NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

"Bantai mereka semua tanpa sisa!"

Perintah Julius von Ravensburg meluncur tanpa keraguan, bagaikan vonis algojo yang menjatuhkan mata kapak di atas balok kayu pancungan.

Dua puluh ksatria elit Ravensburg berzirah lempeng keemasan menghunus pedang sihir mereka secara serempak. Deru gesekan logam beradu dengan derap langkah bersepatu besi yang bergemuruh di atas lantai andesit merah. Mereka melesat maju membentuk formasi sabit melingkar yang rapat, memutus jalur pelarian tiga puluh prajurit jelata dan kuli angkut logistik yang berkerumun ketakutan di sudut barat arena. Suara teriakan panik para kuli logistik bercampur dengan dentang zirah para ksatria yang bergerak tanpa ampun.

Kapten Valerie memimpin di barisan terdepan dengan mata berkilat haus darah. Pedang besarnya yang bergerigi ganda berpendar menyala, diselimuti lidah api merah darah yang berkobar membakar udara di sekitarnya dan memancarkan gelombang panas yang menyengat wajah siapa pun di dekatnya.

"Mati demi kejayaan Wangsa Ravensburg, sampah jelata!" raung Valerie seraya melompat ke udara, mengayunkan pedang besarnya yang membara lurus ke arah kepala Ren.

Ren mencoba mengangkat belati taringnya untuk menangkis tebasan api tersebut. Namun, perbedaan tenaga fisik murni dan kualitas pusaka bangsawan membuat benturan itu menjadi petaka instan. Bilah belati kitin Ren hancur berkeping-keping di bawah tekanan api sihir. Pedang api Valerie meluncur tanpa hambatan, membelah pelat dada kulit Ren secara menyilang dari bahu kiri hingga ke pinggang kanan.

Panas api membakar daging dan meremukkan tulang rusuknya dalam sekejap mata. Darah mendidih menyembur dari rongga dada, membasahi lantai andesit merah yang dingin.

Dalam sisa kesadarannya yang meredup cepat, Ren menyaksikan pemandangan mengerikan di sekelilingnya. Rapier petir Julius melesat bagai kilat biru, menembus leher Vargas dari celah perisai besinya. Ksatria-ksatria berzirah lempeng lainnya membantai para kuli angkut dan prajurit jelata tanpa belas kasihan. Jeritan pilu dan derak tulang remuk berbaur menjadi paduan suara maut yang mengerikan di bawah tatapan dingin para pengawal bangsawan.

Dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, seluruh prajurit jelata tumbang berlumuran darah. Tubuh Ren yang terluka parah diseret kasar melintasi lantai batu, lalu dilemparkan ke atas panggung Altar Darah Abadi.

Darah hangat yang mengucur dari tubuhnya mengalir masuk ke parit batu berukir, merayap menuju kolam tembaga mendidih di tengah altar. Saat darahnya menyentuh cairan tembaga tersebut, pendar merah menyala di pilar sudut, mencatat persembahan pertama sebelum kegelapan merenggut seluruh kesadaran Ren.

Dunia berputar kembali dengan dengungan menyengat di pangkal lehernya.

Ren tersentak mundur, berdiri tegak di depan barisan regunya tepat tiga puluh detik sebelum Julius menjatuhkan perintah pembantaian tersebut.

Sisa rasa sakit dari dadanya yang terbelah api masih berdenyut nyata di sekujur tubuh, membuat otot-ototnya menegang kaku dan napasnya tersengal sesaat. Ren menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa tembaga dari darah segar membasahi lidah, memanfaatkan rasa sakit fisik itu untuk mengunci fokus kesadarannya agar tidak goyah di hadapan rekan-rekannya.

Di balik tatapannya yang dingin, pikiran Ren bekerja dengan kalkulasi penuh.

