Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia
Adrian belum sempat meninggalkan halaman rumah ibunya ketika ponselnya kembali bergetar. Nama Dimas muncul di layar, membuatnya mengurangi kecepatan mobil sebelum akhirnya menepi di dekat gerbang.
“Ada apa?” tanyanya setelah panggilan tersambung.
“Maaf mengganggu, Pak. Saya baru saja menerima informasi awal mengenai Surya Atmadja. Ada sesuatu yang mungkin perlu Bapak ketahui sebelum saya melanjutkan penelusuran.”
Adrian mematikan mesin mobil. “Katakan.”
“Nama Surya Atmadja pernah tercatat dalam kerja sama bisnis dengan keluarga Mahendra sekitar dua belas tahun lalu. Namun, kerja sama tersebut berakhir lebih cepat dari yang direncanakan. Saya belum menemukan laporan lengkap mengenai penyebabnya karena sebagian arsip lama tersimpan di bagian legal.”
“Perusahaan apa?”
“PT Atmadja Properti. Perusahaan itu pernah bekerja sama dengan Mahendra Group dalam pengembangan kawasan komersial. Setelah kerja sama berakhir, perusahaan tersebut mengalami perubahan kepemilikan. Saya sedang menelusuri siapa yang mengambil alih asetnya.”
Adrian mengusap dagunya. “Apakah ada hubungannya dengan Rendra?”
“Belum bisa dipastikan, Pak. Rendra masih sangat muda ketika kerja sama itu berlangsung. Tetapi nama ayahnya tercatat dalam beberapa pertemuan yang melibatkan kedua perusahaan.”
Adrian mengingat kembali foto yang ditunjukkan Helena. Surya Atmadja bukan sekadar kenalan lama yang kebetulan hadir dalam sebuah acara keluarga. Pria itu memiliki sejarah bisnis dengan keluarga mereka, meskipun sudah berlalu lebih dari satu dekade.
“Cari laporan penghentian kerja sama itu. Aku ingin tahu siapa yang mengambil keputusan, siapa yang diuntungkan, dan apakah masih ada kewajiban yang belum diselesaikan.”
“Baik, Pak.”
Sebelum menutup panggilan, Adrian menambahkan satu instruksi.
“Periksa juga apakah Surya memiliki hubungan dengan Alexander International sebelum perusahaan itu mulai menjalin komunikasi dengan kita. Jangan hanya mengandalkan catatan internal. Cocokkan dengan informasi yang tersedia secara resmi.”
“Dimengerti.”
Panggilan berakhir. Adrian kembali menyalakan mesin, tetapi ia belum langsung menjalankan mobil.
Dua belas tahun lalu.
Waktu itu, ia masih membangun posisinya di perusahaan dan belum mengetahui seluruh keputusan bisnis yang diambil oleh generasi sebelumnya. Banyak hal yang baru ia pahami setelah dipercaya memimpin Mahendra Group. Ada kerja sama yang berhasil, ada pula kesepakatan yang berakhir tanpa penjelasan memadai.
Jika Surya Atmadja pernah memiliki masalah dengan keluarga Mahendra, bukan tidak mungkin pertemuan di luar kota itu berkaitan dengan urusan lama yang belum selesai.
Namun, Adrian tidak mau membangun kesimpulan hanya berdasarkan kemungkinan.
Ia memasukkan ponselnya ke saku, lalu melajukan mobil menuju rumah.
---
Naura baru selesai menyiapkan makan malam ketika Adrian tiba. Ia sedang membantu ibunya menyusun beberapa barang di ruang tengah setelah sesi latihan berjalan di taman selesai. Melihat Adrian masuk, perempuan itu menyambutnya dengan senyum kecil.
“Kamu sudah pulang?”
“Lebih cepat dari yang kukira.” Adrian menghampiri mereka. “Bagaimana keadaan Ibu hari ini?”
