Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6.Kesepakatan.
Malam semakin larut, cahaya bulan samar-samar menyelinap di antara dedaunan. Di balik dinding tinggi kediaman Shi Yin, sesosok bayangan bergerak perlahan, menahan napas, memeluk erat sekarung penuh katak yang berdengung pelan di dalamnya. Itu adalah Li Hua.
Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena semangat yang tak biasa. Ia mengintai ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada pelayan yang lewat. Suasana sepi, hanya terdengar suara jangkrik yang saling bersahutan.
"Pas sekali..." gumamnya pelan. "Tidak ada siapa-siapa."
Ia mendekati jendela kamar Shi Yin yang sedikit terbuka, lalu perlahan-lahan membuka ikatan karung itu. Satu per satu katak melompat keluar, masuk ke dalam kamar melalui celah jendela, berhamburan ke lantai, ke bawah tempat tidur, ke sela-sela perabot. Li Hua tersenyum puas melihatnya, lalu menyelinap pergi dan bersembunyi di balik semak-semak rimbun tak jauh dari situ.
Tak lama kemudian, terdengar suara jeritan yang memecah keheningan malam itu.
"AAAAAA! Lepaskan! Pergi kalian! Jangan mendekat!"
Suara Shi Yin terdengar histeris, bercampur dengan suara benda-benda yang jatuh dan dihantam ke mana-mana. Pintu kamar terbuka lebar, para pelayan berlarian masuk dengan wajah pucat.
"Nona! Ada apa?!"
"Keluarkan mereka dari sini! Keluarkan semua hewan menjijikkan ini!" teriak Shi Yin, suaranya pecah karena takut.
Li Hua tersenyum lebar di balik semak-semak, lalu perlahan mundur menjauh.Rasakan itu, gadis kejam, batinnya. Seenaknya menyiksa orang lain, sekarang kau rasakan sendiri ketakutan yang kau timbulkan.
Ia berjalan pulang dengan langkah ringan, perasaan lega menyelimuti hatinya. Namun begitu melangkah masuk ke kediamannya, senyumnya perlahan memudar. Tabib Fang sudah menunggu di sana, berdiri di samping tempat tidur tempat Li Yun terbaring diam.
Li Hua segera mendekat. "Bagaimana keadaannya, Tabib?"
Tabib Fang menghela napas pelan, menyeka keringat di keningnya. "Jika orang biasa yang menerima siksaan dan sengatan seperti ini, sudah pasti nyawanya tidak tertolong. Namun untungnya... Pangeran muda memiliki tenaga dalam yang luar biasa. Itulah yang menjaganya tetap bertahan hingga kini."
Li Hua mengangguk pelan, rasa lega menyelinap di dadanya. "Syukurlah... Terima kasih, Tabib. Kau sudah melakukan yang terbaik." Ia menoleh ke arah pelayannya. "Qiao'er, serahkan bayaran kepada Tabib Fang, lalu antarkan beliau sampai ke gerbang depan."
"Baik, Nona," jawab Qiao'er segera.
Keduanya pun pergi, meninggalkan Li Hua sendirian di kamar itu bersama Li Yun yang masih terbaring tak sadarkan diri. Li Hua duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah pemuda itu lekat-lekat. Cahaya lilin yang temaram memantul di wajahnya, menonjolkan garis rahang yang tegas, alis yang rapi, bibir yang tertutup rapat meski dalam tidur terlihat penuh beban.
"Sayang sekali..." gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Wajah setampan ini harus menjadi penjahat yang ditakuti semua orang. Aku mengerti sekarang... mengapa hatimu menjadi sedingin es. Jika aku berada di posisimu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama."
Tangannya bergerak perlahan, menyentuh rambut hitamnya yang berantakan, mengusapnya lembut. Namun seketika itu juga, ekspresinya berubah. Ia teringat isi buku yang ia baca — bagaimana akhirnya seluruh Keluarga Zhang hancur, bagaimana ia sendiri meninggal dengan pedang Li yun, semua karena kebencian yang tumbuh di hati pemuda yang sedang tidur di hadapannya ini.
Tiba-tiba Li Hua mencubit pipi Li Yun dengan cukup keras.
"Tapi jangan lupa..." ucapnya dengan nada kesal, matanya menatap tajam ke wajah yang tak sadar itu. "Jika kau membenci Keluarga Zhang, itu urusan mu. Tapi jangan bunuh orang yang tidak bersalah seperti aku! Dasar Raja Iblis gila! Kau pikir aku mau mati sia-sia?!"
Ia melepaskan cengkeramannya, napasnya memburu. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan mengubah semuanya."
Keesokan paginya, cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela kamar, menyentuh wajah Li Yun yang perlahan membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar yang asing — tidak gelap dan lembap seperti gudang tempat ia dikurung, melainkan terbuat dari kayu yang hangat, berbau wangi dupa yang menenangkan.
Ia bangkit perlahan, tubuhnya terasa nyeri dan lemah. Ia menatap sekeliling — kamar sederhana namun bersih, hangat, nyaman. Tidak ada jerami, tidak ada debu tebal.
"Di mana aku..." gumamnya pelan.
