yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(season 2) benci jadi cinta (bab 10) akhirnya kebenaran terungkap.
Langit pagi itu tampak cerah namun udaranya terasa berat, seakan alam pun menahan napas menanti saat kebenaran yang selama ini tersembunyi dalam kegelapan akhirnya akan terangkat ke permukaan. Setelah menyusuri petunjuk demi petunjuk yang ditinggalkan Marco — dari taman kota, hingga ke rumah masa kecilnya yang sudah lama kosong — Yuna dan Arga akhirnya tiba di tempat terakhir yang tertulis di peta kenangan itu: sebuah gudang kecil di pinggiran kota yang dulu pernah menjadi tempat persembunyian Marco saat ia butuh kesepian dari dunianya yang penuh tekanan.
Pintu besi tua itu terbuka perlahan dengan suara berderit yang panjang, menampakkan ruangan yang nyaris kosong, hanya berisi sebuah lemari besi tua yang berdiri kokoh di sudut ruangan. Yuna mengeluarkan rangkaian kunci perak yang ditemukannya satu per satu, dan saat kunci terakhir masuk ke lubang gembok dan berputar dengan bunyi yang nyaring namun menenangkan, pintu lemari itu terbuka — menampung tumpukan dokumen tebal, sebuah amplop besar tersegel lilin, dan sebuah kotak kayu kecil yang terukir nama Yuna dengan sangat indah di permukaannya.
Tangan Yuna gemetar hebat saat ia mengambil dokumen teratas itu. Saat ia membacanya, darah di seluruh tubuhnya seakan berhenti berdetak sejenak — bukan karena takut, tapi karena terkejut luar biasa. Semua dugaan Arga ternyata benar, namun kenyataannya jauh lebih mengerikan sekaligus lebih menyedihkan daripada yang pernah dibayangkan siapa pun.
Di dalam tumpukan dokumen itu terbukti dengan jelas bahwa Tuan Bayu bukan sekadar mitra bisnis ayah Marco — dialah otak di balik kebakaran rumah Marco dua puluh tahun silam. Dialah yang membunuh ibu Marco, dan dialah yang kemudian memanfaatkan kematian ayah Marco untuk menguasai sebagian besar aset keluarga itu secara diam-diam, membiarkan Marco mengambil alih tampilannya sebagai pemimpin sementara padahal ia sendiri yang menarik semua benang dari belakang layar. Marco tahu kebenaran ini sejak ia berusia dua puluh tahun, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Tuan Bayu memegang kendali atas orang-orang yang ia cintai dan mengancam akan membunuh siapa pun yang berani membangkang.
Itulah sebabnya Marco menikahinya — bukan sekadar untuk melindungi Yuna dari ayahnya, tapi karena ia tahu Tuan Bayu sedang mencari cara untuk menghancurkan keluarga Yuna demi menutup jejak masa lalunya. Pernikahan mereka adalah perlindungan sekaligus benteng yang ia bangun dengan harapan suatu hari nanti ia akan cukup kuat untuk melawan Tuan Bayu dan membebaskan semua orang dari cengkeramannya. Selama bertahun-tahun Marco mengumpulkan bukti-bukti ini dengan risiko nyawanya sendiri, menyembunyikannya di tempat yang hanya bisa dijangkau oleh Yuna, karena ia tahu Tuan Bayu tidak akan pernah menyangka bahwa seorang wanita yang dianggapnya lemah dan tidak tahu apa-apa justru menjadi penjaga rahasia terbesarnya.
Namun ada satu kebenaran yang lebih menyakitkan lagi yang terungkap dari surat terakhir yang ditulis Marco khusus untuknya:
"Cintaku yang terkasih, jika kau membaca ini berarti aku sudah pergi, dan pertarungan yang belum sempat kuselesaikan kini berada di tanganmu. Jangan membenci dirimu karena tidak mengetahui semuanya — aku menyembunyikannya darimu bukan karena aku tidak mempercayaimu, tapi karena aku lebih memilih kau hidup dalam ketidaktahuan yang damai daripada mengetahui kebenaran yang bisa membahayakan nyawamu. Setiap kali aku pulang dengan lukaku yang kusembunyikan, setiap kali aku terjaga di malam hari karena mimpi buruk tentang dia, aku hanya memikirkan satu hal — apakah kau aman? Apakah kau bahagia? Karena kau adalah satu-satunya kebahagiaan yang pernah kumiliki di dunia yang gelap ini. Jika kau membaca ini, ketahuilah bahwa Tuan Bayu tidak hanya menginginkan kekayaan — dia juga menginginkan namaku dihancurkan, agar tidak ada lagi yang mengingat kejahatanku maupun kebaikanku. Dokumen yang kau pegang itu adalah satu-satunya senjata yang bisa menjatuhkannya selamanya. Gunakanlah dengan bijak, bukan untuk balas dendam, tapi agar tidak ada lagi yang terluka seperti kita. Maafkan aku karena tidak sempat pulang ke rumah kita. Maafkan aku karena meninggalkanmu sendirian. Tapi ketahuilah — mencintaimu adalah keputusan terbaik yang pernah kuambil seumur hidupku. Aku akan selalu menjagamu, dari tempat di mana aku berada sekarang. Sampai kita bertemu lagi, selamat tinggal, rumahku."