“Baik. Tadi kami cukup lama di taman,” jawab Naura sebelum menoleh kepada ibunya. “Sekarang waktunya istirahat dulu.”
Ibu Naura mengangguk. Ia kemudian meminta seorang perawat membantunya kembali ke kamar.
Setelah memastikan ibunya nyaman, Naura menemui Adrian di ruang makan. Lelaki itu sudah duduk, tetapi belum menyentuh makanan yang tersedia. Ponselnya tergeletak di samping piring, sementara tatapannya tampak menerawang.
Naura menarik kursi di hadapannya.
“Bagaimana pembicaraanmu dengan Mama Helena?”
Adrian mengangkat wajah. “Beliau mengakui pernah menghadiri pertemuan keluarga tiga hari sebelum Alexander International tiba di Jakarta. Di sana, beliau bertemu seseorang bernama Surya Atmadja.”
“Apakah orang itu bagian dari Alexander International?”
“Belum diketahui. Mama hanya mengatakan bahwa Surya adalah kenalan lama keluarga dan pernah bekerja sama dengan kakekku.”
Naura mengambil sendok, tetapi tidak langsung makan. “Lalu, apakah Mama Helena tahu mengapa Rendra memperkenalkan Alexander International kepada keluarga kalian?”
“Katanya, Rendra pernah menelepon sebelum pertemuan itu dan meminta Mama mempertimbangkan kemungkinan kerja sama. Tetapi Mama tidak mengetahui bahwa pembicaraan tersebut akan berkembang menjadi proyek Bali.”
Naura mengangguk pelan. Ia tidak tampak terkejut, tetapi jelas sedang memikirkan hubungan antara informasi yang baru didengarnya.
“Berarti ada dua hal yang perlu dibedakan,” katanya. “Pertama, bagaimana Alexander International mulai mengenal keluarga Mahendra. Kedua, bagaimana informasi proyek Bali bisa sampai kepada mereka sebelum pembahasan resmi.”
Adrian menatap istrinya dengan penuh perhatian.
“Benar. Bisa saja keduanya berhubungan, tetapi belum tentu.”
“Dan kita belum tahu apakah Surya Atmadja mengetahui sesuatu tentang data proyek itu.”
Adrian mengangguk. “Aku sudah meminta Dimas memeriksa latar belakangnya.”
Naura akhirnya mulai makan. “Bagus. Tapi jangan lupa, orang yang mengirim pesan anonim itu mungkin juga punya kepentingan sendiri. Dia memberikan informasi sedikit demi sedikit, seolah ingin mengarahkanmu ke orang tertentu.”
Adrian berhenti menyendok nasi.
“Aku memikirkan hal yang sama.”
“Kalau pengirimnya benar-benar ingin membantu, mengapa tidak memberikan bukti yang jelas sejak awal?”
“Itu yang ingin kutemukan.”
Naura mengangkat bahu ringan. “Mungkin dia takut. Mungkin juga dia sengaja membuat kita saling mencurigai. Kita tidak tahu.”
Adrian tersenyum tipis. “Kamu selalu punya cara untuk mengingatkanku agar tidak bertindak terburu-buru.”
“Karena kamu sering terlalu sibuk mencari jawaban sampai lupa mempertimbangkan siapa yang sedang mengajukan pertanyaan.”
Kali ini, Adrian tertawa kecil. Ia meraih gelas air, lalu menghabiskan isinya sebelum kembali melanjutkan makan.
Percakapan mereka beralih pada pekerjaan Naura. Perempuan itu bercerita tentang klien yang meminta perubahan desain mendekati tenggat, tentang Naya yang menemukan alternatif warna, dan tentang presentasi yang harus diselesaikan sebelum akhir pekan.
Adrian mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Sesekali ia memberikan pendapat, meskipun Naura beberapa kali mengingatkannya bahwa ia tidak sedang meminta penilaian seorang direktur perusahaan.
