"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"
"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.
Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Habis Lembur
***
"Sejak kapan seorang Alana Revalina Putri bisa bergulung meringkuk di sofa kantor sambil merem jam segini?"
Suara terkekeh Shiren memecah keheningan ruang kerja. Perempuan itu melangkah masuk membawa map berkas, lalu membeku sejenak menyaksikan pemandangan langka di hadapannya.
Bertahun-tahun bekerja bersama Alana, belum pernah sekalipun ia melihat bosnya yang super perfeksionis itu tampak begitu tak berdaya di tengah jam kerja.
Alana tidak membalas. Dia hanya menyahut dengan lenguhan halus, menyandarkan kepalanya lebih dalam ke bantal sofa tanpa membuka mata.
"Gue ngantuk banget, Ren ... Rasanya mau tidur seharian aja."
Shiren menyeringai nakal. Dia berjalan mendekat dan bersedekah tangan di depan dada.
"Wah... habis lembur berat ya tadi malam? Kuat berapa ronde si Mirza?"
Mata Alana seketika melotot lebar. Dia langsung duduk tegak di sofa, menatap Shiren dengan pandangan horor sekaligus sewot.
"Mulut lo ya, Shiren! Ngaco banget!" semprot Alana dengan suara serak.
"Gue semalam itu kehujanan pas jemput Mirza di bengkel barunya! Terus gara-gara petir kencang, listrik di daerah sana padam total. Ya udah, mau enggak mau kita terpaksa nginep di lantai atas bengkelnya."
Alana mengusap lehernya yang kaku, lalu mencoba menggerakkan bahunya perlahan. Rasa ngilu langsung menjalar sampai ke punggungnya.
"Aduh! Badan gue pegal-pegal semua!" teriak Alana kesal setengah mati.
"Gue enggak bisa tidur nyenyak! Kasurnya tipis banget, cuma selembar busa di atas lantai semen!"
Shiren tidak mempan dengan omelan itu. Dia malah melipat bibirnya, menatap Alana dengan raut muka curiga yang semakin menjadi-jadi.
"Masa sih cuma gara-gara kasur tipis?" ledek Shiren santai.
"Malam-malam, hujan deras di luar, mati lampu, cuma berdua di ruangan sempit... Hallo? Itu tuh setting-an paling romantis di seluruh jagat raya, Alana! Enggak mungkin banget kalian langsung tidur gitu aja."
"Pasti ada ngobrol-ngobrol tipis dulu, senyum-senyum malu, tatap-tatapan di tengah remang lilin, terus..."
"Stop! Pikiran lo traveling-nya kejauhan!" potong Alana cepat dengan napas memburu.
"Hal-hal mesum di otak lo itu enggak ada yang terjadi semalam, paham?!"
"Masa, sih?" goda Shiren lagi, menaik-turunkan alisnya.
Alana hendak membalas, tapi lidahnya mendadak kelu. Kalimatnya tertahan di tenggorokan saat ingatan semalam tiba-tiba berputar ulang di kepalanya seperti pita kaset.
Bayangan saat dia menjerit histeris karena ketakutan... bagaimana dia memeluk erat tubuh Mirza tanpa peduli gengsi... bagaimana tangannya mencengkeram baju pria itu, memohon agar tidak ditinggalkan sendirian di kegelapan.
Dan yang paling membuat dadanya berdesir hebat, ingatan saat dia tertidur lelap dalam dekapan hangat Mirza. Wajahnya yang bersandar di leher pria itu, mengusap bidang dada Mirza yang begitu kokoh dan terasa sangat melindungi, hingga jemari mereka yang saling bertautan erat di atas perut sampai pagi menyingsing.
Seketika, rasa panas menjalar cepat dari leher hingga membakar kedua pipi Alana. Pikirannya melayang jauh, terjebak dalam memori kehangatan yang tak bisa dia pungkiri keindahannya.
Shiren yang menyadari perubahan raut wajah sahabatnya itu perlahan menurunkan badannya. Dia berjongkok tepat di depan Alana, menopang dagu dengan kedua tangan sambil mengamati wajah Alana yang mendadak merah padam bagai kepiting rebus.
"Ekhem ...." Shiren menyunggingkan senyum kemenangan yang paling menyebalkan.
"Katanya enggak cinta, katanya cuma nikah kontrak ... tapi kok ngelamunnya jauh banget, Sist? Ini mah ngelamunnya udah sampai ke Antartika!"
