Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Menetas di Balik Bayangan
Kertas perkamen tebal beraroma kayu ek kini terbentang di atas meja kerja mahoni. Dengan pena bulu di tangan kanan, aku mulai menuliskan nama-nama, lokasi, dan rentetan kejadian penting. Tulisanku sengaja kubuat berantakan dan menggunakan kode singkatan yang hanya kumengerti. Di dunia yang dipenuhi penyihir dan mata-mata ini, meninggalkan rencana rahasia dalam bahasa yang mudah dibaca sama saja dengan bunuh diri.
Di kehidupanku yang sebelumnya, setiap kali aku menghadapi sistem yang rusak atau masalah yang rumit, aku selalu memulainya dengan memetakan variabel utamanya. Sekarang, variabel utamanya sangat jelas: Arthur Pendelton akan dieksekusi tepat tiga puluh hari dari sekarang.
Penyebabnya? Karena si bodoh Arthur menyewa pembunuh bayaran dari Guild Obsidian untuk membunuh Leon, sang protagonis.
"Langkah pertama," gumamku sambil melingkari nama 'Obsidian' di perkamen, "batalkan kontrak dengan para pembunuh itu. Jika Leon tidak diserang, Putra Mahkota tidak akan punya alasan untuk menyeret keluarga Pendelton ke pengadilan."
Itu masalah jangka pendek. Namun, masalah jangka panjangnya jauh lebih pelik.
Aku meletakkan pena dan menekan pelan dada kiriku. Rasa ngilu yang tajam kembali menusuk tulang rusukku yang retak. Namun, bukan tulang patah itu yang membuat Arthur asli dicap sebagai "sampah". Di dunia ini, nilai seorang bangsawan ditentukan oleh kemurnian dan ukuran Mana Core di pusat jantung mereka.
Kupejamkan mata dan mencoba fokus ke dalam tubuhku. Persis seperti deskripsi di dalam novel, Mana Core milik Arthur berwarna abu-abu keruh, ukurannya tak lebih besar dari sebutir kelereng, dan tersumbat oleh kotoran magis. Berbanding terbalik dengan Leon yang memiliki Mana Core emas murni bersinar sejak lahir.
Pantas saja Arthur membenci Leon. Perasaan inferioritas itu menggerogoti akal sehatnya.
"Sistem sihir yang tidak adil," desahku, membuka mata kembali. "Tapi, penulis novel itu membuat satu celah besar yang tidak disadari oleh siapa pun."
Sudut bibirku terangkat. Aku menarik selembar perkamen baru dan menggambar sebuah sketsa kasar: denah rumah kediaman Duke Pendelton.
Dalam novel 'Crown of Ash', pada bab ke-50, Leon dan kelompok pahlawannya akan menggeledah rumah ini setelah kejatuhan keluarga Pendelton. Di ruang bawah tanah rahasia, tersembunyi di balik dinding penyimpanan anggur, Leon menemukan sebuah artefak kuno yang terlupakan—Elixir of the Abyssal Lotus.
Artefak berbentuk cairan itu diceritakan mampu membersihkan kotoran sihir paling pekat sekalipun dan memperluas kapasitas Mana Core hingga tiga kali lipat. Di tangan Leon, ramuan itu hanya sekadar item tambahan untuk memperkuat sihir apinya. Tapi bagi tubuh Arthur yang tersumbat ini... itu adalah kunci evolusi.
Dan bagian terbaiknya? Ramuan itu saat ini sedang duduk manis di ruang bawah tanah rumahku sendiri, menunggu untuk diambil, sementara ayahku, sang Duke, sedang pergi ke perbatasan dan baru akan pulang minggu depan.
Ini adalah perampokan di siang bolong di rumahku sendiri.
Aku melirik jam pasir perak di sudut ruangan. Pasirnya hampir habis, menandakan tengah malam akan segera tiba. Waktu pergantian penjaga di kediaman Pendelton adalah tepat pada pukul dua belas malam. Ada jeda sekitar tiga menit di mana koridor sayap timur—jalur menuju ruang bawah tanah—tidak dijaga sama sekali.
Tiga menit. Untuk ukuran tubuhku yang sedang cedera, itu adalah waktu yang sangat mepet. Tapi aku tidak punya kemewahan untuk menunggu luka ini sembuh.
Aku bangkit dari kursi, menahan erangan sakit, dan melangkah menuju lemari pakaian. Kusingkirkan jas-jas mewah berwarna mencolok yang norak itu, lalu menarik sebuah kemeja linen hitam sederhana dan jubah gelap berkerudung.
Setelah memastikan penampilanku menyatu dengan kegelapan, aku berjalan perlahan menuju pintu kamar. Kutajamkan telingaku, mendengarkan langkah kaki prajurit patroli di luar yang perlahan menjauh.
Satu... dua... tiga.
Aku memutar kenop pintu tanpa suara. Lorong marmer yang dingin dan temaram oleh cahaya lilin menyambutku. Hembusan angin malam dari jendela yang terbuka menyapu wajahku, membawa aroma embun dan mawar dari taman.
Perburuan aset sang protagonis telah dimulai.