Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. SALAH PAHAM UNDANGAN
Hari Rabu sore, sebuah amplop tebal berlapis kain beludru hitam dengan cetakan timbul emas murni mendarat dengan bunyi deb pelan di atas meja pemeriksaan Lentera.
Lentera, yang saat itu baru saja selesai memeriksa dokumen rekam medis pasien rawat jalan, menatap amplop tersebut dengan dahi berkerut dalam.
Ia menyentuh permukaan beludrunya yang halus dengan ujung telunjuk, lalu mendekatkannya ke hidung.
"Bau wangi parfum mahal," gumam Lentera. "Ini pasti jenis undangan pernikahan dari salah satu profesor senior rumah sakit yang hobi pamer. Atau jangan-jangan_ undangan khitanan cucu Direktur Utama?"
Namun, begitu dia merobek segel lilin merah di bagian belakang dan menarik isinya, matanya membelalak sempurna. Huruf kapital berlapis emas murni di atas kertas konstruksi hitam itu menampar pandangannya dengan nama pengundang yang sangat dia kenal.
Sean Eagle Nugraha.
Undangan Diskusi Kasus Medis Khusus dan Evaluasi Kinerja Klinis
Tempat: Restoran Paviliun Langit
Waktu: Rabu Malam, Jam 19.00 WIB
Catatan: Harap datang tepat waktu. Kehadiran bersifat wajib.
"Evaluasi kinerja klinis? Malam-malam begini? Di restoran tertinggi di pusat kota?" Lentera menggumam sendiri dengan wajah penuh curiga. Ia membalik-balik kertas tersebut, berharap ada lampiran kertas buram berisi grafik atau poin-poin revisi SOP rumah sakit.
Nihil.
"Pasti pria kaku itu sedang merencanakan sesuatu untuk menguji otakku lagi. Atau dia mau memecatku secara estetis?"
Malam harinya, Lentera tiba di Gedung Menara Cakrawala, tempat Restoran Paviliun Langit berada. Ia mengenakan pakaian terbaik yang bisa dia temukan di lemari rumah kontrakannya—sebuah kemeja tunik katun berwarna hijau toska yang sudah agak pudar di bagian kerah, celana kain hitam longgar, dipadukan dengan flat shoes hitam setianya yang solnya sudah mulai menipis.
Begitu dia melangkah keluar dari lift khusus yang membawanya langsung ke lantai teratas gedung pencakar langit tersebut, Lentera langsung dibuat melongo. Kakinya seperti terpaku pada lantai marmer mengilat yang memantulkan cahaya lampu gantung kristal di atasnya.
Restoran itu kosong melompong. Tidak ada alunan musik hingar-bingar, tidak ada suara denting garpu dari meja lain. Yang ada hanyalah dua baris pelayan berjas rapi yang berdiri membungkuk serentak ke arahnya sepanjang koridor kaca.
"Selamat malam, Dokter Lentera. Silakan lewat sini, Tuan Sean sudah menunggu Anda," ucap salah satu pelayan dengan suara bariton yang terkesan sangat terlatih.
Lentera menelan ludah, refleks memegangi tas kain blacu miliknya lebih erat. Di ujung ruangan yang dikelilingi dinding kaca setinggi langit-langit—menghadap langsung ke arah pemandangan gemerlap lampu kota Jakarta malam hari dari ketinggian—duduk Sean Eagle Nugraha.
Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, duduk di balik meja bundar yang dipenuhi oleh lilin aroma terapi yang menyebarkan bau kayu manis dan tumpukan piring kristal yang berkilauan.
"Tuan Sean!" Lentera berjalan mendekat dengan langkah lebar.
Tanpa menunggu dipersilakan, dia langsung menarik kursi beludru di depan Sean dengan bunyi gesekan yang agak keras, kreeek, merusak suasana sunyi nan elegan yang sejak tadi dibangun di tempat itu.
Sean yang sedang menatap layar tabletnya mendongak. Pandangannya langsung terkunci pada Lentera.
Di tengah kemewahan restoran bintang lima dengan dekorasi miliaran rupiah ini, kemeja tunik hijau toska Lentera yang sederhana justru membuat kecantikan alami gadis itu tampak mencolok. Bersih, murni, tanpa kepalsuan riasan tebal.
