Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.
Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.
Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telepon Pertama yang Dingin
Kegelapan di dalam kamar kontrakan itu terasa mencekik, seolah dinding-dinding yang lembap mulai merapat dan menghimpit mereka. Bagas membaringkan tubuhnya di atas lantai semen yang dingin, tanpa alas apa pun kecuali satu bantal tipis yang sudah berbau apek. Ia menatap langit-langit kamar yang ditumbuhi bercak jamur hitam, menyadari bahwa inilah titik nadir dari segala kesombongan yang ia banggakan selama ini.
Di sampingnya, Ibu Melati masih terisak pelan dengan napas yang sesenggukan. Wanita itu meringkuk memeluk lututnya sendiri, seolah mencoba melindungi diri dari kenyataan bahwa tas kulit branded dan perhiasan emasnya sudah tidak lagi menempel di tubuh. Siska, yang biasanya tidak bisa tidur tanpa pendingin ruangan yang menyala, kini hanya bisa terdiam dengan mata yang menatap kosong ke arah kegelapan.
"Kenapa hidup jadi seperti ini, Bagas?" tanya Ibu Melati dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Bagas memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menepis bayangan wajah Laras yang kini mungkin sedang tertidur nyenyak di tempat yang jauh lebih layak. Ia merasa dadanya sesak oleh penyesalan yang terlambat, namun egonya yang tersisa masih berusaha mencari kambing hitam atas kehancuran ini.
"Ini semua karena nasib buruk, Bu," jawab Bagas dengan suara serak.
"Nasib buruk katamu?" potong Siska dengan nada sengit yang membuat suasana semakin panas. "Kakak yang membiarkan semua aset itu jatuh ke tangan wanita tidak berguna itu! Harusnya Kakak lebih pintar mengurus surat-suratnya sejak dulu!"
Bagas bangkit dari posisinya, duduk bersandar di dinding yang terasa kasar dan berpasir. Ia menatap adiknya dengan sorot mata yang menyiratkan kelelahan fisik sekaligus mental yang luar biasa.
"Siska, berhenti bicara seolah kau tidak pernah menikmati uang dari hasil kerja keras Laras," hardik Bagas dengan suara yang berusaha ditekan agar tidak membangunkan tetangga kontrakan. "Saat Laras membanting tulang di kantor, kau sibuk pamer tas baru di media sosial dengan uang yang ia kirimkan. Jangan sok suci sekarang!"
Siska terdiam, namun napasnya yang berat menunjukkan ia sedang menahan amarah yang meledak-ledak. Ia tidak bisa membantah karena memang setiap jengkal kemewahan yang ia rasakan selama tiga tahun terakhir adalah hasil keringat Laras yang kini sudah ia campakkan.
Ibu Melati menghela napas panjang, suaranya terdengar penuh dengan kepahitan yang mendalam. Ia masih tidak bisa menerima bahwa ia harus berbagi kamar sesempit ini dengan anak-anaknya.
"Ibu lapar," bisik Ibu Melati pelan. "Seharian ini kita belum makan apa-apa karena uang yang tersisa habis untuk membayar sewa tempat busuk ini."
Bagas terdiam, ia pun merasakan perutnya melilit karena belum terisi makanan sejak pagi tadi. Ia merogoh saku celananya lagi, memastikan bahwa memang benar-benar tidak ada uang tersisa di sana, bahkan untuk sekadar membeli mi instan.
"Besok aku akan cari cara," ucap Bagas dengan nada yang terdengar seperti janji kosong. "Aku punya beberapa teman yang mungkin bisa memberiku pekerjaan kasar atau pinjaman."
Siska tertawa sinis di tengah kegelapan, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan kemampuan kakaknya. Baginya, Bagas hanyalah pria yang selama ini hanya bisa mengandalkan jabatan dan uang istrinya untuk terlihat berwibawa di mata orang lain.
"Teman yang mana, Kak?" tanya Siska dengan nada mencemooh. "Teman-teman yang dulu sering kita ajak pesta di restoran mewah? Mereka pasti sudah memblokir nomor Kakak begitu tahu kita diusir dari rumah."
Bagas mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, ia benar-benar merasa terpojok oleh kenyataan. Kata-kata adiknya seperti duri yang menghujam jantungnya, mengingatkan betapa dangkalnya hubungan pertemanan yang selama ini ia bangun di atas panggung kepalsuan.
"Diamlah, Siska!" bentak Bagas kali ini tidak lagi berusaha menahan suaranya. "Kalau kau tidak bisa membantu, setidaknya jangan menambah penderitaan Ibu dengan ocehanmu itu!"
