NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SURAT TAGIHAN KONTRAKAN

Sinar matahari pagi yang menembus celah selokan dan dinding beton pemukiman menyelinap samar melalui celah jendela kamar kontrakan Enzo. Pemuda itu mengusap matanya yang terasa sepet, lalu perlahan bangkit dari kasur busa yang kian menipis. Rasa pegal di punggungnya sisa pekerjaan kuli kemarin masih menyengat pelan, namun kesadaran akan hari yang baru memaksa Enzo untuk segera mengumpulkan kesadarannya.

Saat ia melangkah menuju pintu kamar mandi sempit di sudut ruangan hendak mencuci muka, matanya menangkap selembar kertas HVS lipat dua yang diselipkan lewat celah bawah pintu kayu kamarnya.

Enzo membungkuk, mengambil kertas bertekstur agak kasar itu. Di permukaan luarnya, tertulis namanya dengan tinta pulpen hitam yang ditekan sangat keras hingga menembus serat kertas.

"Surat apa lagi ini?" gumam Enzo pelan seraya membuka lipatan kertas tersebut.

Di dalamnya, tertulis Rincian Tagihan Sewa Rumah dari Bu Salmah dengan tulisan tangan yang kaku dan tegak.

*Kepada: Enzo*

*Sewa Kamar Bulan Ini: Rp 300.000,-*

*Tunggakan: 8 Hari*

*Tenggat Waktu Pelunasan: Besok Malam (Sabtu) Pukul 20.00 WIB.*

*Catatan: Kejujuran kamu kemarin Ibu hargai, tapi nota sewa rumah tidak bisa dibayar pakai kata-kata. Jika besok malam uang tiga ratus ribu rupiah belum masuk ke tangan Ibu, kunci kamar akan diganti dan barang kamu dikeluarkan.*

Enzo menghembuskan napas panjang yang terasa sangat berat di tenggorokannya. Ia meremas tepi kertas itu perlahan. Meskipun kemarin pagi ia telah berbicara jujur dengan Bu Salmah tanpa mengobral janji manis palsu, ternyata realita kehidupan tetap berjalan dengan hukumnya yang dingin. Kejujuran sikap tidak secara otomatis menghapus kewajiban finansialnya. Surat itu adalah surat peringatan terakhir—sebuah tenggat waktu empat puluh delapan jam sebelum ia benar-benar kehilangan satu-satunya atap tempatnya berteduh di kota bising ini.

"Tiga ratus ribu..." bisik Enzo seraya menyapu wajah kusamnya dengan telapak tangan yang agak kasar.

Pemuda itu melangkah mendekati meja kayu tua di samping kasurnya. Ia merogoh saku celana jins lamanya yang tergantung di paku dinding, membalikkannya, lalu mengeluarkan seluruh isi sakunya ke atas meja.

Dua lembar uang lima ribu rupiah yang sudah kusam dan terlipat-lipat, tiga keping uang logam lima ratusan, dan dua keping uang logam dua ratusan berkerincing jatuh di atas kayu.

Enzo menghitung tumpukan uang logam dan kertas kusam itu dengan mata meredup. Total seluruh kekayaan pribadinya saat ini hanyalah sebelas ribu sembilan ratus rupiah.

Bahkan untuk membeli sepiring nasi warteg dan segelas teh hangat nanti siang, uang itu hanya cukup untuk sekali makan. Sementara esok malam, ia harus menyetor tiga ratus ribu rupiah penuh kepada Bu Salmah jika tidak ingin barang-barang lusuhnya dilempar ke jalanan.

Rasa pening mendadak melilit pelipis Enzo dengan sangat menyengat. Ia mendaratkan tubuhnya di tepi kasur, menyandarkan kedua sikunya di atas paha seraya meremas rambutnya yang acak-acakan. Kehidupan sebagai kuli panggul harian dan pekerja lepas tidak memberi kepastian imbalan yang cukup besar dalam waktu singkat. Pekerjaan borongan biasa hanya memberinya upah lima puluh hingga tujuh puluh ribu rupiah per hari—itu pun jika ada distributor yang membutuhkan tenaganya.

Di tengah keputusasaan yang perlahan merayap di dadanya, pandangan Enzo tak sengaja tertuju pada ponsel tua yang tergeletak di samping bantalnya.

Layar kaca retak itu membisu, namun keberadaan aplikasi misterius di dalamnya mendadak memicu sebuah pemikiran konyol di dalam kepala Enzo.

Aplikasi "Sistem Penakluk Dewi".

Selama beberapa hari terakhir, aplikasi ini telah menampilkan berbagai analisis psikologis yang sangat rumit, membongkar trauma masa lalu orang lain, melacak persentase keterikatan para wanita di sekitarnya, bahkan memberikan misi pembentukan integritas moral. Bukankah dalam kisah-kisah fiksi populer atau gim digital, sistem supernatural seperti ini biasanya memiliki fitur 'Toko Sistem', konversi poin menjadi uang tunai, atau setidaknya memberikan imbalan dana instan setelah pengguna menyelesaikan interaksi tertentu?

Enzo meraih ponsel tuanya dengan cengkeraman jemari yang agak gemetar oleh harapan samar. Ia menggeser tombol kunci, membuka antarmuka aplikasi hitam pekat tersebut, lalu menyentuh kolom pencarian internal yang biasa digunakan untuk menerima pembaruan data.