“Aku hanya bercerita,” kata Naura sambil menahan senyum ketika Adrian kembali menganalisis permintaan kliennya.
“Aku sedang berusaha membantu.”
“Kalau begitu, bantu aku dengan menghabiskan makan malammu.”
Adrian menurut. Untuk sementara, mereka membiarkan persoalan Mahendra Group berada di luar meja makan. Namun, setelah makan malam selesai, ponsel Naura yang tergeletak di meja kembali bergetar.
Pesan dari nomor tidak dikenal itu muncul lagi. Apakah suami Anda sudah menceritakan siapa Surya Atmadja sebenarnya?
Naura membaca kalimat itu tanpa mengubah ekspresi. Adrian yang berdiri di sampingnya segera menyadari perubahan suasana.
“Pesan dari nomor yang sama?”
Naura mengangguk dan menyerahkan ponselnya.
Adrian membaca pesan itu, lalu membuka tangkapan layar pesan sebelumnya. Nomor tersebut memang sama dengan nomor yang menghubungi Naura siang tadi.
“Dia tahu aku sudah menemui Mama,” gumam Adrian.
“Atau dia hanya tahu kamu sedang menyelidiki pertemuan itu,” ujar Naura.
Adrian mengembalikan ponsel kepadanya. “Jangan dibalas dulu.”
“Aku tidak berniat membalasnya tanpa tahu siapa dia.”
Adrian mengambil ponselnya sendiri dan meneruskan pesan tersebut kepada Dimas, meminta agar nomor itu diperiksa melalui jalur yang sah dan sesuai prosedur perusahaan. Setelah itu, ia memandang Naura.
“Aku tidak suka dia mulai menghubungimu.”
“Aku juga tidak suka. Tapi kita tidak akan menyelesaikan apa pun dengan panik.”
“Aku tahu.” Adrian menggenggam tangannya. “Aku hanya tidak ingin kamu ikut menanggung masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawabku.”
Naura membalas genggamannya, lalu menatapnya dengan tegas.
“Kalau masalah itu sudah menyentuh rumah tangga kita, aku berhak tahu apa yang sedang terjadi. Aku tidak meminta kamu menyelesaikan semuanya sendirian. Aku hanya meminta kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku.”
Adrian terdiam sesaat sebelum mengangguk.
“Kamu benar. Aku akan memberitahumu setiap perkembangan penting.”
Naura tersenyum kecil. “Itu saja yang aku minta.”
---
Keesokan paginya, Rendra Mahendra datang ke kantor lebih awal untuk menghadiri rapat evaluasi proyek Bali. Ia baru saja meletakkan tas kerjanya ketika sekretaris Adrian mengabarkan bahwa CEO Mahendra Group ingin menemuinya sebelum rapat dimulai.
Rendra tidak langsung menjawab. Ia merapikan ujung jasnya, lalu bertanya, “Apakah Adrian mengatakan apa yang ingin dibicarakan?”
“Tidak, Pak. Beliau hanya meminta waktu sekitar lima belas menit.”
Rendra mengangguk dan berjalan menuju ruang kerja Adrian.
Begitu masuk, ia mendapati sepupunya sedang membaca laporan di depan komputer. Adrian mempersilakannya duduk tanpa basa-basi panjang.
“Aku ingin menanyakan sesuatu tentang Surya Atmadja.”
Wajah Rendra berubah sangat tipis, nyaris tidak terlihat. Namun, Adrian memperhatikannya.
“Surya Atmadja?” Rendra mengulang nama itu. “Kenapa tiba-tiba membicarakan dia?”
“Karena Mama bertemu dengannya tiga hari sebelum Alexander International tiba di Jakarta.”
Rendra menyandarkan punggungnya. “Itu acara keluarga. Banyak orang hadir. Aku tidak melihat apa yang perlu dipermasalahkan.”
“Aku tidak sedang mempermasalahkan kehadirannya. Aku ingin tahu apakah kamu sudah mengenal Surya sebelum memperkenalkan Alexander International kepada keluarga kita.”
