WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******
Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya
Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya
Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETAKUTAN BRAWIJAYA.
Langit membawa Alluna pulang ke mensionnya karna keadaan Alluna yang melemah saat tubuhnya dipakai oleh Allana
Sebelumnya Alluna juga sudah mengganti pakaiannya yang penuh darah itu
Langit mengikat kembali jaketnya di pinggang Alluna dia juga membantu Alluna menaiki motornya dan menarik tangan Alluna untuk memeluknya
"Jangan di lepas gue gak mau lo jatuh" ucap langit saat Alluna ingin menarik kembali tangannya yang langit lingkarkan ke perutnya sehingga saat ini Alluna memeluk pria itu
Alluna tidak menjawab dan menuruti perkataan langit dia menyandarkan kepalanya pada punggung langit
Langit tiba di depan mension mewah milik Alexander dan lagi‑lagi Alluna tertidur lelap dalam dekapannya
Rey yang saat itu juga baru sampai ke Mension melihat langit yang sedang duduk di motornya dengan Alluna yang memeluknya tanpa berniat memasuki mension
"Bang lo kenapa gak masuk" ucap Rey
"Sstt pelanin suara lo bocah luna tidur" jawab langit pelan
"Kenapa gak bawa masuk ke dalam, betah yah di peluk kak luna" tanya Rey dengan nada menyebalkan
"Kalo gue gerak dia bakal bangun, lo pikir gampang turun dari nih motor dengan posisi gini tapi gapapa sih lumayan kan rezeki" ujar langit lagi dengan nada menyebalkan yang ingin membalas Rey dan benar saja pria itu langsung kesal dengan perkataan langit
"Sini gue aja yang angkat keenakan lo di peluk kakak gue,gue aja yang adiknya jarang di peluk" ucap Rey kesal membuat langit harus menahan tawanya jika saja Alluna tidak tertidur sekarang
Rey mengangkat Alluna ala bridalstyle
"Gue gak masuk yah gue harus ke markas,salamin sama nyokap lo" ucap langit sebelum Rey masuk ke dalam
"Oke hati‑hati bang" jawab rey pelan
Langit menjalankan motornya menuju markas BRUISER karna ada hal penting yang harus mereka bahas
Setibanya di markas langit langsung memarkirkan motornya dan masuk ke dalam markas dimana di dalam sudah ada banyak anggota BRUISER dan juga Arga david dengan wajah serius
Mereka tadi memang sempat mengabari langit bahwa ada hal serius yang terjadi dengan anggota mereka
"Ada apa" tanya langit dengan muka datarnya
"Satu anggota kita dibunuh ngit" jawab Arga
"Siapa?" Tanya langit dengan wajah yang berubah dingin bahkan aura di markas mereka berubah mencekam
"Jeffry,dia di bunuh saat keluar dari markas dan ternyata beberapa hari ini ada beberapa orang asing yang memang sudah memata‑matai markas kita, sepertinya mereka lawan kita dari dunia gelap bukan dari geng motor" jawan Arga
Langit dan anggota BRUISER memang banyak ditakuti karna kesadisannya dalam membantai musuhnya di dunia gelap dan ini menjadi rahasia terbesar BRUISER, alasan langit dan teman‑temannya harus menguasai semua bela diri karna sebagian besar dari mereka termasuk langit,arga dan david adalah anak dari mantan mafia yang bekerja dan ditakuti dalam dunia gelap dan itu membuat mereka harus selalu berhati‑hati hal ini sangat di ketahui oleh ayah dan bunda langit dan juga orang tua dari anggotanya yang juga pernah menjadi seorang mafia sehingga mereka selalu mencoba menjaga langit dan anggotanya ,,namun yang tidak di ketahui bunda langit adalah langit memiliki jiwa yang bengis bahkan seperti ada iblis didalam tubuhnya sama seperti ayahnya dulu jika kemarahannya sudah melewati batas
"Mereka mencoba bermain hm" ucap langit dingin membuat semua anggotanya meneguk ludahnya kasar, jika iblis langit keluar maka akan sulit untuk menidurkannya
"Ga cari tau siapa mereka,dan yang lain tangkap mereka hidup‑hidup, sisanya gue yang akan bermain setelah pemakaman Jeffry" ujar langit tersenyum miring
Langit dan seluruh anggota BRUISER menyiapkan semua kebutuhan untuk pemakaman Jeffry salah satu sahabat mereka yang akan dilaksanakan besok, sebelumnya mereka juga sudah mengabari keluarga dari Jeffry dan mereka meminta tolong untuk membalaskan kematian anaknya,jelas saja tanpa disuruh langit akan melakukan itu,mereka terlalu jauh bermain dengan memancing iblis yang sudah lama langit tidurkan
Pukul 06:30….
