NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap Baja

Aris bergerak cepat dalam hanggar. Dia merangkak di antara bantalan kayu rel, menuju ke sebuah menara kontrol kecil di sudut stasiun.

Di sana, terdapat sebuah tuas besi pemindah jalur rel kuno..Dari celah jendela menara, Aris bisa melihat tiga sepeda motor trail para pengejar mulai masuk ke jalur rel utama nomor dua. Sorot lampu motor mereka membelah kabut malam, makin dekat dengan gerbong nomor tiga tempat Bramantyo dan Wali Kota bersembunyi.

Aris memegang tuas besi tebal itu dengan kedua tangannya. Urat-urat di lengan jaket kulit cokelatnya menegang. Dengan satu sentakan dia menarik tuas itu ke belakang.

Mekanisme rel tua di luar bergeser, akibat pergeseran jalur, sebuah gerbong baja pengangkut batu bara kosong seberat belasan ton yang terparkir di jalur, meluncur deras ke bawah, menghantam dua sepeda motor trail terdepan secara telak sebelum para pengemudinya sempat melompat menghindar.

Benturan keras itu menghancurkan kendaraan mereka di bawah roda besi kereta, Dua pengejar terpental ke dalam parit, oleh hantaman jebakan baja Aris.

Satu pengejar, membanting setirnya ke kiri, membuat motor trailnya jatuh terguling di atas batu koral rel. Pria itu merangkak bangun dengan cepat, mencabut sebuah senapan serbu laras pendek dari punggungnya dan menembak membabi buta ke arah menara kontrol tempat tuas digerakkan.

Peluru-peluru tajam merobek dinding papan menara, memaksa Aris tiarap di lantai kayu. Sembari mendekap catatan kas suap 1959 asli di balik jaketnya, Aris melirik sisa peluru di dalam silinder revolvernya.

Hanya tersisa tiga peluru. Pengejar terakhir ini harus dilumpuhkan sebelum dia sempat memberikan sinyal posisi kepada pasukan besar balai kota di luar kompleks stasiun.

Aris menahan emosinya agar tetap stabil di bawah berondongan peluru senapan serbu yang merobek dinding papan menara. Dia memosisikan sikunya di ambang jendela kayu yang hancur.

Di bawah sana, sang pengejar terakhir terus menembak membabi buta sambil berjalan mundur, mencoba mencari perlindungan di balik roda raksasa lokomotif tua.

Aris memicingkan mata kirinya, sementara mata kanannya mengunci moncong senjata lawan yang memercikkan api setiap kali peluru keluar.

Dia mengabaikan rasa perih. Ini adalah taruhan jarak jauh yang sangat berisiko dengan sisa tiga peluru di silinder revolver miliknya. DOR! Aris menarik pelatuknya. Suara letusan revolvernya melesat menembus kegelapan, bersarang telak di bahu kanan sang pengejar.

Hantaman peluru itu membuat tubuh pria bertopeng tersebut tertegun ke belakang. Senapan serbu laras pendek di tangannya terlepas, jatuh berdenting di atas rel besi.

Pria itu mengerang kesakitan, memegangi bahunya yang bersimbah darah. Sadar dirinya telah kalah dan terluka parah, dia tidak mencoba meraih senjatanya kembali. Dengan sisa tenaganya, pria itu berbalik dan berlari pincang keluar dari hanggar, menghilang di balik malam pelabuhan.

Aris menurunkan revolvernya, napasnya kembali teratur. Sambil meraba kantong dalam jaket kulit cokelatnya untuk memastikan catatan kas suap asli tetap aman, Aris bergegas turun dari menara kontrol.

Dia melangkah cepat di antara labirin gerbong tua menuju gerbong nomor tiga. Di dalam kegelapan kompartemen barang, Bramantyo dan Wali Kota menyambutnya dengan wajah tegang.

"Situasi di luar bersih untuk sementara, Bram," bisik Aris. "Tapi pria yang lolos tadi pasti akan membawa pasukan yang lebih besar ke sini dalam hitungan menit."

Wali Kota duduk bersandar di dinding gerbong.

"Detektif... percuma kau melindungiku. Drs. Mulya punya salinan mini kaset pita magnetik suap itu di dalam kotak deposit rahasia Bank Pasifik Marunda. Kunci kotaknya ada di saku celana jasad Mulya yang dibawa kabur tadi!"

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!