Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : KITA SUBUR
Bintang tak bergeming.
Ia berlalu dengan dingin melewati gadis kecil yang membawa nampan tadi. Memilih sibuk memesan klinik Obgyn, menghindari antre yang terlalu lama nanti. Entah dengan Angkasa di belakangnya. Apakah sempat berbasa-basi dengan gadis tadi. Bintang tidak peduli.
Klinik Obgyn jam 9 malam masih ramai.
Bintang menggenggam map coklat itu erat. Hasilnya baru keluar. Dua lembar. Atas nama BINTANG KEJORA dan ANGKASA KUSUMA.
Semuanya normal. Subur. Sehat. Tidak ada masalah.
Justru itu yang bikin Bintang makin sesak.
"Sa... kita subur kok," bisik Bintang pelan di dalam mobil.
"Lalu kenapa?" Angkasa yang sedang menyetir, meraih tangan Bintang dan mencium punggung tangannya, lama. Bibirnya hangat.
"Kok aku gak hamil-hamil?" desahnya melempar pandangan ke luar jendela mobil, matanya menerawang ke lampu-lampu jalan.
Angkasa menghela nafas. Ia menepikan mobil sebentar di bahu jalan yang sepi.
"Berarti belum rezekinya aja, Tang." Hibur Angkasa mengerti, istrinya di landa galau kembali.
"Allah belum titip aja, bukan salah kamu, bukan juga karena aku. Kita damai aja, Tang. Yakin rencana Tuhan lebih indah dari maunya kita." Lanjutnya bijak.
"Tapi Mama pasti bilang aku yang salah. Pasti bilang aku kebanyakan ngantor, kebanyakan rapat, rahimku stres." Terngiang lagi cecaran mertua klasiknya itu dalam benak Bintang.
Seolah semesta mendengar keluhannya, bahkan mereka belum sampai rumah, telepon dari ibu Ratna sudah masuk. Kali ini bukan ke HP Bintang, tapi ke HP Angkasa yang tergeletak di dashboard.
Angkasa melirik Bintang, lalu mengaktifkan loudspeaker.
"Halo, Ma."
"Tadi siang mama ada call Bintang. Tanya lagi tentang kesuburannya. Dia ada lapor ke kamu?" Tanyanya dengan nada suara yang tidak kecil.
"Iya."
"Gimana, dia marah ke mama?" cecarnya lagi.
"Gak Ma, mana pernah Bintang marah ke mama."
"Terus apa solusinya?" desak Ratna.
"Ya, kami bersepakat untuk cek kesuburan kami lagi." Sabar sekali Angkasa menjawab sang bunda.
"Kesuburan kami? Maksudnya dia mau kamu di cek? Angkasa! Dalam keluarga kita itu gak ada keturunan mandul ya. Liat kakak mu Surya udah punya dua anak, adikmu Astrid udah punya tiga. Cuma kamu yang belum ngasih mama cucu." Sudah bisa di tebak, betapa hancur lagi hati Bintang mendengarnya.
"Ma ... kami berdua subur kok." Tangkis Angkasa cepat.
"Kalo subur kenapa gak hamil? Makanya Mama bilang, suruh berhenti kerja! Jadi perempuan itu kodratnya di rumah!" Suara itu makin ke sini makin kek toa mesjid deh, nyaring.
Bintang mengepalkan tangan. Lagi-lagi dia yang disalahkan.
Angkasa menarik napas panjang. Tatapannya berubah dingin, mode CEO-nya keluar.
"Ma, hasilnya kami berdua subur. Sehat. Jadi tolong, Ma berhenti tanya kapan hamil. Karena yang bikin Bintang belum hamil... mungkin karena Ma terus-terusan nelpon nanyain hal yang sama tiap hari." ketus Angkasa.
Hening.
Di seberang sana, Ibu Ratna terdiam. LaHanya terdengar napasnya yang memburu. Lalu sambungan terputus. Tut ... tut ... tut.
Bintang kaget menatap Angkasa. Selama 3 tahun, baru kali ini Angkasa membelanya setegas itu pada mamanya sendiri.
"Sa..." Bintang memanggil pelan. Bukan marah, tapi terharu sampai matanya berkaca-kaca.
Angkasa kembali menyetir tanpa bicara sampai kerumah. Begitu sampai di garasi ia memastikan mesin dan mengunci pagar juga pintu rumah mereka.
Sampai di rumah, Bintang masih memeluk map itu.
"Sa, kalau Mama makin benci aku gimana? Dia kan pengen banget cucu." Masih saja Bintang membahas soal itu.
Lalu mendekap Bintang dari belakang.
"Siapa bilang Mama benci kamu? Mama cuma kangen masa mudanya. Dulu Mama juga dipaksa cepat punya anak sama nenek." Jawabnya sambil meletakan dagunya pada bahu Bintang.
Bintang berbalik.
"Terus kita gimana?"
Angkasa tersenyum, senyum yang hanya Bintang yang tau artinya.
"Kita usaha lagi malam ini. Tapi kali ini... gak pakai kalender kesuburan, gak pakai pepaya, gak pakai jamu. Cuma aku dan kamu."
Bintang memukul dada Angkasa manja. "Sa! Mesum!"
"Mesum yang sah kan sama istri sendiri," bisik Angkasa, menggendong Bintang ala bridal style menuju kamar.
Tapi di tengah langkahnya, HP Bintang bergetar.
Nama yang muncul membuat senyum Bintang hilang.
Umi : "Langit mendung, gelap dan menghitam. Sunyi."
Bintang menunjukkan chat itu ke Angkasa.
Wajah Angkasa yang tadi mesra dan hangat, dalam sekejap mengeras seperti es. Pelukannya melonggar.
Angkasa tahu persis maksud chat itu. Bukan tentang perkiraan cuaca. Itu adalah kode.
Kode bahwa Angkasa sudah terlalu lama tidak menyambanginya dan Umi tidak suka menunggu lama
Bersambung ....
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......
tinggal keputusan ada ditangan author mau gimana🤭🤭🤭😂😂😂
maksudnya bintang Thor.....mau dibawa kemana rumtang ya terserah bintang kan......dilepas juga baik mumpung belum ada Monik...... bertahan ya harus siap sakit hati.....karena ada jingga di sampingnya kasa...... mantannya lagi....,ada bumi yang diamanahi kakak nya.....tresno jalaran kulino momong damar🤭🤭🤭.....mentariiii......bisa jadi pelakor sungguhan loh 😅😅😅