Pagi ini Alluna bangun lebih lama mungkin karena energinya yang terkuras habis oleh Allana
"Kak are you okay?" Tanya rey yang melihat Alluna baru saja duduk di meja makan
"Hm,aku baik" jawab Alluna
"Kak mereka…." Ucapan Rey terpotong oleh Alluna
"Brawijaya " ucap Alluna cepat
"Kakak udah tau?" Tanya rey terkejut pasalnya dia belum menceritakannya
"Hm,Wijaya company" sambung Alluna lagi
"Jangan bilang kak Allana habis bersenang‑senang " ujar Rey tak santai yang hanya mendapat anggukan Alluna
"Ahh kakak luna kenapa gak bilang coba tau gitu aku gak usah begadang beberapa hari ini jika kakak dengan mudah mendapatkannya" ucap Rey lagi dengan kesal
"Rey makan sarapan kamu gak usah ngomel ke kakak kamu kaya gitu kalian mau telat ha" ucap mamanya garang
"Iya mah iya belain aja trus kak luna" ujar Rey kesal
"Kalau sudah balikin" ujar Alluna yang melemparkan Rey kartu berwarna hitam miliknya dan reflek Rey menangkap kartu itu setelah itu senyuman lebar terpampang jelas di wajah lelaki tampan itu
"Kakak emang selalu terbaik" ucap Rey memandang dengan mata berbinar kartu yang sedang ia pegang namun itu tidak lama setelah wajahnya kembali tertekuk kesal oleh ulah mamanya
"Berhenti manjain adik kamu lun, mama dengan sengaja nyita kartu kreditnya dan ngurangin jajannya biar dia tidak boros jadi jangan hancurin rencana mama" ujar mama melani garang dan dengan tidak berperi‑keanakan mengambil kartu itu dari tangan Rey dan mengembalikannya ke Alluna
"Yah mama " ucap Rey mengerucutkan bibirnya
"Disekolah aja tingkahnya kaya cowok cool padahal ini menye‑menye dasar manja " ledek papanya
"Jangan nyebelin deh pah,papa juga gitu" jawab Rey masih dengan wajah kesalnya
"Luna pamit mah,pah" ucap Alluna dan menyalami orang tua angkatnya
"Rey juga mau lari aja dari rumah ini" ujar rey dengan wajah di tekuk dan kaki yang sengaja dia hentakaan keras membuat kedua orang tuanya menggelengkan kepalanya
Alluna sampai di sekolahnya dia sedikit bingung saat tidak melihat batang hidung anak BRUISER yang selalu berada di parkiran namun dia tidak ambil pusing dan langsung berjalan menuju kelasnya namun langkahnya harus terhenti karena terhalang oleh naumi dan juga curutnya
Alluna hanya memandang datar mereka yang terlihat menyilangkan tangannya di depan dada
"Gue peringatin yah jauhin Langit dia itu punya gue" teriak Naumi
"Jauhin juga Rey,dia hanya cocok untuk gue bukan lo" sambung siska
"Emang kalian udah jadian yah kok gak bilang ke melly sih" ucap melly polos mendapatkan tatapan tajam dari Naumi dan Siska
"Bahkan temen lo tau lo berdua Halu" ucap datar Alluna
"Lo.." tangan Siska baru saja Akan menampar Alluna jika suara orang yang dia sukai tidak mendekati mereka
"Hai cantik" ucap Rey yang baru saja tiba dan dengan santainya merangkul bahu Alluna
Disekolah itu memang hanya Langit Arga David Lisa dan juga Alfin yang tahu jika Rey adalah adik Alluna
"Rey kamu ngapain sih deketin cewek barbar ini,dia gak baik loh untuk kamu" ucap siska sok baik
"Tapi gue suka gimana dong" ucap Rey lagi
