Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Napas Arham terengah-engah. Pria muda itu menyandarkan sebelah tangannya di pilar marmer lobi The Ritz, sementara tangan kirinya mencengkeram erat kemejanya, tepat di perut bagian atas sebelah kanan.
Rasa nyeri yang barusan menghantamnya perlahan mereda, namun meninggalkan jejak debar jantung yang gila-gilaan dan rasa sesak di rongga dada yang sama sekali tidak bisa ia jelaskan secara medis. Ia menatap ke arah pintu putar kaca, ke arah taksi premium yang baru saja melesat membawa pergi wanita bergaun zamrud itu menembus tirai hujan.
Naya Adiraja.
Hanya dengan mendengar nama itu, ada sesuatu di dalam diri Arham yang meronta, seolah ingin mengejar mobil tersebut dan memeluk wanita itu erat-erat.
"Ham? Lo kenapa?!"
Sebuah suara panik menyentak Arham dari lamunannya. Arga Baskara, kakak laki-lakinya yang malam ini mengenakan setelan jas formal, berlari menghampirinya dengan raut wajah pucat pasi. Arga langsung memegang bahu adiknya, matanya memindai wajah Arham yang dipenuhi keringat dingin.
"Sakit lagi? Obat imunosupresan lo udah diminum, kan? Mau gue panggil ambulans sekarang?" cecar Arga bertubi-tubi, kepanikannya sangat beralasan.
"Nggak, Bang. Gue nggak apa-apa. Cuma kram sedikit," Arham buru-buru menegakkan tubuhnya, menepis pelan tangan kakaknya. Ia menarik napas panjang, menstabilkan detak jantungnya. "Obatnya udah gue minum kok tadi sore."
Arga menghela napas lega, namun tatapan protektifnya tidak berkurang sedikit pun. "Lo jangan bikin gue jantungan, Ham. Lo ingat kan dua tahun lalu gue nyaris gila ngelihat lo koma berbulan-bulan karena gagal hati akut? Kalau bukan karena keajaiban donor dari korban kecelakaan itu, lo nggak akan berdiri di sini sekarang. Jadi please, jangan paksain diri."
Arham terdiam. Secara insting, tangannya meraba perut kanannya dari balik kemeja, di mana sebuah bekas luka operasi sayatan panjang melintang secara permanen. Bekas luka yang menyelamatkan nyawanya tepat dua tahun yang lalu.
Selama masa pemulihannya, dokter pernah menjelaskan tentang fenomena cellular memory—memori seluler. Sebuah teori medis langka di mana penerima donor organ kadang-kadang mewarisi emosi, kebiasaan, atau ingatan samar dari sang pendonor. Arham awalnya menganggap itu hanya mitos. Namun sejak operasinya berhasil, ada saat-saat di mana ia mendadak menyukai makanan yang dulu ia benci, atau merasakan kesedihan mendalam tanpa alasan yang jelas.
Tapi malam ini... reaksi organ di dalam tubuhnya ini benar-benar di luar kendali.
"Bang," Arham menatap kakaknya ragu-ragu. "Cewek yang baru aja jalan keluar dari lobi ini... yang pakai gaun beludru hijau tua. Lo kenal dia?"
Arga menautkan alisnya, lalu matanya membelalak kaget. "Naya? Naya Adiraja? Lo papasan sama dia?"
"Iya, gue nggak sengaja nabrak dia tadi," Arham menelan ludah. "Dia siapa, Bang?"
Arga mendengus pelan, menyisir rambutnya ke belakang dengan ekspresi campur aduk antara kagum dan frustrasi. "Dia Direktur Utama Adiraja Hospitality. Dan dia adalah satu-satunya perempuan di Jakarta yang nolak ajakan makan siang gue tiga kali berturut-turut bulan ini. Susah banget dideketin, Ham. Temboknya setebal benteng baja."
"Kenapa dia kayak gitu?" tanya Arham, rasa ingin tahunya mendadak melonjak tajam, didorong oleh emosi asing yang terus bergemuruh di dadanya.
