Ini menceritakan kisah seorang pemuda yang memiliki sembilan Akar Spiritual, yang dianggap sebagai sampah oleh dunia kultivasi. Namun, tanpa sengaja, ia justru dibimbing oleh dua sosok legendaris yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi.
Membawa dua cincin warisan tersegel yang menyimpan kekayaan dari dua sekte besar, Shen Luo memulai perjalanannya di dunia kultivasi.
Di tengah perjalanan, ia harus terseret ke dalam perselisihan masa lalu kedua gurunya, berhadapan dengan seorang Iblis Suci yang mematikan, serta terikat dalam perjodohan dengan seorang Putri Es yang telah mencintai pria lain.
Dengan sembilan Akar Spiritual yang dianggap sebagai kelemahan, Shen Luo harus bertahan hidup dan mengungkap rahasia kekuatannya, hingga suatu hari segel kedua cincin warisan itu terbuka dan takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Ikatan Jiwa Yin-Yang
Suara retakan memecah keheningan makam kuno. Gulungan bambu usang di tangan Shen Luo perlahan hancur menjadi serbuk, lalu tekanan spiritual yang memenuhi Tempat Suci Inti lenyap seketika.
Cahaya perak menyembur dari sela-sela jarinya dan melesat ke langit-langit makam. Dalam sekejap, cahaya itu menjelma menjadi pedang raksasa yang seolah mampu membelah langit.
Bukan sekadar kumpulan Qi, pedang tersebut merupakan perwujudan Niat Pedang peninggalan Sikong Jian. Auranya begitu agung hingga seluruh ruang makam bergetar seakan langit dan bumi pun harus tunduk di hadapannya.
Api biru di mata Penjaga Roh Kuno meredup. Tubuhnya gemetar hebat hingga zirah emas yang membungkusnya berderak.
“A-Aura ini... Kekuatan yang melampaui alam fana! Tidak mungkin!!”
Shen Luo mengayunkan tangan dan pedang perak itu langsung menebas tanpa suara. Tebasannya menembus tubuh sang penjaga seolah membelah kabut, meninggalkan retakan cahaya yang menyebar ke seluruh zirah emasnya.
Sesaat kemudian, tubuh, senjata, dan sisa jiwa Penjaga Roh Kuno hancur menjadi serpihan cahaya yang lenyap tanpa jejak.
Meski ancaman itu akhirnya musnah, Shen Luo tak punya waktu untuk merayakan kemenangan. Begitu pedang ilusi menghilang, ia segera mengerahkan Langkah Hantu Darah dan melesat menuju gadis yang terbaring di atas tumpukan debu Batu Spiritual.
“Ji Ruyue!”
Ia berlutut dan mengangkat tubuh Ruyue ke dalam pelukannya tanpa memedulikan jubah abu-abunya yang compang-camping maupun luka-luka yang masih mengucurkan darah.
Wajah gadis yang biasanya angkuh dan memesona itu kini sepucat kertas. Tubuhnya sedingin es, sementara urat-urat biru kehitaman menjalar dari luka di punggung hingga ke leher dan Dantian.
Itulah Kutukan Darah Kuno, kutukan keji yang menggerogoti jiwa serta esensi kehidupan seorang kultivator hingga tak tersisa apa pun.
Napas Ruyue begitu lemah hingga hampir tak terasa. Untuk pertama kalinya, ketenangan Shen Luo terguncang oleh kepanikan. Gadis itu telah mengorbankan dirinya demi menyelamatkannya dari tombak maut, dan kini nyawanya justru berada di ujung tanduk.
“Kau tidak boleh mati,” bisiknya dengan suara bergetar. “Bukankah kau bilang nyawaku milikmu? Kalau begitu, hiduplah dan datanglah sendiri untuk menagihnya!”
Shen Luo segera menyalurkan Qi Suci ke tubuh Ruyue, tetapi begitu energi itu menyentuh meridiannya, kutukan tersebut justru melahapnya dan memperparah kerusakan di dalam tubuh gadis itu. Ruyue tersentak sebelum terbatuk hebat dan memuntahkan darah hitam ke dada Shen Luo.
Shen Luo mengertakkan gigi. Qi Suci saja tidak cukup untuk menekan kutukan tersebut. Ia membutuhkan esensi kehidupan yang jauh lebih kuat, sesuatu yang mampu memulihkan tubuh Ruyue sekaligus melawan keganasan kutukan itu.
Tanpa ragu, ia menggigit pergelangan tangan kirinya hingga nadi utamanya terluka. Darah segar mengalir dengan cahaya keemasan yang samar.
Berkat perpaduan Sembilan Akar Spiritual dan energi yang telah diserapnya, darah Shen Luo telah berubah menjadi esensi kehidupan yang luar biasa murni.
Ia membuka bibir Ruyue dengan hati-hati dan membiarkan darah keemasannya mengalir ke mulut gadis itu.
Pada saat bersamaan, telapak tangan kanannya menekan dada Ruyue untuk menyalurkan Qi Suci dari Dantian-nya.
