NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:689
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Mengubah Arah Curiga

Dapur rumah Raze masih berbau roti panggang yang setengah gosong. Percobaan ketiga Raze minggu itu yang tetap gagal meski dia bersikeras membaca resepnya dua kali, ketika Damar datang pagi-pagi sekali, sebelum Alya sempat menghabiskan kopinya. Dari cara dia berdiri di ambang pintu dapur, tangan terlipat di depan dada, Alya sudah tahu kabar yang dia bawa bukan kabar baik.

"Nomor itu udah mati sepuluh tahun," Damar memulai, meletakkan selembar kertas cetakan di meja makan. "Tapi operator masih nyimpen arsip lama pemilik nomor sebelum ganti sistem. Pemiliknya terdaftar atas nama Tirta Hartono Wijayanto."

Raze, yang sedang menuangkan kopi untuk Alya, berhenti bergerak, cangkirnya melayang di udara.

"Wijayanto," Alya mengulang, pelan, mencoba mencerna. "Itu marga Pak Hartono yang kita temuin minggu lalu."

"Tirta Hartono Wijayanto Senior," Damar melanjutkan, hati-hati. "Ayah dari Pak Hartono yang sekarang. Meninggal dua belas tahun lalu. Kalau inisial di kertas itu memang merujuk padanya, berarti perintah yang diterima Pak Baskara malam itu datang dari generasi sebelum Hartono, bukan dari Hartono sendiri."

"Jadi Hartono bener-bener nggak tau?" Alya bertanya, duduk perlahan, mencoba memproses lapisan baru dari kebohongan yang terus bertambah ini.

"Atau dia tau persis, dan sengaja nunjukin dokumen tentang Paman Baskara minggu lalu buat ngalihin kecurigaan kita dari ayahnya sendiri," Raze berkata, suaranya dingin, meletakkan cangkirnya dengan gerakan terlalu terkendali untuk terlihat tenang yang sesungguhnya. "Dia tahu persis cara bermain di meja perundingan, Alya. Jangan pernah meremehkan seberapa jauh seseorang bisa pergi demi melindungi nama keluarganya."

"Tapi kenapa dia mau repot-repot nunjukin bukti yang justru bikin kita curiga ke ayahnya sendiri?" Alya bertanya, tidak sepenuhnya yakin dengan teori itu.

"Karena menyalahkan Baskara, yang sudah mati dan tidak bisa membela diri, jauh lebih aman daripada membiarkan kita menggali sampai ke ayahnya sendiri," Raze menjawab. "Dia memberi kita sepotong kebenaran, cukup untuk membuat kita berhenti mencari, sambil menyembunyikan potongan yang lebih besar."

Damar berdeham pelan. "Ada kemungkinan lain, Pak. Mungkin Pak Hartono memang baru tahu setelah membuka arsip ayahnya sendiri, sama kagetnya seperti kita. Saya belum punya cukup bukti untuk memastikan yang mana yang benar."

"Ada cara buat mastiin?" Alya bertanya, menyeka sisa kopi yang menetes dari pinggir cangkirnya.

"Saya bisa coba cari tau lewat orang-orang lama di pelabuhan yang masih kerja waktu Wijayanto senior masih hidup," Damar menjawab. "Tapi itu butuh waktu, dan setiap pertanyaan yang saya ajukan berisiko sampai ke telinga yang salah lebih cepat dari yang saya inginkan."

"Lakukan pelan-pelan," Raze memutuskan. "Aku tidak ingin kehilangan satu sumber informasi lagi karena terburu-buru, seperti yang hampir terjadi pada Pak Warno."

Rani muncul dari kamar tamu, rambutnya masih berantakan bangun tidur, membawa segulung kain ukur melingkar di lehernya. Sisa kebiasaan lama yang tidak pernah dia tinggalkan meski sekarang tinggal di apartemen mewah. "Pagi-pagi udah tegang gini," katanya, menguap. "Ada apa lagi?"

