NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 (KASUS 1) PENUTUPAN KASUS YANG BELUM SELESAI SEPENUHNYA

Sinar matahari menjelang tengah hari menembus kaca patri gedung utama Markas Kepolisian Resor, memancarkan pendaran cahaya hangat di sepanjang koridor VIP lantai tiga. Suara langkah kaki beradu teratur dengan ubin marmer yang bersih mengilat.

Ipda Harumi berjalan tegap mengapit stopmap merah tebal bertuliskan LAPORAN HASIL PENINDAKAN KASUS 1. Di sebelah kirinya, dr. Haruma melangkah dengan ketenangan yang teramat anggun, memangku map putih tebal berstempel basah VISUM ET REPERTUM NO. 104 & 105.

Saat tinggal beberapa langkah sebelum mencapai pintu ganda bermotif kayu jati bertuliskan RUANG RAPAT PIMPINAN, Harumi menyenggol pelan lengan kakaknya.

"Gimana, Kak? Jantung aman kan?" goda Harumi renyah seraya memungut sehelai benang kecil di bahu jas laboratorium kakaknya.

dr. Haruma terkekeh pelan, menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling menenangkan. "Aman seribu persen, Dek. Muka Komandan yang justru Kakak khawatirkan nanti pas baca laporan organ Ki Suroto."

Harumi tertawa renyah, melipat tangannya seraya berbisik santai. "Bener banget! Pasti Komandan sama Kasat langsung geleng-geleng kepala. Soalnya kasus ghaib berbalut kejahatan korporasi kayak gini kan belum pernah ada di arsip Polres."

"Makanya, siap-siap pasang wajah profesional ya, Adikku yang cantik," pesan Haruma penuh kasih sayang, mengedipkan sebelah matanya seraya merapikan letak jilbabnya. "Usai rapat ini, Kakak yang traktir makan siang."

"Sip! Janji ya, Kak! Makan iga bakar!" sahut Harumi riang khas obrolan berdua.

Harumi lalu menarik napas panjang, mengubah raut wajah santainya menjadi sangat tegap, disiplin, dan berbobot khas Kanit Jatanras.

Tok... tok... tok.

Harumi mengetuk pintu ganda kayu jati tersebut tiga kali.

"Masuk!" gema suara berat Kombes Supriyadi dari dalam ruangan.

Sret...

Harumi mendorong pintu kayu jati tersebut.

Di dalam ruang rapat pimpinan yang luas dan berpendingin udara dingin, Kombes Supriyadi duduk di kursi pimpinan utama.

Di sebelah kirinya, Kasat Reskrim duduk tekun memegang pulpen, sementara Aipda Rudi berdiri siaga di dekat papan presentasi digital.

"Selamat siang, Komandan Kasat, Kombes Supriyadi," sapa Harumi dan Haruma secara serempak seraya memberikan hormat tegap kepolisian.

"Selamat siang. Silakan duduk, Harumi, Dokter Haruma," sambut Kombes Supriyadi seraya mengisyaratkan dua kursi di hadapannya. Wajah perwira menengah senior itu tampak amat serius, dipenuhi oleh guratan rasa ingin tahu dan beban pikiran usai rentetan kejadian mengerikan dua hari terakhir.

Harumi dan Haruma duduk tegap di kursi masing-masing. Harumi meletakkan stopmap merahnya di atas meja oval, diikuti oleh Haruma yang menggeser map Visum et Repertum ke tengah meja.

"Komandan," Harumi membuka pembicaraan dengan intonasi profesional yang jernih dan tak terburu-buru. "Izin melaporkan. Seluruh rangkaian penindakan operasional, penyitaan barang bukti, serta pengamanan tersangka dari lokasi Padepokan Sirah Lazuardi telah rampung kami bukukan."

Kombes Supriyadi membungkuk mendekati meja, menopang kedua tangannya. "Silakan paparkan poin-poin utamanya, Ipda Harumi. Kasat dan saya ingin mendengar secara langsung."

Harumi mengangguk tegap. "Siap, Komandan!"

Harumi membukakan lembar pertama laporan operasionalnya.

