NovelToon NovelToon
Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:48.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

“Umi…” Kayla tiba-tiba berbalik menghadap Anisa. Wajahnya yang biasanya penuh ekspresi kini terlihat sungguh-sungguh.

“Iya, Nak?” Anisa menyahut lembut.

“Maafin Kayla ya,” ucap Kayla lirih sambil menunduk. “Kalau baju Kayla… udah nggak sopan.”

Anisa tersenyum, menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Nak. Yang penting kamu selamat. Lain kali lebih hati-hati ya.”

Hati Kayla terasa menghangat, asing, tapi nyaman. “Makasih ya, Umi. Makasih juga, Fatimah.”

“Sama-sama, Mbak,” jawab Fatimah ceria. “Kapan-kapan main ke sini lagi ya.”

Kayla tersenyum kecil, lalu buru-buru membuka pintu mobil dan masuk. Pipi nya terasa panas. Entah karena matahari pagi atau rasa malu menyadari betapa kontrasnya penampilannya dengan lingkungan pondok pesantren itu.

Mesin mobil menyala. Kayla melirik sekali lagi ke arah rumah ndalem sebelum akhirnya melaju pergi.

Ia tak tahu kenapa, tapi pagi itu di tempat yang sama sekali asing ada sesuatu yang tertinggal di dadanya. Sesuatu yang pelan-pelan mengusik, mengganggu, dan entah kenapa… terasa ingin ia pahami lebih jauh.

Di dalam mobil, Kayla menyetir dengan pikiran yang berantakan.

Tangannya menggenggam setir lebih erat dari biasanya. Jalanan Surabaya pagi itu cukup lengang, namun kepalanya justru riuh oleh suara hatinya sendiri.

Bodoh banget sih aku… Kayla mendecak kesal, menatap pantulan wajahnya di kaca spion. Celana pendek, tanktop, kardigan tipis, penampilan yang selama ini tak pernah ia permasalahkan.

Selama bertahun-tahun, ia terbiasa tampil apa adanya, bahkan sering kali sengaja tampil berani.

Dia bukan tipe yang peduli omongan orang.

Dulu, Kayla pernah membeli baju seharga lima belas ribu rupiah di pinggir jalan. Dan dia baik-baik saja. Bahkan baju itu ia pakai ke club malam, Ia Tidak minder, tidak malu. Ia tetap berjalan dengan kepala tegak dan senyum percaya diri.

Baginya, harga dan penilaian orang lain tidak pernah penting.

Tapi hari ini… berbeda.

Entah kenapa, di hadapan Umi Anisa dan Fatimah, dadanya terasa sesak oleh rasa yang asing. Malu. Bukan karena bajunya murah, Jika dipikir, baju yang ia pakai bahkan nilainya lebih dari sepuluh juta.

Tapi, entah kenapa ia merasa begitu minder. Mereka begitu rapi. Begitu tenang. Begitu bersih, bukan hanya dari segi pakaian, tapi juga dari sorot mata dan tutur kata.

Sedangkan dirinya datang dengan tubuh terbuka, rambut berwarna mencolok, dan masa lalu yang bahkan ia sendiri enggan mengingatnya terlalu lama.

Kayla menghela napas panjang.

Kenapa sih aku jadi kepikiran gini?

Biasanya juga bodo amat…

Ia menggeleng, mencoba mengusir perasaan itu. Tapi bayangan wajah Anisa yang tersenyum lembut dan Fatimah yang ramah terus terlintas di kepalanya. Tidak ada tatapan menghakimi. Tidak ada sindiran. Justru itu yang membuat Kayla semakin merasa kecil.

Dan laki-laki itu.

Hanan.

Cara dia menunduk. Cara dia menjaga pandangan. Cara dia memilih diam dibanding membuat Kayla merasa tidak nyaman.

‘Kenapa juga aku bisa dibawa ke pondok pesantren sih?’ pikir Kayla kesal.

Dari sekian banyak rumah di Surabaya, dari sekian banyak orang yang bisa menolongnya, kenapa justru ke tempat itu? Tempat yang bahkan tak pernah ada dalam daftar hidupnya.