Alya menjelaskan singkat, dan wajah Rani berubah serius dalam hitungan detik, keceriaan pagi harinya lenyap digantikan amarah yang baru terbentuk. "Jadi keluarga yang ngaku mau bantu kita itu, mungkin aja keluarga yang sebenernya mulai semua ini?" katanya, suaranya tajam. "Aku udah cukup capek sama kebohongan berlapis-lapis ini."

"Kita belum tau pasti, Mbak," Alya berkata, mencoba menenangkan, meski dia sendiri merasakan kemarahan yang sama mendidih di dadanya.

"Aku akan menemui Hartono lagi," Raze berkata, memutuskan, suaranya tegas. "Kali ini, tanpa basa-basi diplomatis. Aku ingin tahu persis seberapa dalam dia terlibat."

"Aku ikut," Alya dan Rani berkata bersamaan, lalu saling menatap, tertawa kecil di tengah ketegangan yang menyesakkan, dua kembar yang entah bagaimana masih bisa menemukan keselarasan bahkan dalam amarah.

Sorenya, untuk memberi jeda dari ketegangan yang terus menumpuk, Rani memaksa mereka berdua duduk di ruang tamu apartemennya, mengeluarkan gulungan kain satin putih yang sudah dia beli diam-diam minggu lalu.

"Aku nggak mau kalian lupa, di tengah semua drama keluarga ini, ada pernikahan yang harus disiapin," katanya, tegas, menyampirkan kain itu ke bahu Alya untuk mengukur. "Berdiri yang bener, jangan nunduk mikirin Wijayanto segala."

Alya tertawa, untuk pertama kalinya hari itu, berdiri tegak sambil Rani mengukur lingkar pinggangnya dengan pita ukur yang menggantung di lehernya tadi pagi. "Kamu beneran niat bikinnya sendiri, Mbak?"

"Aku udah janji, kan? Satu-satunya hadiah yang bisa aku kasih yang nggak bisa dibeli duit Raze," Rani berkata, bangga, mengambil secarik kertas berisi sketsa kasar gaun yang sudah dia gambar sendiri. Potongan sederhana dengan detail bordir kecil di sepanjang pinggiran lengan, motif dua bunga yang saling melilit.

Raze duduk di sofa, menyaksikan mereka berdua dengan ekspresi yang jarang muncul di wajahnya. Sesuatu yang menyerupai ketenangan murni, seolah pemandangan dua bersaudari itu cukup untuk membuatnya melupakan sejenak beban nama Wijayanto yang baru saja menggantung di pundaknya.

"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Alya bertanya, menangkap tatapannya.

"Aku sedang membayangkan hari itu," Raze menjawab, jujur. "Kamu berjalan ke arahku memakai gaun buatan kakakmu sendiri. Aku pikir, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku akan menangis di depan umum tanpa merasa malu sedikit pun."

Alya meninggalkan Rani sejenak, berjalan mendekat, duduk di pangkuannya, tangannya melingkar di lehernya. "Aku juga nggak sabar," bisiknya, mengecup bibirnya lembut. "Tapi aku lebih nggak sabar liat Wijayanto itu ngaku semuanya."

"Satu per satu," Raze berbisik balik, tangannya mengusap punggungnya. "Malam ini, biarkan kita hanya memikirkan gaun dan bordir bunga. Besok, dunia boleh kembali rumit."

Rani melempar gulungan kain satin ke arah mereka berdua, pura-pura jengkel. "Udah, udah, mesra-mesraannya nanti aja pas aku nggak ada di ruangan yang sama. Alya, angkat tangan kanan, aku belum selesai ngukur lengannya."

Alya tertawa, bangkit dari pangkuan Raze dengan wajah memerah, kembali berdiri tegak untuk diukur. Raze menyandarkan dagu di tangannya, menonton dengan senyum tipis yang tidak pernah benar-benar hilang sepanjang sore itu, seolah dia sedang menyimpan setiap detik momen itu ke suatu tempat di memorinya yang paling dia jaga.