"Ada fitur pinjaman uang, konversi poin, atau hadiah tunai instan nggak dari sistem ini?" desak Enzo pelan seraya mengetik pertanyaan itu di layar kaca retaknya dengan napas memburu.

Enzo menahan napasnya, menatap layar ponsel tua itu dengan raut wajah cemas.

Selama tiga detik, layar ponselnya membisu. Namun mendadak, warna hitam antarmuka aplikasi berkedip kasar. Pendar cahaya redup itu bertransformasi cepat menjadi warna merah tembaga yang sangat tajam, disusul oleh deretan teks tebal bercahaya yang muncul dengan kecepatan mengintimidasi.

[Deteksi Permintaan Subjek: Bantuan Finansial Instan]

[Status Permintaan: DITOLAK MUTLAK]

[Pernyataan Resmi Sistem:]

[Sistem Penakluk Dewi BUKAN program peretas rekening bank, BUKAN mesin pencetak uang gaib, dan BUKAN penyedia dana hibah tanpa usaha.]

[Penjelasan Parameter: Sistem ini dirancang untuk menempa karakter, keberanian, ketegasan, dan integritas moral subjek sebagai seorang pria sejati. Memberikan uang cuma-cuma tanpa keringat hanya akan mengembalikan subjek pada sifat pemalas, pengeluh, dan pemimpi yang tidak berguna bagi dunia nyata.]

[Peringatan Keras untuk Subjek:]

[Rasa pusing, kecemasan finansial, dan tekanan hidup yang sedang Anda alami saat ini adalah realita nyata yang harus Anda hadapi dengan usaha keras dan keringat Anda sendiri.]

[Jangan pernah berharap ada keajaiban instan yang akan menyelesaikan masalah tanggung jawab pribadi Anda.]

Enzo memandangi teguran keras bercahaya merah di layarnya dalam diam. Setiap baris kalimat dingin itu menghantam otaknya tepat di pusat kesadaran.

Perlahan-lahan, sebuah senyum pahit yang penuh rasa malu mengembang di bibirnya yang kering. Enzo menyandarkan kepalanya pada dinding tembok kamar yang dingin, lalu terkekeh pelan—sebuah tawa singkat yang meremehkan kepolosannya sendiri.

"Gue bener-bener bego..." gumam Enzo seraya menggelengkan kepalanya pelan.

Bagaimana mungkin ia sempat berharap ada keajaiban gaib yang akan menyiramnya dengan uang gratisan? Jika sistem ini tiba-tiba memberinya uang tiga ratus ribu rupiah tanpa usaha keras, apa bedanya ia dengan pemuda manja yang tidak tahu arti berjuang? Apa bedanya ia dengan Clarissa yang menggantungkan seluruh rasa berharganya pada lembaran uang orang tua? Atau apa bedanya ia dengan paman Nadira yang selalu mencari uang gampang dari hasil memeras orang lain?

Sistem ini tidak pernah berbohong padanya sejak hari pertama. Sistem ini bukan alat pemuas keinginan instan, melainkan pisau bedah yang memaksa Enzo untuk menatap kekurangannya sendiri dan belajar berdiri di atas kakinya sendiri.

"Nggak ada jalan pintas," ucap Enzo tegas seraya mematikan layar ponsel tuanya dan mengantonginya ke dalam saku.

Rasa pusing di kepalanya belum hilang sepenuhnya, tetapi kepasrahan konyol yang sempat merayap tadi kini telah menguap bersih, berganti dengan keteguhan tekad yang sangat nyata.

Enzo bangkit dari kasurnya, melangkah ke kamar mandi, lalu membasuh wajah dan lehernya dengan air dingin hingga rasa kantuk dan lelahnya sirna. Ia mengeringkan wajahnya dengan handuk tipis, lalu mengenakan kemeja kusam terbaiknya yang berbau sabun batangan.

Dari meja kayu tua, Enzo menyambar kertas berisi catatan alamat gudang distributor sembako dan pangkalan bongkar muatan bahan bangunan yang kemarin sempat ia catat saat menumpang Wi-Fi kafe.

Jika satu shift pekerjaan kuli panggul harian biasa hanya memberinya upah lima puluh ribu rupiah, maka mulai pagi ini ia harus mengambil dua hingga tiga shift lembur ekstrem sekaligus. Ia harus mendatangi pasar induk sebelum siang, memanggul ratusan karung beras hingga malam, lalu menyambung pekerjaan pembongkaran semen di gudang pinggiran kota hingga fajar esok hari.

Tubuhnya mungkin akan remuk oleh rasa pegal, dan buku-buku jarinya mungkin akan lecet oleh remasan karung goni. Namun, itu adalah satu-satunya cara terhormat bagi seorang pria untuk melunasi tagihan rumahnya, mempertahankan harga dirinya, dan membuktikan bahwa ia sanggup bertahan hidup tanpa perlu mengemis keajaiban pada siapa pun.

Enzo merogoh kunci kamarnya, memutar selot besi tua hingga berbunyi *klek*, lalu melangkah keluar mengunci pintu. Sambil menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana jins lamanya, Enzo berjalan mantap menyusuri lorong kontrakan yang dingin, siap menantang terik matahari dan kerasnya kota demi menyambung hidupnya hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!