Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat yang Tidak Jadi Dikirim
Alya terbangun sebelum azan Subuh terdengar dari masjid kecil di ujung kompleks.
Kamar masih gelap. Hanya cahaya pucat dari lampu taman yang menembus sela tirai. Di sampingnya, sisi ranjang Arga kosong. Bantalnya kembali rapi, seperti tidak pernah disentuh sepanjang malam.
Alya tidak terkejut.
Ia sudah mendengar pintu kamar ditutup beberapa jam sebelumnya. Setelah percakapan telepon dengan Keisya selesai, Arga tidak berusaha membangunkannya, tidak menanyakan apakah ia benar-benar ingin pergi, tidak meminta maaf, bahkan tidak mengucapkan selamat malam.
Mungkin Arga tidur di ruang kerja.
Mungkin lelaki itu sengaja menjauh.
Mungkin ia memang tidak peduli.
Alya menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Matanya panas karena semalaman menangis. Kepalanya terasa berat, sementara tubuhnya lemah seperti tidak memiliki tenaga untuk bangun. Namun ia memaksa diri duduk.
Hari ini ia harus pergi ke rumah sakit.
Surat rujukan dari dokter masih tersimpan di dalam laci meja rias. Alya sempat berpikir untuk membuangnya. Jika ia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya, mungkin ia tidak perlu takut. Mungkin semuanya akan terasa lebih mudah.
Tetapi ketakutan tidak akan menghilangkan penyakit.
Ia tahu itu.
Dengan langkah pelan, Alya berjalan ke kamar mandi. Di depan cermin, ia melihat wajahnya sendiri yang pucat. Bibirnya tampak kering. Rambutnya berantakan. Matanya bengkak.
Ia membasuh wajah dengan air dingin, lalu menatap pantulan dirinya lebih lama.
“Tidak apa-apa,” bisiknya pada diri sendiri.
Kalimat itu terdengar rapuh.
Namun pagi itu, tidak ada seorang pun yang bisa mengatakannya untuk Alya selain dirinya sendiri.
***
Saat Alya turun ke ruang makan, rumah masih sunyi. Mbok Sari sedang menyiapkan sarapan, sementara Pak Darto terlihat membersihkan mobil di halaman depan.
Alya mengenakan blouse putih longgar dan celana panjang hitam. Ia memilih pakaian sederhana agar tidak tampak seperti istri dari keluarga Mahendra yang biasa muncul dalam acara-acara sosial. Hari ini ia hanya ingin menjadi Alya. Perempuan biasa yang sedang pergi ke rumah sakit sendirian.
“Non sudah bangun?” Mbok Sari menoleh dari dapur. “Mau sarapan dulu?”
“Nanti saja, Mbok. Aku mau keluar.”
“Keluar pagi-pagi? Mau ke mana?”
Alya berhenti sejenak.
Ia tidak ingin berbohong. Namun ia juga tidak siap melihat wajah cemas Mbok Sari jika mengatakan yang sebenarnya.
“Ada urusan kecil.”
“Pak Darto antar, ya?”
“Nggak usah. Aku naik taksi saja.”
Mbok Sari tampak ragu. “Tapi semalam Non kelihatan lemas.”
“Aku baik-baik saja.”
Kata-kata itu kembali keluar dari mulutnya.
*Aku baik-baik saja.*
Mungkin jika ia cukup sering mengucapkannya, ia bisa percaya.
Alya mengambil tas dari sofa ruang tamu. Saat hendak berjalan menuju pintu, langkahnya terhenti oleh suara Arga dari arah tangga.
“Kamu mau ke mana?”
Alya menoleh.
Arga berdiri beberapa anak tangga di atasnya. Lelaki itu masih mengenakan kaus hitam dan celana rumah, rambutnya sedikit berantakan. Ia terlihat seperti baru bangun atau mungkin belum tidur sama sekali. Wajahnya tetap datar, tetapi tatapannya langsung tertuju pada Alya.
Entah mengapa, Alya merasa lega melihatnya.
Padahal semalam ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menggantungkan harapan pada perhatian kecil dari lelaki itu.
“Aku mau keluar sebentar,” jawab Alya.
“Ke mana?”
“Rumah sakit.”
Arga terdiam.