Ia berjalan menuju jendela, membukanya lebar-lebar. Di luar terhampar halaman yang luas, namun rumputnya tinggi-tinggi, bunga-bunga tumbuh liar, seolah tidak pernah diurus. Tempat ini layak ditinggalkan, namun entah mengapa terasa damai.
"Apakah aku masih di kediaman Keluarga Zhang?" batinnya.
Ia mengangkat tangan kanannya pelan, memberi isyarat rahasia. "An Fu... kemarilah."
Dalam sekejap, sesosok pria bertubuh tegap muncul dari balik bayang-bayang pohon, berlutut di depan pintu kamar.
"Pangeran..." suaranya bergetar. "Maafkan hamba yang tidak mampu melindungi Pangeran..."
Li Yun menggeleng pelan. "Bangun, An Fu. Aku belum membutuhkanmu untuk melawan mereka. Katakan padaku... di mana aku sekarang?"
An Fu mengangkat kepalanya. "Pangeran berada di kediaman Nona Kedua, Li Hua."
Li Yun mengerutkan kening. "Dia lagi... Cari tahu siapa sebenarnya Nona Kedua ini, apa tujuannya, dan seberapa besar pengaruhnya di keluarga ini."
"Baik, Pangeran. Hamba akan segera mencari tahu." An Fu menunduk hormat, lalu lenyap seketika bagai bayangan.
Li Yun masih berdiri termenung di ambang pintu ketika langkah kaki terdengar mendekat. Qiao'er muncul di sana, menunduk hormat.
"Pangeran... Nona meminta kehadiran Pangeran di halaman depan."
Li Yun mengikuti gadis itu dari belakang, matanya tak lepas dari sekelilingnya. Halaman yang tidak terawat, bangunan yang sederhana, jauh dari kemewahan yang dipamerkan di kediaman utama. Lalu ia melihat sosok yang sedang duduk di atas batu besar, memusatkan perhatiannya pada sesuatu di genggamannya.
Itu Li Hua. Wajahnya mirip dengan Shi Yin, namun bedanya terlihat begitu jelas. Shi Yin setiap pagi berlatih kecapi dengan anggun, sementara gadis ini... sedang menonton dua ekor jangkrik bertarung di dalam toples kecil sambil bertepuk tangan pelan.
"Nona, Pangeran sudah datang," lapor Qiao'er pelan.
Li Hua menoleh, tersenyum lebar. Ia berdiri, membersihkan tangannya, lalu berjalan mendekat dengan langkah tenang.
"Selamat pagi..." sapanya cerah. "Perkenalkan, namaku Li Hua. Mulai sekarang, kau adalah pelayan pribadiku. Jika ingin tetap hidup dengan perut kenyang dan tubuh yang tidak dipenuhi luka, kau harus patuh padaku. Bagaimana?"
Li Yun menatapnya tajam, tersenyum sinis. "Kau yakin bisa menjadikanku pelayanmu? Apakah kau bodoh atau hanya tidak sadar posisi dirimu? Kau tahu siapa aku, kan?"
Li Hua justru tersenyum lebih lebar, lalu berjalan mendekat hingga jarak mereka sangat dekat. Ia meraih kerah jubahnya, menariknya ke arahnya hingga wajah mereka sejajar.
"Pangeran..." ucapnya pelan namun tegas, matanya menatap lurus ke manik mata hitamnya. "Kau sepertinya belum mengerti situasinya. Bukan saatnya kau memilih, tapi saatnya bertahan hidup dari siksaan keluargaku. Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku melindungimu."
Ia mendorongnya perlahan menjauh. "Jadi... mau menerima tawaranku, atau kembali ke gudang berjerami itu?"
Li Yun terdiam sejenak, menatap mata gadis itu yang jernih namun tak bisa dibaca. "Baik..." jawabnya pelan. "Aku terima tawaranmu."
Li Hua tersenyum puas, lalu mengulurkan tangannya. "Bagus! Sepakat, ya?"
Li Yun bingung sejenak, lalu menyambut uluran tangan itu. Saat jari-jari mereka bersentuhan, ada kehangatan yang menjalar dari telapak tangan gadis itu, merambat naik ke lengan, hingga ke dada — sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Bagus..." gumam Li Hua, menatapnya lekat-lekat. "Kau jadi pelayanku... dan aku punya kesempatan untuk menaklukkanmu."
Pikirannya melayang tanpa sadar, matanya menyapu wajah tampan itu, turun ke leher yang gagah, lalu ke dada yang bidang di balik pakaiannya yang agak terbuka. Betapa tampannya Raja Iblis ini... tubuhnya kokoh, ototnya terlihat jelas...
Li Yun tiba-tiba mengerjap. Ia mendengar suara itu — lembut, pelan, namun terdengar jelas di telinganya. Tapi bibir Li Hua tidak bergerak sedikit pun.
Jangan-jangan... itu suara hatinya? batinnya terkejut. Dia memandangiku seperti itu di dalam hatinya?
Ia menarik tangannya perlahan, menatap gadis itu dengan tatapan yang kini penuh tanda tanya, bingung sekaligus tertarik. Siapa sebenarnya gadis ini? Dan mengapa aku bisa mendengar suara hatinya?