Pertarungan fisik secara frontal melawan dua puluh ksatria elit bersenjata sihir adalah jalur buntu menuju kehancuran. Perbedaan kualitas zirah lempeng emas dan besarnya kuantitas mana lawan terlalu jauh untuk dihadapi dengan belati biasa. Bahkan jika ia mengulang waktu berulang kali, kekuatan fisik murni belaka tidak akan sanggup menembus barikade perisai baja berat para pengawal Ravensburg.

Mata Ren melirik tajam ke arah panggung Altar Darah Abadi di tengah amfiteater.

Di empat sudut panggung altar batu hitam tersebut, berdiri empat pilar basal kuno berukir lambang mata raksasa yang dihubungkan oleh parit-parit beralur rumit. Di dasar parit itu, jalur energi kuno berdenyut redup, menunggu cairan berenergi untuk mengalirkan daya menuju segel pintu gerbang Lantai 16.

Saat tubuhnya terbaring di atas batu altar pada garis waktu sebelumnya, mata Ren sempat membaca ukiran aksara kuno di dinding pilar yang diabaikan para bangsawan:

Altar pengorbanan tersebut mengukur kepadatan energi mana yang terkandung di dalam darah yang ditumpahkan, bukan semata-mata menghitung jumlah fisik manusia.

Darah prajurit jelata yang minim aliran mana hanya memberikan sumbangan energi sangat kecil. Sebaliknya, darah para ksatria bangsawan yang ditempa intisari sihir dan mengenakan zirah konduktor mana murni mengandung kepadatan energi berkali-kali lipat lebih tinggi. Satu tetes darah ksatria bangsawan setara dengan secangkir penuh darah serdadu jelata.

Jalur aliran di pilar sudut altar memiliki mekanisme pembalikan sirkuit jika polaritas rune kuno dihubungkan secara silang menggunakan konduktor logam gelap dan zat miasma beracun.

Sepasang mata hitam Ren menyala dengan kilatan dingin.

Altar purba ini tidak peduli siapa yang meregang nyawa di atasnya. Tempat ini hanya membutuhkan intisari mana murni, dan darah para ksatria Ravensburg jauh lebih dari cukup untuk memenuhi kuota altar tersebut.

Ren menoleh ke arah Vargas, Shizuka, dan Riku, berbicara dengan bisikan cepat dan tegas di tengah riak ketegangan yang merayap di arena:

"Paman Vargas, Kak Shizuka, Riku. Dengarkan aku baik-baik. Tiga puluh detik lagi, Julius akan memerintahkan pasukannya untuk membantai kita semua di tempat ini."

Vargas tersentak, tangannya meremas gagang kapak tempur seraya mengunci rahang. "Bocah bangsawan itu benar-benar berniat menghabisi kita semua?"

"Jangan mencoba menangkis pedang mereka secara langsung," potong Ren tanpa memberi jeda keraguan. "Begitu Valerie melompat maju dengan pedang besarnya yang membara, Paman jangan menahan tebasannya. Lemparkan rantai gergaji baja hitam yang kita ambil dari lantai peleburan ke pilar sudut barat daya altar!"

Ren menyerahkan gulungan rantai baja hitam yang bergerigi tajam ke tangan sang veteran. Rantai itu masih menyimpan residu mana mekanik dari tungku jam raksasa di Lantai 12.

"Lalu apa tugasku, Kak Ren?" tanya Riku dengan mata menatap Ren penuh tekad, kedua tangannya telah merentangkan busur kayu hitam.

"Bawa enam kantung intisari miasma rawa ini," Ren menyelipkan kantung kristal berisi lumpur beracun dari Lantai 11 ke genggaman pemanah muda itu. "Tembakkan panah yang membawa kantung ini tepat ke dalam cekungan parit di pilar sudut timur laut pada saat yang sama ketika rantai Paman Vargas menghantam pilar barat daya."

"Apa dampaknya pada altar itu?" bisik Shizuka cemas, jemarinya menggenggam lengan zirah kulit Ren seraya memegang tas obatnya erat-erat.