Satu tangan Alya mencengkeram tali tas lebih erat. Ia menunggu reaksi suaminya. Menunggu pertanyaan, *Kenapa?* Menunggu kalimat, *Aku antar.* Menunggu sedikit saja tanda bahwa Arga merasa khawatir.
“Kamu sakit?” tanya Arga akhirnya.
“Dokter minta aku periksa lebih lanjut.”
“Kenapa kamu tidak bilang dari semalam?”
Alya tersenyum tipis. “Mas sedang sibuk.”
Jawaban itu tidak diucapkan dengan nada menyindir. Justru itulah yang membuat Arga tampak semakin tidak nyaman. Lelaki itu mengalihkan pandangan sejenak, lalu turun beberapa anak tangga.
“Jam berapa pemeriksaannya?”
“Pukul sembilan.”
“Aku antar.”
Alya menatapnya.
Jantungnya seperti berhenti sesaat.
“Tidak usah,” katanya perlahan.
“Alya.”
“Aku bisa pergi sendiri.”
“Aku bilang aku antar.”
Nada Arga terdengar lebih tegas daripada lembut. Seolah ia sedang mengambil keputusan bisnis, bukan menawarkan diri untuk menemani istrinya. Namun tetap saja, bagi Alya, tawaran itu berarti lebih dari yang ingin ia akui.
Ia ingin mengangguk.
Ia ingin membiarkan Arga menemaninya.
Ia ingin percaya bahwa mungkin, di balik semua sikap dinginnya, suaminya masih memiliki kepedulian yang belum sepenuhnya mati.
Namun ingatan tentang layar ponsel dengan nama Keisya semalam muncul kembali.
Alya menunduk.
“Mas nggak perlu merasa bertanggung jawab hanya karena aku sakit.”
Wajah Arga menegang. “Kamu istri aku. Tentu aku bertanggung jawab.”
Kalimat itu membuat Alya nyaris tertawa pahit.
*Tanggung jawab.*
Lagi-lagi, hanya itu.
Bukan karena ia peduli.
Bukan karena ia takut kehilangan.
Hanya karena Alya adalah kewajiban yang tercantum di dalam pernikahan mereka.
“Kalau begitu,” kata Alya setelah diam cukup lama, “Mas antar saja.”
Arga mengangguk kecil. “Tunggu lima belas menit. Aku ganti baju.”
Ia berbalik dan kembali naik ke lantai atas.
Alya memandangi punggungnya sampai menghilang dari pandangan.
Mbok Sari, yang mendengar percakapan itu dari dapur, tersenyum tipis. Namun Alya tidak bisa ikut tersenyum. Di dalam hati, ia justru merasa takut.
Karena ia tahu dirinya.
Ia tahu betapa mudahnya ia berharap hanya karena Arga melakukan satu hal kecil.
Dan ia tahu betapa sakitnya jika harapan itu kembali dihancurkan.
***
Perjalanan menuju rumah sakit berlangsung dalam diam.
Arga mengemudikan mobil sendiri. Ia mengenakan kemeja abu-abu muda, masih tanpa dasi, seolah berencana mengantar Alya lalu langsung menuju kantor. Alya duduk di kursi penumpang dengan tas di pangkuan. Surat rujukan dari dokter diselipkan di antara jemarinya yang dingin.
Jalanan pagi itu mulai padat. Motor-motor bergerak cepat di sela mobil, klakson bersahutan, dan lampu merah membuat perjalanan terasa lebih lama.
Biasanya, Alya suka memandangi kota dari balik jendela mobil. Ia suka melihat orang-orang yang berangkat kerja, penjual sarapan di pinggir jalan, anak-anak sekolah yang menenteng tas terlalu besar. Hal-hal kecil itu mengingatkannya bahwa hidup tetap berjalan, bahkan ketika hati seseorang sedang berantakan.
Namun pagi ini, ia hanya menatap lurus ke depan.
“Dokter bilang apa?” tanya Arga tiba-tiba.
Alya menoleh. “Katanya hasil darahku perlu diperiksa lebih lanjut.”
“Hasil apa?”
“Aku nggak terlalu paham.”
“Kenapa kamu nggak tanya dengan jelas?”
Pertanyaan itu terdengar seperti teguran, bukan kepedulian. Alya kembali memandang jalanan.
“Aku takut.”
Untuk beberapa detik, Arga tidak menjawab.