Alana tersentak kaget, seolah baru saja ditarik paksa kembali ke realita. Dia menutup wajahnya yang panas dengan kedua telapak tangan, menggeram frustrasi di balik jemarinya.
"Shiren, keluar dari ruangan gue sekarang!" jerit Alana tertahan.
Shiren tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Alana. Dengan santai dia bangkit berdiri, meletakkan map berkas yang dibawanya tepat di tengah meja kerja Alana.
"Oke, oke, gue keluar," kata Shiren sambil terus terkekeh dan mengacungkan kedua tangannya.
"Tapi berkas analisis anggaran ini harus lo tanda tangani sebelum makan siang ya, Bu CEO yang lagi kesandung cinta."
"Shiren!" ancam Alana sambil menyambar kotak tisu di depannya, bersiap melemparkannya seperti yang dia lakukan pada Mirza tadi pagi.
Shiren dengan cepat mengedipkan sebelah mata, lalu ngeloyor keluar ruangan dan menutup pintu rapat-rapat sebelum amunisi Alana melayang ke arahnya.
Kini ruangan hening kembali. Alana menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, membiarkan napasnya terengah-engah. Ia menempelkan kedua telapak tangannya yang dingin ke pipinya yang masih terasa membara.
"Gila... Gue benar-benar bisa gila kalau begini terus," gumamnya frustrasi pada diri sendiri.
***
Uhuk! Uhuk!
"Pelan-pelan, Jon," tegur Mirza santai sembari menyodorkan selembar tisu kumal.
Joni mengusap mulutnya kasar, membelalakkan mata lebar-lebar seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.
"Lo... lo bilang apa tadi, Za?! Coba ulang sekali lagi! Gue kagak salah dengar, kan?!"
Mirza mengarahkan kunci pas ke baut roda motor yang sedang dibongkarnya, memutarnya dengan gerakan cekatan.
"Alana menginap di sini tadi malam."
"Demi apa lo, Za?!" seru Joni setengah berteriak, hampir melompat dari kursinya. Dia memajukan tubuhnya, menatap Mirza dengan pandangan sama sekali tidak percaya.
"Alana? Bos besar lo yang kaya raya, cantik bagai dewi, dan terbiasa tidur di kasur harga puluhan juta itu ... semalam tidur di lantai atas bengkel gue yang cuma beralaskan seng dan kasur busa tipis?! Lo bercanda, kan?"
"Gue serius. Ngapain gue bohong," sahut Mirza tenang tanpa menghentikan pekerjaannya.
"Semalam hujan deras, petir kencang banget. Dia panik, terus nyusul gue ke sini. Pas mau pulang, jalanan kebanjiran dan listrik keburu padam. Ya udah, mau enggak mau dia tidur di atas."
Joni melongo. Pikiran liarnya langsung berputar cepat seperti mesin motor tanpa rem. Seringai nakal bertahap mengembang di wajahnya yang belepotan oli.
"Tunggu, tunggu, Za ...." Joni mengetuk-ngetuk meja berulang kali.
"Berarti kalian ... udah malam pertama, dong?! Aww! Akhirnya pecah telur juga lo, Za!"
Mirza menghentikan putaran kunci pasnya, mendongak menatap sahabatnya itu dengan pandangan datar sekaligus malas.
"Ngarang lo. Malam pertama dari mananya?"
"Lah! Terus ngapain aja kalian semalaman di ruangan sempit itu?!" cecar Joni gemas, matanya berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.
"Aduh, Za, Za ... Tapi kok lo tega banget, sih? Kenapa harus malam pertama di bengkel begini? Kasihan bodi aduhainya Alana, pasti langsung pegal-pegal dan sakit semua itu badan! Kasurnya kan tipis banget! Kenapa kagak lo eksekusi di rumah mewahnya aja yang ranjangnya selembut sutra?"
Mirza menghela napas panjang, meletakkan kunci pas ke dalam kotak perkakas dengan bunyi yang lumayan nyaring. Dia menyapu peluh di dahinya menggunakan punggung tangan.
"Lo itu kelamaan jomblo, Jon. Makanya di dalam kepala lo compares reacts-nya cuma ada pikiran mesum doang," omel Mirza pedas.
"Dih, kok nyalahin status jomblo gue?!" Joni tidak terima.
"Ya lagian pikiran lo ngaco," cetus Mirza sambil menyandarkan punggungnya di tiang bengkel.