Arga menepuk bahu adiknya, mengajak Arham berjalan menuju mobil jemputan mereka. "Ceritanya panjang dan lumayan tragis. Naya itu dulunya tunangan dari putra mahkota Adiraja Group, Kafka Adiraja. Lo tahu tragedi ledakan hotel di kawasan Sudirman dua tahun lalu? Itu terjadi tepat di hari pernikahan mereka. Kafka tewas tertimpa reruntuhan demi nyelamatin Naya. Sejak saat itu, Naya diangkat jadi anak sama keluarga Adiraja, dan dia ngubur dirinya hidup-hidup di dalam pekerjaan."
Langkah Arham terhenti seketika. Tubuhnya membeku di tengah area valet. Darah di sekujur tubuhnya seolah tersedot habis ke dasar bumi.
"Dua tahun lalu...?" bisik Arham parau. Pikirannya berputar dengan kecepatan kilat, menyusun serpihan-serpihan informasi yang selama ini disembunyikan oleh pihak rumah sakit demi privasi.
Tragedi ledakan hotel. Seorang pemuda seusianya yang tewas di tempat dengan kondisi tubuh hancur. Waktu kejadian yang sangat berdekatan dengan detik-detik saat dokter tiba-tiba berlari ke ruang rawatnya dan berteriak bahwa mereka baru saja mendapatkan donor hati yang cocok untuknya.
Mata Arham melebar. Ia menunduk menatap dadanya sendiri, menekan organ hati yang kini berdetak tenang berkat aliran darahnya.
Kafka Adiraja.
Apakah... apakah bagian dari pria itu yang kini hidup di dalam tubuhnya? Apakah pria itu yang tadi meronta-ronta kesakitan saat melihat wanita yang sangat dicintainya berjalan menjauh?
Keesokan paginya, langit Jakarta terlihat sangat cerah, seolah hujan badai semalam telah mencuci bersih seluruh kota. Namun, suasana di lantai lima puluh Gedung Adiraja Group tidak kalah tegangnya dengan malam sebelumnya.
Naya baru saja menyesap kopi hitam ketiganya hari ini. Matanya sedikit memerah karena kurang tidur. Semalaman ia begadang menyusun ulang strategi pendanaan dan daftar puluhan investor lapis kedua yang mungkin bisa ia dekati setelah penolakan mentah-mentah dari Eylo Lais.
Pintu ruangannya diketuk dengan cepat, dan Riri melangkah masuk. Wajah asistennya itu terlihat pucat pasi, namun matanya berbinar penuh ketidakpercayaan.
"Bu Naya," Riri menelan ludah, suaranya sedikit bergetar. "Leon, asisten pribadi Tuan Eylo Lais, baru saja menelepon saya."
Naya menghentikan ketikannya. Ia menatap Riri dengan kening berkerut. "Lalu?"
"Mereka tidak membuang proposal kita, Bu," Riri berjalan mendekati meja Naya. "Tuan Eylo membacanya tadi malam. Dan... Tuan Eylo sedang dalam perjalanan ke gedung kita sekarang. Beliau meminta waktu untuk meninjau maket megaproyek Labuan Bajo secara langsung di ruang rapat lantai ini."
Dada Naya berdesir pelan. Ia bersandar di kursi kerjanya, otaknya memproses informasi tersebut dengan cepat. Eylo Lais menolaknya dengan sangat angkuh semalam, lalu pagi ini pria itu datang berkunjung ke markasnya? Predator itu sedang bermain-main, atau ia benar-benar melihat celah keuntungan di Labuan Bajo?
"Siapkan ruang rapat utama. Minta tim arsitek membawa maket fisik dan simulasi holografiknya sekarang juga," perintah Naya tegas, bangkit dari kursinya. Ia merapikan blazer putih tulang yang ia kenakan hari ini, memasang topeng dinginnya kembali. "Kita sambut Tuan Lais."
Dua puluh menit kemudian, pintu lift khusus eksekutif terbuka.
Eylo Lais melangkah keluar, diiringi oleh Leon dan dua orang pengawal yang selalu membayanginya. Pria itu mengenakan setelan jas three-piece berwarna navy gelap yang memeluk postur tubuhnya dengan sangat sempurna. Auranya mendominasi seluruh lantai, membuat para staf Adiraja Group otomatis menundukkan kepala.
Naya sudah berdiri menunggunya di depan pintu ruang rapat kaca.