Lalu suara lelaki itu terdengar lebih pelan. “Takut apa?”
“Takut hasilnya.”
Mobil berhenti di lampu merah. Arga menoleh padanya. Tatapannya jatuh pada wajah Alya yang pucat.
“Jangan pikir macam-macam dulu,” katanya. “Bisa jadi cuma karena kamu kurang makan atau terlalu kecapekan.”
Alya mengangguk.
“Ya,” jawabnya lirih. “Mungkin.”
Ia tidak mengatakan bahwa ia sudah berkali-kali kurang makan, terlalu lelah, dan stres selama berbulan-bulan. Ia tidak mengatakan bahwa kondisi itu mungkin tidak akan berubah selama ia masih tinggal dalam rumah tangga yang membuatnya terus-menerus merasa tidak cukup.
Ponsel Arga berdering.
Alya tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang menelepon.
Namun kali ini, ketika layar ponsel menyala di dudukan dekat kemudi, nama yang muncul bukan Keisya.
**Raka Mahendra.**
Ayah Arga.
Arga menerima panggilan itu melalui sambungan mobil.
“Ya, Pa,” katanya.
Suara Tuan Mahendra terdengar samar dari speaker. “Kamu di mana? Rapat dengan investor dimajukan setengah jam.”
“Aku sedang antar Alya ke rumah sakit.”
“Alya sakit?”
Arga melirik Alya sekilas. “Masih diperiksa.”
Suara ayahnya berubah sedikit lebih serius. “Pastikan kamu temani sampai selesai. Rapat bisa kamu menyusul.”
Alya menatap jendela. Ada rasa perih yang pelan-pelan merambat di dadanya.
Bahkan ayah Arga perlu mengingatkan putranya untuk menemaninya.
“Baik, Pa,” jawab Arga singkat.
Panggilan berakhir.
Mobil kembali dipenuhi keheningan.
Beberapa menit kemudian, ponsel Arga kembali berdering.
Kali ini, layar menampilkan nama yang sejak tadi Alya takutkan.
**Keisya.**
Arga tidak langsung menjawab.
Nada dering itu terus berbunyi.
Alya menunduk, pura-pura memperhatikan surat rujukan di tangannya.
“Angkat saja,” ucapnya.
Arga menatap layar, lalu menekan tombol tolak.
Alya menoleh cepat.
Arga tetap fokus ke jalan. “Aku sedang sama kamu.”
Jawaban itu sederhana.
Namun bagi Alya, kalimat tersebut terasa seperti sesuatu yang hampir asing. Ia ingin mempercayainya. Ia ingin menyimpan momen itu sebagai bukti bahwa mungkin Arga masih bisa berubah.
Tetapi ponsel kembali berbunyi.
Kali ini sebuah pesan masuk. Wajah Arga tampak menegang setelah melihat layar.
“Ada apa?” tanya Alya tanpa sadar.
Arga tidak menjawab.
“Mas?”
“Tidak ada.”
“Keisya?”
“Sudah kubilang tidak ada.”
Nada suaranya membuat Alya langsung diam.
Mobil berhenti di depan gedung rumah sakit. Arga memarkir kendaraan, lalu membuka sabuk pengaman. Alya mengikuti gerakannya perlahan.
Ketika ia hendak membuka pintu, tangan Arga menahannya.
“Alya.”
Alya menoleh.
“Kalau nanti dokter menyampaikan apa pun, jangan panik dulu.”
Tatapan Arga terlihat serius. Untuk beberapa detik, ia tampak bukan seperti lelaki dingin yang selalu pulang larut malam. Ia tampak seperti suami yang sedang berusaha menenangkan istrinya.
Alya mengangguk pelan.
“Mas jangan tinggalin aku di dalam,” katanya, hampir tidak terdengar.
Wajah Arga berubah.
Mungkin ia tidak menyangka Alya akan meminta sesuatu secara langsung. Selama ini, Alya selalu mengalah. Selalu berkata tidak apa-apa. Selalu memberi ruang agar Arga bisa pergi kapan pun ia mau.
Hari ini, untuk pertama kalinya, ia meminta ditemani.
“Aku nggak akan pergi,” kata Arga.