Rendra menghela napas seolah pertanyaan itu terlalu berlebihan.
“Aku pernah mendengar namanya dari Ayah. Dia punya hubungan bisnis lama dengan keluarga kita. Tetapi aku tidak ingat pernah berurusan langsung dengannya.”
“Lalu, mengapa kamu meminta Mama mempertimbangkan kerja sama dengan pihak yang ingin masuk melalui jalur keluarga?”
“Karena pada waktu itu aku mendapat informasi bahwa Alexander International sedang mencari mitra lokal. Aku pikir itu peluang yang bagus untuk perusahaan.”
“Dari siapa kamu mendapatkan informasi tersebut?”
Rendra terdiam sejenak. Ia lalu merapikan posisi duduknya.
“Dari beberapa kenalan bisnis. Aku tidak ingat siapa yang pertama kali menyebut nama mereka. Itu sudah cukup lama.”
Adrian tidak langsung menyela. Ia membuka sebuah catatan di layar komputer, lalu memutar monitor sedikit agar Rendra dapat melihat tanggal yang tercantum di sana.
“Menurut catatan komunikasi yang berhasil kami kumpulkan, kamu sudah membicarakan Alexander International sebelum mereka mengirimkan profil resmi kepada tim pengembangan bisnis. Bahkan, beberapa angka terkait proyek Bali muncul dalam percakapan sebelum rapat pertama.”
Rendra menatap layar, lalu kembali memandang Adrian.
“Angka itu bisa berasal dari pembicaraan awal. Tidak semua informasi harus menunggu rapat resmi untuk dibicarakan.”
“Benar. Tetapi proyeksi keuntungan proyek Bali bukan informasi yang bisa dibagikan sembarangan.”
“Aku tidak pernah mengirimkan data rahasia kepada mereka.”
Adrian memperhatikan ekspresi sepupunya. “Aku belum mengatakan kamu yang mengirimkannya.”
Rendra terdiam.
Untuk beberapa detik, hanya terdengar suara pendingin ruangan. Rendra kemudian mengubah posisi duduknya, berusaha mengembalikan percakapan ke jalur yang lebih aman.
“Kalau kamu ingin menuduhku, lebih baik katakan langsung. Jangan memanggilku ke sini hanya untuk memainkan kata-kata.”
“Aku tidak sedang menuduh siapa pun, Rendra. Aku sedang mencari tahu bagaimana informasi itu keluar. Kalau kamu memang tidak terlibat, pemeriksaan ini seharusnya tidak menjadi masalah.”
Rendra berdiri dan merapikan jasnya.
“Silakan periksa apa pun yang kamu mau. Tapi jangan lupa, tidak semua orang yang pernah bekerja sama dengan keluarga kita punya niat buruk.”
“Aku tidak lupa.”
“Bagus.” Rendra berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak. “Satu hal lagi, Adrian. Kalau kamu mulai menggali urusan lama keluarga, pastikan kamu siap menerima jawaban yang mungkin tidak kamu sukai.”
Adrian mengangkat pandangan.
“Apa maksudmu?”
Rendra tidak menjawab secara langsung. Ia hanya membuka pintu dan meninggalkan ruangan.
Adrian tetap duduk, menatap pintu yang perlahan tertutup.
Peringatan itu bisa saja hanya bentuk kejengkelan Rendra karena merasa diperiksa. Namun, ada sesuatu dalam caranya menyampaikan kalimat terakhir yang membuat Adrian sulit menganggapnya sebagai ucapan biasa.
Ia segera menghubungi Dimas.“Bagaimana perkembangan penelusuran Surya Atmadja?”
“Tim legal menemukan satu informasi tambahan, Pak. PT Atmadja Properti pernah mengakhiri kerja sama dengan Mahendra Group setelah terjadi perselisihan mengenai pembagian keuntungan. Ada pula catatan bahwa sebagian aset proyek dialihkan kepada perusahaan lain.”