"Bisa tolong jelaskan apa maksud dari semua ini?" Lentera langsung menodongkan pertanyaan sebelum pelayan sempat menuangkan air putih ke gelasnya. "Jika ini adalah agenda evaluasi kinerja klinis resmi dari manajemen rumah sakit, kenapa ruangannya harus dikosongkan seperti tempat kejadian perkara? Dan di mana Profesor Baskoro atau komite medis lainnya? Apa mereka diculik?"
Sean meletakkan tabletnya dengan tenang, lalu menatap Lentera lekat-lekat.
"Aku menyewa seluruh restoran ini untuk malam ini, Dokter Lentera. Agar proses diskusi kita tidak terganggu oleh kebisingan luar."
"Menyewa seluruh restoran?!" Lentera menepuk dahinya sendiri dengan ekspresi wajah yang sangat konyol, membuat matanya yang bulat berputar ke atas. "Tuan Kaku, kamu ini benar-benar tidak punya efisiensi anggaran ya! Manajemen keuanganmu minus!"
Sean mengangkat sebelah alisnya.
"Minus?"
"Iyalah! Diskusi kasus medis itu bisa dilakukan di ruang rapat rumah sakit yang gratis! Yang AC-nya sudah dingin dan listriknya sudah dibayar oleh perusahaan! Kenapa harus membuang uang ratusan juta—atau miliaran rupiah—hanya untuk menyewa tempat setinggi ini? Kalau aku tahu ini bukan rapat resmi yang dihadiri jajaran direksi, aku lebih memilih makan nasi goreng gerobak di depan gang kontrakanku bersama Bapak dan Ibu! Modal sepuluh ribu sudah kenyang sampai besok pagi!"
Sean menarik sudut bibirnya sedikit, menahan tawa rendahnya agar tidak pecah. Sudut pandang wanita di depannya ini selalu di luar nalar. Di saat wanita lain akan menjerit histeris karena terharu disewakan restoran mewah, Lentera justru menghitung kerugian finansialnya.
"Makanan di sini sudah dipesan dan tidak bisa dibatalkan," ucap Sean tenang, memberi kode dengan jentikan jari kepada pelayan. "Dan saya jamin, kadar nutrisi serta higienitas makanan di sini jauh lebih bersih daripada nasi goreng gerobakmu yang penuh debu jalanan."
"Heh, jangan menghina nasi goreng Pak Kumis ya! Itu ada suwiran ayamnya yang melimpah!" balas Lentera tidak mau kalah.
Tak lama kemudian, seorang pelayan dengan sarung tangan putih datang membawakan hidangan pembuka. Sebuah piring putih besar mendarat di depan Lentera, menyajikan potongan daging ikan salmon es yang diiris tipis, ditata melingkar mirip kelopak bunga, dengan hiasan beberapa kuntum bunga kecil berwarna ungu di atasnya.
Lentera menatap piring itu tanpa berkedip. Ia memajukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke tengah meja hingga menyisakan jarak yang cukup dekat dengan Sean. Suaranya mengecil, berbisik penuh kecemasan yang konyol.
"Tuan Sean," bisik Lentera.
"Ya?"
"Ini bunganya beneran bisa dimakan atau cuma pajangan sisa taman di depan gedung?"
Sean tertegun sejenak. Ia melihat ke arah piring Lentera, lalu kembali menatap mata Lentera yang tampak sangat serius ketakutan.
"Itu edible flower. Bunga yang memang dibudidayakan aman untuk dikonsumsi manusia."
"Oh... syukurlah." Lentera kembali menegakkan punggungnya, mengembuskan napas lega yang kentara.
"Aku kira kamu sengaja mau meracuniku pelan-pelan malam ini agar manajemen rumah sakit tidak perlu membayar insentif jaga malamku bulan depan."
"Pikiranmu penuh dengan teori konspirasi yang tidak bermutu, Dokter Lentera," gerutu Sean, menggelengkan kepalanya melihat Lentera yang langsung menusuk potongan salmon tersebut menggunakan garpu perak besarnya.
Gerakannya sama sekali tidak mengikuti etika makan kelas atas—tanpa pisau pemotong, langsung dimasukkan ke mulut dalam satu suapan besar.
Sean memperhatikan bagaimana pipi Lentera menggembung saat mengunyah. "Bagaimana rasanya?"
"Hmm... rasanya seperti... ikan mentah dingin yang diberi cuka," ucap Lentera setelah menelan makanannya. "Enak sih, tapi teksturnya aneh. Dan porsinya ini pelit sekali. Ini kalau lambungku yang terbiasa menampung karbohidrat porsi kuli melihat ini, mereka pasti menangis karena merasa digantung."