"Sadar rey dia perempuan kasar tau gak" kesal siska
"Mau aku antar ke kelas gak?" Tanya Rey pada Alluna
"Hm" jawab singkat Alluna namun sebelum pergi Alluna mendekatkan wajahnya di tengah‑tengah antara Naumi dan siska
"Ups kalah lagi kan" bisik Alluna membuat tangan Naumi dan juga siska terkepal kuat
"Rey ke kelas yah kak baybay" ucap Rey pelan setelah mengantar kakaknya di depan kelas tidak lupa dengan ciuman di pipi Alluna membuat para kaum jantan dan betina yang melihat itu iri sangat iri
"Lucu juga ekspresi mereka" bisik lisa pada Alluna yang sudah duduk disebelahnya
"Pulang ini mau jenguk Alfin gak?" Tanya Alluna
"Mau,nanti gue izin setengah hari kita jenguknya pulang sekolah aja yah" ucap Lisa semangat
"Iyaa bawel" jawab Alluna
Pelajaran mereka dimulai, Alluna merasa bingung dengan ketidak hadiran langit di sekolah,bahkan bukan cuma langit tapi anggota inti BRUISER juga gak ada
"Mereka gak hadir" bisik lisa pelan ke alluna saat dia melihat alluna memandang cepat kursi mereka
"Gue tau" jawab singkat alluna
"Sepertinya mereka ada masalah gak sih buktinya gak hadir bersamaan biasanya kalo bolos pasti tasnya ada di kelas" jawab lisa pelan
"Tau banget lo,suka sama salah satu dari mereka hm?" Tanya Alluna dengan nada menyebalkan membuat lisa menggerutu kesal dengan pelan
Tanpa terasa saat ini sudah memasuki jam pulang sekolah Alluna dan lisa berencana untuk menjenguk Alfin yang dari kemarin sudah sadarkan diri
Alluna dan lisa berjalan di koridor sekolah menuju parkiran namun langkahnya terhenti saat beberapa pria berdiri di depannya
Alluna menatap datar pria yang sedang tersenyum manis di depannya ini
"Hai lun,pulang bareng yuk" ajak Aldo
"Gue bareng lisa" jawab Alluna singkat
"Sekali aja" ucap Aldo dengan sedikit memaksa
"Gak" jawab Alluna
"Yaudah gue bakal gangguin lo terus,bakal ngikutin lo dari sekarang" ucap Aldo tersenyum
"Serah lo" ucap Alluna dan berjalan meninggalkan Aldo
saat ini Alluna dan lisa sudah berada di parkiran sekolah tepatnya di samping motor luna
"Lun dia beneran ikutin kita" bisik lisa saat melihat Aldo yang berada di belakangnya dan siap menaiki motornya untuk mengikuti Alluna
"Sial kenapa gue gak bisa tenang sehari sih" gerutuh alluna yang di dengar lisa
"Siapa suruh lo cantik" cengir lisa
Alluna yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya pergi mendatangi Aldo yang saat ini duduk di motornya dalam keadaan menyala bersiap untuk mengikuti alluna
"Mau lo apa" ucap Alluna penuh penekanan
"Pulang bareng gue" jawab aldo tanpa takut
"Sial ribet banget hidup gue anj*ng" batin Alluna
"Gimana? Atau lo mau gue ikutin terus hm?" Ucap aldo yang mencodongkan wajahnya ke Alluna
"Besok atau tidak sama sekali" jawab Alluna yang mengalah atau dia tidak akan bisa melihat keadaan alfin hari ini
"Deal, siniin hp lo" pinta Aldo tapi tidak mendapat pergerakan apapun oleh alluna selain melihat alluna yang menaikan sebelah alisnya
"Gue jemput lo besok pagi cantik" ucap Aldo gemas