"Gue enggak segila itu ya. Semua yang gue lakuin semalam murni refleks menjaga keselamatan dia. Gue enggak ada niat sedikit pun buat cari kesempatan dalam kesempitan."
Joni menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah tidak habis pikir. Ia berdiri, melangkah mendekati Mirza, lalu mengitari sahabatnya itu sambil berkacak pinggang.
"Gue beneran kagak paham sama pola pikir lo, Za," ujar Joni penuh keheranan.
"Maksud gue ... gimana bisa lo tahan godaan, coba?! Bayangin ya, malam-malam, hujan deras di luar, petir menyambar-nyambar, mati lampu, cuma ada cahaya remang-remang, dan lo cuma berdua sama cewek tercantik di ruangan sempit! Alam itu udah mendukung lo seratus persen, Za! Semesta udah ngasih kartu hijau! Kok bisa lo cuma diam aja kayak patung batu?!"
Mirza menatap Joni lurus-lurus. Suaranya berubah lebih berat dan penuh penekanan.
"Gue menghormati Alana sebagai seorang perempuan, Jon," tegas Mirza.
"Satu, dia datang ke sini karena takut dan butuh perlindungan, bukan buat diserang. Dua, hubungan kita ini diikat sama kontrak resmi. Gue mau tetap profesional dan menjaga harga diri gue. Gue enggak akan pernah menyentuh dia lebih jauh kalau dia sendiri enggak mengizinkan atau tanpa rasa saling mencintai yang jelas."
Joni terdiam sejenak mendengar nada bicara Mirza yang mendadak sangat serius. Namun dasar Joni, rasa sangsinya masih jauh lebih besar daripada rasa percayanya.
"Ah, masa sih?" gumam Joni memicingkan mata, menatap Mirza penuh selidik.
"Masa kagak ada pegang-pegang sikit pun? Kagak peluk-peluk gitu pas petir menyambar? Beneran cuma tidur tolol doang sampai pagi?"
Mirza teringat bagaimana Alana menangis ketakutan di dadanya, bagaimana wanita itu memeluknya sangat erat, dan bagaimana jemari mereka saling bertautan di atas perut hingga pagi datang. Namun, semua memori hangat itu terlalu berharga dan pribadi untuk dibagikan kepada sahabatnya yang berotak mesum ini.
Mirza menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Untuk sekarang, gue cuma mau profesional. Ke depannya ... ya lihat aja nanti gimana.
Joni menepuk jidatnya sendiri, lalu mengibaskan tangan dengan raut muka sangat tidak percaya.
"Enggak, enggak, kagak percaya gue! Lo tuh cowok normal, Za. Gue yakin seratus persen, semalam pasti ada percikan yang bikin lo senyam-senyum sendiri sekarang! Jangan sok jual mahal lo di depan gue!"
Mirza hanya terkekeh pelan, tidak berniat membela diri lagi. Dia menyambar kembali kunci pasnya dan kembali fokus membongkar mesin motor di depannya. Di balik deru alat-alat bengkel dan bau oli yang menyengat, bayangan Alana yang tertidur lelap dalam dekapannya semalam kembali terlintas di benak Mirza, membuat sudut bibirnya terangkat perlahan tanpa bisa dia cegah.
Suara ketukan langkah sepatu kulit mahal beradu dengan lantai semen memecah kesibukan di dalam bengkel. Langkahnya terdengar begitu tegas dan mantap, sangat kontras dengan hiruk-pikuk deru mesin motor di sekitarnya.
Joni yang sedang mengelap tangannya dengan kain perca seketika menoleh. Matanya menatap heran ke arah pria paruh baya yang berdiri tegap di pintu bengkel. Pria itu mengenakan setelan jas rapi berpotongan elegan, memancarkan aura wibawa yang sangat kuat hingga membuat suasana bengkel mendadak terasa intimidatif.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa dibantu? Mau servis kendaraan atau cari siapa?" tanya Joni agak canggung, menyapa dengan ramah.
Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang penuh sesak dengan perkakas dan noda oli, sebelum akhirnya matanya tertuju lurus pada satu sosok.
"Saya mencari Mirza," jawab pria itu singkat dengan suara berat namun tenang.
Mendengar namanya dipanggil, Mirza yang tadinya berlutut membelakangi pintu langsung menghentikan pekerjaannya. Dia menyapu peluh di dahi menggunakan punggung lengan, lalu berdiri dan berbalik.
Mata Mirza membelalak kecil saat mendapati siapa sosok yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.
"Papa ...?" gumam Mirza tertahan.