NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:653
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 35

BAB 35

Keesokan harinya menjelang tengah hari, suasana di studio Maya terasa sibuk namun jauh lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Dito sedang memeriksa faktur pembelian bahan di sudut meja komputer, sementara Nia sibuk menata susunan papan suasana pendukung untuk dipresentasikan di depan juri teknis.

"Gila sih, Maya," Dito membuka suara sambil menggeser kursinya. "Suntikan dana dari konsorsium mitra Rendra kemarin bener-bener nyelametin napas kita. Aku sampai kaget pas cek saldo operasional pagi tadi."

"Baguslah kalau gitu," sahut Maya yang sedang memotong benang sisa di klem dada. "Tapi jangan jemawa. Fokus kita sekarang cuma pengeluaran buat peragaan H-1."

Nia mengangguk setuju, lalu mengetuk layar tabletnya. "Soal foto yang disebar di media sosial itu, Maya... hasil penelusuran tim internal kita makin jelas. Akun bodong yang sebar foto kamu sama sosok REN itu alamat IP-nya mengarah ke jaringan agensi humas yang disewa grupnya Clarissa."

"Sesuai dugaan," gumam Maya tanpa menghentikan jemarinya. "Mereka mau menggiring opini kalau aku main belakang sama REN buat dapat bocoran desain."

"Tapi tenang saja," timpal Dito seraya tertawa pelan. "Isu itu makin redup gara-gara karya tempaan logam kamu malah panen pujian di pengujian laboratorium kemarin."

"Lagian aneh-aneh aja rumornya," cetus Nia tertawa kecil sambil menyenggol bahu Dito. "Mana mungkin Maya main gila sama REN, orang tiap hari di studio matanya cuma melotot ke draf Rendra sama mesin jahit!"

"Hus! Ngawur kamu, Nia," sergah Maya dengan pipi yang mendadak terasa sedikit hangat, memancing gelak tawa kecil dari Dito dan Nia di ruang kerja yang senyap itu.

Di tengah gelak tawa itu, pintu studio bergeser pelan. Pintu terbuka memperlihatkan Rendra yang melangkah masuk bersama seorang wanita muda berambut sebahu yang mengapit map kulit hitam.

"Maya, ini Fani. Dia yang bantu merekap ukuran kelim dan kekuatan struktur logam untuk pengujian internal sore nanti," kata Rendra memperkenalkan wanita itu yang bernama Fani, asisten riset independen dari Lembaga Kriya Logam Nusantara yang disewa khusus oleh Bengkel Pencagai untuk membantu kalkulasi teknis internal Rendra.

"Halo, Mbak Maya. Suatu kehormatan bisa bantu perakitan ini," sapa Fani ramah, menyerahkan map teknis ke meja.

Fani lalu berbalik ke arah Rendra, menunjukkan lembar kalkulasi presisi di tabletnya. "Mas Rendra, angka toleransi muai panas untuk klem tembaga bagian bahu sudah aku hitung ulang memakai standar material tempa. Struktur kurvanya juga sudah aku cocokkan dengan pola dasar gaun Mbak Maya tanpa perlu merusak lipatan sutranya."

Rendra menerima tablet itu, matanya menyipit membaca deretan angka presisi tersebut, lalu mengangguk tipis—sebuah anggukan apresiatif yang amat jarang ia berikan. "Hitunganmu presisi, Fani. Kamu paham betul cara kerja klem tanpa harus dijelaskan dua kali," puji Rendra singkat.

Melihat betapa cepat dan mulusnya komunikasi teknis di antara Rendra dan Fani—tanpa perlu perdebatan sengit atau ketegangan seperti yang biasa terjadi antara dirinya dan Rendra—ada sengatan halus yang mendadak menghantam dada Maya. Sebuah rasa tidak nyaman yang merayap cepat. Maya menatap keakraban itu, lalu menyadari satu hal yang selama ini ia sangkal: ia cemburu bukan karena interaksi fisik yang murah, melainkan karena ia takut posisi dan keterikatan jiwanya dalam karya bersama Rendra tergeser oleh orang lain.

