NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: KAMAR YANG TIDAK PERNAH DIBUKA

Hujan pertama musim gugur turun menjelang sore, halus dan dingin, seperti seseorang yang mengetuk berkali-kali tanpa ingin dijawab.

Ruyin sedang berjalan pulang dari halaman tengah ketika butirnya mulai jatuh di pundaknya. Ia mempercepat langkah menyusuri koridor belakang, jalan sempit di balik halaman barat yang jarang dilalui, karena lebih singkat dan beratap lebih rendah. Sepanjang delapan hari di rumah ini, ia hampir selalu melewati jalan yang diantar orang. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia berjalan tanpa dipandu siapa pun.

Di ujung koridor, melewati pintu kamarnya sendiri, ada sebuah pintu kayu pendek yang selalu tertutup. Dari luar, kertas jendelanya sudah menguning dan tepinya bergelombang oleh lembap. Ia mengira itu gudang arang, seperti gudang-gudang lain di rumah bangsawan mana pun.

Hari ini pintunya terbuka sejengkal. Seorang pelayan keluar dari baliknya sambil memeluk selimut tebal yang terlipat tinggi, matanya setengah tertutup oleh tumpukan itu. Begitu melihat Ruyin, ia membungkuk terlalu dalam dan hampir menjatuhkan bebannya.

"Nona."

"Teruskan saja," kata Ruyin. "Itu untuk musim dingin?"

"Ya, Nona. Nyonya menyuruh mengeluarkan selimut dari peti sebelum hujan lebat." Pelayan itu menunduk, lalu tergesa melewatinya menuju halaman tengah. Ia lupa menutup pintu.

Ruyin berdiri menatap celah sejengkal itu sambil mendengarkan hujan di atap. Dalam pikirannya muncul satu hal yang sederhana dan agak memalukan: sejak pulang, ia sibuk menanyai tukang manisan, nyonya bangsawan, kakak, ibu, dan seorang pelayan tua tentang masa kecilnya. Ia belum sekali pun bertanya kepada rumah ini sendiri.

Ia mendorong pintu itu.

———

Ruangannya lebih luas dari dugaannya, dan lebih biasa.

Udara di dalamnya dingin dan bau kayu tua bercampur kapur barus. Cahaya sore yang kelabu masuk dari satu jendela kecil di sisi barat, jatuh di atas lantai papan yang berdebu tipis. Peti-peti kayu bertumpuk di dinding, sebagian terbuka dan separuh isinya sudah dikeluarkan: selimut, bantal, jubah musim dingin berlapis kapas. Sebuah rak bambu menyandar di sudut, penuh gulungan kain dan keranjang jahit yang tali pegangannya sudah kusam. Di atas peti paling besar, tergeletak sebuah kuda-kudaan kayu dengan satu telinga patah.

Tidak ada yang tampak rahasia. Hanya tempat orang rumah ini menyimpan benda-benda yang belum sampai hati dibuang dan belum perlu dipakai.

Ruyin berjalan pelan, menyentuh sisi peti dengan ujung jari, lalu mengamati jelaga tipis di dasar lampu minyak di rak. Ia membuka sebuah keranjang dan menemukan gulungan benang sutra yang warnanya sudah pudar. Di keranjang lain, jarum-jarum berkarat tersusun di atas bantalan beludru. Di rak tengah ada sepasang sepatu kain kecil berhiaskan sulaman kelinci, dan sebuah sempoa mungil yang butir-butirnya digosok licin oleh jari.

Ia mengambil sempoa itu dan menimbangnya di telapak tangan. Ukurannya pas untuk tangan seorang anak berumur tujuh atau delapan tahun. Ia menggeser beberapa butirnya ke kiri dan kanan. Bunyi kayu bertemu kayu terdengar renyah, dan tidak ada apa pun yang bergerak di dalam dirinya.

Itu yang mengganggunya. Sempoa ini jelas milik anak keluarga ini, dan di rumah ini hanya ada dua anak. Kuda-kudaan itu terlalu kecil untuk Yucheng, dan sepatu berhiaskan kelinci itu terlalu bersih untuk sepatu yang pernah dipakai berlari. Ia memegang semuanya dengan hati-hati, seperti memegang barang pinjaman. Tidak satu pun dari benda-benda ini membawa kenangan memakainya, tidak ada hari tertentu, tidak ada tempat tertentu. Hanya bentuk.

Ia teringat kata-kata Bibi Qin kemarin sore tentang bangau, dan ia mengakui dengan jujur pada dirinya sendiri sesuatu yang semakin sulit diabaikan: setiap kali seseorang menyerahkan sepotong masa kecilnya, bagian yang benar-benar ia kenal sendiri justru menyusut.

———

Di dasar salah satu peti yang sudah setengah kosong, di bawah selimut terakhir, ia menemukan sehelai potongan kain tua yang dilipat kecil.

Sutra, warnanya biru yang sudah hampir keabuan. Ia mengangkatnya ke arah jendela dan membukanya perlahan. Di tengahnya tersulam pola gelombang bersusun dalam benang perak yang sudah menghitam, dan di antara gelombang itu ditarik garis-garis tipis, rapat, melengkung ke arah yang sama. Sulaman yang halus. Bukan buatan tangan seorang anak.

Ia tidak pernah melihat pola itu. Itu yang ia katakan pada dirinya sendiri.