"Selamat pagi, Tuan Lais. Saya terkejut Anda memiliki waktu luang untuk mengunjungi perusahaan rongsokan yang proyeknya baru saja karam ini," sapa Naya dengan senyum profesional yang sarkastis, mengembalikan hinaan pria itu semalam tanpa ragu sedikit pun.
Eylo menghentikan langkahnya tepat di hadapan Naya. Pria itu menatap Naya dengan sepasang mata gletsernya yang membekukan. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah atau canggung di wajah pria itu.
"Saya menemukan bahwa terkadang, di balik puing-puing rongsokan, terdapat bongkahan berlian yang tersembunyi, Nona Adiraja," balas Eylo dengan suara baritonnya yang rendah dan mematikan. Matanya menyusuri wajah Naya, seolah sedang membedah isi kepala wanita itu. "Saya tidak pernah menolak investasi yang menguntungkan. Asalkan persyaratannya sesuai dengan aturan main saya."
Naya mengulurkan tangannya, mempersilakan Eylo masuk ke dalam ruang rapat. Di tengah meja oval, maket megah resor Labuan Bajo telah berdiri dengan detail yang luar biasa.
Selama satu jam ke depan, ruang rapat itu menjadi medan pertempuran tanpa darah. Eylo Lais menguliti setiap kelemahan dalam proposal Naya, mempertanyakan margin, rantai pasokan logistik, hingga analisis risiko lingkungan. Dan di setiap serangan yang dilancarkan pria itu, Naya membalasnya dengan data, argumen tajam, dan ketegasan yang membuat jajaran direktur Adiraja yang ikut hadir terpukau.
Eylo menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kulit, mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja marmer. Matanya tidak lagi menatap maket, melainkan sepenuhnya terkunci pada Naya yang berdiri di seberang meja.
"Tiga puluh persen saham terlalu kecil untuk risiko yang saya ambil," putus Eylo tiba-tiba, memotong presentasi Naya.
"Tiga puluh persen adalah angka maksimal yang bisa keluarga Adiraja lepas, Tuan Lais. Ini adalah proyek warisan keluarga kami," Naya menatap pria itu tajam.
"Saya tidak peduli dengan warisan keluarga Anda," balas Eylo dingin. "Saya bersedia menyuntikkan dana sebesar tiga triliun rupiah hari ini juga, dan memastikan alat berat Lais Holdings mendarat di Labuan Bajo besok pagi."
Naya menyipitkan matanya. "Apa syarat Anda?"
Sudut bibir Eylo terangkat, membentuk sebuah seringai tipis yang luar biasa arogan dan dominan.
"Empat puluh persen saham," ucap Eylo, suaranya mengalun sangat jelas di ruangan yang hening itu. "Dan Anda, Nona Naya. Anda harus pindah dan berkantor di gedung Lais Holdings selama proyek ini berjalan. Saya ingin mengawasi investasi saya dari jarak dekat, dan itu berarti saya harus mengawasi Anda setiap hari."
Naya membeku. Para direktur Adiraja saling berpandangan dengan wajah syok. Ini bukan sekadar permintaan bisnis; ini adalah manuver personal untuk menaklukkan Naya ke dalam teritorinya.
Sebelum Naya sempat menolak syarat gila tersebut, pintu ruang rapat tiba-tiba diketuk dari luar, dan perlahan terbuka.
"Maaf mengganggu, Bu Naya," asisten Riri melongokkan kepalanya dengan wajah sangat serba salah. "Bapak Arga Baskara dan adiknya sedang menunggu di lobi bawah. Mereka bilang ada jadwal pertemuan untuk membahas pembaruan kontrak supplier makanan resor kita, dan... adiknya memaksa ingin bertemu dengan Anda secara pribadi."
Mendengar nama belakang 'Baskara', mata Eylo Lais menajam. Ia menoleh ke arah pintu, aura predatornya mendadak menguar semakin pekat.
Sementara itu, di bawah meja, tangan kiri Naya tanpa sadar meremas ujung blazer-nya. Ingatan tentang pemuda bernama Arham yang ia tabrak semalam—dan getaran aneh yang membongkar kerinduannya—kembali berkelebat. Pagi yang sudah sangat rumit ini, tampaknya baru saja berevolusi menjadi badai yang jauh lebih besar.