Novel ini bergenre horor komedi yang menghibur meski horor. Cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja. Termasuk cinta Mbak Kunti kepada Nurdin, bestienya yang notabene-nya manusia. Karena patah hati, Mbak Kunti pindah ke daerah lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Lubi Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT SALAH SERVER (32)
Penulis: Linda Lubi
Mumpung istri Nurdin lagi pulang kampung, apa Mbak Kunti jumpa Nurdin aja setiap hari? Tapi jangan tiap hari deh, nggak enak sama Nurdin. Nanti bisa dia masuk angin pula jika setiap malam mereka wisata kuliner. Kasihan Nurdin. Mbak Kunti juga nggak ingin Nurdin curiga.
Lebih baik Nurdin nggak tahu tentang perasaannya selama ini. Agar perbestian mereka awet selamanya. Ia juga takut Nurdin bakal membencinya jika ia tahu perasaan Mbak Kunti.
Mbak Kunti juga belum siap terluka. Ia harus membuang perasaannya jauh-jauh. Cukup mengagumi Nurdin saja. Nurdin itu tipikal suami yang setia. Padahal nggak ada Salima, tapi Nurdin nggak ada berpindah ke lain hati.
Jumpa Nurdin saja rasanya sudah bahagia. Itu sudah cukup bagi Mbak Kunti. Memendam cinta itu berat. Tapi melihat orang yang dicintai baik-baik saja itu sudah membahagiakannya.
Mbak Kunti senyum-senyum sendiri. Jarang-jarang ia bisa sebahagia ini. Jangan dikira mentang-mentang kuntilanak ia bahagia terus. Lebih banyak menderitanya juga loh. Sama kayak kehidupan manusia.
Dia juga pernah dilecehkan sebagai seekor kuntilanak. Pernah ia gentayangan di area perkampungan yang masih jauh dari moderen. Mbak Kunti lagi cari suasana baru. Berjumpa seorang pria tua. Begitu melihat bukannya pria tua itu takut, tapi ia malah membuka celananya.
"Sini kalau berani!" Ujar pria tua yang membuat Mbak Kunti lari tunggang langgang. Sampai lupa Mbak Kunti untuk terbang saja.
Ya jelaslah Mbak Kunti kabur. Mana bulunya kribo lagi. Nggak pernah dicukur kali. Mbak Kunti sampai terantuk pohon.
Belum lagi saat ia bermain di area persawahan. Ia nggak tau kalau dekat gubuk di persawahan ada orang-orangan sawah. Dia pikir hantu. Pakai topi. Baju compang camping. Berdiri dengan baju yang berkibar-kibar kena angin. Mbak Kunti malah kabur. Masa hantu takut sama hantu. Tapi Mbak Kunti jadi pinisirin. Dia balik lagi. Begitu didekati, ternyata orang-orangan sawah. Bukan hantu. Jiwa kesetanannya meronta-ronta. Merasa dilecehkan karena cuma orang-orangan sawah.
Mbak Kunti menyesap kopi penuh keharuan. Ia pikir Nurdin sudah melupakannya. Ternyata Nurdin masih sama seperti yang dulu. Humble dan kocak. Mbak Kunti meraba jidatnya lalu membuka koyoknya.
Sakin semangatnya Nurdin curhat, terkadang Mbak Kunti seperti menampung beban dan ia harus menempelkan koyok. Agar ia tidak menjambak-jambak rambut sendiri. Ia juga tidak mengerti apakah setan juga bisa sakit kepala?
Mbak Kunti sebenarnya juga pinisirin dengan bayi Nurdin. Setampan Nurdin kah bayi itu. Tapi di sisi lain ia takut jiwa penculiknya dan jiwa setannya meronta-ronta. Ia takut bayi Nurdin jadi korbannya.
Lebih baik ia bertemu bayi Nurdin setelah berusia 2 tahun ke atas. Biar wangi alaminya berkurang dulu.
Nurdin itu bestie. Jangan sampai ia mengkhianati kepercayaan Nurdin dengan membuat bayi Nurdin meninggal karena kelakuannya.
Apakah ia harus ikutan berdoa seperti manusia agar jiwa kesetanannya hilang dan tidak mengganggu bayi-bayi lagi?
Mbak Kunti seperti merasakan ada yang kurang. Tapi ia tidak tahu entah apa itu. Mbak Kunti mencoba mengingat-ingat. Tetap saja dia nggak ingat. Ihihihi.....
Keesokan paginya Emak Nurdin senang banget melihat wajah Nurdin tidak pucat lagi. Malah sudah cerah dan glowing. Nggak salah kalau Nurdin terima endorse skincare. Jadi Nurdin dan Emak pun bisa mengaplikasikan-nya dengan diri sendiri. Sesuai ekspektasi.
Emak pun sudah jarang beli karena masih punya stok dari endorse skincare. Selain dapat cuan mereka juga dapat skincare.
Padahal Nurdin tanpa skincare pun sudah tampan paripurna. Awalnya Nurdin menolak menerima endorse skincare-skincare itu. Ia takut difitnah jika ketampanannya dari modal skincare. Tapi Emak bilang endorse skincare bisa Emak gunakan tanpa harus membeli. Biar lebih hemat.
Apa boleh buat, Nurdin akhirnya setuju. Yang penting Emak senang dan kebagian juga cuannya.
"Kamu sarapan dulu, Din. Sebentar lagi kita mau Live. Emak nggak mau kamu jadi lemas karena belum sarapan."Nurdin mau komplain kalau dia belum lapar tapi takut diintrogasi Emak.
Bisa ketahuan kalau tadi malam ia dan Mbak Kunti sudah makan banyak. Bisa-bisa ia diruqiah.