"Terima kasih atas kalkulasinya, Fani," potong Maya tenang, yang kemudian, mengalihkan fokus pembicaraan kembali ke topik inti. "Tapi kita harus langsung integrasikan data ini ke manekin utama sekarang. Dito, tolong bantu Fani salin datanya."

Rendra sempat melirik ke arah Maya, menangkap perubahan intonasi dan kilat mata Maya yang menajam. Sebuah senyum tipis yang amat samar terbit di sudut bibir Rendra, seolah menyadari riak emosi yang baru saja membakar dada wanita di hadapannya itu.

Rendra kemudian merapikan gulungan drafnya dan melirik jam tangan. "Aku harus pergi sekarang ada urusan mendesak di luar," ujar Rendra singkat pada Maya dan timnya. "Fani, tinggal di sini sebentar untuk bantu Dito menyalin data akhir. Jangan sampai ada kalkulasi yang terlewat."

Rendra melangkah keluar studio lebih dulu dengan tergesa, meninggalkan studio yang kembali hening. Maya menatap pintu studio yang tertutup rapat, menyisakan kekosongan aneh di dadanya setelah keberangkatan Rendra.

Maya menggeleng pelan menguasai diri, lalu melirik jam dinding di atas pintu yang menunjukkan pukul setengah satu lewat. "Sudah mau jam satu. Nia, ayo ikut. Mas Rian sudah menunggu di Rumah Makan Seafood 99."

Rumah Makan Seafood 99 siang itu mulai dipadati pengunjung jam makan siang. Aroma gurih bumbu bakaran saus tiram, ketukan kuali besi dari dapur terbuka, serta gemuruh pendingin udara menyalut riuk aktivitas restoran. Ruang utama restoran menyajikan perpaduan nuansa Jawa klasik dengan tiang-tiang kayu jati ukir dan gemericik air pancuran batu, dipadukan dengan sentuhan interior klasik yang elegan.

Di bilik paling ujung yang agak terlindung hiasan akuarium besar, Rian duduk berseberangan dengan seorang pria bertubuh tegap yang mengenakan jaket kulit hitam dan topi pet gelap yang ditarik agak rendah. Di atas meja kayu tempat mereka duduk, beberapa lembar dokumen jaringan distribusi kain dan peta hukum konsorsium Victor terhampar.

"Jalur pasokan darurat dari Semarang sudah aku kunci atas nama holding-ku," bisik Rian dengan nada rendah yang sangat tegas. "Victor tidak akan bisa menyentuh kain sutra pengganti itu."

Pria di hadapannya mengangguk tipis, jemarinya yang kekar mengusap cangkir teh hangat. "Pastikan kain itu sampai di studio Maya sebelum besok subuh. Dan soal posisi... aku sudah siap melepaskan segalanya kalau situasi di backstage memburuk."

"Kamu yakin?" Rian menatap pria itu tajam. "Kamu mengorbankan posisi yang sudah kamu bangun bertahun-tahun."

"Demi gaun itu utuh di panggung, Rian," sahut pria itu pelan namun tanpa ragu. "Aku tidak peduli soal posisi."

Rian menarik napas dalam-dalam, lalu menepuk bahu pria di hadapannya saat melihat pergerakan di pintu depan. "Dia sudah sampai. Kamu harus jalan sekarang."

Pria bertopi pet itu berdiri tenang, merapikan jaketnya, lalu melangkah memutar melewati lorong samping. Saat Rian melambaikan tangan ke arah pintu utama, ia sempat menyapa pelan pria yang melintas di sampingnya. "Ingat pembicaraan kita tadi, REN."

Tepat di saat yang sama, Maya dan Nia melangkah masuk melewati pintu ukir rumah makan. Pandangan Maya secara intuitif tertangkap oleh sosok pria berjaket kulit hitam yang baru saja beranjak meninggalkan meja kakaknya dari kejauhan. Pria itu berjalan membelakangi mereka dengan langkah tegap dan cermat, hilang di balik tirai pintu keluar belakang.