Kayla menekan gas sedikit lebih dalam.

Ia merasa seperti orang asing yang tersesat ke dunia yang bukan miliknya. Dunia yang rapi, teratur, penuh aturan sementara hidupnya sendiri selama ini berantakan tapi bebas.

Namun anehnya, di tengah rasa malu dan kesalnya, ada satu perasaan lain yang pelan-pelan menyusup.

Penasaran.

Tentang rumah itu. Tentang ketenangan yang ia rasakan semalam. Tentang laki-laki bersarung yang bahkan tak berani menatap wajahnya. Kayla menghela napas lagi, lebih pelan kali ini.

“Cuma kebetulan,” gumamnya pada diri sendiri. “Nggak lebih.”

Mobil terus melaju, menjauh dari pondok pesantren. Tapi tanpa Kayla sadari, hatinya justru sedang perlahan tertarik kembali ke sana.

**

Hari demi hari berganti. Tanpa terasa, setelah seminggu penuh menghabiskan waktu di Surabaya, Kayla akhirnya bersiap kembali ke Jakarta.

Eyang Narti duduk di kursi rodanya, menatap cucunya dengan sorot mata yang berat ditinggal. Tangannya menggenggam tangan Kayla lebih lama dari biasanya.

“Nduk… apa kamu nggak di sini aja sama Eyang?” ucapnya pelan, hampir seperti memohon.

Kayla tersenyum, berusaha terlihat santai meski dadanya terasa menghangat. “Eyang… Kayla kan masih kuliah. Kalau Kayla di sini terus, nanti kuliah Kayla gimana?”

“Tapi kamu di sana sendirian, Nduk,” suara Eyang bergetar.

“Kayla udah biasa, Eyang,” jawab Kayla lembut. Ia mengusap punggung tangan Eyang pelan. “Nanti kalau ada waktu, Kayla ke sini lagi. Janji.”

Eyang Narti menghela napas panjang. “Ya sudahlah…”

Pamit pun dilakukan dengan pelukan singkat namun penuh rasa. Tak lama kemudian, Om Arman mengantar Kayla menuju bandara.

Suasana bandara cukup ramai. Orang-orang berlalu-lalang dengan koper dan wajah lelah, suara pengumuman terdengar bersahut-sahutan.

‘’Ya udah Om, Kayla sudah bisa sendiri kok. Makasih ya Om, udah anterin Kayla,”

‘’Kamu hati hati. Kalau ada apa apa, jangan sungkan telfon Om. Jangan sendiri! Kamu itu perempuan Kay,’’

‘’Iya iya Om. Kayla janji, nanti pokoknya akan sering telfon Om sama Eyang!’’

‘’Ya udah, om pulang ya,”

‘’Ok Om,”

Setelah memastikan om Arman pergi. Kayla berjalan mendorong koper nya, hingga tiba-tiba langkahnya terhenti.

“Umi!”

Tanpa sadar, Kayla berlari kecil menghampiri sosok yang sangat ia kenal. Wanita paruh baya itu menoleh, lalu tersenyum teduh.

“Assalamualaikum, Kayla…” sapa Anisa hangat.

“Waalaikumsalam,” Kayla terkekeh kecil, sedikit canggung. “Maaf, Umi, hehehe…”

Namun Anisa hanya tersenyum, senyum yang selalu terasa menenangkan.

“Kok Umi di sini?” tanya Kayla penasaran. “Umi mau ke mana?”

“Umi mau ke Jakarta, Nak. Kamu?”

“Kayla juga mau pulang, Umi.”

Anisa mengangguk pelan. “MasyaAllah, kebetulan ya.”

Kayla melirik ke sekeliling. “Umi sama siapa?”

“Sama—”

“Umi!” Suara laki-laki itu membuat Anisa dan Kayla menoleh bersamaan.

Deg.

Jantung Kayla berdegup keras tanpa aba-aba. Entah kenapa, setiap kali melihat laki-laki itu, tubuhnya selalu bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat menata diri.