Mau tidak mau alluna memberikan hpnya dan aldo mengetikan nomornya disana serta mengambil nomor Alluna
"Sampai jumpa besok cantik" ucap Aldo mengacak gemas rambut Alluna
"Sial" ucap Alluna dan segera kembali ke motornya dan membawa dirinya serta lisa menuju rumah sakit tempat Alfin di rawat tidak lupa membeli buah tangan untuk Alfin
Tok tok tok
Bi asih mendengar suara ketukan pintu di ruangan Alfin dan membukanya cepat
"Nak luna silahkan masuk" ucap bi Asih lembut
"Siang bu" ucap luna menyalami bi Asih
"Lisa tante temennya luna" ucap lisa yang menyalami bi Asih
"Panggil ibu saja nak lisa" jawab bi Asih lembut yang mendapat anggukan dari lisa
"Papa saya menitipkan ini untuk ibu dan Alfin" bohong Alluna padahal dirinya lah yang sengaja membelikan banyak makanan dan buah untuk bi Asih dan juga adiknya.
"Ya ampun maaf merepotkan nak, ibu titip terimakasih banyak untuk papa kamu nak" ucap tulus bi Asih yang di balas anggukan oleh alluna
Alfin yang tadinya ingin tertidur segera membuka matanya dan mendudukan dirinya entah kenapa saat mendengar nama luna yang datang dia begitu senang
"Kak luna" ucap Alfin tersenyum
"Kalau begitu ibu tinggal dulu yah nak,ibu harus bertemu dokter untuk menanyakan kapan kamu bisa pulang seperti keinginanmu" ucap bi Asih pada Alfin
"Iya Bu terimakasih" jawab Alfin
"Nak luna,nak lisa ibu titip Alfin sebentar yah" ucap bi Asih
"Iya bu" jawab lisa
Alfin masih tersenyum memandang Alluna yang berada di depannya saat ini
"Gimana keadaan kamu hm" ucap Alluna merapikan sedikit rambut Alfin membuat Alfin tertegun
"A‑aku baik kak" jawab Alfin gugup sungguh hatinya terasa nyaman dengan perlakuan luna
"Kamu kenapa minta pulang cepet" kali ini lisa yang bertanya dia berusaha menghilangkan kecanggungan Alfin dan luna karena perlakuan luna tadi
"Aku bosan kak disini lagian keadaan aku juga sudah sangat membaik" jawab Alfin tersenyum
"Hai semuaaaaaa" sapa heboh Rey yang baru saja tiba
"Loh kakak disini" ucap Rey terkejut pasalnya dia akan mengabari kakaknya setelah melihat keadaan Alfin
"Hm,kakak bawahin titipan papa tadi" jawab luna menunjuk banyaknya bingkisan yang dia bawa
Rey paham jika itu hanya alibi kakaknya
"Oh gitu,jadi gimana fin lo jadi gue antar pulang?" Tanya Rey yang memang sudah di beritahu oleh alfin bahwa dia ingin pulang
"Ibu lagi ngomong ke dokternya Rey" jawab Alfin
Drttt drrrttt
Bunyi handphone Alluna mengalihkan atensi mereka semua, Alluna berjalan mundur sedikit menjauh dari mereka dan berdiri di dekat jendela yang memperlihatkan taman di rumah sakit itu
"Ada apa" ucap Alluna pelan yang masih memandang Alfin,lisa dan juga Rey yang sedang asik bercanda ria, ternyata lisa bisa dengan mudah akrab dengan adiknya
"Nona muda bingkisan itu sudah sampai ke tuan Brawijaya" ucap seseorang di seberang sana
"Bagus,pastikan dia merasa terancam" sambung Alluna yang tersenyum melihat kelakuan adik kandungnya yang sama absurdnya jika sudah bersama Rey
"Baik nona muda"
Alluna mematikan telfonnya dan ikut bergabung dengan mereka
Di Wijaya Company…..