Tetapi jari telunjuknya sudah menyusuri satu garis gelombang sebelum ia memutuskan untuk melakukannya. Di luar, hujan menderas, dan bunyinya di atap mendadak terasa dekat, lebih rendah dan lebih lambat daripada beberapa saat lalu. Ada bau dupa tipis yang tidak berasal dari ruangan ini. Ada rasa hangat di telapak tangannya, seolah kain itu pernah dipegang di tangan yang sama, pada suatu hari yang ia tidak ingat, oleh seseorang yang tidak ia lihat.

Lalu hilang. Ruyin masih berdiri di tengah ruangan berdebu dengan sehelai kain di tangan dan hujan yang kembali menjadi sekadar hujan.

"Ruyin?"

———

Yucheng berdiri di ambang pintu, bahunya basah, rambutnya menempel di pelipis. Ia tampak terkejut, lebih dari sekadar kaget bertemu adiknya di tempat yang tak biasa.

"Kau di sini."

"Pintunya terbuka. Pelayan tadi lupa menutupnya." Ruyin melipat kain itu dan meletakkannya di atas peti. "Ini ruang apa, Kak?"

"Ruang simpan." Yucheng melangkah masuk, mengibaskan tetes air dari lengan jubahnya, dan menatap sekeliling seolah menilai berapa banyak yang sudah Ruyin sentuh. "Lama tidak dipakai. Ibu hanya membukanya setiap musim dingin untuk mengeluarkan selimut. Selebihnya cuma barang-barang yang tidak tahu harus dikemanakan. Kau pasti kedinginan di sini."

"Barang anak-anak juga ada."

"Barang anak-anak... ya. Punyaku dan punyamu, waktu kecil." Ia tersenyum, sedikit terlalu lembut.

"Ibu tidak tega membuangnya."

Ruyin mengangguk dan berjalan ke arah sebuah lemari kecil bersusun laci yang berdiri di bawah jendela. Ia belum menyentuhnya. Ia hanya berdiri di depannya, menatap deretan pegangan tembaga yang kusam.

"Kalau tidak tahu harus dikemanakan, kenapa tidak dibuang saja?" tanyanya ringan.

"Orang tua memang begitu. Ibu menyimpan sampai..." Yucheng ikut mendekat. Pandangannya turun ke laci kedua dari kiri, dan kata-katanya mengalir tanpa dipikirkan lebih dulu. "Hati-hati, laci kedua itu macet. Angkat sedikit sambil menarik, kalau tidak engselnya lepas. Dulu kau selalu menyimpan benangmu di sana, jadi hanya kau yang tahu caranya."

Hujan berderai di atap. Ruyin tidak bergerak.

Ia belum mengatakan bahwa satu pun benda di ruangan ini miliknya. Ia belum menyentuh lemari itu, belum membuka satu laci pun.

Yucheng menutup mulutnya. Ia tidak pucat dan tidak gagap. Ia hanya diam sesaat, memandang laci itu seperti orang yang baru sadar ia sudah menyeberangi sungai dengan sepatu basah. Ada sesuatu di wajahnya yang bukan takut. Lebih mirip kelelahan yang lama ditahan dan hampir menemukan jalan keluar.

"Ruyin..." katanya pelan.

Lalu ia menarik napas dan tersenyum, dan senyum itu kembali menjadi senyum seorang kakak. "Sup jahe sudah dihangatkan. Ibu pasti marah kalau tahu kau berdiri di ruang dingin dengan baju lembap. Ayo."

"Sebentar lagi, Kak. Aku ingin melihat kain-kain itu."

Yucheng memandangnya lama, kemudian mengangguk. "Jangan lama-lama." Ia pergi, dan langkahnya di koridor menjauh lebih cepat daripada ketika datang.

———

Ruyin menunggu sampai bunyinya hilang. Kemudian ia berlutut di depan laci kedua dan mengangkat sedikit gagangnya sambil menarik.

Laci itu bergeser dengan bunyi serak. Di dalamnya ada gulungan benang yang disusun menurut warna, jarum-jarum dalam tabung bambu, dan sepotong kertas perca. Ia menggeser semuanya dengan hati-hati. Di dasar laci, di bawah alas kertas minyak yang sudah mengeras, terselip selembar kertas tipis yang dilipat memanjang, selebar jari.

Hanya satu baris tulisan, ditulis dengan tinta hitam yang sudah mulai kecokelatan:

Jangan dikembalikan ke kamar Ruyin.

Ruyin membaca kalimat itu sekali, lalu sekali lagi, dan jemarinya mendingin di atas kertas.

Bukan singkirkan, bukan buang. Kalimat itu berbunyi seperti perintah kepada seseorang yang harus membawa sesuatu pergi, lalu menyimpannya dengan aman di tempat lain, dan memastikan benda itu tidak pernah pulang. Kamarnya dirawat setiap hari selama delapan tahun, bersih dan tertata seperti ia baru keluar sebentar. Pita merah ada di laci riasnya dan buku tulis tertinggal di rak.

Tetapi ada sesuatu yang dulu pernah berada di kamar itu, dan seseorang telah memutuskan bahwa benda itu tidak boleh kembali.

Ia tidak mengenali tulisan tangannya. Belum.

Di luar, hujan masih turun. Ruyin melipat kertas itu sekecil mungkin, menyelipkannya ke lengan baju, dan menutup laci dengan cara yang sama seperti ketika ia membukanya. Dalam benaknya terbayang kamarnya yang rapi, wajah-wajah yang menyambutnya di serambi, dan satu pikiran yang tak lagi bisa ia usir: bahwa seseorang di rumah ini bukan sekadar lupa, melainkan sudah bertahun-tahun menjaga agar sebagian masa kecilnya tidak ditemukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!