Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Sinar matahari pagi menembus jendela kamar bernuansa merah muda.
Lula berdiri di depan cermin besar sambil memutar-mutar tubuhnya.
Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi gadis kecil itu.
Arini sedang merapikan kerah seragam sekolah Lula yang berwarna kotak-kotak merah.
"Wah, anak Mama terlihat sangat cantik dan pintar pakai seragam ini," puji Arini lembut.
Lula tertawa kegirangan sambil memegang ujung roknya.
"Lula mau ketemu banyak teman baru di sekolah Ma!" seru Lula semangat.
"Lula juga mau belajar nulis nama Lula sendiri biar pintar seperti Kak Bastian."
Arini tersenyum lalu memasangkan tas punggung bergambar beruang ke pundak Lula.
Kriet.
Pintu kamar terbuka dan empat pria jangkung melongok masuk secara bersamaan.
Mereka adalah Adrian, Bastian, Cakra, dan Dewa yang sudah siap dengan pakaian masing-masing.
"Minggir, aku mau lihat adikku pakai seragam," dorong Cakra sambil menyelinap masuk.
Cakra langsung berlutut di depan Lula dan mengeluarkan sebuah kotak bekal besar.
"Ini Kakak bawakan bekal isi sosis gurita, jangan sampai dimakan temanmu ya," pesan Cakra.
Dewa mendengus kesal dan ikut maju menyodorkan sebuah botol minum berwarna pink.
"Minum air putih yang banyak, jangan jajan sembarangan di kantin," omel Dewa dengan wajah ditekuk.
"Air di sekolah itu banyak kumannya, kau bisa sakit perut nanti."
Lula menerima kotak bekal dan botol minum itu dengan senyum sangat lebar.
"Siap Kak Cakra! Siap Kak Dewa! Lula akan habiskan semuanya," jawab Lula patuh.
Bastian maju dan membetulkan letak tali tas Lula agar lebih nyaman di pundak.
"Kalau ada teman yang nakal, tidak usah dilawan, laporkan saja ke Bu Guru," nasihat Bastian logis.
"Atau laporkan padaku, biar aku yang menendang teman nakal itu ke kolam ikan," sahut Dewa cepat.
Arini langsung menjitak pelan kepala putra bungsunya itu.
"Dewa, jangan ajari adikmu jadi berandalan sepertimu," tegur Arini sambil menggelengkan kepala.
Kini giliran Adrian yang berjalan mendekati Lula dengan langkah tenang.
Pria berdasi itu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah lencana kecil berbentuk bunga matahari.
Adrian berjongkok dan memasang lencana itu di dada seragam Lula dengan sangat hati-hati.
"Ini bukan lencana biasa, di dalamnya ada alat pelacak sinyal yang terhubung ke ponselku," bisik Adrian pelan.
"Kalau kau tersesat atau ada orang asing yang mendekat, tekan bagian tengah bunga ini kuat-kuat."
Bastian menatap kakaknya itu dengan tatapan tidak percaya.
"Kak Adrian, dia cuma pergi ke Taman Kanak-Kanak, bukan pergi ke medan perang," komentar Bastian.
Adrian langsung menatap tajam ke arah adiknya itu.
"Kau tidak dengar laporan kepala keamanan semalam?" balas Adrian dingin.
"Ada orang mencurigakan yang berkeliaran di dekat gerbang komplek kita sejak kemarin sore."
Mendengar itu, raut wajah Bastian, Cakra, dan Dewa langsung berubah serius.
Mereka semua sadar bahwa ancaman dari Surya masih belum berakhir.
Bahkan mungkin musuh itu sedang merencanakan sesuatu yang lebih gila dari sekadar sabotase rem.
"Jangan khawatir, Papa sudah menyewa dua pengawal khusus untuk berjaga di luar gerbang sekolah Lula," ucap Arini menenangkan.
Lula menunduk menatap lencana bunga matahari di dadanya lalu menyentuhnya pelan.
"Terima kasih Kak Adrian, bunganya bagus sekali," puji Lula dengan tulus.
Adrian hanya berdeham pelan lalu berdiri sambil membuang muka untuk menutupi rasa canggungnya.
"Ayo berangkat sekarang, nanti jalanan macet," ajak Adrian mengalihkan pembicaraan.
Mereka semua berjalan turun menuju garasi yang sudah disiapkan beberapa mobil mewah.
Baskoro sudah menunggu di dalam mobil van untuk mengantar putri bungsunya di hari pertama sekolah.
Perjalanan menuju Taman Kanak-Kanak Pelita Hati hanya memakan waktu dua puluh menit.
Sekolah itu adalah TK paling elit di Jakarta tempat dulu keempat kakak Lula belajar.
Brum.
Mobil hitam keluarga Ayodhya berhenti tepat di depan gerbang utama yang dijaga ketat oleh satpam.
Baskoro dan Arini turun untuk mengantar Lula sampai ke depan pintu kelasnya.