Hanan berdiri beberapa langkah di belakang Anisa, membawa tas kecil. Penampilannya tetap sederhana, rapi, dan menenangkan.

“Umi sama Hanan,” jawab Anisa.

Kayla mengangguk kecil. Tatapan Hanan sempat singgah padanya hanya satu detik lalu kembali berpaling, seperti biasa.

Kayla menunduk, refleks menilai dirinya sendiri. Hari ini ia mengenakan jins panjang, hoodie longgar, dan topi. Pakaian yang jauh lebih tertutup dari biasanya.

Namun menyadari Hanan kembali menjaga jarak pandang, Kayla spontan menarik tudung hoodie dan menutup kepalanya.

Entah kenapa… ia ingin.

“Assalamualaikum, Mas Hanan,” sapa Kayla pelan.

“Waalaikumsalam,” jawab Hanan singkat.

“Sekali lagi… terima kasih ya, waktu itu.”

Hanan hanya mengangguk. Tidak berkata apa-apa. Lalu menoleh pada ibunya. “Ayo, Umi.”

Anisa tersenyum pada Kayla. “Kayla, Umi duluan ya, Nak. Kamu hati-hati di jalan.”

“Iya, Umi,” jawab Kayla cepat. “Umi juga hati-hati ya.”

Mereka berpisah di koridor bandara yang sama-sama menuju Jakarta, namun dengan perasaan yang berbeda. Kayla menatap punggung mereka menjauh, hatinya terasa aneh. Tidak sedih, tidak senang tapi penuh dengan sesuatu yang belum ia pahami.

‘Kemarin dia menghindar karena aku pake baju terbuka. Tapi, sekarang, bajuku udah ketutup sampai aku engap. Dai masih aja cuek, sebenernya mau dia apa sih?’ gumam Kayla kesal sendiri.

‘Muka gue gak seserem itu kali ah!’

1
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
insya allah Hanan akan membimbingmu Kayla😍😍😍
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
duuhh yg bentar lg mau di lamar,,,deg-degan ya😁😁😁😁
billaacha90
sabar Kay, nanti kalau kamu sudah mengerti kamu pasti malu sendiri
billaacha90
tentu dong, kamu boleh kok kalau sama om nya Kayla, Fatimah 🤣🤣
billaacha90
asyik asyik asyik 🤗🤗
billaacha90
Nah kamu tahu sendiri kan Fatimah, kamu yang sebagai perempuan ae bisa bilang begitu🤭
billaacha90
tentu malu lah kakakmu Fatimah, yang di tolong cewek yang sungguh menggoda lho 🤭
billaacha90
itu juga kan anak umi🤣🤣
billaacha90
ealah ustadz tadi keluar ternyata dari rumah pak kyai tho🤣🤣
sansan
wahhhh ditanya lsg soal mahar... emang Umi calon mertua paling didambakan
Enisensi klara
Si Kunti emang virus 😏😏
💥💚 Sany ❤💕
Padahal Kay yang dilamar napa aku yang senyum2 gak jelas, untung gak da yang lewat 😂😂😂
💥💚 Sany ❤💕
Selamat ya Kay... aku ikut seneng. Semoga lancar sampai hari H
💥💚 Sany ❤💕
lagi serius-serusnya tapi malah hampir ngakak gara2 tingkah Fatim dan Arfin. Suka banget ma karakter Fatim yang apa adanya dan si Arfin yang kadang ada olengny dikit tapi bikin suasana hidup.
billaacha90
Wah Kayla pingsan ini, karena beban yang dia tanggung dihadapi sendirian. untung masih ada orang yang masih perduli dengan dia
billaacha90
semoga kamu bisa mengerti apa maksudnya cowok yang menolong kamu Kay
Ririn Alfathunisa
semoga lancar sampe hari h ya buat kalian,dan semoga GK ada halangan alias drama dari Mak Lampir emaknya si arfin
billaacha90
untung mas nya bisa beladiri ini, jadi Kayla ada yang menolongnya
billaacha90
mana aku tahu Kay 🤭
billaacha90
keegoisan orang tua anak jadi korbannya, dan tak ada yang mendidiknya lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!