Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa tidak Nyaman Gibran 27.
Suasana kelas Dua Belas A setelah jam istirahat pertama masih tampak semi-hancur oleh gosip. Kabar tentang jatuhnya tiang dekorasi aula dan aksi heroik Lingga menyebar lebih cepat daripada pengumuman ujian nasional hingga saat ini.
Stella duduk di bangkunya dengan pandangan kosong, jemarinya bergerak gelisah memainkan ujung rok.
"Gue bilang juga apa, Stel. Itu cowok kalau nggak punya radar khusus sama lo, nggak bakal gerakannya secepat itu," celetuk Rara, memutar kursi belajarnya agar bisa menghadap Stella sepenuhnya.
Tania, yang sejak tadi menumpang duduk di atas meja Stella yang kosong, langsung mengangguk setuju. Ia melipat tangan di dada dengan senyum penuh arti. "Asli, Stel. Selama dua tahun kita seangkatan, kapan pernah lo lihat Lingga lari? Nggak pernah, kan? Jalan aja kayak malas mikir. Tapi tadi? Dia kayak atlet lari seratus meter demi lo."
"Jangan mulai deh, Ra, Tan," sahut Stella, pipinya merona tipis meski ia mencoba beralasan. "Dia cuma nolongin. Kebetulan posisi dia yang paling dekat sama panggung."
"Nolongin sih nolongin, tapi meluknya itu lho. Kayak takut lo hilang ditelan bumi," goda Rara lagi, menyenggol bahu Stella dengan sikutnya. "Aura-auranya sih... fiks lagi pendekatan ini mah. Si misterius akhirnya turun gunung. Nah lu barusan kepergok lagi nyuapin si kuncen gunung"
Stella tidak menjawab, namun matanya otomatis terarah pada pintu kelas. Tepat saat itu, Lingga berjalan masuk. Wajah cowok itu sekaku biasanya—datar dan tidak terbaca. Pergelangan tangan kanannya kini sudah terbungkus perban elastis berwarna cokelat tebal. Dia berjalan lambat menuju bangkunya di baris paling belakang dekat jendela, tanpa menatap siapa pun.
Saat pelajaran matematika dimulai, Stella menyadari sesuatu dari sudut matanya. Lingga kesulitan. Cowok itu memegang pulpen dengan tangan kirinya, mencoba menulis rumus di papan tulis, namun hasilnya hanya coretan cakar ayam yang bergetar. Kening Lingga berkerut dalam, memancarkan frustrasi yang coba ia sembunyikan.
Tanpa banyak bicara, Stella merobek selembar kertas dari buku tulisnya sendiri. Ia mulai menyalin setiap angka dan penjelasan guru dengan tulisan tangannya yang rapi dan bersih. Setelah selesai, Stella berdiri, berjalan ke belakang dengan dalih ingin membuang sampah, lalu dengan gerakan natural menjatuhkan kertas catatan itu ke atas meja Lingga.
Lingga mendongak, matanya yang tajam beradu dengan mata Stella.
"Biar lo nggak ketinggalan materi," bisik Stella pelan, lalu segera kembali ke bangkunya sebelum guru menyadari.
Lingga menatap kertas itu cukup lama. Sudut bibirnya yang biasanya datar, kembali terangkat membentuk lengkungan tipis yang nyaris tak kasat mata.
Matahari jam istirahat kedua bersinar cukup terik, namun area taman belakang sekolah yang rimbun oleh pohon sena memberikan keteduhan yang nyaman. Stella duduk di salah satu bangku semen, memegang satu kotak susu cokelat dingin yang sengaja ia belikan untuk Lingga.
Di sampingnya, Lingga duduk menyandarkan punggung, membiarkan angin mempermainkan poni rambutnya yang agak panjang.
"Tangan lo... masih sakit banget?" tanya Stella memecah kecanggungan.
"Lumayan. Tapi besok-besok juga sembuh," jawab Lingga pendek. Suaranya berat dan serak, tipe suara yang jarang digunakan untuk mengobrol panjang lebar.
"Makasih ya sekali lagi. Kalau nggak ada lo tadi, mungkin gue udah di rumah sakit sekarang," Stella menunduk, menatap sepatunya sendiri. Perasaan bersalah sekaligus haru bercampur aduk di dadanya.
Lingga menoleh, memandangi profil samping wajah Stella. Rasa panik yang ia rasakan di aula tadi kembali membekas di benaknya. Ia sendiri tidak tahu mengapa tubuhnya bergerak secepat itu. Yang ia tahu pasti saat itu, ia tidak boleh membiarkan Stella terluka sedikit pun.
"Nggak usah dipikirin," kata Lingga lembut. Tangan kirinya—yang tidak terkilir—perlahan terangkat. Dengan gerakan yang ragu namun lembut, jemari Lingga menyentuh puncak kepala Stella, mengelus rambut cewek itu dengan pelan untuk menenangkannya. "Yang penting lo nggak apa-apa."
Stella tersentak kecil, namun tidak menjauh. Sentuhan tangan Lingga terasa hangat dan entah bagaimana, membuat seluruh rasa takutnya menguap.
Sepasang lesung pipit Stella muncul saat ia mendongak dan melemparkan senyum tulusnya pada Lingga. Lingga pun membalasnya dengan senyuman kecil yang tulus. Mereka terjebak dalam dunia mereka sendiri, saling melempar senyum di antara embusan angin taman.
Namun, momen hangat itu terhenti oleh suara patahan ranting kering di dekat semak-semak.
Di balik pohon besar yang berjarak beberapa meter dari mereka, Gibran berdiri mematung. Cowok itu awalnya berniat pergi ke kantin belakang, namun langkahnya terkunci saat melihat pemandangan di taman.
Gibran menatap lurus ke arah tangan kiri Lingga yang masih berada di atas kepala Stella. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba berdenyut di dalam dadanya—sesuatu yang terasa asing, perih, dan membakar, yang tidak mampu Gibran pahami dengan logikanya sendiri. Selama ini, Stellanya selalu bersikap biasa pada semua cowok. Tapi melihat bagaimana Stella tersenyum begitu lepas pada si pendiam Lingga, Gibran tahu, ada sesuatu yang telah bergeser dan ia benci menyadari bahwa dirinya terlambat.
......................
...****************...
Tbc,