Sean mendengus pelan, sebuah tawa tipis akhirnya lolos dari bibirnya. "Ini baru hidangan pembuka, Lentera. Nanti ada hidangan utama."
Makan malam yang awalnya dirancang Sean untuk menjadi momen pendekatan yang elegan dan penuh wibawa, berubah total menjadi sebuah panggung komedi salah paham.
Kepolosan Lentera yang terus-menerus mengomentari kemewahan restoran dengan sudut pandang rakyat jelata membuat suasana yang kaku menjadi cair secara tidak terduga.
Ketika hidangan utama berupa steak daging sapi wagyu A5 disajikan, Lentera kembali melontarkan protes saat melihat ukuran dagingnya yang kecil di tengah piring yang lebar.
"Tuan Sean, piringnya besar sekali seperti lapangan sepak bola, tapi dagingnya cuma seukuran penghapus papan tulis," komentar Lentera sambil memotong dagingnya dengan kikuk. "Ini sapinya mati karena stres atau bagaimana? Kok dagingnya sedikit sekali?"
"Itu daging wagyu kualitas tertinggi, didatangkan langsung dari Jepang. Otot sapinya dipijat agar lemaknya menyebar merata," jelas Sean sabar, mulai terbiasa dengan ketidaktahuan Lentera.
"Hah? Sapinya dipijat?" Lentera menghentikan garpunya, menatap Sean dengan pandangan tidak percaya. "Beban hidup sapi di Jepang ternyata lebih enak ya daripada beban hidup dokter residen di rumah sakitmu. Saya saja kalau pegal-pegal cuma bisa minta kerokin sama Ibu pakai koin seratus rupiah dan minyak kayu putih. Sapinya malah dapat spa!"
Sean tersedak air yang sedang diminumnya. Ia terbatuk pelan, buru-buru mengambil serbet untuk mengusap bibirnya.
Wajahnya yang biasa sedingin es kini tampak sedikit bersemu merah akibat menahan tawa yang terlalu kuat.
"Makan saja dagingmu, Dokter Lentera. Jangan membandingkan dirimu dengan sapi," ujar Sean dengan suara serak yang ditahan.
"Tapi ini beneran enak banget sih," aku Lentera jujur setelah kunyahan pertama. Matanya berbinar senang, melupakan sejenak kekesalannya tentang efisiensi anggaran.
"Dagingnya langsung meleleh di mulut! Tuan Sean, apa pimpinan korporat seperti Anda setiap hari makan yang seperti ini?"
"Tidak selalu. Saya juga makan makanan biasa."
"Bohong. Paling minimal Anda makan nasi goreng yang berasnya diimpor dari Thailand dan digoreng pakai mentega dari susu kuda liar, kan?" tembak Lentera asal.
Sean hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Namun, di balik semua percekcokan tipis dan kekonyolan yang keluar dari mulut gadis itu, Sean merasakan sesuatu yang berbeda. Dinding pertahanan ego di dalam diri Lentera perlahan mulai mencair sepanjang malam ini.
Gadis itu tidak lagi menatapnya dengan pandangan penuh kewaspadaan seperti seekor kucing liar yang siap mencakar.
Lentera akhirnya mulai terbiasa dengan kehadirannya. Menerima eksistensi Sean bukan lagi sebagai sosok bos korporat yang kejam dan menakutkan yang bisa memecatnya kapan saja, melainkan sebagai seorang teman bicara yang aneh, kaku, namun entah mengapa selalu ada dan mengisi setiap sudut kehidupannya belakangan ini.
"Jadi," Lentera meminum air putihnya sampai tandas, lalu mengetuk-ngetuk jarinya ke meja marmer. "Mana dokumen evaluasi klinisku? Katanya mau diskusi kasus medis? Aku sudah siap didebat tentang diagnosis pasien gagal jantung di bangsal Melati kemarin."
Sean menyandarkan punggungnya ke kursi beludru, menatap mata Lentera yang berbinar di bawah cahaya lilin.
"Evaluasi mu malam ini sudah selesai, Dokter Lentera. Hasilnya, kamu lulus dengan predikat dokter paling berisik yang pernah saya temui."
Lentera mengerucutkan bibirnya, bersiap membalas kalimat itu dengan omelan baru yang sudah mengantre di kepala indahnya.
Yuk jangan lupa komen.