Banyak orang tua murid lain yang langsung berbisik-bisik melihat kedatangan CEO Grup Lentera itu.
"Bukannya Pak Baskoro anak bungsunya sudah SMP? Kok sekarang bawa balita?" bisik seorang ibu sosialita.
"Kudengar itu anak angkatnya, anak jalanan yang kebetulan menyelamatkan Nyonya Arini," sahut ibu yang lain.
Baskoro menatap tajam ke arah ibu-ibu yang sedang bergosip itu sampai mereka menunduk ketakutan.
"Papa pulang dulu ya sayang, nanti siang Kak Cakra dan Kak Dewa yang akan menjemputmu," pamit Baskoro sambil mengelus kepala Lula.
"Belajar yang pintar, jangan nakal ya," tambah Arini sambil mengecup pipi Lula.
Lula melambaikan tangan kecilnya dengan semangat.
"Dadah Papa! Dadah Mama!" seru Lula riang.
Seorang guru wanita muda yang cantik berjalan menghampiri Lula dengan senyum ramah.
"Halo Lula, namaku Ibu Guru Risa, ayo masuk dan berkenalan dengan teman-teman," sapa guru itu lembut.
Lula menggandeng tangan Bu Risa dan melangkah masuk ke dalam ruang kelas yang sangat luas.
Dinding kelas itu dipenuhi gambar hewan dan huruf-huruf abjad yang berwarna-warni.
Ada sekitar lima belas anak yang sedang duduk melingkar di atas karpet berbulu.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru, namanya Lula," umum Bu Risa kepada kelas.
"Halo teman-teman, namaku Lula," sapa Lula sambil menundukkan kepalanya sedikit.
Beberapa anak perempuan langsung berbisik melihat gaun seragam Lula yang terlihat sangat kebesaran di tubuh kurusnya.
Namun mata Lula malah tertuju pada seorang anak laki-laki yang duduk menyendiri di sudut ruangan.
Anak laki-laki berbaju biru itu sedang menangis sesenggukan sambil memegang sebuah toples plastik.
"Kenapa dia menangis Bu Guru?" tanya Lula polos menunjuk anak itu.
Bu Risa menghela nafas pelan dengan wajah sedih.
"Itu Riko, dia sedang sedih karena kumbang tanduk peliharaannya mati pagi ini," jelas Bu Risa.
Lula melepaskan genggaman tangan Bu Risa dan berjalan mendekati Riko.
Anak-anak lain menatap Lula dengan rasa ingin tahu yang besar.
Tap tap tap.
Lula berjongkok di sebelah Riko dan mengintip ke dalam toples plastik berlubang itu.
Di dalamnya ada seekor kumbang tanduk besar berwarna hitam pekat yang tidak bergerak sama sekali.
"Kumbangnya mati ya?" tanya Lula pelan.
Riko mengusap ingusnya lalu mengangguk dengan wajah merah karena terus menangis.
"Kumbangku tidak mau makan sejak kemarin, tadi pagi dia sudah kaku tidak bergerak," jawab Riko tersedu-sedu.
Lula mendekatkan telinganya ke dinding toples plastik itu.
Dia memejamkan mata dan mencoba mendengarkan suara dari hewan kecil itu.
"Tolong... perutku sakit... makananku beracun," suara rintihan yang sangat kecil dan melengking terdengar di telinga Lula.
Lula membuka matanya dan menatap Riko dengan serius.
"Kumbangnya belum mati, dia cuma sakit perut karena makan daun yang ada racun semutnya," jelas Lula.
Riko mengerutkan keningnya bingung mendengar penjelasan Lula.
"Kamu bohong, kata mamaku kalau hewan kaku itu berarti sudah mati," bantah Riko tidak percaya.
Lula menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang dewasa yang melihat.
Bu Risa sedang sibuk menenangkan anak lain yang berebut mainan balok.
"Boleh Lula pegang kumbangnya sebentar?" pinta Lula sambil menengadahkan tangannya.
Riko ragu sejenak namun akhirnya membuka tutup toples itu dan menuangkan kumbang kaku itu ke telapak tangan Lula.
Lula memegang kumbang itu dengan kedua tangan mungilnya agar tidak terlihat dari luar.
"Cepat sembuh ya Tuan Kumbang," batin Lula memanggil sedikit energi penyembuhannya.
Cahaya hijau yang sangat redup dan nyaris tidak terlihat memancar dari celah jari-jari Lula.
Hanya dalam waktu tiga detik, kaki kumbang hitam itu mulai bergerak-gerak pelan.
Srek srek.
Kumbang tanduk itu tiba-tiba membalikkan badannya dan mulai merayap naik ke ibu jari Lula.
Riko membelalakkan matanya sangat lebar hingga hampir melompat mundur.
"Wah! Kumbangku hidup lagi! Kumbangku tidak jadi mati!" teriak Riko dengan sangat kencang.
Teriakan Riko membuat seluruh anak di kelas dan Bu Risa menoleh ke arah mereka berdua.