kau bukan sekadar wanita biasa di duniaku, Aleeza," potong Austin tegas, mengangkat dagu Aleeza agar kembali menatap manik biru jernihnya. "Kau adalah pusat gravitasi baru yang membuatku berhenti mencari arah."
Sebelum Aleeza sempat merespons kalimat manis yang menggetarkan jiwa itu, dering ponsel di saku jas Austin tiba-tiba bergetar memecah kesunyian laut Mediterania.
Austin menghela napas berat, mendengus pelan karena interupsi yang tidak tepat waktu. Ia mengeluarkan ponsel mahalnya, melihat layar sejenak, lalu menjawab panggilan dari asisten setianya.
"Ya, Norman? Ada apa?" tanya Austin dingin.
Di ujung sambungan, suara Norman terdengar sedikit bergetar penuh rasa bersalah. "Maaf mengganggu Anda, Tuan Vanderbilt. Tapi urusan proyek ekspansi di Eropa Timur memerlukan tanda tangan langsung Anda malam ini juga. Sebastien mendesak di kantor pusat,"
Austin melirik sekilas ke arah Aleeza, lalu mendesah tajam. "Katakan pada Sebastien bahwa aku sedang sibuk mengurus hal yang jauh lebih penting dari sekadar tumpukan kertas kontrak!"
" Tuan Sebastien bilang ini menyangkut keamanan aset keluarga besar kita, Tuan..." ralat Norman hati-hati.
"Sialan," gerutu Austin pelan. Ia mematikan sambungan telepon sepihak, lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku dengan ekspresi jengkel.
Aleeza yang mendengar penggalan percakapan itu pun tersenyum tipis, merasa sedikit lega di tengah keruwetan perasaan mereka. " Kurasa kau harus kembali mengurus kantormu, Mr. Vanderbilt Sebelum para direktur itu memecatmu karena melarikan diri ke tengah laut."
Norman yang berdiri tidak jauh dari dek utama bersama beberapa kru kapal tersenyum penuh hormat dari kejauhan, seolah memahami situasi bos mudanya. Pria paruh baya itu perlahan melangkah mendekat untuk menyampaikan pesan tambahan secara langsung.
"Maaf mengganggu anda, Nona Aleeza," sapa Norman sopan, membungkuk sedikit sebelum beralih menatap Austin. "Tuan.perihal rencana kejutan yang Anda minta kemarin malam untuk Nona Aleeza apakah tetap dilanjutkan?"
Deg!
Mata Aleeza membelalak lebar. Ia langsung menoleh tajam ke arah Austin dengan sejuta tanda tanya di kepalanya.
"Kejutan? Kejutan apa maksudnya?"
Austin mendelik sebal ke arah Norman. "Kau terlalu banyak bicara, Norman!" geram Austin pura-pura kesal.
Norman tersenyum misterius, mengabaikan gerutuan bosnya. "Saya hanya ingin memastikan, Nona Aleeza Karena Tuan Vanderbilt telah memesan sebuah suaka margasatwa privat khusus untuk melihat lumba-lumba di pesisir selatan Spanyol... sesuatu yang pernah Anda sebutkan secara tidak sengaja dalam artikel lama Anda."
Aleeza tertegun. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Ia ingat betul beberapa minggu lalu, sebelum ia terjebak dalam sandiwara pertunangan ini, ia sempat menulis sebuah kolom jurnalistik tentang impian masa kecilnya untuk melihat lumba-lumba di habitat aslinya tanpa eksploitasi komersial. Dan Austin pria arogan yang selama ini dianggapnya sebagai monster berdarah dingin ternyata mengingat setiap detail kecil tentang dirinya.
Aleeza menoleh perlahan menatap Austin, mendapati sang billionaire kini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak salah tingkah untuk pertama kalinya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tukas Austin gengsi, menghindari tatapan lekat Aleeza. "Aku hanya... ingin membuktikan bahwa tidak semua pria kaya itu membosankan."
Aleeza tidak bisa lagi menahan senyumnya. Pertahanan terakhirnya runtuh total, digantikan oleh kehangatan luar biasa yang menjalar di lubuk hatinya. Di tengah deburan ombak dan angin laut yang menenangkan, Aleeza menyadari satu hal: di dalam sangkar emas yang dibangun oleh sang billionaire, ia tidak lagi merasa terkurung ia justru merasa telah menemukan rumah.
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!