“Perusahaan apa?”
“Namanya belum dapat kami pastikan dari salinan dokumen yang tersedia. Tim sedang mencocokkan nomor registrasinya dengan catatan perusahaan yang masih aktif.”
Adrian memejamkan mata sesaat, lalu membukanya kembali.
“Teruskan pemeriksaan. Jangan berhenti pada nama perusahaan. Cari tahu siapa pemilik akhirnya dan apakah ada hubungan dengan Alexander International.”
“Baik, Pak.”
Setelah panggilan berakhir, Adrian kembali menatap layar komputernya. Di sana terdapat nama Surya Atmadja, Rendra Mahendra, dan Alexander International, masing-masing dengan catatan yang belum lengkap.
Belum ada bukti yang cukup untuk menghubungkan mereka dalam satu kesimpulan.
Namun, satu hal mulai terasa semakin jelas: persoalan proyek Bali mungkin bukan sekadar kebocoran data yang terjadi baru-baru ini. Ada sejarah lama yang belum sepenuhnya dipahami, dan seseorang tampaknya ingin agar Adrian menemukannya.
---
Adrian menerima telepon dari Helena. Kali ini, ibunya tidak membicarakan urusan perusahaan atau menanyakan perkembangan penyelidikan. Helena justru meminta Adrian datang pada akhir pekan karena ada sesuatu yang ingin ia tunjukkan.
“Apa itu, Ma?” tanya Adrian.
“Bukan sesuatu yang bisa Mama jelaskan lewat telepon. Mama ingin kamu melihatnya sendiri.”
Adrian menegakkan tubuh. “Apakah ini berhubungan dengan Surya Atmadja?”
Helena tidak segera menjawab.
“Sebagian,” katanya akhirnya. “Mama baru teringat sesuatu setelah kamu pulang kemarin. Ada satu orang lagi yang hadir pada pertemuan itu. Orang yang selama ini mungkin tidak pernah kamu pikirkan.”
“Siapa?”
“Mama akan menjelaskannya ketika kamu datang.”
Adrian menahan napas sejenak. Ia tidak menyukai jawaban yang menggantung, terlebih ketika banyak hal lain juga belum menemukan kejelasan.
“Baik, Ma. Aku akan datang akhir pekan ini. Tapi kalau ada informasi yang berkaitan dengan keamanan perusahaan, aku harap Mama tidak menundanya.”
“Mama mengerti.” Setelah sambungan terputus, Adrian menatap ponselnya dalam diam.
Seseorang yang tidak pernah ia pikirkan. Kalimat itu terus terngiang di kepalanya, mengingatkannya pada pesan anonim yang sejak awal mendorongnya untuk menyelidiki pertemuan keluarga tersebut.
Adrian tidak tahu apakah orang yang mengirim pesan kepada dirinya dan Naura adalah orang yang sama. Ia juga belum mengetahui apakah Rendra benar-benar menyembunyikan sesuatu atau sekadar tidak menceritakan seluruh urusan bisnis yang pernah didengarnya.
Yang ia tahu, akhir pekan nanti mungkin akan membuka bagian lain dari masa lalu keluarga Mahendra. sebelum hari itu tiba, ia harus memastikan bahwa Naura tetap aman dari siapa pun yang berusaha menggunakan dirinya untuk menekan Adrian.
Sebab, ketika ia membuka kembali pesan anonim terakhir, ada satu kalimat baru yang muncul di layar.
Jangan hanya bertanya kepada Helena tentang Surya Atmadja. Tanyakan juga mengapa nama ayah Naura pernah muncul dalam pembicaraan keluarga Mahendra.
Adrian membeku. Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, persoalan itu tidak lagi hanya menyentuh masa lalu keluarganya sendiri.
Nama ayah Naura kini ikut terseret ke dalam rahasia yang selama ini tersembunyi.