"Poin pertama," paparkan Harumi lancar. "Pada operasi penggerebekan kemarin siang di kawasan Perkebunan Teh Sirah Lazuardi, tim taktis Jatanras berhasil menguasai penuh lokasi padepokan Ki Suroto. Kita mengamankan dua pucuk senjata api rakitan ilegal, amunisi kaliber sembilan milimeter, tiga unit komputer jinjing, serta brankas rahasia berisi berkas transaksi."

Kasat Reskrim mencatat poin tersebut. "Tersangka Ki Suroto dan pengawalnya?"

"Tiga pengawal Ki Suroto yang tersisa saat ini resmi ditahan di sel isolasi khusus," lanjut Harumi. "Namun, sasaran utama Ki Suroto... tewas di tempat saat berada di Ruang Interogasi Utama kemarin sore tepat pukul enam lewat lima belas menit WIB."

Kombes Supriyadi mendesah berat, menyandarkan punggungnya di kursi. "Kematian Ki Suroto di ruang interogasi itu benar-benar menjadi guncangan besar. Bagaimana analisis temuan dari brankas pribadinya, Harumi?"

Harumi memajukan posisinya, menunjuk lembaran transparansi data di meja.

"Dari hasil ekstrak brankas dan flashdisk terenkripsi milik Ki Suroto, kami menemukan buku manifes tamu rahasia padepokan selama dua tahun terakhir," ungkap Harumi berbobot. "Terungkap aliran dana rutin sebesar 5 miliar rupiah setiap bulannya dari lima perusahaan cangkang. Dan di halaman paling belakang, terdapat catatan kunjungan rahasia berkode inisial 'Bintang Utama-01' dan 'Pelindung Agung'."

Kasat Reskrim memicingkan matanya. "Kode inisial? Siapa pemilik kode itu?"

"Tidak tercantum nama terang atau nomor identitas resmi, Komandan," jawab Harumi tajam. "Namun setiap kali kode tersebut berkunjung, seluruh area perkebunan teh seluas puluhan hektar diperintahkan untuk dikosongkan total dari penjaga lokal dan pamong praja. Ini mengindikasikan adanya dukungan perlindungan kekuasaan (political umbrella) dari pihak berwenang tingkat tinggi di luar jangkauan pengusaha biasa."

Kombes Supriyadi dan Kasat Reskrim saling bertukar pandangan. Raut wajah Kombes Supriyadi tampak semakin membatu mendengar indikasi keterlibatan sosok berkuasa tersebut.

"Sekarang, Dokter Haruma..." panggil Kombes Supriyadi berbalik menatap dokter forensik di sebelah Harumi. "Bagaimana dengan hasil otopsi medis atas jasad Ki Suroto? Apakah penyebab kematiannya murni karena serangan penyakit medis alami?"

dr. Haruma menegakkan posisi duduknya. Dokter forensik anggun itu membukakan draf Visum et Repertum Nomor 105, lalu menyodorkan lembaran kesimpulan resminya ke hadapan Kombes Supriyadi dan Kasat Reskrim.

"Komandan Kasat dan Komandan Kombes yang saya hormati," ujar Haruma dengan suara jernih, tenang, dan dipenuhi oleh wibawa kedokteran forensik. "Sebagai Dokter Spesialis Forensik Dokpol Bhayangkara yang memimpin langsung pembedahan otopsi atas jasad Ki Suroto, saya menyatakan bahwa kematian korban SAMA SEKALI BUKAN disebabkan oleh penyakit medis alami atau serangan jantung biasa."

Kombes Supriyadi menerima lembaran visum tersebut, membacanya dengan cermat. "Lalu apa penyebab utamanya, Dokter?"

"Berdasarkan hasil pembedahan rongga dada dan pemeriksaan histopatologi laboratorium," papar Haruma teratur dan sangat jernih, "ditemukan atrofi dan nekrosis seluler ekstrem pada seluruh organ dalam vital korban. Jantung, paru-paru, hati, dan ginjal Ki Suroto menyusut masif hingga ukurannya tinggal sepertiga, dengan kondisi jaringan kaku, mengeras hitam legam, dan membusuk penuh uap belerang."