Malam itu, setelah Rani pulang ke kamarnya sendiri dan apartemen kembali sunyi, Alya dan Raze duduk berdampingan di balkon, selimut tipis menutupi kaki mereka berdua, memandangi lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan.

"Kamu takut sama apa yang bakal kita temuin soal Wijayanto senior?" Alya bertanya, kepalanya bersandar di bahunya.

"Aku takut itu cuma puncak gunung es," Raze mengakui, jujur. "Kalau dia yang ngasih perintah ke Paman Baskara, siapa yang ngasih perintah ke dia? Jaringan ini mungkin jauh lebih besar dari yang pernah kubayangkan, dan aku tidak tahu di mana ujungnya."

"Kita cari ujungnya bareng-bareng," Alya berkata, mengangkat wajahnya, menatapnya dalam cahaya temaram lampu balkon. "Nggak peduli seberapa dalam jaringannya, Raze. Kita udah sampe sejauh ini."

"Kamu nggak pernah keliatan takut," Raze berkata, mengusap rambutnya dari dahinya. "Bahkan waktu dunia kamu diguncang berkali-kali bulan ini."

"Aku takut, Raze. Tiap hari," Alya mengakui, suaranya pelan. "Tapi aku belajar, takut itu nggak harus bikin aku berhenti. Aku cuma perlu seseorang yang pegangan tangan aku pas aku jalan terus meski takut."

"Aku akan selalu memegang tanganmu," Raze berbisik, mengangkat tangannya, menautkan jari-jari mereka erat. "Selama yang kau izinkan."

Dia menariknya ke dalam ciuman, lembut dan penuh keyakinan, tangannya menangkup wajahnya, dan Raze membalasnya dengan kelembutan yang sama, satu tangan naik menyusuri punggungnya, menariknya lebih dekat di bawah selimut tipis itu, berbagi kehangatan yang menjadi satu-satunya kepastian di tengah ketidakpastian yang terus bertambah setiap hari. Mereka berbaring begitu, berpelukan di kursi panjang balkon, mendengarkan deru kota yang jauh di bawah, sampai dingin malam akhirnya memaksa mereka masuk, tangan masih bertaut sepanjang jalan menuju kamar.

Di tengah malam, buku bersampul kulit hitam itu terbuka sekali lagi, tulisannya pendek tapi penuh tekad baru.

T.H. bukan Hartono. T.H. adalah ayahnya. Lapisan kebohongan ini lebih dalam dari yang kuduga, dan aku tidak tahu lagi harus memercayai siapa di meja perundingan itu.

Aku akan menemui Hartono lagi, kali ini dengan pertanyaan yang tidak bisa dia hindari dengan kesopanan berlapis. Aku ingin tahu, apakah dia pewaris yang tidak tahu apa-apa, atau pewaris yang pandai berpura-pura tidak tahu.

Malam ini, Rani mengukur gaun pernikahan Alya di ruang tamu, dan untuk satu jam, aku berhasil melupakan semua nama dan inisial yang mengancam kedamaian kami. Aku ingin lebih banyak jam seperti itu. Aku akan memperjuangkannya, seberapa pun gelap jaringan yang harus kubongkar untuk mendapatkannya.

Aku memerintahkan Damar bergerak pelan-pelan kali ini. Aku sudah cukup banyak kehilangan orang karena terburu-buru menuntut jawaban. Pak Warno nyaris menjadi korban keteledoranku sendiri minggu lalu. Aku tidak akan mengulangi kesalahan itu, tidak dengan taruhan yang sekarang menyangkut dua wanita yang kucintai sekaligus.

Alya bertanya apakah aku takut. Aku menjawab aku akan selalu memegang tangannya. Aku tidak menjawab pertanyaan itu sepenuhnya jujur malam ini aku takut, lebih dari yang pernah kuakui pada siapa pun, termasuk diriku sendiri di halaman-halaman buku ini.

❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!