Suasana di dalam ruangan itu kembali senyap, menyisakan suara tetesan air dari keran di luar yang terdengar sangat kontras dengan kesedihan mereka. Mereka bertiga terjebak dalam ruang sempit yang pengap, sementara di luar sana, dunia terus berputar tanpa mempedulikan nasib keluarga Pratama yang kini kehilangan segalanya.
Ibu Melati menutup wajahnya dengan kain sarung yang sedikit berbau apek, air matanya kini mengalir deras membasahi pipinya yang sudah tidak lagi terawat. Ia menyesal telah memperlakukan Laras dengan begitu kejam selama ini, namun bukan penyesalan atas perbuatannya yang ia rasakan, melainkan penyesalan karena ia tidak lagi memiliki menantu yang bisa ia peras tenaganya.
"Seandainya saja Laras masih di sini," gumam Ibu Melati dengan suara yang penuh dengan keserakahan yang tersisa. "Dia pasti tidak akan membiarkan kita tidur di tempat seperti ini."
Bagas menatap ibunya dengan tatapan yang nyaris tidak percaya, ia benar-benar merasa muak dengan ketidakmauan ibunya untuk berubah. Bahkan di saat seperti ini, di titik terendah hidup mereka, ibunya masih memikirkan cara untuk kembali mengeksploitasi wanita yang sudah mereka hancurkan.
"Laras sudah pergi, Bu," ucap Bagas dengan nada dingin yang membuat Ibu Melati tertegun. "Dia tidak akan pernah kembali, dan kita tidak punya hak untuk mengharapkannya lagi setelah apa yang kita lakukan padanya."
Siska mendengus kesal lagi, ia membalikkan tubuhnya memunggungi Bagas, mencoba mencari posisi tidur yang lebih nyaman di atas kasur yang tipis. Ia merasa sangat tidak adil bahwa ia harus menanggung akibat dari keputusan Bagas dan ibunya.
"Semua ini terjadi karena kita terlalu baik pada Laras," sahut Siska dengan nada yang masih keras kepala. "Kita terlalu memanjakannya sampai dia merasa bisa berbuat semena-mena seperti sekarang."
Bagas hanya bisa menghela napas panjang, ia merasa percuma mendebat adiknya yang tidak memiliki kesadaran diri sedikit pun. Ia memilih untuk memejamkan matanya, mencoba melupakan rasa lapar dan udara panas yang semakin menusuk kulitnya.
Di luar sana, angin malam berhembus kencang, membawa aroma sampah dari selokan yang berada tepat di depan pintu kamar mereka. Bau itu menyengat, mengingatkan Bagas setiap detik bahwa ia kini bukan lagi pria sukses yang sering terlihat di koran atau acara sosialita.
Ia hanyalah seorang pria yang gagal, yang kini harus berjuang bertahan hidup di antara kecoak dan dinding yang retak. Bayangan masa lalu yang indah, saat mereka masih tinggal di rumah besar dengan perabot mewah, perlahan-lahan memudar digantikan oleh realitas pahit yang kini menjadi satu-satunya dunianya.
Bagas berusaha membayangkan wajah Laras sekali lagi, namun yang ia temukan hanyalah kehampaan. Ia tahu bahwa esok pagi, saat matahari mulai terbit, ia harus bangun dan menghadapi dunia yang sudah berubah drastis baginya.
Ia harus mulai memikirkan cara mendapatkan uang untuk makan, cara bertahan hidup tanpa fasilitas, dan cara menghadapi tatapan menghina dari orang-orang yang dulu menghormatinya. Bagas akhirnya menyerah pada kelelahan, membiarkan pikirannya perlahan-lahan melayang ke alam mimpi yang mungkin akan lebih indah daripada kenyataan yang menyakitkan ini.
Isakan Ibu Melati dan suara napas Siska yang berat menjadi satu-satunya musik yang menemaninya malam ini. Mereka adalah tiga orang yang dulu merasa paling berkuasa, namun kini harus meringkuk di sebuah kamar sempit, meratapi nasib di bawah bayang-bayang kegagalan yang mereka ciptakan sendiri.
Malam itu, di dalam kontrakan yang lembap dan berbau menyengat, Bagas Pratama akhirnya benar-benar menyadari bahwa hidupnya telah hancur total. Tidak ada lagi jalan kembali menuju kehidupan mewah, dan esok hari akan menjadi hari pertama dari perjuangan panjang yang sangat berat.
Ia hanya bisa berharap, dalam sisa kesadarannya yang mulai menipis, bahwa ia bisa bertahan menghadapi realitas kejam ini. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Bagas tahu bahwa ini baru permulaan dari segala kesengsaraan yang harus ia tanggung sebagai balasan atas semua kesombongannya.