"Kombinasi logam gergaji hitam dan intisari miasma akan membalik polaritas energi sirkuit altar secara paksa," senyum dingin Ren terbit di wajah pucatnya. "Parit hisap darah yang seharusnya menarik tubuh kita akan beralih mengunci tanda pengenal mana pada zirah emas para ksatria Ravensburg. Mereka yang datang untuk menyembelih kita akan ditarik masuk ke dalam pusaran altar."

Ren menarik napas dalam-dalam, menatap ke seberang arena tempat Julius mulai melangkah maju dengan keangkuhan penuh.

Sepuluh detik menuju perintah pembantaian.

Di tengah amfiteater, Julius von Ravensburg melangkah perlahan seraya mengangkat rapier kristalnya tinggi-tinggi. Bilah rapier itu memancarkan kilatan petir biru yang mendesis tajam di udara lembap. Tatapannya menatap dingin ke arah barisan jelata, memancarkan aura tirani yang tak terbantahkan.

"Kapten Valerie," suara Julius menggema dingin di seluruh dinding batu koloseum. "Kumpulkan seluruh prajurit jelata, kuli logistik, dan unit Ren ke atas platform Altar Darah sekarang juga."

Kata-kata yang persis sama, terucap dengan nada angkuh yang serupa.

"Julius! Hentikan pembunuhan ini!" teriak Lady Elise dari barisan samping, melangkah maju seraya mengangkat tongkat sucinya yang memancarkan pendar perak. Wajah cantiknya memucat oleh kemarahan yang mendalam terhadap kekejaman sekutu bangsawannya.

"Mereka bukan bagian dari ordo ksatria kita, Elise," sahut Julius datar tanpa menoleh, mengabaikan protes sang putri suci dengan lambaian tangan meremehkan. "Pengorbanan mereka adalah harga murah yang wajar demi kejayaan Wangsa Ravensburg dan kepastian keselamatan para ksatria berdarah murni."

Julius mengarahkan ujung rapiernya yang berderak petir lurus ke arah kelompok Ren dan para kuli angkut yang berkerumun di sudut arena.

"Bentuk formasi sabit melingkar!" seru Julius dengan seringai kejam. "Lumpuhkan siapa pun yang mencoba lari dan lemparkan tubuh mereka ke atas altar!"

"Mati demi kejayaan Wangsa Ravensburg!" raung Kapten Valerie seraya melesat maju, pedang besarnya berkobar dengan api merah membara yang menerangi seisi koloseum dengan cahaya darah.

Dua puluh ksatria berzirah emas meluncur di belakangnya dengan pedang terhunus, siap menerjang barisan depan yang tampak tak berdaya. Kilau emas dari zirah kebangsawanan mereka memantulkan cahaya obor hitam, menciptakan gelombang baja yang deras. Derak lempeng baja dan getaran lantai batu menandai serbuan maut yang kian mendekat dalam hitungan detik.

Di belakang Ren, para prajurit jelata dan kuli angkut menahan napas dalam ketegangan yang mencekam, merapatkan barisan dengan rasa cemas yang menusuk dada. Sebagian dari mereka memejamkan mata menanti ajal, sementara yang lain mencengkeram erat kapak tumpul atau tongkat kayu tanpa harapan.

Namun di samping Ren, Vargas telah merendahkan kuda-kudanya, otot lengannya mengunci gulungan rantai gergaji baja hitam dengan presisi veteran perang. Di sisi kanan, mata tajam Riku memicing di balik tarikan busur kayu hitamnya, ujung anak panah bermuatan kantung miasma rawa telah terarah mantap ke lubang pilar timur laut.

Ren berdiri tegak di posisinya, membiarkan angin panas dari kobaran pedang lawan meniup ujung rambutnya. Napasnya teratur, detak jantungnya stabil, dan kedua kakinya menancap kokoh di atas batu andesit merah.

Ketika pedang api Valerie melesat hanya berjarak lima langkah di depan matanya dan hawa panas mulai menyapu wajahnya, mata Ren berkilat dingin. Perhitungan tiga puluh detik jatuh tepat pada koordinat yang ia rancang.

Suara Ren meledak membelah kesunyian arena:

"SEKARANG!"

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!