Kasat Reskrim terbelalak kaget. "Organ dalamnya menyusut dan mengkerut hitam?!"

"Tepat sekali, Pak Kasat," jawab Haruma mantap. "Dan fakta sains medis yang paling mengejutkan adalah... kerusakan organ dalam Ki Suroto memiliki pola destruksi seluler yang IDENTIK 100% dengan kerusakan organ dalam almarhum Jonathan Nasution pada Visum et Repertum Nomor 104!"

Haruma menatap Kombes Supriyadi lurus-lurus.

"Tingkat destruksi seluler pada Ki Suroto mencapai stadium empat—kondisi organ yang setara dengan jaringan tubuh lansia berusia di atas seratus tahun!" lanjut Haruma. "Secara keilmuan patologi anatomi dan kedokteran forensik, fenomena kelainan organ yang identik pada dua jasad berbeda ini adalah bukti otentik yang tak terbantahkan bahwa keduanya dibunuh menggunakan metode destruksi seluler sistemik non-mekanis yang berasal dari SATU SUMBER KEJAHATAN TERORGANISIR yang sama!"

Hening...

Kata-kata dr. Haruma bagaikan hantaman gelombang raksasa yang membekukan seluruh isi ruang rapat pimpinan tersebut.

Kombes Supriyadi menurunkan lembaran visum dari tangannya. Jemari perwira senior itu agak gemetar tipis saat meletakkan kertas tersebut di atas meja. Kasat Reskrim di sebelahnya bahkan sampai menyandarkan punggungnya dengan napas memburu, tak mampu menyembunyikan rasa terkejut dan kebingungan yang luar biasa.

"Masya Allah... Ya Allah..." gumam Kasat Reskrim memegang keningnya. "Dua korban tewas dengan organ mengkerut hitam... saksi kunci mati membeku di ruang rapat... dan eksekutornya tewas membusuk di kursi interogasi..."

Kasat Reskrim menatap Haruma dan Harumi bergantian dengan pandangan mata yang dipenuhi keheranan mendalam.

"Jujur saja, Ipda Harumi... Dokter Haruma..." kata Kasat Reskrim dengan suara parau. "Selama 30 tahun saya bertugas di Kepolisian Republik Indonesia, baru kali ini saya menangani kasus yang begitu gila! Sebuah kejahatan pidana nyata—pembunuhan, pencucian uang 50 miliar, senjata api ilegal—namun bertabrakan langsung secara liar dengan dunia gaib, sihir hitam, dan kekuatan tak kasat mata!"

Kombes Supriyadi mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menarik napas panjang berulang kali untuk menetralkan beban di dadanya.

"Ini bukan lagi sekadar kasus kriminal biasa di tingkat Polres..." tutur Kombes Supriyadi dengan nada berat. "Ini adalah fenomena kejahatan luar biasa yang berbenturan langsung antara hukum positif dunia nyata dan kekuatan sihir ghaib yang tidak pernah diajarkan di akademi kepolisian mana pun!"

Aipda Rudi yang berdiri di dekat papan presentasi ikut mengangguk pelan, menyetujui ucapan sang Komandan.

Kombes Supriyadi berdiri dari kursinya, berjalan melangkah menuju jendela kaca besar yang menghadap ke arah pekarangan Polres. Perwira menengah itu membelakangi ruangan sejenak, memikirkan konsekuensi hukum, politik, dan keamanan masyarakat yang amat sangat besar.

Setelah tak bergeming selama 2 menit dalam keheningan yang tegang, Kombes Supriyadi memutar tubuhnya kembali menghadap seluruh peserta rapat.

Raut wajah sang Kombes tampak amat tegar, mengambil sebuah keputusan komando tertinggi yang teramat sulit namun harus diambil demi menjaga stabilitas keamanan publik.

"Ipda Harumi... dr. Haruma... dengarkan instruksi resmi pimpinan ini baik-baik," komando Kombes Supriyadi dengan suara berat, tegas, dan berbobot tak terbantahkan.

Harumi dan Haruma seketika menatap Komandan mereka dengan keteguhan penuh.