Air mata mengalir deras di pipi Yuna, namun ia tidak menangis tersedu-sedu. Ia merasa dadanya penuh dengan rasa bangga yang luar biasa sekaligus rasa sakit yang mendalam — ia akhirnya memahami setiap keheningan Marco, setiap tatapan jauhnya, setiap senyumnya yang menyembunyikan kelelahan. Ia akhirnya mengerti bahwa lelaki yang dicintainya itu bukanlah orang yang lemah yang menyembunyikan kebenaran, melainkan pahlawan yang menanggung beban dunia sendirian agar orang yang dicintainya bisa hidup dengan tenang.
Saat ia menutup surat itu dan berdiri tegak, pintu gudang itu tiba-tiba terbuka lebar. Di ambang pintu berdiri Tuan Bayu dengan senyum dingin dan menakutkan, diikuti oleh beberapa orang besar yang berdiri di belakangnya. Wajahnya tidak lagi menyembunyikan kebencian dan kesombongan yang selama ini ia pakai topeng dengan keramahan palsu.
"Kau menemukannya," ucapnya dengan suara berat dan tajam, matanya menatap dokumen di tangan Yuna dengan pandangan yang mengancam, "Marco memang cerdas, tapi dia bodoh — dia mempercayakan hal seberat ini pada seorang wanita yang tidak tahu apa-apa. Serahkan dokumen itu padaku, dan aku akan membiarkanmu pergi. Kau bisa kembali ke kehidupanmu yang tenang dan melupakan semuanya."
Arga melangkah ke depan, berdiri di samping Yuna dengan sikap siap menghadapi apa pun, namun Yuna meletakkan tangannya di lengan Arga untuk menahannya, lalu melangkah maju selangkah menghadapi pria yang telah menghancurkan kehidupan suaminya itu dengan kepala tegak dan mata yang jernih namun teguh.
"Kau salah, Tuan Bayu," suaranya tenang namun bergema kuat di ruangan itu, "Marco tidak bodoh. Dia tahu bahwa kebenaran lebih kuat dari ketakutan. Dokumen ini bukan milikmu, dan bukan pula milikku. Ini milik semua orang yang pernah kau sakiti, semua orang yang kau tipu, dan semua orang yang kau buat menderita dalam diam. Aku tidak akan menyerahkannya kepadamu. Bahkan jika kau mengambil nyawaku hari ini, orang lain sudah memiliki salinannya, dan kebenaran ini akan terungkap ke seluruh dunia. Permainanmu sudah selesai."
Wajah Tuan Bayu berubah pucat lalu merah padam karena amarah yang meledak-ledak, namun sebelum ia sempat memberi perintah, suara sirine terdengar mendekat dari kejauhan — Arga diam-diam sudah menghubungi pihak berwenang sebelum mereka masuk ke gudang ini, memastikan bahwa kejahatan tidak akan bisa lolos begitu saja kali ini.
Tuan Bayu menyadari bahwa ia sudah kalah. Ia tidak berusaha lari, tidak berusaha melawan. Ia hanya menatap Yuna dengan tatapan yang sulit diartikan — kecewa pada dirinya sendiri, sadar bahwa kekuatan yang ia bangun selama puluhan tahun hancur oleh keberanian seorang wanita yang bertahan atas dasar cinta.
Saat pria itu dibawa pergi, dibelenggu oleh hukum yang selama ini ia coba elus-elus, Yuna berdiri di sana memegang dokumen itu erat di dadanya, menatap ke langit yang kini terasa lebih luas dan terang dari sebelumnya. Beban berat yang selama ini dipikul Marco akhirnya terangkat. Rahasia-rahasianya telah terungkap, namanya dibersihkan, dan keadilan akhirnya ditegakkan.
Dia pulang ke Yayasan Marco dengan hati yang ringan namun penuh. Dia tidak hanya memenangkan pertarungan — dia membebaskan nama baik suaminya, melindungi masa depan anak-anak di yayasan, dan membuktikan bahwa cinta yang tulus selalu lebih kuat daripada kejahatan yang paling licik sekalipun.
Malam itu, saat ia duduk di beranda menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip lembut di langit, Yuna berbisik pelan dengan senyum yang tulus dan damai di bibirnya:
"Semuanya sudah selesai, Sayang. Kau bisa beristirahat dengan tenang sekarang. Rahasia mu telah terungkap, dan kau dikenang bukan karena bayang-bayang masa lalu mu, tapi karena kebaikan yang kau tinggalkan di hati kami semua. Terima kasih telah berjuang untuk kami. Selamat beristirahat, pahlawanku."
TAMAT🫶