NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Tawaran Magang, Cangkir Kopi, dan Tantangan Sang Ketua

Sinar matahari sore menerobos sela-sela ventilasi koridor lantai dua gedung FISIP, membiaskan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai semen yang tenang. Keriuhan mahasiswa baru yang mengikuti Orientasi Kehidupan Kampus hari kedua perlahan-lahan mereda. Sebagian besar dari mereka telah berhamburan pulang menuju kosan atau tempat tinggal masing-masing dengan wajah lelah namun lega.

Di ujung selasar, Aleena berjalan santai dengan gaya petantang-petentengnya yang khas. Tali ransel hitamnya menggantung longgar di satu bahu, sementara kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana kain hitamnya. Sesuai kesepakatan siang tadi, Aleena melangkah menuju ruangan Sekretariat BEM Fakultas tempat Arlan Bachtiar telah menunggunya.

Alee mengetuk pintu kayu ruangan BEM tiga kali. Ketuk, ketuk, ketuk.

"Masuk," terdengar suara baritone Arlan yang berat dan mantap dari dalam.

Aleena mendorong pintu pelan. Ruangan BEM yang tadinya bising oleh lalu-lalang panitia kini sudah jauh lebih sepi. Hanya tersisa Arlan yang duduk di belakang meja kayu besar, dikelilingi tumpukan berkas Laporan Pertanggungjawaban dan dua laptop yang masih menyala. Baju PDL hitamnya masih tergulung rapi hingga siku, namun raut wajahnya menyiratkan sedikit kelelahan setelah memimpin rangkaian acara seharian penuh.

"Sore, Pak Ketua," sapa Aleena renyah, menyunggingkan senyum tanpa bebannya saat melangkah mendekati meja.

Arlan mendongak dari tumpukan kertas di tangannya. Begitu menatap sosok Aleena yang berdiri tegak di hadapannya, kelelahan di wajah tegas pria itu seolah memudar berganti binar ketertarikan yang tenang. Arlan menyandarkan punggungnya di kursi, lalu mengisyaratkan Aleena untuk duduk di kursi kayu berpelapis busa di hadapannya.

"Duduk, Aleena," ujar Arlan pelan. "Lapar enggak? Gua baru mau pesan kopi sama makanan kecil di kantin belakang."

Aleena menyilangkan kakinya santai saat duduk, lalu terkekeh renyah. "Gue enggak bakal menolak kalau ditawarin es kopi susu, Kak. Lumayan buat penyegar otak habis berdiri seharian."

Arlan tersenyum tipis sebuah senyuman hangat yang kini makin sering ia perlihatkan khusus saat berhadapan dengan Aleena. Pria itu meraih ponselnya, memesan dua cangkir kopi dan beberapa porsi camilan melalui pesan singkat ke pengelola kantin, sebelum kembali memfokuskan pandangannya penuh pada Aleena.

"Jadi, Kak Arlan mau bicara soal apa tadi?" tanya Aleena membuka percakapan tanpa basa-basi.

Arlan merapikan beberapa lembar kertas di mejanya, lalu mengambil sebuah stopmap berwarna biru tua dan menggesernya ke hadapan Aleena.

"Ini formulir dan berkas seleksi khusus untuk magang pengurus BEM FISIP periode ini," tutur Arlan, suaranya terdengar lugas dan profesional. "Biasanya, magang BEM baru dibuka umum dua minggu setelah kuliah efektif berjalan. Tapi untuk beberapa mahasiswa baru yang dinilai punya potensi kepemimpinan dan ketahanan mental di atas rata-rata selama orientasi, gua kasih akses jalur rekomendasi Ketua."

Aleena menatap stopmap biru tua itu sejenak, lalu mengangkat pandangannya menatap iris mata Arlan yang tajam. "Rekomendasi Ketua? Berarti Kak Arlan lagi nawarin gue jalur khusus?"