"Berdasarkan pertimbangan stabilitas keamanan nasional, pencegahan kepanikan masal di masyarakat, serta menghentikan eskalasi politik yang berbahaya..." pangkas Kombes Supriyadi, "saya memerintahkan agar KASUS PEMBUNUHAN JONATHAN NASUTION DAN KI SUROTO KITA TUTUP SEMENTARA SECARA RESMI DI ATAS KERTAS BAP!"

Deg!

Ipda Harumi tersentak pelan di kursinya, walau ia tetap menjaga sikap tegap kepolisiannya.

"Izin, Komandan!" pangkas Harumi langsung. "Apakah kasus ini akan ditutup dengan status 'Selesai Penyelidikan' (P-21) di tingkat berkas umum?"

"Benar, Harumi," jawab Kombes Supriyadi menatapnya lurus. "Di dalam berkas perkara resmi yang akan kita serahkan ke Kejaksaan dan rilis pers media massa nanti siang... kasus pembunuhan Jonathan Nasution kita nyatakan TERUNGKAP DAN SELESAI. Kita menetapkan mendiang Ki Suroto sebagai Pelaku Utama (Single Executor) pembunuhan berencana, dengan barang bukti senjata api dan dokumen padepokan yang telah kita amankan."

Kasat Reskrim menyahut menjelaskan pertimbangan hukumnya. "Langkah ini wajib kita ambil, Harumi. Jika kita mencantumkan narasi sihir pencuri usia, organisasi ghaib THE ONE, atau nama Pejabat Backup di dalam berkas umum, Kejaksaan akan menolak berkas tersebut karena dianggap tidak memenuhi unsur pembuktian hukum materiil konvensional. Publik dan media juga akan geger luar biasa."

Haruma menatap Kombes Supriyadi dengan kelembutan yang sarat akan ketegasan jernih.

"Izin, Komandan Kombes," panggil Haruma jernih. "Kami memahami penuh pertimbangan penutupan resmi di atas kertas berkas umum tersebut. Namun, bagaimana dengan fakta bahwa DALANG UTAMA DI BALIK KASUS INI—Keluarga Taipan dan Pejabat Backup—SAMPAI DETIK INI MASIH BEBAS DI LUAR SANA?!"

Kombes Supriyadi melangkah mendekati meja, menatap Haruma dan Harumi dengan pandangan mata yang sangat dalam dan penuh kepercayaan tinggi.

"Justru karena itulah saya sebut ini sebagai PENUTUPAN KASUS YANG BELUM SELESAI, Dokter Haruma... Ipda Harumi!" tegas Kombes Supriyadi dengan suara bergetar penuh arti.

Kombes Supriyadi menepuk stopmap merah di meja.

"Penutupan di atas kertas BAP umum ini adalah taktik kamuflase kepolisian!" lanjut Kombes Supriyadi. "Kita berpura-pura menutup kasus ini agar pihak Keluarga Taipan, Sekte THE ONE, dan Pejabat Backup itu merasa aman dan menurunkan benteng pertahanan mereka! Mereka akan mengira kita percaya bahwa Ki Suroto adalah satu-satunya pelaku."

Kombes Supriyadi memajukan tubuhnya, memberikan komando rahasia tertinggi.

"Namun secara internal kepolisian..." tegas Kombes Supriyadi, "penyelidikan atas persekongkolan Keluarga Taipan dan Sekte THE ONE TIDAK AKAN PERNAH BERHENTI! Saya memberikan wewenang penuh kepada Unit Jatanras Ipda Harumi dan Tim Forensik dr. Haruma untuk melanjutkan perburuan rahasia (Covert Operation) melacak keberadaan sang Mastermind utama!"

Srekkk!

Ipda Harumi dan dr. Haruma seketika berdiri tegap dari kursi mereka, memberikan hormat tegap dengan semangat membara yang terpancar dari dada mereka.

"SIAP, KOMANDAN! TERIMA KASIH ATAS KEPERCAYAAN PIMPINAN!" seru Harumi dengan suara tegas dan lantang yang menggelegar di ruang rapat.

"Siap, Komandan! Kami siap mengemban tugas rahasia ini!" sahut Haruma tegar dengan senyuman anggunnya.