Empat Akar Suci di sisi kanan Dantian menyala terang, lalu perlahan meredup ketika energinya terus mengalir keluar.
Shen Luo mengerahkan hampir seluruh kekuatannya, menguras nyaris sembilan puluh persen Qi Suci demi mempertahankan kehidupan Ruyue.
Rasa sakit segera menyiksa mereka berdua. Dantian Shen Luo terasa seperti ditusuk ribuan jarum, sedangkan tubuh Ruyue mengejang hebat ketika Qi Suci berbenturan dengan Kutukan Darah Kuno di dalam meridiannya.
Di dalam tubuh Ruyue, darah keemasan dan Qi Suci Shen Luo menjelma menjadi seekor naga emas yang melilit urat-urat kutukan. Sebagai kultivator iblis, tubuh Ruyue semestinya menolak energi suci tersebut.
Namun, alih-alih menghancurkan fondasi kultivasinya, Qi Suci itu justru menyatu dengan Hati Dao dan meridiannya.
Kedua energi yang bertolak belakang tersebut perlahan membentuk simpul kekuatan menyerupai lambang Yin Yang, menyatukan Yin dan Yang dalam keseimbangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ikatan Jiwa Yin-Yang pun terbentuk.
Sejak saat itu, Qi Suci Shen Luo akan terus menekan kutukan di tubuh Ruyue dan menjaga agar esensi kehidupannya tidak lenyap.
Sebaliknya, denyut jantung, aliran darah, dan jiwa Ruyue kini terhubung dengan kehidupan Shen Luo. Ikatan takdir itu tertanam begitu dalam hingga tak seorang pun dapat memutuskannya dengan mudah.
Perubahan segera terlihat. Urat-urat hitam kebiruan di wajah Ruyue perlahan memudar, dan keganasan Kutukan Darah Kuno akhirnya berhasil ditekan.
Meski belum sepenuhnya lenyap, kutukan itu kini hanya meninggalkan tanda teratai hitam di bawah tulang selangkanya. Denyut jantung Ruyue pun kembali stabil, walaupun masih sangat lemah.
Ruyue berhasil diselamatkan, tetapi tubuhnya telah mengalami kerusakan parah. Meridiannya terluka akibat keganasan kutukan, sementara pertentangan antara Hati Dao iblisnya dan segel suci yang menekan kutukan membuatnya tak mampu mempertahankan kesadaran. Pada akhirnya, ia jatuh ke dalam koma panjang.
Shen Luo menatap wajah gadis yang bersandar di dadanya.
Ia perlahan menarik tangannya, tetapi tubuhnya sendiri nyaris tak sanggup bertahan. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi dahi, dan napasnya memburu.
Menguras hampir seluruh Qi Suci serta esensi darah telah mengguncang fondasi kultivasinya hingga ia kesulitan menggerakkan tubuh.
Meski begitu, pandangannya tak pernah beranjak dari Ruyue. Ia mengusap darah di sudut bibir gadis itu dengan lembut, lalu terdiam cukup lama.
Selama ini, Shen Luo selalu mengandalkan ketenangan dan Hati Dao untuk menghadapi segala sesuatu. Ia terbiasa mengambil keputusan tanpa membiarkan perasaan menguasai pikirannya.
Setelah beristirahat selama setengah batang dupa, Shen Luo akhirnya memaksa dirinya bangkit. Ia mengangkat Ruyue dengan kedua tangan dan membalut tubuh gadis itu menggunakan jubah luarnya agar terlindung dari hawa dingin makam.
Setelah memastikan keadaannya tidak memburuk, ia menoleh ke ujung Tempat Suci Inti.
Di sana, sebuah altar giok memancarkan cahaya merah keemasan. Itulah tempat tersimpannya Kolam Esensi Darah Kuno dan pusaka utama peninggalan makam tersebut.
Shen Luo menatap altar itu sejenak sebelum kembali memandang Ruyue.
“Kita ambil apa yang menjadi hak kita, lalu aku akan membawamu pulang.”
Dengan Ruyue dalam pelukannya, ia melangkah melewati sisa-sisa Penjaga Roh Kuno dan berjalan menuju altar.
Gema langkahnya menggema di sepanjang Reruntuhan Darah Ilahi, mengiringi perjalanan mereka meninggalkan tempat yang hampir merenggut nyawa keduanya.
Ia harus memperoleh peninggalan yang tersisa sebelum meninggalkan Hutan Kabut Berdarah. Setelah itu, ia akan membawa Ruyue pergi dan mencari cara untuk memulihkan gadis tersebut.
Namun, Shen Luo belum menyadari betapa dalam Ikatan Jiwa Yin-Yang yang baru terbentuk telah menghubungkan takdir mereka. Ikatan itu bukan sekadar cara untuk mempertahankan kehidupan Ruyue, melainkan awal dari hubungan yang kelak akan membawa mereka menghadapi banyak perubahan.
Moga2 MC nya ga kegatelan ma cewek2, dan ga punya banyak bini /Facepalm//Facepalm/