"Bukan jalur khusus tanpa tes," potong Arlan cepat namun dengan nada tenang. "Gua cuma ngasih lu kesempatan buat masuk tahap wawancara langsung tanpa perlu melewati seleksi berkas tingkat dasar. Selama dua hari orientasi, gua merhatiin cara lu bertindak. Lu punya ketenangan di bawah tekanan, lu berani bersuara, dan lu punya inisiatif cepat saat situasi darurat kayak kejadian nametag tadi pagi."

Aleena menaikkan sebelah alisnya, menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan nada bercanda. "Wah, ternyata Ketua BEM kita merhatiin gue sedetail itu, ya?"

Arlan tidak mengelak atau tampak canggung. Pria itu justru memajukan tubuhnya sedikit ke depan meja, menatap Aleena lurus-lurus dengan tatapan mata yang dalam dan mengunci.

"Seorang pemimpin yang baik itu harus peka sama potensi orang-orang di sekitarnya, Aleena," balas Arlan pelan namun tegas. "Dan gua melihat potensi besar itu di diri lu."

Desiran halus kembali hinggap di dada Aleena. Berbeda dengan rasa cemas atau bimbang yang dulu sering hadir di masa sekolah bersama Rama, perasaan di hadapan Arlan ini terasa teramat intens, menantang, dan membakar semangatnya. Arlan bukanlah sosok yang mendikte atau sekadar melindungi dari balik layar; Arlan adalah sosok yang menantang Aleena untuk berdiri sejajar dengannya.

Tak lama kemudian, seorang petugas kantin datang mengantarkan dua cangkir es kopi susu dan piring berisi kentang goreng hangat. Arlan menyerahkan satu cangkir kopi ke arah Aleena.

Aleena menyesap es kopi itu pelan, menikmati rasa manis dan pahit yang padu di lidahnya, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan irama teratur.

"Kalau gue ambil formulir ini," ujar Aleena sambil menunjuk stopmap biru itu, "tugas kayak gimana yang bakal gue pegang di magang BEM?"

Arlan tersenyum tipis, senang melihat Aleena langsung berpikir kritis alih-alih asal menerima penawaran. "Gua mau putar lu di Divisi Hubungan Masyarakat dan Media Informasi. Sesuai sama jurusan lu, Ilmu Komunikasi. Lu bakal belajar gimana cara ngebangun narasi publik, mengelola konflik organisasi, sampai merancang kampanye besar BEM."

Arlan memegang cangkir kopinya, menatap Aleena dengan raut wajah yang lebih santai namun sarat akan keseriusan. "Tapi ingat, Aleena. Di BEM, gua dikenal cukup perfeksionis. Kalau lu masuk tim gua, enggak ada tempat buat alibi atau alasan malas."

Aleena meraih stopmap biru itu, lalu memegangnya erat-erat dengan cengiran petantang-petentengnya yang tak pernah pudar. Binar percaya diri terpancar jernih dari matanya.

"Siapa takut, Pak Ketua?" sahut Aleena mantap, menatap balik mata Arlan tanpa ragu sedikit pun. "Tantangan lu bakal gue jawab lewat bukti kerjaan, bukan cuma celotehan."

Arlan tertawa pelan sebuah tawa lepas yang membuat ketegangan di ruangan itu sirnah sepenuhnya. Pria tegap ber-PDL hitam itu mengangguk kagum pada ketegasan gadis di hadapannya.

Matahari sore akhirnya benar-benar tenggelam di balik ufuk barat, menggantikan warna langit menjadi keunguan yang tenang. Di dalam ruangan BEM yang sejuk itu, sebuah jembatan baru dalam kehidupan Aleena resmi terbentang. Kisah perpisahannya dengan Rama telah tertata rapi di lembaran masa lalu, dan kini, bersama Arlan Bachtiar dan dunia organisasi kampus yang penuh warna, Aleena siap melangkah menaklukkan setiap tantangan baru yang menunggunya di depan.

1
Muslimin Muslim
good
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!