Alya menatapnya cukup lama.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
***
Ruang tunggu rumah sakit berbau antiseptik dan pendingin ruangan yang terlalu dingin. Alya duduk di kursi plastik berwarna biru, sementara Arga berdiri tak jauh darinya sambil sesekali memeriksa ponsel.
Mereka sudah mendaftar. Petugas meminta Alya menjalani pemeriksaan darah ulang, pemeriksaan fisik, dan beberapa tes tambahan. Dokter penyakit dalam yang akan menanganinya baru bisa menerima pasien sekitar satu jam lagi.
Satu jam.
Tidak lama, tetapi cukup panjang bagi seseorang yang sedang menunggu kemungkinan buruk.
Alya memeluk tas di pangkuannya. Jarinya dingin. Kakinya terus bergerak pelan karena gugup.
Arga memperhatikan itu.
“Kamu mau minum?” tanyanya.
Alya menggeleng. “Nggak.”
“Aku belikan air hangat.”
“Mas nggak usah repot.”
“Alya.” Nada Arga lebih lunak kali ini. “Jangan semua hal kamu tolak.”
Alya menatapnya.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan.
Aku menolak karena selama ini ketika aku butuh, Mas tidak pernah ada.
Aku menolak karena aku takut berharap.
Aku menolak karena perhatian Mas terasa seperti sesuatu yang hanya akan sebentar.
Namun ia hanya mengangguk.
Arga pergi ke kantin rumah sakit. Alya memandangi punggungnya sampai lelaki itu menghilang di tikungan koridor. Seseorang duduk di kursi kosong di sebelahnya beberapa menit kemudian—seorang ibu paruh baya yang memegang berkas medis dan tas kain.
“Keluarga yang sakit siapa, Nak?” tanya ibu itu ramah.
“Saya,” jawab Alya.
Ibu itu langsung menatapnya lebih lembut. “Suaminya menemani?”
Alya mengikuti arah pandang ibu itu ke koridor tempat Arga menghilang.
“Iya,” jawabnya.
“Syukurlah.” Ibu itu tersenyum. “Kalau sakit, yang paling dibutuhkan bukan cuma obat. Ada orang yang duduk menemani saja, hati jadi lebih kuat.”
Alya tidak membalas senyum itu. Tenggorokannya justru terasa sesak.
Karena ia baru menyadari bahwa kehadiran Arga di sampingnya hari ini begitu berarti, bukan karena pernikahan mereka hangat, melainkan karena selama ini ia terlalu sering menghadapi semuanya sendirian.
Arga kembali dengan dua botol air mineral dan satu gelas teh hangat.
“Minum,” katanya sambil menyodorkan gelas.
Alya menerimanya dengan kedua tangan. “Terima kasih.”
“Jangan tegang.”
“Aku berusaha.”
Arga duduk di sebelahnya. Bahu mereka berjarak beberapa sentimeter. Tidak bersentuhan. Tidak dekat. Namun jarak itu terasa lebih sempit daripada biasanya.
Ponsel Arga kembali bergetar.
Kali ini bukan panggilan, melainkan deretan pesan yang masuk tanpa henti. Arga melihat layar. Wajahnya perlahan berubah tegang.
Alya tidak bertanya.
Ia sudah terlalu sering tahu jawaban tanpa perlu mendengar penjelasan.
Beberapa detik kemudian, suara perawat memanggil dari pintu ruang pemeriksaan.
“Nyonya Alya Pramesti Mahendra?”
Alya berdiri.
Tangannya gemetar sampai gelas teh di tangannya hampir tumpah. Arga segera mengambil gelas itu, lalu tanpa berpikir panjang menggenggam pergelangan tangan Alya.
Hangat.
Kuat.
Membuat Alya terdiam.
“Mas…” bisiknya.
Arga menatapnya. “Aku di sini.”
Empat kata.
Empat kata yang terlalu lama ia tunggu.
Alya mengangguk pelan, lalu berjalan menuju ruang pemeriksaan bersama Arga.
Namun tepat ketika mereka hampir sampai di pintu, ponsel Arga kembali berdering.
Kali ini, wajahnya benar-benar berubah.
Alya sempat melihat nama yang menyala di layar.
**Keisya.**
Lelaki itu melepaskan tangan Alya.
Dan untuk sepersekian detik, rasa hangat yang tadi ia rasakan kembali berubah menjadi dingin.