Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Matahari pagi kembali menyapa Desa Kertajaya dengan hangat, memantulkan bias cahaya kuning cerah di atas permukaan genting-genting rumah warga. Udara pagi terasa segar, membawa aroma tanah basah sisa embun malam dan harum khas kopi tubruk yang diseduh dari berbagai warung kecil di sepanjang gang.
Di kamar nomor empat, suasana sudah sibuk sejak pukul tujuh pagi. Raka, Bayu, dan Dimas berdiri mengelilingi meja kecil tempat tumpukan kartu nama darurat bertuliskan Pemuda Mandiri Kertajaya tersusun rapi.
Bayu dengan hati-hati memasukkan lima buah kartu nama ke dalam saku kemejanya.
"Oke, amunisi pemasaran kita hari ini sudah siap. Target kita pagi ini adalah menyebarkan kartu ini ke tempat-tempat strategis: warung sembako, pangkalan ojek, dan pos ronda."
Dimas mengecek dompet dan pulpen di tas kecilnya.
"Jangan lupa, pastikan kita juga kelihatan profesional. Jangan pasang muka melas pas nawarin jasa, nanti warga malah ngira kita lagi minta sumbangan."
Mira berdiri di sudut ruangan, memperhatikan ketiga pemuda itu bersiap dengan tatapan menilai. Ia mengenakan gaun ungunya, melipat tangan di dada dengan dagu sedikit terangkat. Meskipun ia tidak memegang kartu nama fisik, ia merasa dirinyalah direktur utama di balik ekspansi bisnis kecil-kecilan ini.
"Ingat," kata Mira menyela dengan nada bangga.
"Jika ada warga yang menawar harga terlalu rendah, tolak dengan tegas. Harga diri kelompok Pemuda Mandiri Kertajaya dipertaruhkan di tangan kalian."
Bayu melirik Mira sambil tersenyum usil.
"Siap, Ratu Pemasaran. Nanti kalau ada yang nawar, kita bilang harganya sudah ditetapkan oleh dewan direksi gaib."
Mira mendengus pelan, membuang muka dengan gaya anggun untuk menutupi rasa senangnya karena pendapatnya didengar.
"Bagus kalau kamu paham."
Tidak lama kemudian, Raka memimpin langkah mereka keluar kamar. Mereka berjalan meninggalkan teras kos Bu Ratna, menyusuri gang utama menuju arah warung kelontong milik Bu Rini yang biasanya menjadi pusat informasi sekaligus tempat berkumpulnya warga di pagi hari.
Sesampainya di dekat warung Bu Rini, benar saja, suasana sudah cukup ramai. Dua orang ibu-ibu sedang memilih bumbu dapur, sementara Bu Rini sendiri sedang sibuk menata botol-botol minuman ringan di rak kayu sambil mengajak ngobrol pembelinya.
Begitu melihat Raka, Bayu, dan Dimas datang mendekat, Bu Rini langsung menghentikan aktivitasnya. Mata keriting gantungnya berbinar-binar penuh minat.
"Eh, anak-anak kos! Wah, pagi-pagi udah rapi mau ke mana lagi nih? Mau malak mangga tetangga lagi?" sapa Bu Rini dengan suara melengking khasnya, langsung menarik perhatian orang-orang yang ada di warung.
Raka tersenyum ramah, tidak ambil pusing dengan candaan Bu Rini. Ia melangkah mendekati meja etalase warung, lalu mengeluarkan selembar kartu nama darurat buatan Dimas dan meletakkannya dengan rapi di atas kaca etalase.
"Bukan malak mangga, Bu Rini. Kami justru mau resmi memperkenalkan layanan profesional kelompok kami: Pemuda Mandiri Kertajaya," kata Raka sopan sambil menunjuk kartu nama di atas etalase.
"Jasa pembersihan pekarangan, pangkas ranting, sampai rapikan gudang. Siapa tahu Bu Rini atau tetangga lain butuh bantuan mendadak."
Bu Rini membelalakkan matanya, mengambil secarik kertas HVS bertuliskan tangan rapi itu, lalu membacanya dengan saksama.
"Wah... ada kartu namanya segala! Keren juga kalian, gaya anak kantoran tapi kerjanya nyabutin rumput."
"Namanya juga adaptasi zaman modern, Bu," timpal Bayu cengengesan.
"Dijamin bersih, cepat, dan nggak pakai gosip."
Mendengar kata 'gosip', Bu Rini langsung mendelik tajam bercanda ke arah Bayu.
"Heh! Sembarangan kalau ngomong! Mana ada tukang gosip di sini? Saya ini penyiar informasi terpercaya tingkat dusun!"
Di belakang Raka, Mira menahan tawa kecil melihat reaksi Bu Rini. Sang putri jin menyandarkan sebelah tangannya di tiang kayu warung, menikmati pemandangan bagaimana manusia-manusia fana berinteraksi di tempat belanja sederhana ini.
Salah satu ibu-ibu pembeli yang berdiri di sebelah Bu Rini ikut melongok melihat kartu nama tersebut.
"Eh, Mas Raka. Rumah saya di dekat balai desa rumputnya sudah agak tinggi tuh di samping garasi.
Kalau mau dibersihkan, kira-kira kapan bisa?"
Mendengar pertanyaan itu, mata Bayu langsung berbinar terang. Ia menyenggol lengan Dimas penuh semangat.
"Nah, baru ditaruh di atas etalase belum ada lima menit, pelanggan kedua sudah langsung nyangkut! Strategi pemasaran Ratu Mira emang manjur!"
Dimas dengan sigap mengeluarkan buku catatan kecil dari sakunya.
"Bisa, Bu. Nanti siang setelah urusan kami selesai, kelompok kami bisa langsung meluncur ke sana. Mau ambil Paket A atau Paket B?"
"Paket A saja dulu, yang penting bersih," jawab ibu itu tersenyum puas.
Raka mengangguk mantap.
"Siap, Bu. Nanti siang kami datang ke rumah."
Setelah menitipkan beberapa kartu nama lagi di etalase Bu Rini yang langsung diterima dengan antusias oleh sang pemilik warung karena menganggapnya hiburan pagi yang menarik Raka, Bayu, dan Dimas pamit melanjutkan perjalanan.
Mereka berjalan kembali menyusuri gang dengan langkah yang jauh lebih ringan dari hari sebelumnya.
Di samping mereka, Mira berjalan dengan kepala tegak, merasa bahwa kehadiran dan ide-idenya benar-benar telah mengubah nasib suram kamar nomor empat menjadi sebuah awal kisah baru yang jauh lebih menjanjikan di Desa Kertajaya.