Maya menghentikan langkahnya sejenak, matanya memicing menatap punggung itu. Perawakan, cara berjalan, serta bidang bahunya terasa sangat familier di matanya—sebuah gestur tubuh yang seperti sering ia lihat di suatu tempat. Apalagi, samar-samar di antara bising derak restoran, pendengarannya sempat menangkap pecahan kata dari pamitan kakaknya tadi.

...REN?

"Maya? Malah berdiri di tengah jalan. Ayo," tegur Nia pelan sembari menyikut lengan Maya.

Maya tersentak kecil, mengedipkan matanya rapat-rapat lalu melangkah kea rah Meja kakaknya.

Begitu mereka bertiga duduk, seorang pelayan meletakkan cangkir-cangkir teh hangat serta nampan piring saji berisi gurame bakar dan cumi saus padang yang berasap tipis. Rian menggeser piring-piring itu ke tengah meja, lalu menyandarkan kedua sikunya di atas taplak.

"Makan dulu sedikit," ujar Rian tenang. "Biar otakmu tidak tegang terus, May."

Maya menuangkan teh hangat ke cangkirnya, matanya menatap lurus sang kakak. "Mas Rian tidak usah basa-basi. Semalam Mas bilang vendor utama membatalkan pasokan sutra cadangan kita sepihak karena Victor main belakang. Gimana peta risikonya sekarang?"

Rian meminum tehnya perlahan, menyerap pertanyaan tajam adiknya tanpa terburu-buru. "Victor memakai klausul buyout penalti," kata Rian dengan suara rendah namun jernih. "Dia rela membayar denda dua kali lipat ke distributor kain langgananmu di Bandung cuma untuk memborong seluruh sisa rol mulberry silk grade A yang tersisa di pasaran lokal. Tujuannya cuma satu: bikin kamu panik di H-5, tidak punya bahan cadangan kalau gaun utamamu kenapa-napa saat uji panggung."

Maya mendengus tipis, jemarinya mengetuk pinggiran cangkir porselen. "Langkah murahan. Tapi secara operasional, itu celah berbahaya. Nia, rekap stok kain kita di studio tinggal berapa yard?"

Nia yang sejak tadi memegang buku catatan kecilnya mendongak, menyendok sedikit nasi sebelum menjawab dengan cermat. "Sisa kain sutra mentah yang sudah terikat klem di manekin itu pas-pasan untuk satu stel utuh, Maya," papar Nia realistis. "Kalaupun ada sisa di rak, itu cuma perca sisa potong pola awal. Kalau sampai ada robekan teknis saat latihan peragaan atau klem tembaganya menggores serat saat passing terakhir... kita tidak punya bahan cadangan sama sekali."

"Artinya kamu berada di batas margin eror nol persen," timpal Rian, menatap Maya tajam.

Maya mengepalkan tangannya di bawah meja, membayangkan sabotase halus Victor dan ganjalan materi yang dihadapi timnya. Namun di tengah kecemasan itu, wajah Rendra mendadak melintas di benaknya—keteguhan pria itu di bengkel tempa, caranya membela para pengrajin, serta tatapan matanya saat mengakui perasaannya semalam.

"Aku tidak akan membiarkan Victor menang cuma karena urusan lembaran kain, Mas," tegas Maya, matanya menyala.

Namun, belum sempat Rian menjawab, ponsel di saku jas Rian mendadak bergetar hebat. Rian mengangkatnya, mendengarkan laporan di seberang saluran selama lima detik, sebelum ekspresi wajahnya berubah sangat dingin.

"Apa yang terjadi, Mas?" tanya Maya cemas, melihat perubahan raut wajah kakaknya.

Rian menurunkan ponselnya, menatap Maya dan Nia dengan tatapan tajam yang dipenuhi keheningan mencekam.

"Truk logistik khusus yang membawa lima rol sutra cadangan darurat dari Semarang baru saja diadang oleh dua minibus gelap tepat di mulut gerbang tol batas kota," bisik Rian dengan nada rendah yang sarat ancaman. "Pintu boks belakangnya dipaksa buka, dan seluruh muatan kain cadanganmu sedang disiram cairan asam pekat di tempat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!