Tepatnya di ruangan khusus tuan Brawijaya
Tok tok
"Masuk" jawab tuan Brawijaya
"Tuan ada paket untuk anda" ucap asisten tuan Brawijaya
"Siapa yang mengirimnya" tanya Brawijaya
"Tidak ada nama pengirimnya tuan,hanya saja mereka mengatakan ini sangat penting dan di khususkan untuk anda" jawabnya
"Letakan dan buka dengan hati‑hati " ucap Brawijaya yang juga merasa penasaran
Pria yang menjabat sebagai asisten pribadi tuan Brawijaya meletakan satu kotak bingkisan berwarna hitam ukuran besar dengan pita merah terikat cantik di kotak itu
Dengan perlahan dan dihadapan tuan Brawijaya bingkisan itu berhasil di buka dan mampu membuat tuan Brawijaya dan asistennya terjatuh kebelakang karna terkejut
"Sial siapa yang mengirim ini" teriak Brawija keras bahkan dirinya sudah menutup mulutnya karna merasa mual melihatnya bagaimana dia tidak terkejut jika di depannya saat ini terdapat 3 kepala yang di hias ikatan pita berwarna merah dengan darah yang belum kering sempurna
"T‑tuan ada S‑suratnya" ucap asisten itu takut saat melihat sebuah surat di sebelah salah satu kepala itu
"Ambil surat itu dan berikan padaku" perintah Brawijaya
Mau tak mau asistennya memaksakan dirinya mengambil surat itu dan memberikannya kepada Brawijaya
"Hai tua bangka bagaimana kejutanku,sangat cantik bukan,ini baru peringatan awal untukmu jika kau berani menyentuh adikku lagi bukan hanya semua kepala anak buahmu yang ku penggal,tapi juga kepalamu dan juga keluarga bahagiamu itu
Dari seseorang yang selama ini kalian cari:
Anak sulung Albertson Thomson "
atmosfer di dalam ruangan Brawijaya berubah mencekam, tubuhnya menegang bahkan tangannya bergetar memegang surat itu,bibirnya keluh seolah kata yang akan keluar sangat sulit di ucapkan
Lama dengan keterdiamannya, dirinya mencoba menenangkan diri
"Sial dimana anak itu dan bagaimana wujudnya dia bisa saja membahayakanku" ucap Brawijaya
"Singkirkan itu semua dari hadapanku sialan" teriaknya pada asistennya yang terkejut dan langsung meminta bantuan dari beberapa pengawalnya untuk menyingkirkan itu semua
Dengan panik tuan Brawijaya menghubungi seseorang di seberang sana
"Sial apa kau tau apa yang aku dapatkan hari ini,kepala anak buahku dikirim tepat di hadapanku oleh anak sulung Albertson" teriak BRAWIJA frustasi
"Tenangkan dirimu apa yang kau katakan" ucap pria lain disana
"Bukan aku yang merencanakannya bahkan itu tidak ada dalam rencana kita tapi kenapa aku yang harus dirugikan disini,kau tau anak sulung Albertson juga masih hidup bahkan dia mengancamku,dia bisa merusak reputasiku dan juga keluarga ku sialan" teriak Brawijaya frustasi dan ketakutan
"Tenangkan dirimu kita bertemu di tempat biasa dan membicarakan semuanya bersama" jawab orang itu lagi
Mau tidak mau Brawijaya menyetujuinya
"Sialan jika aku hancur kalian juga harus hancur bersamaku" ucap Brawijaya dengan rahang mengeras.