Kombes Supriyadi membalas hormat tegap kedua srikandi penegak keadilan tersebut dengan raut wajah bangga dan haru. "Laksanakan tugas kalian dengan penuh kewaspadaan. Ingat, musuh kalian kini berada di dalam kegelapan yang paling pekat. Semoga Allah SWT selalu melindungi langkah kalian berdua."

"Siap, Komandan!"

.....

.....

Pukul 12.30 WIB.

Konferensi pers resmi kepolisian mengenai penutupan BAP Kasus 1 telah selesai dilaksanakan di aula depan markas Polres.

Puluhan wartawan media massa perlahan-lahan meninggalkan ruangan membawa rilis berita bahwa kasus pembunuhan Jonathan Nasution telah resmi dihentikan dengan Ki Suroto sebagai pelaku tunggal yang tewas.

Sinar matahari siang memancar terik di pekarangan parkir VIP Satreskrim.

Ipda Harumi dan dr. Haruma berjalan berdampingan menuju mobil dinas milik Harumi. Harumi telah melepaskan rompi antipelurunya, kini mengenakan kemeja dinas cokelat yang rapi. Sementara Haruma memegang tas dokumen kulitnya.

Harumi membukakan pintu mobil untuk kakaknya, lalu menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu seraya mendesah lega.

"Aaaahh... akhirnya formalitas BAP Kasus 1 beres juga ya, Kak!" ujar Harumi renyah khas obrolan berdua seraya meregangkan kedua tangannya ke atas.

dr. Haruma masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk, lalu menoleh menatap adiknya dari kaca jendela yang terbuka. Ia terkekeh renyah, mencubit pelan lengan adiknya.

"Iya, Dek. BAP umum di atas kertas boleh saja ditutup dengan rapi..." tutur Haruma tersenyum manis dengan mata berkilat tegas. "...tapi BAP sejati di dalam jiwa kita berdua baru saja dimulai."

Harumi tertawa bahagia, melompat masuk ke kursi kemudi di sebelah kakaknya. Ia memutar kunci kontak, menghidupkan mesin mobil yang menderu halus.

"Bener banget kata Kak Haruma sayang!" seru Harumi penuh semangat seraya memutar kemudi mobil menuju gerbang keluar Polres. "Mati satu perantara sihir kaya Ki Suroto cuma langkah awal. Di luar sana, Keluarga Taipan sama Sekte THE ONE pasti lagi menyusun rencana keji berikutnya."

Haruma mengusap bahu adiknya hangat, memandang jalan raya Parung yang membentang luas di hadapan mereka.

Pendaran aura keemasan milik Sekar Arum memancar redup dan sejuk di dalam dada Haruma, menyatu dengan pendaran Mata Batin Murni milik Harumi.

"Mau seberapa jauh mereka bersembunyi di balik kekuasaan dan sihir iblis itu," bisik Haruma lembut namun sarat akan keteguhan tauhid yang abadi, "kita bakal terus kejar mereka sampai ke ujung dunia, Rumi."

"Pasti, Kakakku yang paling jenius!" balasan Harumi renyah seraya tersenyum lebar. "Yuk ah, sekarang waktunya Kak Haruma nepatin janji traktir Rumi makan iga bakar!"

Haruma tertawa renyah, menepuk pelan paha adiknya. "Siap, Adikku yang paling rakus! Meluncur ke warung iga bakar sekarang!"

Mobil dinas Ipda Harumi melaju mulus menembus keramaian jalan raya, meninggalkan gedung Polres di belakang mereka.

Kasus Pertama mengenai pembunuhan Jonathan Nasution dan Ki Suroto mungkin telah ditutup secara resmi di atas kertas hukum. Namun, api perjuangan dua srikandi penegak keadilan itu tidak sedikit pun padam.

Di balik tabir kota yang megah, perburuan rahasia Haruma dan Harumi siap bergerak menembus kegelapan malam, menyongsong Kasus Kedua untuk meruntuhkan kekaisaran iblis "THE ONE" dan menyeret Sang Mastermind Utama ke hadapan pengadilan sejati di Tanah Jawa.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!